Karin Emira Brisia adalah seorang gadis berusia 21 tahun yang ceria. Namun di malam itu, hidupnya hancur seketika saat bertemu dengan CEO yang dingin.
CEO itu menyeretnya ke sebuah kamar dan mengambil sesuatu yang paling berharga darinya. Akhirnya, Karin di usir dari rumahnya sendiri dan melakukan kawin kontrak.
Ig : @reinata_r
Untuk readers tersayang
Jangan lupa boom like dan vote nya yah, dan masukkan ke list favorite kalian. Selalu beri dukungan buat author yah...
Gomawo chingu 💞💞💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran di Pagi Hari
•••~Happy Reading~•••
Karin segera memasuki kamar barunya, pandangannya mulai menelisik isi ruangan yang di dominasi warna abu-abu itu.
Ranjang berukuran besar terlihat bertengger di pusat ruangan, membuatnya tampak paling mencolok dari perabotan lain.
Di luar kamarnya, terdapat balkon yang di lengkapi dengan kursi-kursi yang berjajar rapi, cocok untuk menikmati suasana malam di tengah hiruk pikuk kepadatan kota.
Karin langsung melajukan kakinya ke kamar mandi yang terletak di sudut kamarnya, berniat membersihkan tubuhnya yang sudah mulai lengket dengan keringatnya.
Berpuluh menit telah berlalu, Karin keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya. Tanpa mengganti pakaiannya, ia langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
Ia menatap langit-langit kamarnya, rasa sesak di dadanya seolah kembali. Hatinya mulai sesak dengan situasi yang kini telah membelenggunya.
Takdir macam apa yang telah mempermainkannya, takdir macam apa yang telah merenggut semua kebahagiaannya, takdir macam apa yang membiarkannya diperalat oleh orang yang telah menghancurkan kehidupannya.
"Mama...., aku rindu mama. Apa mama di surga melihatku sekarang? Betapa menyedihkannya kehidupanku sekarang ma. Aku sudah cukup bahagia hidup dengan papa, meski papa tidak pernah menganggapku. Aku sudah cukup bersyukur dengan kehidupanku yang dulu bersama papa. Mama, aku ingin melihat mama, hiks hiks....."
~Karin~
Ditengah malam yang sunyi, tangisnya terus saja menghujani pipinya, hingga ia tertidur pulas menikmati mimpi yang mulai merengkuhnya dengan hangat.
🍁🍁🍁
Matahari mulai merangkak naik, sinarnya mulai menyapu bumi dengan penuh kehangatan. Karin membuka matanya pelan, membangkitkan tubuhnya yang hanya ia balut dengan jubah mandi.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, membuat ia segera bangkit dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya.
Karin hanya mengeluarkan sebagian kepalanya, sedang tubuhnya yang hanya terbalut jubah mandi itu, ia sembunyikan di balik pintu yang sedikit terbuka.
" Maaf nona, 30 menit lagi anda harus segera turun untuk sarapan dengan tuan muda... " Titah pak Li pada Karin.
" Baik, terimakasih pak Li... "
Karin langsung berhambur ke kamar mandi, mengguyurkan air hangat ke tubuhnya untuk membuang bekas tidurnya.
Setelah lama bersemedi di kamar mandi, akhirnya Karin bisa melepaskan diri darinya dan segera menuju ke lemari pakaian yang terletak di pojok ruangannya.
Terlihat banyaknya pakaian baru yang bertengger di lemari itu, namun ia tak mendapati sehelai pun pakaian lamanya.
" Pakaianku kok tidak ada? Bukankah pak Li sudah memindahkan semua barang- barangku? " Batin Karin.
Karin pun memakai pakaian seadanya, sebuah dress berwarna merah selutut. Entah mengapa pakaian itu begitu pas melekat di tubuhnya, membuat lekuk tubuhnya terlihat begitu indah.
Ia menuruni tangga, mencari keberadaan pak Li yang berada di entah berantah.
" Pak Li... " Panggil Karin yang melihat pak Li baru saja keluar dari dapur.
Pak Li yang mendengar ada yang memanggilnya sontak menoleh, " iya nona, ada yang bisa saya bantu? ''
" Pak Li kemarin bilang sudah memindahkan barang-barang saya, tapi kok saya tidak menemukan pakaian lama saya pak? " Tanya Karin.
" Tuan menyuruh saya untuk membuangnya nona, dan mengganti dengan pakaian baru... " Pak Li mengembangkan senyumnya.
" Apa? Kenapa dibuang pak, pakaian saya kan masih bagus juga? " Karin mendengus kesal.
" Maaf nona, itu adalah perintah dari tuan. Sebaiknya nona segera ke ruang makan, tuan akan segera turun " Perintah pak Li.
" Baiklah pak Li "
Karin duduk di bangku meja makan dengan wajah kesal, beberapa kali dia merutuki sikap Marcel yang sudah semena-mena terhadapnya.
Lift itu pun terbuka, memperlihatkan wajah Marcel yang begitu mempesona dengan balutan jas hitamnya.
Dengan di buntuti Reihan, Marcel mulai melangkahkan kakinya menuju ruang makan kemudian duduk tepat di depan Karin, sedang Reihan berdiri di sampingnya.
Kenapa gadis ini, wajahnya membuatku merasa kesal sendiri, batin Marcel.
" Ada apa? " Tanya Marcel dengan nada dinginnya.
Karin tak menggubris, tangannya masih memainkan sendok diatas piringnya yang masih kosong.
" Hai, apa kamu tuli '' Ketus Marcel mulai kesal.
Karin yang merasa sudah membuat Marcel kesal, akhirnya terpaksa membuka suara lirihnya tanpa memandang Marcel sedikitpun, " Tidak ada apa-apa... ''.
" Pak Li.... " Marcel meninggikan suaranya beberapa oktaf untuk menjangkau seluruh ruangan di mansionnya.
Pak Li yang mendapat panggilan itu pun, langsung menghadap Marcel dengan kecepatan penuh.
" Kenapa gadis ini? " Tanya Marcel dengan wajah yang mulai tak ramah.
Pak Li mengedarkan pandang pada Karin, terlihat wajah gadis itu sedang menahan amarah yang memuncak.
" Mungkin karena saya sudah membuang pakaian nona, tuan... "
" Apa!!! Cih..., benar-benar gila. Apa kamu ingin menangisi pakaian bututmu itu " Ucap Marcel tersenyum sinis.
" Jangan pernah menghina pakaianku tuan. Kembalikan saja padaku ... " Karin menaikkan pandangannya, hingga mereka saling bersitatap dengan mata yang menyimpan amarah.
" Lupakan pakaian bututmu, itu membuatku sakit mata... "
" Periksa saja ke dokter mata, jangan bawa-bawa pakaianku " Karin mulai menaikkan nada suaranya.
" Ku bilang lupakan ya lupakan, apa kau tuli... " Marcel mengeluarkan suaranya yang menggelegar, sudah tak mampu menahan amarahnya yang sudah di puncak ubun-ubun.
" Dasar anjing gila... " Lirih Karin memaki.
Entah kekuatan dari mana yang memberikannya keberanian setinggi gunung dan seluas samudra, untuk memaki orang paling kejam di depannya. Hingga membuat orang yang mendengarnya, seolah tak percaya dengan apa yang dilakukan gadis itu.
Nona, anda wanita pertama yang berhasil memaki tuan Marcel. Batin Reihan
" Hei, beraninya kamu memakiku... " Marcel menggebrak meja makan, membuat Karin yang duduk di depannya tersentak dan berdecak ketakutan.
" Aku bilang lupakan pakaian bututmu, dasar kepala batu...." Tukas Marcel dengan amarah yang memuncak, membuat Karin hanya diam seribu bahasa.
" Apa kau dengar... " Marcel menekan suaranya.
" Iya tuan... " Jawab Karin.
______________
Hi Hi readers😘.....
Selalu dukung author yah
Tinggalkan jejak dengan like, rate, vote dan masukkan ke list favorite kalian
Happy reading....💞💞💞
tapi cba penulisan nya jangan kbnyakan nya 🙏🙏🙏