Hai, nama ku Kyra. Aku sekarang ini bekerja di sebuah perusahaan yang berkecimpung dalam bidang teknologi. Aku memiliki cita-cita menjadi seorang Astronot. Sejak kecil aku suka dengan cerita mitologi Yunani.
Kali ini aku diberi kesempatan untuk membuktikan kualitas kinerjaku dengan cara diberi tugas menyelesaikan permasalahan di kantor cabang yang ada di Kanada. Aku menerima tawaran ini bukan sekedar membuktikan kualitas ku tapi berlibur.
Tak seperti ekspektasi ku, tak hanya bekerja dan berlibur tapi banyak sekali hal yang terjadi selama aku di Kanada....
Bahkan aku juga mendapat teror selama 5 tahun terakhir di liburanku ini. Siapakah pelaku teror yang tak lelah mengejarku bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun🙀
Aku butuh kalian untuk selalu mendukungku, memberi support dan semangat lewat jejak kalian 🥰
~ Happy reading ^_^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Felix mengantarku pulang setelah menghabiskan semua makanan yang ada di meja kami. Sesampainya di penginapan aku panik saat ku lihat Auris tergeletak di depan pintu kamar. Aku segera mengeluarkan ponsel dan menelfon Felix, dalam perasaan bingung dan khawatir saat ini yang muncul di benakku hanya Felix, "Lix, tolong Auris pingsan."
Mendengar suaraku yang bergetar, Felix segera memutar kemudi mobilnya dan melesat menuju penginapan dengan cepat.
Sewaktu sekolah dulu aku sempat mengikuti ekskul palang merah remaja sehingga aku cukup berpengalaman dalam memberikan pertolongan pertama kepada orang yang kehilangan kesadaran. Aku berusaha mengikuti tata cara yang ku ketahui dalam memberikan pertolongan pada Auris. Aku tidak tau sejak kapan Auris sudah tergelatak di lantai sehingga aku cukup cemas jika Auris tidak mudah sadarkan diri.
Tak berselang lama setelah aku menelfon, Felix sampai di tempatku berada dan menepuk pundak ku, "Ky, tenang. Kita bawa Auris ke rumah sakit."
Aku menoleh ke arah Felix dengan tatapan nanar dengan cepat aku mengangguk menyetujui ucapannya. Memang aku hendak membawa Auris ke rumah sakit tapi aku tidak tau bagaimana caranya. Tidak aman jika aku meminta bantuan orang lain untuk membawa Auris ke rumah sakit mengingat statusnya sebagai artis. Selama Auris bersama ku maka akulah yang memegang tanggung jawab atas dirinya.
Felix menggendong Auris menuju mobil dan aku berusaha menutupi Auris dari pandangan orang-orang yang kami lewati. Aku duduk dibelakang bersama Auris yang masih tidak sadarkan diri. Felix mengemudikan mobilnya dengan laju tinggi menembus ramainya jalanan malam.
***
"Bagaimana keadaan Auris?!" pekik Ray yang baru saja tiba setelah mendapat kabar dari Felix. Aku hanya bisa diam karena dokter belum juga keluar dari ruangan berukuran 4x4 m tempat Auris berbaring saat ini. Felix mencoba menenangkan Ray tapi tidak berhasil. Aku mengerti kenapa Ray bersikap seperti itu tapi melihatnya mondar-mandir membuatku semakin pusing, "Ray tenanglah. Kamu mondar-mandir seperti itu juga tidak membuat Auris cepat sadar," ucapku.
"Bagaimana aku bisa tenang?!" Ray berteriak dengan penuh emosi.
"Tenang lah Ray. Kita semua di sini juga khawatir dengan Auris. Tidak hanya kamu," ucap Felix.
Aku duduk di kursi tunggu bersebelahan dengan Felix. Melihat diriku yang bergetar penuh dengan perasaan cemas, Felix merangkul pundak ku dan menggosok pelan berharap apa yang dilakukannya saat ini dapat memberiku sedikit perasaan tenang. Ray yang melihat kondisiku memilih untuk duduk, sepertinya dia tahu bahwa tindakannya itu hanya mengganggu.
Seorang pria paruh baya memakai jas berwarna putih susu keluar dari ruangan yang ada di depanku. Aku segera berdiri dan mendekat padanya, "bagaimana keadaan teman saya dok?"
"Kamu tenang saja. Dia hanya tidak cocok dengan cuaca yang ada di sini. Kondisi tubuhnya tidak kuat untuk beradaptasi, dia juga kurang istirahat. Beristirahat beberapa hari akan memulihkan kondisinya," ujar pria itu dengan wajah tenang.
Mendengar penjelasan barusan membuatku sedikit tenang. Aku menghela nafas, "terima kasih dok."
"Iya."
Aku segera masuk ke ruangan tempat Auris berada diikuti Felix dan juga Ray. Sekarang perasaan ku sudah mulai sedikit tenang. Aku menggenggam tangan Auris berharap dia segera sadar.
"Kyra," Auris menyebut namaku dengan lirih.
Kulihat mata Auris yang sudah terbuka dan sedang melihat ke arahku dengan tatapan bingung. Aku tersenyum dalam hati merasa sangat bersyukur akhirnya Auris sadarkan diri.
"Kamu istirahat beberapa hari di sini ya, Ris," aku tersenyum lembut.
"Biar aku yang jaga Auris di sini," Ray mengajukan diri. Aku berpikir sebentar dan mengangguk menyetujuinya. Setidaknya jika Ray mau menemani Auris, aku akan merasa lebih tenang karena ada yang menjaganya.
"Kalian tenang aja, aku baik-baik aja kok. Gak usah ditekuk gitu mukanya jelek tau," Auris tersenyum mengejek.
"Jelekan juga kamu Ris. Jelek tau buat semua orang khawatir," Ray menyahut dengan cepat.
"Nah loh, dimarahin noh," ucap Felix.
Kami memenuhi ruangan 4x4 m itu dengan senda gurau dan tawa riang. Suasana yang mulanya penuh dengan kekhawatiran kini berubah dengan keceriaan penuh tawa. Malam ini aku memutuskan untuk menemani Auris di rumah sakit. Felix dan Ray ku paksa untuk pulang karena Ray ngotot ingin menemani Auris juga. Aku tau mereka sudah lelah karena aktivitas seharian ini, jika memaksakan diri bisa saja bukan hanya Auris yang akan terbaring di rumah sakit.
*
*
*
*
*
Hai teman-teman. Terima kasih sudah mampir ke sini. Jangan lupa buat like 👍, komen 🖊️ , dan juga pencet tombol love ❤️, kasih tip dan juga vote 😉 biar author lebih semangat buat lanjutin cerita. Kritik dan saran selalu ditampung biar author bisa berkembang lebih baik lagi 🥰. Aku tunggu jejak kalian di karyaku ini ☺️
klo diliat sekilas, pemilihan kata2nya cukup baik. semoga didalamnya banyak ilmu baru yg bermanfaat.. 😘
mampir bawa 3 like ya ❤️❤️❤️❤️
Boleh intip "Pengantin Pengganti"