Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30. Gema di ruang tengah
H-10. Angka itu sekarang tidak lagi terasa seperti ancaman, melainkan seperti pengingat tentang betapa singkatnya waktu yang tersisa sebelum segalanya menjadi resmi. Apartemen Unit 402 yang biasanya terasa dingin dan kaku—persis seperti pemiliknya—kini perlahan mulai terasa seperti sebuah rumah. Aroma kopi mahal milik Saga kini bercampur dengan aroma keripik jagung pedas milik Nala. Kontras, tapi entah bagaimana, mulai terasa serasi.
Setelah kejadian "drama rendang" di depan orang tua Nala beberapa jam yang lalu, suasana di antara mereka mendadak berubah. Tidak ada lagi sindiran tajam atau adu mulut yang meledak-ledak. Yang ada hanyalah keheningan yang canggung, namun hangat.
Nala duduk di atas karpet bulu di ruang tengah, menyandarkan punggungnya pada sofa. Ia sedang mencoba fokus pada majalah desain interior yang sebenarnya hanya ia bolak-balik halamannya tanpa dibaca. Pikirannya melayang pada kejadian di meja makan tadi. Tentang bagaimana Saga mencium puncak kepalanya dengan begitu natural, dan bagaimana jantung Nala bereaksi seolah-olah baru saja disetrum tegangan tinggi.
"Nala," panggil Saga pelan.
Nala tersentak kecil, hampir menjatuhkan majalahnya. Ia menoleh dan mendapati Saga sedang berdiri di ambang pintu ruang kerjanya. Pria itu sudah melepas kemeja formalnya, menyisakan kaos oblong hitam yang pas di tubuhnya dan kacamata berbingkai tipis yang membuatnya terlihat sepuluh kali lebih tampan namun lebih manusiawi.
"Ya, Mas?"
Saga tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di sofa tepat di belakang Nala. Jarak mereka begitu dekat hingga Nala bisa mencium aroma sabun mandi Saga yang segar.
"Soal tadi siang... di depan orang tua kamu," Saga memulai, suaranya rendah dan sedikit ragu. "Saya minta maaf kalau improvisasi saya membuat kamu tidak nyaman."
Nala menggigit bibir bawahnya, menatap ujung jempol kakinya. "Nggak apa-apa, Mas. Kan... kan itu bagian dari rencana aku juga. Walaupun ya, Mas aktingnya beneran jago banget sampai aku sendiri hampir ketipu."
Saga terdiam sejenak. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, menatap langit-langit apartemen. "Kamu benar-benar berpikir itu cuma akting?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, membuat suasana mendadak membeku. Nala menahan napas. Ia tidak berani menoleh. "Maksud Mas?"
"Lupakan," potong Saga cepat, seolah menyesali pertanyaannya sendiri. ia berdehem untuk mengusir kecanggungan. "Saya hanya merasa... setelah sekian banyak siasat yang kita buat, semuanya justru berbalik menyerang kita. Keluarga kita semakin yakin, dan kita sendiri... semakin sulit untuk menarik garis batas."
Nala akhirnya memberanikan diri untuk berbalik, mendongak menatap wajah Saga dari bawah. "Mas juga ngerasa gitu ya? Aku pikir cuma aku yang ngerasa kalau siasat kita ini gagal bukan karena mereka pinter, tapi karena kita yang makin... aneh."
Saga menundukkan wajahnya, menatap Nala. Kacamata yang ia pakai sedikit melorot di hidungnya, memberikan kesan rapuh yang belum pernah Nala lihat sebelumnya. "Saya tidak tahu sejak kapan, tapi daster beruang kutub kamu yang pudar itu mulai terlihat tidak terlalu buruk di mata saya."
Nala tertawa kecil, tawa yang tulus tanpa beban. "Wah, Mas Saga beneran udah sakit nih. Perlu aku panggilin dokter atau mau aku kasih keripik micin buat penawar racun?"
Saga ikut tersenyum. Senyum kecil yang sangat jarang ia perlihatkan. Ia mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya mengacak rambut Nala yang dikuncir asal-asalan.
"Nala," panggil Saga lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.
"Iya?"
"Kalau... seandainya kita berhenti bersiasat. Kalau kita jalani saja apa adanya tanpa mencoba merusak apa pun lagi. Apa kamu keberatan?"
Nala tertegun. Jantungnya berdegup kencang, kali ini lebih kencang dari ledakan kembang api tahun baru. "Maksud Mas... kita menyerah? Kita beneran bakal nikah sepuluh hari lagi?"
Saga mengangguk pelan. "Saya lelah berperang dengan takdir yang sepertinya selalu menang, Nala. Dan setelah menghabiskan waktu bersama kamu, saya menyadari bahwa hidup yang 'berantakan' bersama kamu mungkin jauh lebih baik daripada hidup yang 'sempurna' tapi sendirian."
Nala merasakan matanya mulai memanas. Selama ini, ia selalu menganggap Saga sebagai penghalang kebebasannya, sebagai pria kaku yang dipaksakan masuk ke dalam hidupnya. Namun malam ini, di bawah temaram lampu ruang tengah, ia menyadari bahwa Saga adalah pria yang selalu menjaganya di setiap sabotase yang ia buat. Pria yang membelanya di depan Sarah, pria yang menghormati orang tuanya, dan pria yang—entah sejak kapan—telah mencuri ruang di hatinya.
"Mas tahu nggak?" bisik Nala, suaranya sedikit serak. "Awalnya aku benci banget sama Mas. Mas itu jutek, kaku, dan kayak robot."
"Lalu sekarang?" tanya Saga, matanya menatap dalam ke mata Nala.
"Sekarang... aku masih benci kalau Mas jutek. Tapi aku lebih benci kalau Mas nggak ada buat dengerin suara keripik aku," jawab Nala sambil tersenyum di sela air matanya yang mulai jatuh.
Saga tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar sangat maskulin dan menenangkan. Ia turun dari sofa, ikut duduk di karpet di samping Nala. Ia mengulurkan tangannya, menghapus air mata di pipi Nala dengan ibu jarinya.
"Berarti kita sepakat? Berhenti bersiasat?" bisik Saga.
Nala mengangguk pelan. "Iya. Berhenti."
"Meskipun itu berarti kamu harus terjebak dengan pria kaku ini seumur hidup kamu?"
Nala menyandarkan kepalanya di bahu tegap Saga. "Asal Mas janji nggak bakal protes kalau aku makan seblak di ruang kerja Mas."
"Janji," sahut Saga sambil merangkul bahu Nala, menarik gadis itu lebih dekat ke pelukannya.
Malam itu, di H-10, perang antara Saga dan Nala resmi berakhir. Tidak ada bendera putih yang dikibarkan, yang ada hanyalah dua hati yang akhirnya menemukan jalan pulang. Mereka duduk bersisian di ruang tengah, menonton film komedi yang disukai Nala, sesekali berdebat kecil soal alur cerita, namun tangan mereka saling bertautan erat di atas sofa.
Keesokan paginya, suasana apartemen terasa jauh lebih ringan. Saat Tante Sofia menelepon untuk menanyakan soal pemilihan lagu untuk resepsi, Saga tidak lagi mendesah frustrasi. Ia justru melirik Nala yang sedang asyik sarapan sereal, lalu menjawab dengan tenang.
"Terserah Mama saja. Yang penting Nala suka," ujar Saga ke ponselnya.
Nala yang mendengar itu hampir tersedak serealnya. Ia menatap Saga dengan mata membelalak, sementara Saga hanya mengedipkan sebelah matanya—sebuah gestur yang sangat tidak-Saga-sekali, namun sangat disukai Nala.
"Mas! Kamu bikin Mamamu curiga!" seru Nala setelah Saga menutup telepon.
"Baguslah. Biar dia tahu kalau anaknya ini sudah tidak lagi tertekan," sahut Saga santai sambil berjalan menuju dapur untuk mencuci gelasnya.
Nala tersenyum lebar. Ia merasa hidupnya yang tadinya penuh drama sabotase kini berubah menjadi komedi romantis yang manis. H-10, H-9, H-8... angka-angka itu kini tidak lagi terasa seperti hitungan mundur menuju kiamat, melainkan hitungan mundur menuju hari paling bahagia dalam hidup mereka.
Mereka mulai melakukan hal-hal kecil bersama tanpa paksaan. Saga mulai membiarkan Nala memilihkan warna dasi untuknya, dan Nala mulai mendengarkan penjelasan Saga soal filosofi bangunan dengan penuh minat—meskipun lima menit kemudian ia tetap akan bertanya, "Jadi ini pintunya lewat mana?".
Namun, di tengah kenyamanan yang baru tumbuh itu, Nala tetaplah Nala.
"Mas!" panggil Nala suatu sore saat mereka sedang merapikan beberapa kado yang mulai berdatangan.
"Ya?"
"Kalau nanti kita nikah, aku mau kita tetep simpen foto prewedding yang pakai baju senam neon itu ya? Kita pajang di kamar!" ujar Nala sambil tertawa jahil.
Saga menghela napas panjang, namun matanya berbinar penuh sayang. "Saya rasa itu adalah benda paling memalukan yang pernah saya miliki seumur hidup, Nala."
"Tapi itu bukti perjuangan kita, Mas! Bukti kalau kita pernah 'kalah bersama-sama'!"
Saga terdiam sejenak, lalu ia menarik Nala ke dalam pelukannya. "Kamu benar. Dan saya tidak keberatan kalah setiap hari, asalkan pemenangnya adalah kamu."
Nala tertegun, lalu menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada Saga. "Gombal! Mas belajarnya di mana sih?"
"Dari keripik micin kamu," bisik Saga sambil mencium puncak kepala Nala.
H-10 yang seharusnya menjadi puncak kegilaan, justru menjadi awal dari sebuah kejujuran yang paling manis. Mereka tidak lagi butuh siasat, karena cinta ternyata adalah siasat terbaik yang pernah dikirimkan semesta kepada mereka.
kok kalimatnya seolah2 baru ketemu sih, apalagi sampai bandingin dengan di foto.