NovelToon NovelToon
Dendam Maharani

Dendam Maharani

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Dendam Kesumat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.

cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.

maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.

maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.

akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

aku hamil

Andre masih berbaring disisi Rani.

Matanya menatap langit-langit gubuk yang mulai reot dimakan usia.

Sementara Rani sudah kembali memakai dress miliknya.

"Mas... pakai celananya..." ucap Rani memegang celana jeans milik Andre.

Laki-laki itu kemudian bangkit dan mulai memakai pakaiannya satu-persatu.

Hari sudah semakin sore saat keduanya duduk berdampingan dengan Andre yang merangkul bahu Rani. Keduanya menatap luasnya permukaan danau yang berkilau karena bias cahaya matahari sore.

"Kamu masih marah?"

"Masih..." sahut Ran singkat.

Andre mengernyit. "Apa kamu masih tidak sadar kalau aku selalu menikmati setiap kali kita menyatu... Itu adalah sebagai ungkapan cintaku kepadamu"

Rani mengangkat kepalanya yang semula bersandar dibahu Andre.

"Tapi itu semua tidak bisa membuat kamu batal menikahi Meri kan mas...?"

"Rani... kan sudah aku katakan, aku akan menikahi Meri dan setelah bayi yang dikandung Meri lahir, aku akan menceraikannya, lalu aku akan menikahimu. Percayalah padaku...."

"Lalu aku melahirkan seorang diri?" kalimat Rani terdengar berat tapi tetap jelas ditelinga Andre.

"Maksud kamu?"

Rani meraih shoulder bag miliknya dan mengeluarkan kantong kresek hitam dari dalam saku tasnya.

"Lihatlah mas...." pinta Rani menyerahkan bungkusan tersebut pada Andre.

Tangan Andre ragu menerimanya, tapi dia juga penasaran.

Setelah dibuka, wajahnya semakin terkejut.

Dia tahu arti dua garis merah pada benda yang kini dipegangnya.

"Aku hamil... " ucap Rani sambil mengelus perutnya yang masih rata.

Tangan Andre bergetar.

"Tapi mana mungkin?"

"Apa maksud mas mana mungkin?" Rani cukup berang dengan reaksi Andre.

"Apa mas lupa akhir-akhir ini kita bermain tanpa pengaman termasuk yang tadi?" suara Rani sedikit bergetar.

"Hai sayang tenang dulu... maksud mas, bukankah kita melakukan hal itu hampir sebulan lalu. Memangnya kamu udah periksa kedokter dan berapa usianya..." Andre mencoba meralat kata-katanya.

Rani menggeleng.

Andre menghela nafas panjang.

Dia melirik jam ditangan.

"Masih pukul 4 sore, bagaimana kalau kita periksa ke salah satu bidan dikota... aku temani..." usul Andre.

"Iya..." sahut Rani setuju.

Keduanya lalu beranjak dari gubuk menuju mobil Andre yang terparkir tak jauh dari lokasi danau.

Mobil Andre model dua cabin jadi dia mengusulkan untuk membawa serta sepeda Rani.

Hampir tiga puluh menit perjalanan yang hening, mobil Andre tiba disalah satu praktek bidan milik salah satu kenalannya.

Seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan dengan tampilan make up mentereng muncul dari arah dalam klinik.

Tanpa bertanya, wanita itu langsung meminta keduanya masuk.

"Tampung air p*p*snya kedalam wadah ini..." ujarnya menyerahkan sebuah wadah plastik kepada Rani.

Rani melakukan apa yang diminta bu bidan, sementara Andre menunggu dengan gelisah.

"Andre... dari dulu tak berubah" ujarnya menepuk bahu Andre.

"Nina.... Kau juga...." balas Andre mencubit pipi bu bidan.

Tak lama, Rani keluar dengan wajah yang tenang lalu menunjukkan benda yang tadi diberikan oleh bidan.

"Hamil ini... positif... Kita periksa sudah berapa usianya..." ujar Nina, si ibu bidan yang kini menuju mesin USG yang berada disudut ruangannya.

Rani sudah berbaring diatas ranjang pemeriksaan.

Dingin alat USG menari-nari diatas permukaan kulit perut Rani.

"Usianya sudah tiga minggu... janinnya sehat..." ujar Nina.

Andre mengepalkan tangannya. Wajahnya mengeras.

Dia mengingat betul kapan dirinya menggauli Rani tanpa safety. Bayi itu miliknya.

"Mau dibuang kapan?" satu pertanyaan lantang tanpa basa-basi yang membuat Rani syok seketika.

"Mas....?" Rani sontak melirik Andre yang mematung di sisi ranjang.

"Beri kami waktu... besok aku kabari..." ujar Andre akhirnya.

"Baiklah... kau tahu dimana harus menghubungi ku..." sahut bu bidan.

Kedua pasangan itu memutuskan untuk pulang.

"Aku nggak mau menghilangkannya... kita akan tambah berdosa mas..." seru Rani setelah cukup lama dia diam.

"Tapi aku nggak mungkin menikahi mu dalam waktu dekat. Tiga hari lagi pernikahan ku dan Meri dilaksanakan. Apa kata keluargaku Rani...? Dan kamu juga nggak mungkin bisa membesarkannya seorang diri. Kamu bisa diusir dari kampung jika warga tahu perihal ini..." sentak Andre.

"Tapi aku takut mas... Aku nggak mau nambah dosa..."

"Toh dengan kamu nggak hilangkan juga kita akan semakin berbuat dosa karena aku nggak akan melepasmu walaupun aku sudah menikahi Meri..."

"Aku cinta kamu Rani sementara Meri, aku hanya sebatas tanggung jawab agar keluarga kami tenang..."

Rani menggeleng kuat. Dia bersikeras untuk tidak mengg*g*rkan janinnya.

Andre menghela nafas kasar karena kekeras kepalaan Rani. Dia kehabisan cara untuk membujuk perempuan itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pernikahan Andre dan Meri sudah mendekati waktunya.

Rumah juragan Kardi sudah didekor semegah dan semewah mungkin karena yang akan menikah adalah putri satu-satunya dari juragan Kardi.

Jumi, ibu dari Meri terlihat sumringah karena akan berbesanan dengan keluarga kepala desa mereka. Apalagi yang membuat keluarganya bangga selain memiliki hubungan keluarga dengan orang nomor satu di kampung. Apalagi calon menantunya adalah lelaki tampan yang banyak jadi incaran gadis-gadis desa. Bertambah pongah lah dia.

Rani baru saja pulang dari kantor desa.

Kayuhan sepedanya tak lagi bersemangat.

Sejak kemarin, perut bagian bawahnya terasa nyeri.

Rani menepikan sepedanya dekat warung tak jauh dari kantor desa.

"Bu.. beli obat maag..." ucap Rani kepada pemilik warung.

"Mas Andre dan mbak Meri cocok ya... Mereka pasangan serasi. Satunya cantik, satunya guanteng.. Dan mereka sama-sama dari keluarga berada... jodohnya setara..." imbuh salah satu ibu mulai bergosip.

"Ya.. kamu benar Sum... Aku kalau kaya dan punya anak gadis pasti juga akan menjodohkan dengan mas Andre... Dia selain ramah, juga gagah... Suka deh aku...." timpal ibu lainnya.

"Eh.. tapi gosipnya, mbak Meri dan mas Andre itu nikah karena bunt*ng.... Apa benar begitu Sum?" ibu yang lain ikut nimbrung.

"Emoh aku.. tapi kalau diperhatikan, perut mbak Meri itu agak besar yo, padahal badannya kecil... Tapi kalau iya, juga itu urusan mereka... Kan kita cuma datang memenuhi undangan juragan Kardi...." ucap wanita bernama Sumi.

Rani menekan tali sling bag miliknya.

Dadanya mulai bergemuruh. Hatinya sakit kala mengingat dua hari lalu Andre, lelaki yang sedang mereka bicarakan memintanya untuk mengg*g*rkan janin mereka.

"Ini obatnya Ran... Kamu kenapa Ran, kok pucat?" tanya si penjaga warung.

"Nggak pa-pa buk... Berapa harganya?" ucap Rani mengeluarkan dompet kainnya.

"6.000 rupiah..." ucap si penjaga warung.

"Baru pulang kerja Ran...?" sapa salah satu ibu yang bergosip.

"Iya bu Sum... Aku duluan ya..." Ran bergegas mengayuh sepedanya.

Rasa nyeri di bagian perutnya semakin tak tertahankan.

Semua ibu-ibu memperhatikan ada yang berbeda dengan Rani tapi mereka tidak tahu apa.

Rani itu gadis pendiam dan jarang berkumpul sekedar bercerita di warung.

Rani menghentikan sepedanya dekat jembatan disekitar hutan pinus yang katanya angker.

Keringat bercucuran didahinya.

Satu-satunya orang yang dia ingat adalah Andre.

Rani ingin meminta Andre mengantarkannya ke bidan yang tempo hari mereka datangi.

Andre yang sedang berkumpul bersama teman-temannya mulai panik saat membaca pesan dari Rani.

Ada sedikit ancaman dalam dua bait pesan yang dikirim oleh Rani dan hal itu membuat Andre bergegas menghidupkan mesin mobilnya.

Tangan Andre menekan kuat stir mobilnya.

Rahangnya mengeras.

Dia sedang menahan emosi yang siap meledak.

Sebelum menjumpai Rani, Andre singgah di satu tempat dan beberapa menit kemudian, dua orang telah ikut dengannya.

Bersambung.....

1
Astuti Puspitasari
Mbahe iku jahat apa ngga ya kok makan janin /Grimace/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!