"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"
#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: EMAS DI BALIK KERIKIL
Arka masih berdiri terpaku di depan cermin retaknya selama hampir sepuluh menit. Dia mencoba memejamkan mata, lalu membukanya kembali, berharap semua ini bukan sekadar mimpi gila akibat benturan di kepala. Namun, setiap kali kelopak matanya terbuka, dunia di depannya tampak jauh lebih "telanjang". Dia bisa melihat serat kayu pada pintu kamarnya yang mulai lapuk, melihat debu yang menari-nari di udara dengan sangat jelas, bahkan bisa merasakan denyut nadi di pergelangan tangannya sendiri yang berdetak lebih kuat dari biasanya.
"Kakek misterius itu... siapa dia sebenarnya?" gumam Arka pelan.
Perutnya tiba-tiba keroncongan, mengingatkannya bahwa dia hanya makan satu bungkus mi instan sejak kemarin. Dia merogoh saku celananya, hanya ada selembar uang lima ribu rupiah pemberian Kevin yang sudah kumal dan beberapa koin receh. Penghinaan kemarin kembali terngiang di telinganya, tapi kali ini rasa sakit hatinya berubah menjadi ambisi yang dingin.
Arka segera mencuci muka, mengenakan jaketnya yang paling mendingan—meski warnanya sudah memudar—dan memutuskan untuk keluar. Dia butuh membuktikan kekuatan mata ini di dunia nyata.
Tujuannya satu: Pasar Antik dan Bursa Batu Mulia di ujung kota. Tempat itu adalah sarang bagi para spekulan, orang kaya yang bosan, dan orang miskin yang berharap mukjizat. Di sana, orang membeli sebongkah batu mentah yang tampak seperti kerikil jalanan dengan harga jutaan rupiah, berharap di dalamnya ada giok berkualitas tinggi. Satu tebakan benar bisa membuatmu kaya mendadak, satu tebakan salah bisa membuatmu gila.
Sesampainya di sana, bau kemenyan, suara gerinda pemotong batu, dan hiruk-pikuk tawar-menawar langsung menyambutnya. Arka berjalan menyusuri kios-kios kecil di pinggiran. Dia tidak punya modal jutaan, dia hanya punya nyali dan sepasang mata yang aneh.
"Ayo, batu dari Kalimantan! Baru datang! Hanya lima ratus ribu satu bongkah!" teriak seorang pedagang dengan kumis tebal.
Arka berhenti di depan kios itu. Dia mencoba memfokuskan pandangannya pada tumpukan batu hitam kecokelatan yang terlihat tidak menarik. Awalnya, dia hanya melihat permukaan kasar batu itu. Namun, saat dia menahan napas dan memusatkan seluruh pikirannya ke mata kanannya, sensasi hangat kembali muncul.
Tiba-tiba, lapisan luar batu itu seolah memudar, menjadi transparan seperti air jernih. Arka terbelalak. Di dalam batu pertama, isinya hanya tanah dan batuan beku yang tak berguna. Batu kedua sama saja. Namun, di sudut tumpukan, ada sebuah batu kecil seukuran kepalan tangan bayi yang bentuknya sangat buruk dan penuh retakan.
Saat Arka menatap batu buruk itu, matanya menangkap kilauan hijau yang sangat pekat dan murni di bagian tengahnya. Hijau itu seolah bernapas, memancarkan aura yang menenangkan.
"Instingku bilang... ini bukan batu biasa," batin Arka. Dia tidak butuh layar bantuan untuk tahu bahwa itu adalah harta karun.
"Bang, yang ini berapa?" Arka menunjuk batu buruk tadi.
Si pedagang melirik sinis. "Itu? Itu batu sisa, buat ganjal pintu juga nggak laku. Kasih saya seratus ribu saja, ambil sana."
Arka berpura-pura ragu. "Mahal banget, Bang. Ini kan retak-retak. Lima puluh ribu deh, saya cuma punya uang segini buat makan."
Setelah drama tawar-menawar yang cukup alot demi menutupi kecurigaannya, si pedagang akhirnya melepas batu itu dengan harga tujuh puluh ribu rupiah—setengahnya adalah uang hasil Arka meminjam dari teman kosnya kemarin.
Arka membawa batu itu ke tempat pemotongan umum di tengah pasar. Di sana, seorang pria tua dengan kacamata tebal sedang mengoperasikan mesin pemotong cakram. Beberapa orang kaya berpakaian rapi sedang mengantre, menunggu batu-batu mahal mereka dibelah.
"Heh, kurir? Kamu mau potong batu apa? Batu kali?" celetuk seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang sedang memegang cerutu. Namanya adalah Pak Broto, kolektor giok yang cukup dikenal sombong di pasar itu.
Orang-orang di sekitar tertawa melihat Arka yang kumal membawa batu yang terlihat seperti sampah.
"Hanya mencoba peruntungan, Pak," jawab Arka tenang.
"Coba peruntungan itu pake modal, Nak. Bukan pake kerikil sisa konstruksi," timpal Pak Broto sambil memamerkan batu miliknya yang seharga dua puluh juta rupiah. "Lihat ini, batu dari Myanmar. Pasti isinya giok tipe A. Kamu mending pulang, uang segitu mending buat beli sabun biar nggak bau apek."
Arka hanya tersenyum tipis. "Gimana kalau kita taruhan, Pak? Kalau batu saya isinya lebih bagus dari punya Bapak, Bapak bayar biaya potong batu saya."
Pak Broto tertawa terbahak-bahak sampai perutnya berguncang. "Boleh! Jangankan bayar biaya potong, kalau kerikilmu itu ada isinya, saya beli sepuluh kali lipat dari harga belimu! Tapi kalau isinya cuma semen, kamu harus berlutut dan bersihin sepatu saya pake baju kamu itu!"
Arka mengangguk setuju. Penonton mulai berkumpul, mencium aroma konflik yang menarik.
Batu milik Pak Broto dipotong lebih dulu. Suara mesin menderu nyaring, air pendingin menyemprot ke mana-mana. Saat batu itu terbelah dua... hening. Isinya putih pucat, hanya ada sedikit bintik hijau kusam yang disebut "giok sampah". Pak Broto pucat pasi. Dua puluh jutanya melayang jadi abu.
"Sekarang giliran saya, Kek," kata Arka pada si pemotong.
Si kakek pemotong batu menggelengkan kepala melihat batu Arka, tapi dia tetap bekerja. Begitu cakram pemotong menyentuh permukaan batu buruk itu, hanya dalam hitungan detik, air pendingin yang mengalir tiba-tiba berubah warna menjadi kehijauan.
"Tunggu!" teriak si kakek pemotong. Dia menghentikan mesinnya, tangannya gemetar. Dia mengambil air botol dan menyiram sisa debu pada belahan batu itu.
Seketika, seluruh pasar seolah berhenti berdetak. Dari balik batu retak yang dihina semua orang itu, muncul pancaran warna hijau zamrud yang begitu jernih, transparan, dan tanpa cacat sedikit pun. Cahaya matahari yang masuk ke lobi pasar seolah terserap dan terpantul kembali dengan kemilau yang mewah.
"Imperial Jade! Ini... ini Giok Kekaisaran!" teriak seseorang dari kerumunan.
"Gila! Benar-benar hijau murni tanpa serat! Ini kualitas langka yang cuma ada di pelelangan internasional!"
Pak Broto hampir menjatuhkan cerutunya. Matanya melotot seolah mau copot. "Nggak mungkin... kerikil itu..."
Arka menarik napas lega. Matanya tidak menipunya. Penglihatan tembus pandang itu nyata, dan itu sangat akurat.
"Pak Broto, sepertinya sepatu Bapak masih bersih, nggak perlu saya lap," ucap Arka dingin. "Dan tadi Bapak bilang mau beli sepuluh kali lipat dari harga beli saya? Saya beli tujuh puluh ribu, jadi Bapak mau bayar tujuh ratus ribu buat giok yang harganya minimal bisa sampai dua ratus juta ini?"
Wajah Pak Broto merah padam karena malu. Penonton menyoraki pria sombong itu.
Tiba-tiba, seorang wanita cantik dengan setelan jas formal dan kacamata hitam berjalan menembus kerumunan. Auranya begitu elegan dan berwibawa, membuat orang-orang secara otomatis memberinya jalan. Dia adalah Clarissa, putri dari pemilik grup perhiasan terbesar di kota ini.
Clarissa melepas kacamata hitamnya, menatap giok di tangan Arka dengan binar kekaguman, lalu beralih menatap Arka yang penampilannya sangat kontras dengan harta yang dipegangnya.
"Anak muda, jangan dengarkan orang tua sombong itu," suara Clarissa lembut tapi tegas. "Nama saya Clarissa. Saya dari Permata Nusantara. Giok ini... jika kamu bersedia, saya akan membelinya sekarang juga dengan harga lima ratus juta rupiah secara tunai."
Seluruh pasar gempar. Lima ratus juta! Dari uang tujuh puluh ribu menjadi setengah miliar hanya dalam waktu kurang dari satu jam!
Arka sempat terpaku melihat kecantikan Clarissa yang seperti bidadari, tapi dia segera menguasai diri. Dia menatap mata Clarissa, dan entah kenapa, matanya memberitahunya sesuatu yang lain. Dia bisa melihat detak jantung wanita itu yang sedikit tidak beraturan, dan ada rona merah di pipinya—Clarissa benar-benar menginginkan giok ini bukan hanya untuk bisnis, tapi karena dia terkesan dengan keberuntungan (atau kemampuan) Arka.
"Tentu, Nona Clarissa. Tapi saya punya satu syarat," ucap Arka dengan nada yang kini lebih percaya diri.
Clarissa mengangkat alisnya, tertarik. "Syarat apa?"
"Bukan soal uang. Saya butuh kartu nama Anda. Saya rasa, ini bukan terakhir kalinya saya menemukan benda seperti ini," jawab Arka sambil memberikan senyum paling manis yang bisa ia berikan.
Clarissa terpana sejenak. Jarang ada pria, apalagi yang terlihat miskin, berani menatap matanya dengan begitu berani dan penuh rahasia. Dia tersenyum kecil, lalu mengeluarkan kartu nama berlapis emas dari dompetnya.
"Menarik. Aku tunggu kejutanmu berikutnya, Arka."
Arka menerima kartu itu. Di saat yang sama, dia melirik ke arah Kevin yang entah sejak kapan ada di pinggiran kerumunan, menatap Arka dengan wajah iri dan tidak percaya. Arka hanya mengangkat gioknya tinggi-tinggi ke arah Kevin, memberikan isyarat bahwa mulai detik ini, roda nasib telah berputar.
Hari itu, Arka pulang bukan lagi sebagai kurir miskin yang dihina. Dia pulang sebagai pemuda yang baru saja menggenggam kunci untuk menguasai dunia.
#urban_fantasi #harem #romance #komedi #mata_sakti
semangat kak👍