Nesya, seorang gadis sederhana, bekerja paruh waktu di sebuah restoran mewah, untuk memenuhi kebutuhannya sebagai mahasiswa di Korea.
Hari itu, suasana restoran terasa lebih sibuk dari biasanya. Sebuah reservasi khusus telah dipesan oleh Jae Hyun, seorang pengusaha muda terkenal yang rencananya akan melamar kekasihnya, Hye Jin, dengan cara yang romantis. Ia memesan cake istimewa di mana sebuah cincin berlian akan diselipkan di dalamnya. Saat Nesya membantu chef mempersiapkan cake tersebut, rasa penasaran menyelimutinya. Cincin berlian yang indah diletakkan di atas meja sebelum dimasukkan ke dalam cake. “Indah sekali,” gumamnya. Tanpa berpikir panjang, ia mencoba cincin itu di jarinya, hanya untuk melihat bagaimana rasanya memakai perhiasan mewah seperti itu. Namun, malapetaka terjadi. Cincin itu ternyata terlalu pas dan tak bisa dilepas dari jarinya. Nesya panik. Ia mencoba berbagai cara namun.tidak juga lepas.
Hingga akhirnya Nesya harus mengganti rugi cincin berlian tersebut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amelia's Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERHATIAN YANG TIBA-TIBA
Begitu Nesya selesai sholat, dia melepas mukenanya dan keluar dari kamar tanpa berkata apa-apa.
Jae Hyun masih berdiri di luar, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Namun, Nesya tetap berjalan melewatinya, menuju dapur dengan santai seolah tak peduli pada kehadirannya.
Jae Hyun mengerutkan kening.
"Dia bahkan tidak bertanya kenapa aku mengetuk kamarnya?" pikirnya kesal.
Dengan langkah cepat, Jae Hyun mengikuti Nesya. Ia bersandar di meja dapur, memperhatikan gadis itu yang mulai memasak ramen instan.
Air mendidih, bumbu dituangkan, dan mie dimasukkan.
Itu saja.
Jae Hyun melipat tangan di dada. Kesal.
"Hanya ramen?" tanyanya sinis.
Nesya tetap diam.
Ia hanya mengaduk ramen dengan tenang, seolah tidak terganggu oleh nada suara Jae Hyun yang jelas-jelas menunjukkan ketidakpuasan.
Jae Hyun menggertakkan giginya.
“Aku lapar, Nesya! Kenapa kau hanya memasak ramen?!”
Nesya berhenti mengaduk sebentar, lalu menoleh sekilas.
“Tadi aku sedang sholat, dan aku tidak sempat memasak makanan lain.”
Nada suaranya datar, tanpa emosi.
Jae Hyun mengerang frustrasi.
“Kau pikir ramen cukup untukku? Aku butuh makan malam yang layak! Aku ini pemilik perusahaan, bukan mahasiswa yang hidup hemat!”
Nesya mengangkat bahu santai.
“Kalau tidak suka, kau bisa pesan makanan sendiri.”
Jawaban itu membuat darah Jae Hyun mendidih.
Dia terbiasa mengendalikan segalanya, dan sekarang Nesya malah bersikap santai seolah-olah dirinya bukan apa-apa!
"Dasar gadis keras kepala!"
Namun, di balik kekesalannya, ada perasaan aneh yang mulai muncul.
Nesya berbeda dari wanita lain yang pernah ia kenal.
Biasanya, perempuan-perempuan di sekitarnya akan berusaha menyenangkannya, berusaha menarik perhatiannya, atau bahkan menuruti semua keinginannya.
Tapi Nesya?
Gadis itu tidak peduli sama sekali.
Bahkan, seolah-olah keberadaan Jae Hyun tidak penting baginya.
Dan itulah yang membuat Jae Hyun semakin frustrasi.
Saat Nesya melangkah melewati Jae Hyun. Tiba-tiba Jae Hyun menahan bahu Nesya.
Nesya memejamkan mata dan menahan napas saat tangan Jae Hyun mencengkeram bahunya.
Namun, seketika pekikan kesakitan keluar dari bibirnya.
"Akh!"
Jae Hyun membelalakkan mata.
Ia langsung melepaskan genggamannya.
"Apa dia baru saja kesakitan? Kenapa?"
Nesya memegang bahunya yang terasa nyeri. Tatapannya menegang, tetapi ia berusaha menutupi rasa sakitnya.
"Kau kenapa?" Jae Hyun bertanya dengan nada lebih lembut, sedikit terkejut dengan reaksi Nesya.
Nesya menggeleng pelan, mencoba bersikap biasa saja. “Tidak apa-apa.”
Namun, ekspresi wajahnya tak bisa berbohong.
Jae Hyun mengamati Nesya dengan tajam, menyadari bahwa ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu.
Dengan cepat, Jae Hyun mencengkeram pergelangan tangan Nesya dan menariknya lebih dekat.
“Jangan bohong. Kau terlihat kesakitan. Apa yang terjadi?” tanyanya tegas.
Nesya berusaha melepaskan tangannya, tetapi cengkeraman Jae Hyun terlalu kuat.
"Aku bilang tidak apa-apa."
Namun, Jae Hyun tidak bodoh.
Tatapannya jatuh ke bahu Nesya yang sedikit tegang, seolah dia menahan sesuatu.
Dengan gerakan cepat, Jae Hyun menarik lengan blazer Nesya ke atas—dan saat itulah dia melihat bekas memar samar di bahunya.
Jae Hyun terkejut.
"Apa ini?"
Nesya segera menarik lengannya dan menutupi bahunya lagi.
“Bukan urusanmu.”
Tapi sudah terlambat.
Jae Hyun bisa menebak semuanya.
"Ini karena kecelakaan itu, kan?"
Nesya menghindari tatapannya.
Jawaban diam itu sudah cukup bagi Jae Hyun.
Untuk beberapa saat, tak ada yang berbicara.
Jae Hyun menatap Nesya dalam diam, perasaan kesal dan rasa bersalah bercampur jadi satu.
Tanpa berpikir panjang, ia mengambil ramen dari tangan Nesya, meletakkannya di meja, lalu menariknya ke sofa.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Nesya bingung.
Jae Hyun menghela napas panjang sebelum berbicara.
"Diam dan duduk. Aku akan mengoleskan obat di bahumu."
Nesya terkejut.
Jae Hyun? Mau mengobatinya?
Namun, sebelum ia sempat menolak, Jae Hyun sudah beranjak pergi ke lemari kecil di sudut ruangan dan mengambil salep.
Nesya tidak tahu harus berkata apa.
Laki-laki arogan yang selalu menyebalkan itu…
Malam ini, terlihat berbeda.
Luka yang Tak Terlihat
Nesya bergegas berdiri dan menjauh dari Jae Hyun.
“Aku bisa mengurus diriku sendiri,” ucapnya tegas.
Jae Hyun mengerutkan kening, tidak suka ditolak begitu saja.
“Jangan keras kepala. Aku hanya ingin membantumu,” katanya, masih duduk di sofa dengan salep di tangannya.
Namun, Nesya tetap mundur.
“Kita bukan muhrim. Aku tidak bisa membiarkanmu menyentuhku,” katanya dengan nada dingin.
Jae Hyun terdiam sejenak.
Ia tahu Nesya seorang Muslim, tetapi ini pertama kalinya gadis itu dengan jelas membatasi dirinya seperti ini.
"Terserah," gumamnya akhirnya, menyadari bahwa ia tidak akan bisa memaksa.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Nesya berbalik dan berjalan ke kamarnya.
Begitu pintu tertutup, Nesya langsung bersandar di belakangnya dan menghela napas panjang.
Bahunya benar-benar sakit.
Ia meraih kotak obatnya sendiri, lalu duduk di tepi tempat tidur. Dengan hati-hati, ia membuka kancing kemejanya dan melihat bahu kanannya di cermin.
Memar yang sebelumnya samar kini semakin terlihat jelas, membiru dan sedikit bengkak.
Nesya mengerang pelan saat mencoba mengangkat tangannya.
Dokter benar. Jika tidak segera diterapi, kondisinya bisa semakin parah.
Namun, bagaimana caranya?
Ia tidak ingin Jae Hyun tahu.
Laki-laki itu sudah cukup memperlakukannya buruk.
Jika tahu bahwa ia terluka lebih serius, Jae Hyun pasti hanya akan semakin menganggapnya sebagai beban.
“Aku harus kuat,” bisik Nesya pada dirinya sendiri.
Sambil menggigit bibir, ia mencoba mengoleskan salep sendiri.
Namun, tangannya bergetar, dan setiap gerakan kecil saja membuat nyeri yang luar biasa.
Akhirnya, air mata menggenang di sudut matanya.
Ia tidak boleh menangis.
Tapi, rasa sakit ini terlalu menyiksa.
Tanpa sadar, tubuhnya mulai gemetar.
Di luar kamar, Jae Hyun masih duduk di sofa.
Ia menatap salep di tangannya dengan ekspresi tak terbaca.
"Kenapa aku peduli?"
Ia tidak tahu.
Tapi satu hal yang pasti…
"Tatapan kesakitan di wajah Nesya tadi... untuk pertama kalinya, aku tidak suka melihatnya seperti itu."
^
^
^
Keesokan paginya, Nesya terbangun dengan tubuh masih terasa lelah. Bahunya masih nyeri, meskipun obat pereda sakit yang diminumnya tadi malam sedikit membantu.
Dengan susah payah, ia bangkit dari tempat tidur dan bersiap menjalani hari seperti biasa. Ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan Jae Hyun.
Saat keluar dari kamar, aroma kopi yang harum memenuhi penthouse.
Nesya mengernyit.
"Jae Hyun sudah bangun?" gumamnya pelan."Tumben banget, tuh Oppa korea."
Saat ia berjalan ke dapur, ia terkejut melihat sosok pria itu duduk di meja makan dengan secangkir kopi, tampak santai membaca koran.
Namun, ada hal yang lebih mengejutkan lagi.
Di atas meja, ada sepiring roti panggang dan omelet.
Jae Hyun melirik sekilas, lalu kembali ke korannya.
"Sarapan sudah siap. Makan sebelum kau pingsan lagi," kata Jae Hyun tanpa ekspresi.
Nesya terdiam di tempatnya.
Jae Hyun memasakkan sarapan untuknya?
"Aku tidak lapar," jawab Nesya singkat, berusaha mengabaikan perhatian kecil itu.
Namun, Jae Hyun menaruh korannya dan menatapnya tajam.
"Jangan keras kepala. Aku tidak mau ada masalah karena kau pingsan di kantor. Makan saja."
Nesya menelan ludah.
Ia bisa merasakan bahwa Jae Hyun masih bersikap dingin padanya. Tapi, tetap saja, ini pertama kalinya pria itu menunjukkan sedikit kepedulian.
Dengan ragu, Nesya duduk dan mulai menyentuh sarapannya.
Saat ia mulai makan, Jae Hyun kembali membaca berita seolah tidak peduli.
Namun, diam-diam, ia melirik sekilas ke arah gadis itu.
"Kenapa aku melakukan ini?"
Ia sendiri tidak tahu.
ceritanya bikin deg-degan
semagat terus yaa kak