Rivaldo Xendrick yang mengalami cacat fisik akibat terkena siraman air keras dari selingkuhan kekasihnya yang bernama Lucas Anderson.
Kecacatan fisik itu, membuat hidupnya menderita dan dicampakkan oleh semua orang. Banyak orang yang menjauh darinya karena menganggap bahwa Rivaldo sebagai monster yang menakutkan. Hidup menggelandang tanpa siapapun yang peduli akan hidupnya, sampailah suatu hari, ada seorang wanita yang suka rela merawat dirinya dengan tulus.
Bagaimana kehidupan Rivaldo setelah itu? Akankah ia bisa bangkit kembali dari keterpurukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liska Oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Seorang Bos Mafia : Episode 10
Setelah satu hari beristirahat dengan penuh, jadwal yang ditentukan untuk berangkat ke Bandung telah tiba. Sebelum keberangkatannya ke Bandung bersama Nathan, pria itu mengundang Kekasihnya untuk makan malam bersama di rumah utama. Karena Mamanya yang meminta untuk membawa wanita itu ikut makan malam bersama di sana.
"Bagaimana, Maa? Apakah semuanya telah siap? Jika iya, aku akan menjemput Viona sekarang juga," Rivaldo bertanya dengan penuh semangat kepada Mamanya karena hendak menjemput calon menantu keluarga ini.
"Sebentar lagi akan selesai, Sayang. Tapi ada baiknya kamu menjemput dia, agar dia bisa membantu Mama memasak," kekeh Nani menjawab pertanyaan Putranya.
"Ya sudah, Rivaldo berangkat jemput Viona dahulu yah, Maa!" pamit Rivaldo pada Mamanya, ia tidak lupa untuk bersaliman pada Nani, Mamanya.
"Hati-hati di jalan, Sayang!" pekik Nani sambil melambaikan tangannya, menatap punggung pria itu sampai menghilang.
Nani sengaja mengundang Viona untuk makan malam bersama di rumah ini, karena ia akan menilai seperti apa sosok perempuan yang membuat Anaknya itu jatuh cinta. Apakah perempuan itu juga pantas untuk mendapatkan Rivaldo? Ia harus menyelidikinya nanti.
Rivaldo membelah jalan menuju jalan raya perkotaan untuk menjemput kekasihnya Viona. Karena malam ini adalah malam yang spesial baginya, membawa pasangannya bertemu dengan Orang tuanya.
Sungguh moment yang dinanti-nantikan bagi Rivaldo.
Tidak butuh waktu lama, pria itu telah memasuki gerbang utama rumah milik Orang tua Viona, ia memarkirkan mobilnya di depan garasi itu.
Ia turun dari dalam mobil dan berjalan menuju pintu.
Ting-tong!
Ia menekan bel rumah itu dengan jari tangannya. Pintu terbuka, terlihat sosok pria di hadapannya. Ia bingung, siapa pria itu? Sangat asing di mata Rivaldo.
Ini adalah sebuah tanda tanya baginya? Jika itu Kakaknya, sangat tidak mungkin. Selama ini Viona tidak pernah menceritakan bahwa dirinya memiliki seorang Kakak laki-laki.
"Maaf, Anda mencari siapa di sini?" tanya pria yang ada di hadapan Rivaldo.
"Saya kemari untuk mencari Viona, apakah Viona ada?" balas Rivaldo bertanya dengan serius. Ia memasang tatapan tidak suka ke arah pria yang ada di hadapannya. Entah mengapa, firasatnya sedikit merasa ada yang aneh.
"Viona? Viona tidak ada di sini!" cetus Lucas marah saat melihat kedatangan Rivaldo, menganggu kegiatan mereka.
"Siapa di sana?" sahut Viona tiba-tiba bertanya dari dalam sana.
Rivaldo pun tersenyum, melihat ketidaksukaan pria yang ada di hadapannya ini terhadap dirinya. Ternyata benar, pria itu juga tidak menyukainya, sebagaimana ia tidak menyukai pria itu.
"Bukankah itu suara Viona? Mengapa Anda menyembunyikan wanita itu? Apa jangan-jangan Anda masuk ke rumah ini secara diam-diam?" pancing Rivaldo dengan tersenyum miring. Ia sengaja memancing pria yang ada di hadapannya ini menjadi kesal.
Lucas menggertakan giginya marah, "Anda siapa? Apakah Anda orang penting yang harus saya jawab setiap pertanyaan Anda?"
"Tentu, karena saya adalah kekasihnya Viona Anastasya, bukankah saya berhak untuk mengajaknya keluar dari rumah ini?" tutur Rivaldo dengan tegas. Ia kembali membuat Lucas merasa tersaingi.
"Kamu kekasihnya? Saya sama sekali tidak percaya jika pria kaya kamu itu kekasihnya Viona," ledek Lucas dengan menghina.
"Eh, Sayang! Ayo kita pergi! Aku sudah siap, maaf membuatmu menunggu lama." cela Viona datang tiba-tiba. Ia mendekati Rivaldo dan melingkarkan tangannya di leher pria itu.
Viona memeluk sekilas dan menciumi kedua pipi Rivaldo dengan lembut. Hal itu, disaksikan di depan mata kepala Lucas sendiri. Lucas merasa kalah telak dibuat pria itu, ia menggertakan giginya kesal saat melihat kemesraan kekasihnya bersama Rivaldo.
Wanita itu menatap ke arah Lucas seperti mengisyaratkan agar pergi dari rumahnya. Namun Lucas tersenyum tipis di wajahnya.
"Sayang, dia siapa?" Rivaldo bertanya sambil menunjuk wajah Lucas.
"Ah, dia ... Dia Adik sepupuku, Sayang," jelas Viona terbata-bata. Ia tersenyum seperti kuda untuk menutupi kecanggungannya.
"Oh, pantesan dia kaya gak suka sama aku," protes Rivaldo cemberut. Tapi ia senang karena pria itu bukan siapa-siapa.
"Iyakah? Aduh, Lucas kenapa kamu gak sopan, sih, sama calon Kakak ipar kamu!" seru Viona memarahi pria itu.
Lucas tersenyum tipis, ia tidak menanggapi apa yang dikatakan Viona. Hatinya cukup panas saat melihat Viona mengakui bahwa dirinya hanyalah Adik sepupu.
"Sttt ... Tidak usah kamu marahin dia, ayo kita berangkat! Mama sudah menunggu kedatangan kamu di rumah," ajak Rivaldo pada kekasihnya. Ia merangkul pinggang ramping wanita itu.
"Lucas, jaga rumah! Jangan pergi ke mana-mana sebelum aku pulang!" perintah Viona pada lelaki itu. Rivaldo sama sekali tidak menyurigai drama antara kekasihnya dengan pria itu.
Viona tersenyum menatap wajah lelaki yang ia rindukan. Ia memeluk pinggang pria itu sampai ke mobil. Rivaldo membukakan pintu mobil mempersilahkan Viona untuk masuk. Lalu ia menutup pintu dan berputar masuk ke dalam mobil.
Lucas menatap dari kaca jendela dengan penuh kebencian, "Awas saja, lihat nanti, aku akan membuatmu dicampakkan oleh Viona!"
Rivaldo menginjak pedal gas dengan kecepatan sedang, menuju jalan raya perkotaan.
Tidak ada percakapan diantara mereka, Rivaldo menghembuskan nafasnya dengan panjang sambil menatap wanita yang ada di sampingnya dengan tatapan penuh cinta.
"Sayang, apakah kamu tidak merindukan aku?" Rivaldo memecahkan keheningan. Mendengar pertanyaan dari pria itu, Viona refleks meletakkan benda pipih itu masuk ke dalam tasnya.
"Tentu aku merindukanmu, Sayang. Bagaimana tidak aku tidak merindukanmu," celetuk Viona tersenyum manis menatap pria itu.
"Kamu ke mana saja? Selama aku pergi ke Luar Negeri?" tiba-tiba Rivaldo kembali pada topik pembicaraan yang ingin ia tanyakan.
"A ... Apa, Sayang? Tentu aku di rumah, aku gak ke mana-mana selama kamu pergi, dan kamu kenapa gak kabarin aku? Kalau kamu pergi ke Luar Negeri? Kamu jahat deh!" elak Viona bertanya kembali kepada pria itu.
"Maafkan aku yang tidak mengabarimu, aku menunggu kabar darimu. Aku sangat sibuk di sana. Kemarin beberapa hari yang lalu, gudang senjata di sana mengalami perampokkan, dan yang merampok adalah Jeprian, mantan orang kepercayaanku dahulu," jelas Rivaldo dengan panjang sambil menyetir mobil menuju rumahnya.
"Apa? Kenapa bisa seperti itu, Sayang? Jep mengkhianatimu? Ini tidak mungkin!" cetus Viona terkejut, merasa tidak yakin, kalau Jep mengkhianati Rivaldo.
"Itulah kenyataannya, Sayang. Mungkin ini semua adalah akhir dari permainannya yang terus memakai topeng untuk menjatuhkanku. Sekali pengkhianat, tetaplah pengkhianat, sampai kapanpun," celetuk Rivaldo dengan serius. Viona merasa kalimat itu seperti sindiran yang terpanah pas untuk dirinya.
"Ya. Tapi bukankah pengkhianat akan bisa berubah? Jika ia mengakui kesalahannya?" Viona berkata dengan enteng seperti tidak merasa bersalah pada diri pria itu, setelah mengkhianati Rivaldo dengan perselingkuhannya dengan Lucas.
Kala bener Rivaldo seorang Mafia, dia akan menugaskan anak buah nya utk membuntuti dan melaporkan setiap gerak gerik nya Viona, melaporkan segala rencana buruknya...
Tapi Rivaldo bukan Mafia, cuma pedagang senjata aja...