[DALAM TAHAP REVISI]
Ketika kebahagiaan dan impian yang di inginkan berubah menjadi kenyataan yang menyakitkan ditambah lagi nasib yang buruk menimpa.
Seorang gadis cantik jelita dan pintar bernama Elisabeth harus mengalaminya. Terlahir sebagai gadis yang tak sempat merasakan kebahagiaan seorang remaja.
Apa yang akan Elisabeth lakukan dalam menghadapi semua penderitaan hidupnya? Apakah ada yang menemani gadis itu dalam deritanya?
Jika ada yang menemaninya, siapakah dia?
●Instagram (for business) @authorqueenj
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09 | Perjanjian Malam Itu
Elisabeth membuka kedua matanya, meski seluruh tubuhnya seakan berantakan. Tenaganya mulai pulih, setelah beristirahat sampai malam menyapa.
Sosok pria yang sama, yang mengembalikannya ke neraka yang saat ini sedang berdiri di hadapannya. Kaki berbalut sepatu boots kulit melangkah maju, mendekat ke depan Elisabeth yang belum bangkit dari lantai.
Mengenakan pakaian serba hitam dengan topinya dan harum cologne yang sama. Pria setinggi 190cm itu menunduk untuk menyamakan pandangannya dengan Elisabeth yang mulai menopang tubuhnya dengan tangan kanannya yang penuh luka.
"Kau ...." Elisabeth menatap tajam penuh benci. Ia meraih jas hitam pria itu, menariknya hingga ia dapat bangkit. "Bawa aku keluar dari rumah ini. Kau harus memenuhi permintaan yang pernah kuucapkan," tagih Elisabeth.
Pria itu memiringkan bibirnya, melepaskan tangan Elisabeth hingga gadis itu terjatuh ke lantai. Tangannya menepuk seakan membersihkan pakaiannya yang baru saja dijamah gadis itu.
"Aku tidak pernah mengiyakan apa yang kau pinta," sahut pria itu ketus. Ia berdiri kembali dari tempatnya. "Keinginanku adalah melihatmu mengalami siksaan sama yang telah kau berikan padaku," lanjutnya.
Elisabeth mengangkat salah satu alisnya. "Sebenarnya apa yang kau bicarakan? Siksaan? Aku saja tidak mengenalmu, bagaimana bisa aku menyiksamu?!" seru Elisabeth.
Gadis itu mengumpulkan tenaga akhirnya, meraih kain yang menutupi wajah pria itu hingga terlepas. Sinar bulan malam itu yang menembus ruang tahanan, menyinari wajah pria tinggi yang ada di hadapan Elisabeth.
Wajah putih bersinar, kedua mata hitam yang indah, garis hidung mancung, dan bibir tipis eksotis. Tak terlihat seumur dengan suaranya yang berat.
Pria itu sontak menutup wajahnya setelah Elisabeth dengan nekad membuka kain yang mengikat. Elisabeth telah sukses melihat wajah pria itu.
"Aku mengingat wajahmu. Orang bayaran sepertimu berjuang keras untuk menyembunyikan wajah, bukan?" cibir Elisabeth. "Kelak, aku akan membuat perhitungan denganmu," lanjut gadis itu.
Elisabeth sukses berdiri, ia berjalan meninggalkan pria yang masih terdiam syok setelah wajahnya diketahui. Pria lihai seperti dirinya, tak mampu menyembunyikan aset berharga miliknya di hadapan gadis yang malang.
Tentu dirinya tak terima, ia membalik tubuhnya dan mengejar Elisabeth yang belum sempat melangkah keluar dari ruang di mana ia ditahan.
Grep!
"Ugh!" Elisabeth terkejut, tubuhnya diangkat oleh pria itu ke dalam pelukannya. "Lepaskan! Turunkan aku!" serunya.
"Jangan harap kau dapat kabur dari tempat ini," geram pria itu.
"Ancam aku. Aku akan membuat seluruh dunia tahu siapa kau sebenarnya. Orang-orang yang menyembunyikan wajah sepertimu biasanya adalah seorang tahanan yang kabur, bukan?" ancam Elisabeth balik.
Pria itu diam tertegun, tak mampu melawan nona muda keluarga itu. Sontak membawa Elisabeth menjauh dari ruang bawah tanah, mereka sampai di sudut paling gelap di lantai itu.
Para pelayan dan pengawal memeriksa sumber suara ketika Elisabeth berseru. Dunia tak lupa bahwa waktu itu malam hari, dan Elisabeth ditahan hingga hari pernikahannya tiba.
"Nona muda menghilang!" lapor para pelayan dan pengawal. Elisabeth dapat mendengarnya dengan jelas.
Kini gadis itu bersama dengan pria yang tak pernah ia kenal, namun ia sempat melihat wajahnya. Pemilik suara berat dan serak itu tak disangka adalah pria yang memiliki paras muda dan tampan. Sayangnya, Elisabeth tak peduli. Pria itu adalah iblis yang membawanya kembali ke neraka ini.
"Kau bantu aku tinggalkan rumah ini, maka aku akan melupakan wajahmu," pinta Elisabeth.
Di malam sebelum umur Elisabeth menginjak 17 tahun, ia membuat persetujuan dengan pria yang menculik dan membawanya kembali ke rumahnya yang kelam. Mereka berpisah di tengah jalan. Elisabeth berharap, ia tidak akan bertemu dengan pria itu lagi.
dah mkanan tiap hari ini haha
gadis umur 16 thn hrus menikah dgn cpat