NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Tatapan yang Sama

Rintik hujan terdengar memukul-mukul kaca jendela kamar, menciptakan ritme monoton yang mengantar jiwa Anandara ke dalam alam bawah sadarnya. Namun, malam itu, tidur bukanlah sebuah peristirahatan, melainkan panggung bagi ketakutan terbesarnya untuk menari-nari dengan bebas.

Di dalam mimpinya, Anandara kembali berdiri di ruang tamu rumah lamanya yang sempit dan pengap. Aroma vanila murahan menguar, mencekik paru-parunya. Di sofa yang lusuh, ia melihat sosok wanita itu—ibunya—sedang tertawa lepas dalam pelukan pria asing. Tawa yang mengoyak harga diri keluarganya.

Namun tiba-tiba, pemandangan itu terdistorsi. Dinding-dinding ruang tamu runtuh, digantikan oleh hamparan lantai beton atap SMA Negeri 1 yang basah oleh hujan badai.

Anandara berdiri mematung. Di depannya, di tepi jurang beton itu, bukan lagi dirinya yang hendak melompat, melainkan Sinta. Sahabatnya itu berdiri di ambang kematian, seragamnya basah kuyup, air matanya bercampur dengan hujan.

"Kau pembohong, Nanda!" jerit Sinta dalam mimpi itu, suaranya melengking menembus gemuruh guntur. Wajah Sinta dipenuhi oleh kehancuran dan pengkhianatan yang luar biasa pekat. "Lo bilang lo rumah gue! Tapi lo ngerebut satu-satunya cowok yang gue cintai! Lo sama aja kayak ibu lo! Lo pengkhianat!"

"Tidak, Sin! Sinta, jangan!" Anandara mencoba berlari, mengulurkan tangannya untuk meraih Sinta. Namun kakinya seolah tertanam di beton. Ia tidak bisa bergerak.

Lalu, di sebelah Sinta, muncul sosok Angga Raditya. Pemuda itu menatap Anandara dengan mata elangnya yang tajam, dingin, dan penuh penghakiman, sebelum akhirnya ia menggenggam tangan Sinta dan menarik gadis itu melompat ke bawah bersamanya.

"SINTAAAA!"

Anandara terbangun dengan napas terentak, tubuhnya tersentak keras hingga ia terduduk di atas ranjangnya.

Keringat dingin membanjiri dahi dan lehernya. Tangannya mencengkeram selimut tebalnya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya bergemuruh liar, memompa ketakutan ke seluruh pembuluh darahnya. Ia menatap liar ke sekeliling kamarnya yang remang-remang, hanya diterangi cahaya lampu tidur yang redup. Tidak ada hujan badai. Tidak ada atap sekolah. Ia aman di kamarnya.

Itu hanya mimpi.

Namun, sisa teror dari mimpi buruk itu menempel di jiwanya seperti parasit. Anandara menarik lututnya ke dada, memeluk dirinya sendiri yang gemetar hebat. Ingatan tentang kilat di mata Sinta dalam mimpinya itu membakar logikanya.

"Tidak," bisik Anandara di tengah keheningan malam, suaranya parau menahan tangis yang mengancam akan pecah. "Aku tidak akan pernah menyakitinya. Aku bukan wanita itu. Aku bukan pengkhianat."

Ia turun dari ranjang, berjalan gontai menuju kamar mandi, dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Saat ia menatap pantulan dirinya di cermin, ia melihat garis wajah ibunya mencetak jelas di sana. Mata hitam legam yang sama. Anatomi yang tidak bisa ia hindari.

Mimpi itu adalah manifestasi dari rasa bersalahnya, sebuah peringatan keras dari alam bawah sadarnya. Debaran jantung yang ia rasakan saat bertabrakan dengan Angga di koridor kemarin bukanlah sebuah anomali medis, melainkan sebuah percikan perasaan yang sangat berbahaya. Dan jika ia membiarkan percikan itu menjadi api, ia akan membakar Sinta hidup-hidup.

Pagi itu, Anandara berangkat ke kampus dengan satu resolusi mutlak: Angga Raditya adalah zona radiasi mematikan. Ia harus membangun dinding titaniumnya sepuluh kali lipat lebih tebal saat berhadapan dengan pemuda itu. Ia harus membunuh perasaannya sendiri sebelum perasaan itu sempat tumbuh.

Semester dua di Fakultas Ekonomi dan Bisnis telah berjalan beberapa minggu. Dinamika kelas Pengantar Akuntansi mulai terbentuk. Rehan dan Reza masih menjadi duo paling berisik yang selalu duduk di barisan kedua dari depan, Kiera dan Ami duduk di belakang mereka. Sinta dan Anandara selalu menempati barisan tengah, sementara Angga dan Dimas konsisten menjadi penghuni setia kursi paling belakang.

Siang itu, dosen pengampu mata kuliah Hukum Bisnis membatalkan kelas secara mendadak karena ada rapat rektorat, menyisakan waktu kosong selama dua jam bagi para mahasiswa di ruang kelas itu.

Beberapa mahasiswa memilih pergi ke kantin, namun banyak juga yang tetap tinggal di kelas untuk mengobrol, termasuk geng Anandara.

"Nan, lo lihat nggak sih Instagram Story-nya Kak Raka kapten basket yang dulu lo tolak mentah-mentah itu?" celoteh Sinta sambil menggeser layar ponselnya. "Dia jadian lagi dong sama anak Sastra. Gila, track record-nya udah kayak asrama putra, ganti-ganti mulu!"

"Sudah kubilang, kan? Dia hanya dikendalikan hormon," jawab Anandara tenang, mencatat ulang materi sebelumnya dengan tulisan tangan yang sangat rapi. "Lo masih aja merhatiin cowok kayak gitu."

"Ih, gue mah merhatiin buat ngegibah doang! Kalau urusan hati mah, kiblat gue udah jelas," Sinta menopang dagunya dengan kedua tangan, lalu tanpa bisa ditahan, kepalanya perlahan menoleh ke belakang, mencuri pandang ke arah deretan kursi paling ujung.

Di sana, Angga sedang membaca sebuah buku novel terjemahan, tidak memedulikan keributan kelas. Di sebelahnya, Dimas sedang serius mengerjakan tugas statistik di laptopnya.

Sinta tersenyum malu-malu, rona merah tipis menjalar di pipinya. "Angga kalau lagi baca gitu, damage-nya nembus lapisan ozon ya, Nan. Kelihatan pintar, cool, tapi nggak nerd. Sempurna banget."

Anandara menghentikan gerakan pulpennya. Ia tidak menoleh ke belakang. Cukup mendengar nama pemuda itu disebut saja, ritme napasnya sudah sedikit terganggu.

"Jangan berekspektasi terlalu tinggi, Sin. Kita tidak tahu sifat aslinya," ucap Anandara mencoba memberikan peringatan logis yang objektif. "Dia pendiam. Orang yang terlalu banyak diam biasanya menyimpan banyak rahasia, atau memanipulasi keadaan."

"Dih, mulai deh mode detektif curiganya nyala. Lo itu terlalu pesimis sama cowok, Nan," Sinta mencibir lucu. Ia lalu merapikan rambutnya dan menepuk pipinya pelan. "Gue malah ngerasa dia beda. Dia bukan tipe cowok caper yang suka nebar pesona sana-sini. Kalau dia natap gue... rasanya kayak gue itu satu-satunya cewek di ruangan ini."

Deg. Perkataan Sinta terasa seperti godam yang menghantam dada Anandara. Dia menatapku, Sin. Bukan menatapmu, jerit nurani Anandara, namun kalimat itu tak akan pernah melewati kerongkongannya.

Tiba-tiba, suara derit kursi bergeser terdengar dari belakang. Langkah kaki yang mantap mendekat dari arah lorong antarmeja.

Sinta menyenggol lengan Anandara dengan brutal di bawah meja. "Nan! Dia ke sini! Dia jalan ke arah kita!" bisik Sinta panik bercampur histeris. Ia buru-buru membenarkan letak kerahnya dan memasang senyum paling manis yang ia miliki.

Anandara menelan ludah. Ia memfokuskan matanya pada buku catatannya, tubuhnya menegang kaku seperti patung lilin.

Angga Raditya berhenti tepat di samping meja mereka. Aroma peppermint yang khas itu kembali menyergap indera penciuman Anandara, memicu debaran jantung yang sama gilanya seperti saat tabrakan di koridor waktu itu.

"Permisi," suara bariton Angga mengalun tenang, memecah keheningan yang mendadak tercipta di area meja tersebut.

Sinta mendongak dengan senyum yang sangat lebar hingga matanya menyipit. "Eh, iya? Ada apa, Angga?"

Angga menatap Sinta sekilas, mengangguk sopan sebagai bentuk formalitas. Namun sedetik kemudian, sepasang mata elang itu langsung beralih dan terkunci sepenuhnya pada sosok Anandara yang sedari tadi menunduk menghindari tatapannya.

"Gue kemarin nggak masuk kelas Ekonomi Mikro karena ada urusan administrasi pindahan yang belum kelar," ucap Angga, suaranya dialamatkan secara spesifik pada gadis berambut hitam panjang di depannya. "Gue denger dari anak-anak lain, catatan lo yang paling rapi dan lengkap. Boleh gue pinjam bentar buat gue fotokopi?"

Anandara memejamkan matanya sekilas, mengutuk takdir yang terus-menerus memaksanya berinteraksi dengan laki-laki ini. Ia benci bagaimana kehadiran Angga membuat logikanya menjadi tumpul.

Dengan gerakan mekanis, Anandara mendongak. Wajahnya disetel dalam mode Ice Queen—dingin, datar, dan tanpa ekspresi. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan yang biasanya ia tunjukkan pada teman-temannya.

"Catatanku tidak untuk difotokopi sembarangan," jawab Anandara singkat, menatap mata Angga dengan sorot tajam yang penuh dengan perisai penolakan. Ia berusaha mati-matian agar suaranya tidak bergetar. "Aku tidak suka bukuku berpindah tangan."

Angga sedikit terkejut dengan penolakan mentah dan nada dingin itu. Gadis ini sangat berbeda dari gadis ceria yang tertawa lepas di mall, atau gadis panik yang bertabrakan dengannya di koridor. Namun, penolakan itu anehnya justru semakin memantik rasa penasaran Angga. Di balik tatapan dingin itu, Angga seolah bisa melihat ada dinding kaca yang menyembunyikan badai kepanikan.

"Gue janji cuma sebentar. Lima belas menit. Gue fotokopi di koperasi bawah, lalu gue balikin," Angga mencoba bernegosiasi, tidak berniat menyerah begitu saja. Tubuhnya sedikit mencondong ke arah meja Anandara.

Sinta, yang melihat situasi menjadi sedikit canggung dan tidak ingin Angga merasa tertolak, segera mengambil inisiatif. Ia tidak ingin pangeran impiannya pergi dengan kekecewaan.

"Pakai catatan gue aja, Angga!" seru Sinta dengan nada ceria yang sedikit terlalu antusias. Ia buru-buru mengeluarkan buku bersampul merah muda dari dalam tasnya dan menyodorkannya ke arah Angga. "Materi Ekonomi Mikro kemarin gue catat lengkap kok, soalnya gue duduk di depan. Tulisan gue lumayan bisa dibaca kok, tenang aja! Lo bawa aja pulangnya juga nggak apa-apa, besok baru balikin."

Angga menoleh ke arah Sinta. Ada sebersit kekecewaan di matanya yang dalam, kekecewaan karena gagal menciptakan koneksi dengan Anandara. Namun, karena terdesak oleh kebutuhan materi, dan karena kesopanan dasar, Angga tidak mungkin menolak tawaran baik dari Sinta.

"Oh," Angga menerima buku bersampul merah muda itu. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, sangat tipis namun cukup untuk membuat jantung Sinta nyaris melompat keluar dari rongga dadanya. "Makasih, Sinta. Gue fotokopi dulu ya, nanti gue balikin ke tempat duduk lo."

"Sama-sama! Santai aja!" Sinta melambaikan tangannya dengan semangat.

Angga kembali menatap Anandara sejenak, mengamati wajah pualam yang tertunduk kaku itu, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju pintu keluar kelas.

Sepeninggal Angga, Sinta langsung menelungkupkan wajahnya di atas meja dan mengeluarkan jeritan tertahan yang sarat akan euforia. Kakinya menghentak-hentak pelan ke lantai.

"Ya ampun, Nanda! Lo lihat kan?! Dia senyum ke gue! Dia tahu nama gue!" racau Sinta dengan napas memburu saking bahagianya. Ia mengangkat wajahnya, menatap Anandara dengan sepasang mata yang berkilau terang benderang.

Anandara menoleh. Dan pada detik itulah, mimpi buruknya tadi malam bertabrakan secara brutal dengan realita.

Mata Sinta... mata itu berbinar sangat terang. Binar yang murni, polos, dan dipenuhi oleh harapan cinta yang luar biasa besar. Itu adalah tatapan seorang wanita yang sedang menyerahkan hatinya secara utuh kepada seorang laki-laki. Tatapan yang sama persis seperti tatapan Sinta saat menatap tas bermerek yang sudah lama ia impikan, namun dikalikan ribuan kali lipat intensitas emosinya.

Melihat tatapan itu, hati Anandara seakan tersayat sembilu. Rasa sakit yang sangat tajam, perih, dan mengiris langsung menghujam dadanya, membuat aliran darahnya terasa dingin membeku.

Itu adalah rasa sakit yang lahir dari sebuah kesadaran yang sangat kejam.

Anandara menyadari, dalam kepedihan yang paling sunyi, bahwa ia menyimpan perasaan yang sama untuk laki-laki itu. Debaran jantungnya yang tidak rasional, tangannya yang gemetar, dan keinginannya untuk selalu melihat ke arah sudut kelas belakang adalah bukti yang tak terbantahkan. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun sejak hatinya mati, ada seorang laki-laki yang berhasil membuatnya kembali merasakan sesuatu. Angga Raditya telah mencairkan lapisan es terdalam di jiwanya hanya dengan sebuah tatapan.

Namun di hadapannya saat ini, duduk gadis yang telah mengorbankan segalanya untuknya. Sinta. Gadis yang rela kehujanan untuk memayunginya. Gadis yang pasang badan saat ibunya memaki. Gadis yang menangis meraung-raung di atas atap dan bersumpah akan melompat bersamanya. Sinta adalah rumahnya. Sinta adalah nyawanya.

Dan sekarang, rumahnya itu menatap laki-laki yang diam-diam mulai masuk ke dalam hati Anandara dengan tatapan penuh cinta.

Logika Anandara, yang sudah cacat oleh trauma dan pengorbanan, langsung membuat perhitungan matematis yang sangat mutlak. Aku berhutang nyawa pada Sinta. Kebahagiaan Sinta adalah prioritas absolut. Jika Angga bisa membuat Sinta sebahagia ini, maka Angga harus menjadi milik Sinta.

Tidak ada ruang untuk ego. Tidak ada ruang untuk kompetisi.

Bagi Anandara, mencintai Angga adalah sebuah pengkhianatan terhadap penyelamat hidupnya. Ia lebih rela merobek hatinya sendiri dan membuangnya ke tempat sampah daripada harus melihat binar di mata Sinta redup karena dirinya.

"Lo kok diam aja sih, Nan? Tadi kenapa lo ketus banget sama dia?" tegur Sinta membuyarkan lamunan kelam Anandara. Sinta mengerucutkan bibirnya sedikit. "Lo jangan jahat-jahat dong sama crush gue. Nanti kalau dia takut deket-deket sama meja kita gara-gara hawa dingin lo, gimana nasib PDKT (pendekatan) gue?"

Anandara menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca di tenggorokannya. Ia memaksa bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat palsu. Ia harus memakai topengnya kembali. Topeng pengorbanan.

"Maaf, Sin," jawab Anandara, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar santai dan tak acuh. "Gue cuma nggak suka ada cowok asing tiba-tiba datang sok akrab minjam buku. Lagian, itu kan ngasih peluang bagus buat lo. Kalau gue yang minjamin, lo nggak bakal punya alasan buat ngobrol sama dia pas dia ngembaliin catatannya nanti, kan?"

Mata Sinta membulat, keterkejutan tergantikan oleh senyum yang sangat lebar. Ia langsung memeluk lengan Anandara dan mencium bahunya. "Wah! Lo jenius banget sih, Nan! Jadi tadi lo sengaja nolak dia biar dia minjam punya gue?! Astaga, bestie gue emang yang terbaik sedunia! Sayang Nanda banyak-banyak!"

Anandara membalas pelukan Sinta. Tangan kirinya mengusap punggung sahabatnya itu, sementara matanya menatap kosong ke arah papan tulis di depan kelas.

"Iya, Sin. Apa pun buat lo," bisik Anandara. Suaranya terdengar hampa, seperti gaung di dalam gua yang kosong.

Apa pun buat lo, Sinta. Sekalipun aku harus membunuh perasaanku sendiri. Sekalipun aku harus terus berpura-pura membencinya.

Di kejauhan, Dimas yang sejak tadi duduk diam di kursi belakang, memperhatikan seluruh interaksi itu dari awal hingga akhir. Matanya yang tersembunyi di balik lensa kacamata menangkap rona bahagia di wajah Sinta saat meminjamkan bukunya pada Angga. Dimas menghela napas panjang, meremas ujung buku catatannya tanpa suara. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, menelan kekecewaannya sendiri dalam kesunyian.

Sementara itu, Angga kembali ke kelas sepuluh menit kemudian. Ia berjalan lurus ke arah meja Sinta, mengembalikan buku bersampul merah muda itu dengan ucapan terima kasih yang sopan. Sinta merespons dengan tawa ceria dan obrolan ringan yang berusaha ia panjang-panjangkan.

Selama interaksi itu berlangsung, Anandara menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia pura-pura sibuk membaca buku referensi akuntansinya, menutup rapat semua akses komunikasi dengan Angga. Ia membuat dirinya terlihat sedingin dan seangkuh mungkin, menjadi dinding es yang memantulkan segala bentuk pendekatan dari pemuda itu.

Angga menyadari perubahan sikap Anandara. Setiap kali ia mencoba mencuri pandang ke arah gadis itu, ia hanya mendapati profil wajah yang kaku dan tertutup. Tidak ada senyum. Tidak ada tatapan balik.

Gadis ini sangat sulit, batin Angga saat ia berjalan kembali ke bangkunya. Namun, tantangan itu justru membuatnya semakin tertarik. Angga bukanlah tipe orang yang mudah menyerah. Semakin Anandara menutup diri, semakin Angga ingin tahu apa yang membuat gadis itu membangun benteng yang begitu tinggi.

Dan dimulailah sebuah panggung sandiwara yang menyayat hati di dalam kelas Pengantar Akuntansi.

Setiap hari, Sinta dengan penuh antusias menceritakan kekagumannya pada Angga. Ia merancang skenario-skenario kecil untuk bisa bertegur sapa dengan pemuda itu. "Nan, hari ini dia pakai jaket denim, ganteng banget. Nan, tadi dia senyum pas gue pinjamin tip-x."

Dan di setiap cerita Sinta yang penuh bunga itu, hati Anandara diiris perlahan-lahan. Sembilu cemburu dan rasa sakit menggores relung jiwanya tanpa henti. Namun, Anandara menelannya bulat-bulat. Ia menyuntikkan dukungan-dukungan palsu kepada Sinta, dan di saat yang bersamaan, ia bersikap sinis, ketus, dan menjauhi Angga kapan pun pemuda itu mencoba mendekat.

Anandara berpura-pura membenci Angga demi memberikan jalan seluas-luasnya bagi Sinta. Ia membangun kebohongan yang sangat rapi, sebuah narasi di mana Angga hanyalah mahasiswa menyebalkan di matanya, sementara di sudut hatinya yang terdalam, ia menangis setiap kali mata elang itu menatapnya dengan penuh harap.

Rahasia yang disimpan Anandara ini seperti bom waktu yang berdetak pelan. Sebuah pengorbanan sahabat yang lahir dari trauma dan rasa hutang budi, yang pada akhirnya hanya akan menciptakan ilusi kebahagiaan, dan menyeret mereka semua ke dalam pusaran luka yang jauh lebih dalam. Tapi bagi Anandara saat ini, terluka sendirian adalah harga yang pantas ia bayar asalkan Sinta tetap bisa tersenyum.

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!