NovelToon NovelToon
Gadis Nakal Milik CEO Tampan

Gadis Nakal Milik CEO Tampan

Status: tamat
Genre:Wanita Karir / CEO / Persahabatan / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Kantor / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:127.4k
Nilai: 5
Nama Author: Marthin Liem

Ketika pertemuan yang menyebalkan harus di bayar dengan sebuah obsesi cinta seorang CEO muda, kaya raya, dan tampan. Namun, semua itu tak mampu menaklukan kerasnya hati Jane, seorang gadis muda yang berusaha menjaga martabat dan harga dirinya saat berhadapan dengan pria sombong, selalu bertingkah mesum, dan juga ceroboh seperti Joe.
Mampukah Joe memperjuangkan cintanya?
Ikuti kisah yang melibatkan intrik bisnis, ketegangan romantis, dan pertarungan hati antara Joe dan Jane.

Cerita ini berlanjut ke season 2

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marthin Liem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bos absrud

Joe mengusap pipinya yang perih akibat tamparan Jane. "Shh," desis Joe, membelalak dengan tatapan intimidasi.

"Kamu berani menamparku!" bentaknya, mendorong pundak Jane hingga punggungnya terbentur dinding.

"Aw!" pekik Jane menahan sakit di tulang belakangnya. Joe mendekat, menahan Jane dengan satu tangan di dinding, berusaha mengunci pergerakannya.

"Berani kamu, hah?!" Joe mendekatkan wajahnya dengan Jane, hidung mereka hampir bersentuhan, bibir mereka nyaris menyatu.

Joe mencoba menautkan tepi bibirnya, namun dengan gerak cepat, Jane memalingkan wajahnya. Joe menabrak tembok, membuat Jane terkekeh geli.

"Aduh, sakit!" keluh Joe sambil mengusap tepi bibirnya karena terbentur, membuatnya harus merasakan sensasi ngilu yang luar biasa.

"Hahaha, rasain! Enak ciuman sama tembok?" ledek Jane, seakan puas melihat penderitaan Joe. "Makannya, jangan mesum jadi orang!" lanjutnya tegas. Joe mendengus kesal.

Akhirnya, ia menyerah sambil menarik lengan Jane ke tempat pembaringan.

"Mau ngapain?" tanya Jane gemetar, takut Joe melakukan sesuatu yang tak semestinya.

Joe menunjuk ke arah belakang punggungnya sendiri, memerintah, "Kerokin punggung aku!"

Jane terperangah. "Hah? Gak salah? Masa aku disuruh kerokin?" cecar Jane, karena perintah Joe bukan bagian dari tugasnya.

"Perintah adalah tugas! Paham?!" ucap Joe tak bisa dibantah. Jane mengangguk dengan keterpaksaan.

Ia meraih koin dan minyak angin untuk mengerok punggung Joe, karena Joe merasa tak enak badan setelah pulang dari Bandung.

Jane melakukannya kasar, membuat Joe berteriak. "Aww, pelan dong! Kamu itu jadi perempuan kok kasar!"

Jane kesal menggerutu di belakang Joe. "Apes, apes, mimpi apa aku semalam? Kenapa harus bertemu dengan makhluk ini lagi, sih?"

"Hmm, lumayan nih perempuan, bisa aku manfaatin, hihihi..." batin Joe sambil menikmati kerokan di punggungnya.

"Gimana hasilnya? Merah tidak?" tanya Joe.

"Iya, merah banget!" jawab Jane, lengannya masih berselancar di punggung Joe dengan koin yang digenggamnya.

Selesai, Joe membalikan tubuh, rebahan di tempat tidur, otot-otot kekar di lengan, dada, dan perutnya terlihat dengan jelas.

Sedangkan, Jane langsung membetulkan lengan kemeja yang sejak tadi terlinting usai mengerok punggung Joe.

"Hei, belum selesai... !!!" teriak Joe, ucapannya kembali membuat tensi darah Jane naik.

Jane mengangkat wajahnya, lalu bertanya, "apa lagi tugas aneh yang harus aku lakukan?"

Kali ini, Joe memintanya untuk memijat bagian dada, Jane dengan malas memutar kedua mata karena merasa keberatan dengan permintaan aneh sang atasan.

"Cepat lakukan, perintah adalah tugas!" titahnya dengan tegas, dan Jane mengangguk secara perlahan.

"Iya, iya!"

Ia membubuhi dada Joe dengan minyak angin yang membuat hidung dan kedua matanya perih dan pedas.

"Nih orang, udah kaya aki-aki saja!" gumamny dengan suara yang pelan hampir tak terdengar. Namun, indra pendengaran Joe mampu menangkap kata-katanya.

"Apa kamu bilang? Aki-aki? Kamu ngatain aku aki-aki?" Joe yang tak terima dengan ledekan Jane langsung bangkit dari berbaringnya, lalu menatap buas wajah Jane yang terlihat kikuk.

Gadis itu bersusah payah mengulum senyum di hadapan Joe sambil menahan tawa.

"Enak saja kamu mengataiku Aki-aki! aku ini masih muda, baru 29 tahun, masih ganteng, masih fresh!" ucap Joe dengan tegas, Jane tertunduk karena ia malas untuk berdebat dengannya.

Joe meraih pergelangan tangan Jane, hingga tubuh gadis tersebut mendarat menimpa dadanya.

Jane merasakan otot-otot di perut Joe menempel dengan tubuhnya. Sementara, Joe merasakan dua gunung kembar Jane merekat dengan dada bidangnya, sungguh posisi yang sangat nyaman bagi Joe, tetapi, tidak bagi Jane.

Jane berusaha keras untuk bangkit. Namun, tenaganya kalah dari Joe.

Kedua mata mereka saling bertemu nyaris tak mampu berkedip selama beberapa detik, Jane bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat.

Joe semakin tak tahan untuk merasakan sentuhan bibirnya. Namun, tiba-tiba saja dering ponsel berhasil membuyarkan aktifitas mereka berdua.

"Aish!" Joe mengusap wajahnya kesal, lalu ia menyambar benda pipih yang ia taruh diatas nakas.

Joe menggeser layar ponselnya keatas untuk menjawab panggilan dari sahabat karibnya.

"Halo, Zic, ada apa?" tanya ketika sedang duduk bersandar di atas tempat tidur kantor.

"Joe, sorry ya, aku baru kasih tahu sekarang, kalau aku hari ini tidak masuk kantor. Sumpah demi apapun, badanku meriang gara-gara insiden kemarin!" Papar Zico memberitahu kondisinya yang semakin parah, karena merasakan reaksi meriang akibat luka di siku, dahi, dan juga lututnya.

Joe mengangguk, ia pun sama-sama merasakan, hanya saja ia tak separah Zico.

"Oke, kamu istirahat saja," titah Joe."kamu sudah menghubungi Dokter?" tanyanya dengan khawatir, dan Zico terkekeh seperti salah tingkah.

"Udah, aku panggil Dokter Zea, aku suruh dia datang kerumah, hehehe," jawab Zico, dan Joe langsung memakinya dengan nada gurauan.

"Eh, kunyuk! Kamu itu cuma modus doang panggil dia kerumah! Lagian, Zea itu bukan Dokter, dia hanya siswi praktek! Awas kalau sampai kamu apa-apain!" Joe berusaha memperingatkan Zico.

Joe, meski belum mengenal Zea ia merasa khawatir jika Zico nekat mendekatinya, karena ia hafal betul karakter Zico seperti apa.

Zico dan mantan tunangannya, Tiara, mereka sudah melakukan hal diluar pernikahan. Maka dari itu, Joe tak ingin Zico mencari pelampiasan kepada sembarang perempuan, terutama kepada Zea yang terlihat masih sangat polos.

Zico terdengar tertawa lepas di seberang telepon.

"Iya, iya, aku tau, Joe. Tapi kan, siapa yang bisa menolak perawatan dari seorang siswi praktek yang cantik seperti Zea?" Zico menjawab dengan nada ceria.

Joe hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum mendengar ucapan temannya.

"Baiklah, baiklah, hati-hati ya, Zic, kalau sampai kamu macam-macam sama anak gadis orang, kau akan tahu sendiri akibatnya," ancam Joe serius. "Jangan lupa beristirahat dengan baik, dan pastikan untuk mengikuti saran dari Zea, meskipun dia hanya siswi praktek." sambungnya.

Tak lama setelah itu panggilan pun berakhir, Joe kembali menaruh ponselnya diatas nakas.

Sedangkan Jane terlihat tengah mengoceh tanpa menimbulkan suara dengan gerak mulut yang cepat, ia tak sadar jika Joe sedang memperhatikannya.

"Sok, sok nasehatin temannya, dianya sendiri kelakuannya mesum begitu!" gerutu Jane.

"Heh!" Joe berupaya menyadarkan Jane yang tengah sibuk dengan ocehannya, lalu Jane menoleh.

Tampaknya kali ini Jane mulai jengah berada di kamar pribadi Joe, ia lantas menekuk wajahnya sambil memukul-mukuli permukaan tempat tidur.

"Kamu kenapa?" tanya Joe yang saat itu kembali merapihkan pakaiannya.

"Aku ingin keluar dari sini, Bambang!" rengek Jane, Joe yang sedang membetulkan kancing kemeja langsung membelalak mendengar Jane memanggilnya dengan nama 'Bambang.'

"Bambang, Bambang! Namaku Joe, Jonathan Tanadi, bukan Bambang, dasar Romlah!" Joe balas meledek Jane.

"Romlah, Romlah, enak saja! Namaku Jane, nama lengkap ku Jenifer Jane, ngerti ora?!" Jane tak ingin kalah berdebat dengan Joe.

Joe malah tertawa lepas melihat ekspresi kekesalan yang terpancar dari raut wajah Jane sambil terus meledek Jane dengan nama 'Romlah.'

"Romlah, Romlaaah, Romlah, Romlaaah," ledek Joe, hal itu berhasil membuat Jane semakin kesal dan murka.

Jane meraih bantal, kemudian ia jajal ke wajah Joe.

"Berisik!" teriak Jane gemas.

Joe semakin menjadi-jadi, ia merasa nikmat bisa menertawakan kekesalan Jane.

"Iya Jane, sorry," ucapnya.

"Jane, kau masih gadis atau sudah Janda?" sambungnya meledek sambil bersenandung, membuat Jane semakin murka terhadap Joe.

"Cukup ya! kamu itu sudah bikin tensi darahku semakin naik!" bentak Jane, Joe seakan memiliki hiburan baru dengan kehadiran Jane di dekatnya.

Sesudah Joe merapihkan pakaiannya, mereka berdua keluar dari dalam kamar.

"Jane, cepat buatkan aku kopi!" titahnya, membuat Jane kembali memutar kedua matanya jengah, karena itu juga sama sekali bukan tugasnya.

Jane bergegas keluar dari ruangan Joe, lalu melangkah menuju pantry.

Awalnya ia tersesat karena baru pertama kalinya ada di perusahaan tersebut.

"Permisi, Bang, pantry sebelah mana, ya?" tanya Jane bingung. "Sebelah kiri, Bu," jawab Erwin seorang Office Boy.

Jane kembali berjalan sesuai arahan Erwin. Pada akhirnya ia menemukan ruangan tersebut.

Ia berusaha meraih cangkir yang tersimpan di rak tepat di atas kepalanya. Benda itu hampir saja terjatuh. Namun, seorang pria bertubuh tinggi dengan sigap menahannya.

Jane memejamkan mata, tangan melindungi kepalanya. Saat membuka mata, ia melihat seseorang berdiri di dekatnya.

Reflek, manik indahnya langsung membola. "Wah, gantengnya," gumam Jane, menatap wajah Irsan, salah satu karyawan Jonathan. Irsan memiliki fisik sempurna, wajah tampan dengan alis tebal, mata bulat, hidung mancung yang menggoda.

Jane tak bisa berhenti menatap kesempurnaan yang ada pada diri Irsan. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Irsan dengan penuh kelembutan, dan Jane menggeleng sambil tersenyum, matanya terpaku.

"Ti...tidak," jawabnya terbata.

"Ya sudah, saya permisi," pamit Irsan yang saat itu baru saja meneguk air minumannya.

Jane terpesona sambil menatap punggung Irsan saat lelaki itu berlalu, keluar dari pantry.

"Udah ganteng, kalem, baik, beda jauh sama si tokek kurap yang pecicilan itu!" cibiran Jane yang tertuju pada Jonathan.

Jane tahu, ia dan Irsan jelas-jelas berbeda suku, dan mungkin keyakinan mereka juga berbeda.

Tapi, entah mengapa, ia merasa ada ketertarikan pada pandangan pertama terhadap Irsan.

Kini ia kembali tersadar setelah terdiam beberapa saat mengingat peristiwa barusan.

"Oh iya, aku kan harus membuatkan kopi buat si tokek kurap!" gumamnya kesal. Bahkan, Jane melakukannya seakan tak ikhlas.

"Ngapain ada OB atau OG, kalau dia suruh aku?" gerutunya, sampai-sampai ia salah memasukan sesuatu kedalam kopi tersebut. Ia menambahkan serbuk michin yang dikira gula pasir.

...

Bersambung...

1
Sairah Romi
org tua. anak sm cucu ny sm" sombong. tar jg bkalan jatoh bangkrut tu si jo
Kim Jong Unch
Terimakasih atas dukungannya, kak. ❤️❤️❤️
Asriani Rini
Ya tamat ending yang sangat bagus terimah kasih thor ditunngu karya selajutnya
Sairah Romi
aku mau ny sora nikah ny sm brian tur
Kim Jong Unch: Hehe, Author juga maunya gitu. ☺️
total 1 replies
샤롷툴 밯디얗
bagus mending nikah sama Brian dari pada jadi korban ke bejadan si lucknut dan jujur semenjak gidoen ada makin nguras emosi jadi ilfill ma Gideon brrti Thor sudah berhasil bikin nguras emosi pembaca walau d bilang cukup kurang baik karakternya, semangat terus thorrr bikin karya2 kerennya 🫰🫰🫰
Kim Jong Unch: Terimakasih banyak atas dukungannya kak.🥰
total 1 replies
Sairah Romi
sora itu bodo amat si. udh tau si deon kya gitu msih mau aj
Sairah Romi
jdi kesel sm si jo. udh tinggalin aj jen
Cassie Lee
kok jadi males baca semejak deon dewasa. terlalu medramatisir karakter deon dewasa
Kim Jong Unch: Sbelumnya makasih kak sudah mampir dan koment 🙂🙂🙂. Mengenai tokoh Deon, nanti akan ada perkembangan karakter juga kok.
total 1 replies
Ani
ada nama saya 😁😁😁😁
Kim Jong Unch: Hehe, makasih udah mampir kak.
total 1 replies
Nur Adam
lnjjt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!