Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.
Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.
Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.
Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.
Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Pagi telah berganti menjadi siang yang terik, namun atmosfer di dalam apartemen lantai empat itu masih terasa seperti sebuah gelembung yang terisolasi dari dunia luar. Di koridor gedung, gosip masih berembus kencang. Mrs. Miller, Mrs. Higgins, dan beberapa tetangga lainnya masih berkumpul di area kotak pos dengan wajah penuh simpati yang dibuat-buat, membahas betapa malangnya nasib "si perawan tua" Faelynn yang baru saja kehilangan tunangannya tepat sebelum hari pernikahan.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa di dalam unit nomor 402, pria yang mereka tangisi kematiannya itu sedang duduk santai di ruang tamu, sedang menikmati potongan buah pir yang disuguhkan oleh Melinda.
Kingsley menatap ke luar jendela, memperhatikan beberapa orang di trotoar bawah yang tampak menunjuk-nunjuk ke arah balkon apartemen mereka. Ia bisa merasakan aura negatif yang mengepung tempat tinggal Faelynn—sebuah lingkungan yang tampaknya sangat haus akan penderitaan orang lain.
"Mereka masih belum tahu, kan?" tanya Kingsley tiba-tiba, menoleh ke arah Faelynn yang sedang duduk di kursi meja kerjanya, mencoba memperbaiki beberapa paragraf di laptopnya yang sejak tadi terabaikan.
Faelynn menghela napas, jemarinya berhenti menari di atas keyboard. "Belum. Di gedung ini, berita buruk menyebar seperti api, tapi berita baik sering dianggap sebagai halusinasi. Mereka mungkin pikir tangisanku semalam adalah akhir dari segalanya."
Kingsley terdiam sejenak. Ia melirik tas taktisnya yang tergeletak di sudut ruangan. Sebenarnya, ia punya apartemen operasional yang jauh lebih mewah dan lengkap di pusat kota. Ia bisa saja pulang sekarang, membersihkan diri dengan lebih layak, dan kembali lagi besok. Namun, ada sesuatu yang menahannya. Melihat bagaimana Faelynn masih sesekali menyentuh kalung kompas itu dengan ragu, seolah takut Kingsley akan menghilang lagi, membuat hatinya tidak tenang.
"Lyn..." Kingsley memanggil dengan suara rendah.
"Ya?"
"Apa tidak apa-apa jika aku harus menginap di sini malam ini lagi?"
Faelynn tersentak, wajahnya seketika merona merah. Ia memutar kursinya untuk menghadap Kingsley sepenuhnya. "Menginap lagi? Maksudku... apa apartemen mu sangat jauh dari sini? Kau tidak ingin beristirahat di tempat tidurmu sendiri yang pasti lebih nyaman daripada sofa kecil kami?"
Kingsley menatap langit-langit, berpura-pura berpikir keras. "Jauh? Hmm, sekitar dua jam perjalanan jika macet Los Angeles sedang tidak bersahabat. Bagiku yang biasa menempuh ribuan mil, dua jam itu bukan apa-apa."
Faelynn mengangguk, merasa sedikit lega. "Kalau begitu, bukankah lebih baik kau pulang dulu? Kau pasti butuh baju ganti dan—"
"Tapi," potong Kingsley cepat, senyum miringnya muncul. "Dua jam perjalanan itu berarti aku kehilangan 120 menit waktu untuk menjagamu dari tatapan sinis tetangga. Dan kapan lagi aku punya kesempatan menginap di rumah tunanganku yang galak ini?"
Faelynn terdiam, lidahnya mendadak kelu. Ia melihat binar jenaka sekaligus keseriusan di mata Kingsley. Pria ini sedang menggunakan kemampuan negosiasinya—yang biasanya digunakan untuk membebaskan sandera—hanya untuk mendapatkan izin tidur di sofa ruang tamu.
"Boleh aku menginap ya?" pinta Kingsley lagi, kali ini nadanya lebih lembut, hampir seperti anak kecil yang meminta izin pada ibunya, namun dengan aura pria dewasa yang dominan. "Aku akan minta izin pada Ibu. Aku janji akan tidur di sofa. Aku tidak akan mengganggumu... kecuali kalau kau yang memintanya."
Faelynn menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan senyum yang ingin pecah. "Ibu pasti akan setuju. Dia sepertinya sudah menganggap mu sebagai pahlawan yang turun dari langit."
"Jadi, itu jawaban 'iya'?"
Faelynn hanya mengangguk pelan, pura-pura kembali fokus pada layar laptopnya meskipun matanya sama sekali tidak membaca tulisan di sana.
Kingsley terkekeh, ia berdiri dan meregangkan tubuhnya yang tinggi, membuat kaos hitamnya tertarik ke atas dan memperlihatkan sedikit otot perutnya yang keras. "Bagus. Aku akan keluar menemui Ibu sekarang."
Namun, sebelum ia melangkah keluar dari kamar, Kingsley berhenti di ambang pintu. Ia menoleh ke arah Faelynn dengan tatapan menyelidik yang penuh godaan.
"Tapi ada satu hal yang aku khawatirkan, Lyn," ucapnya dengan wajah serius yang dibuat-buat.
"Apa?" tanya Faelynn polos.
"Kau tidak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan, kan? Maksudku... kau tidak akan memperkosaku saat aku sedang tertidur lelap di sofa nanti malam, kan? Aku ini pria baik-baik, aku takut kesucianku terancam oleh penulis novel romantis yang sedang haus inspirasi."
Deg.
Mata Faelynn membelalak. Ia meraih bantal kursi yang ada di dekatnya dan melemparkannya tepat ke arah wajah Kingsley.
"KAU KONYOL! MESUM! SIAPA JUGA YANG MAU MELAKUKAN ITU!" teriak Faelynn dengan wajah yang kini merah padam sampai ke leher.
Kingsley menangkap bantal itu dengan mudah sambil tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya yang berat memenuhi kamar itu, mencairkan sisa-sisa trauma dari hari kemarin.
"Hanya memastikan, Lyn! Siapa tahu kau ingin mempraktikkan bab 18 dari novel mu itu padaku," goda Kingsley lagi sebelum melesat keluar kamar untuk menemui Melinda.
Faelynn mendengus kesal, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya. Ia turun dari kursi, berjalan ke arah cermin, dan melihat bayangan dirinya sendiri. Matanya masih sedikit bengkak, tapi ada binar kehidupan yang baru di sana.
"Pria gila," bisiknya pelan.
Di ruang tamu, Kingsley menemukan Melinda sedang merajut di sofa. Ia duduk di kursi seberangnya dengan sikap yang sangat sopan, sangat berbeda dengan pria "mesum" yang baru saja menggoda Faelynn di dalam kamar.
"Bu," panggil Kingsley.
"Iya, Nak? Ada apa? Mau minum lagi?"
"Tidak, Bu. Saya hanya ingin meminta izin. Apakah diperbolehkan jika saya menginap satu malam lagi di sini? Saya merasa belum tenang meninggalkan Faelynn sebelum keadaan benar-benar kondusif. Saya akan tidur di sofa, saya janji tidak akan merepotkan."
Melinda meletakkan rajutannya, menatap Kingsley dengan tatapan hangat yang penuh haru. "Tentu saja boleh, Kingsley. Ibu justru merasa lebih aman kalau kamu ada di sini. Jangan khawatir soal sofa, Ibu akan siapkan kasur lantai yang tebal agar punggungmu tidak sakit. Kamu itu sudah seperti keluarga bagi kami."
Kingsley tersenyum tulus. "Terima kasih, Bu. Ibu sangat baik."
Malam itu, saat kegelapan kembali menyelimuti Los Angeles, apartemen nomor 402 menjadi tempat paling hangat di dunia bagi Kingsley Emerson. Di balik pintu kamarnya, Faelynn berbaring sambil mendengarkan suara gemerisik dari ruang tamu—suara Kingsley yang sedang membenahi posisi tidurnya.
Tidak ada lagi tangisan. Tidak ada lagi ketakutan akan kematian. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa pria "tiang listrik" itu benar-benar ada di sana, hanya berjarak beberapa meter darinya, menjaganya dalam tidurnya.
Faelynn memeluk bantalnya, membayangkan hari esok saat ia akan berjalan keluar apartemen dengan menggandeng tangan Kingsley, membiarkan seluruh dunia tahu bahwa "Si Perawan Tua" baru saja memenangkan lotre takdir yang paling indah.
"Selamat tidur, Ay," bisiknya pada kegelapan.
Dari ruang tamu, seolah bisa mendengar bisikan itu, Kingsley bergumam pelan sebelum terlelap, "Selamat tidur, Penulisku."
Keesokan harinya, drama yang sesungguhnya dengan para tetangga baru saja akan dimulai, dan Kingsley sudah menyiapkan skenario terbaiknya untuk menjadi pelindung Faelynn di dunia nyata.