NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

"Aira... tolong buka pintunya... aku khawatir banget sama kamu. Jangan dikunci gitu dong, aku jadi nggak tenang di luar sini."

Aira akhirnya mengusap air matanya kasar dengan punggung tangannya, lalu dengan langkah yang berat dan lemas, ia berjalan mendekati pintu dan membuka kuncinya pelan-pelan.

Krek...

Pintu terbuka sedikit, hanya cukup untuk melihat wajah Aira yang tertunduk malu dan sedih.

Seketika itu juga Elvano langsung mendorong pintu pelan dan masuk ke dalam kamar. Matanya langsung mencari keberadaan istrinya dan menatapnya lekat-lekat.

Dan saat melihat kondisi Aira saat ini...

Hati Elvano rasanya teriris pedih dan hancur berkeping-keping.

Wajah Aira terlihat sangat menyedihkan. Matanya bengkak dan merah seperti buah tomat, pipinya basah oleh air mata, hidungnya memerah, dan bibirnya terguncang-guncang menahan isak tangis. Ia terlihat sangat rapuh, sangat kecil, dan sangat menyedihkan.

"Aira..." panggil Elvano parau, suaranya terdengar berat, menahan haru dan rasa bersalah.

Tanpa berkata apa-apa lagi, tanpa membuang waktu, Elvano langsung melangkah maju, lalu menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya dengan erat sekali.

Uuuuggghhhh!!!

Ia memeluk istrinya sangat kuat, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan, rasa sayang, dan rasa aman lewat pelukan itu. Ia ingin menenangkan hati Aira yang sedang hancur lebur itu.

"Udah, udah dong sayang... jangan nangis lagi ya." bisik Elvano lembut di telinga Aira, tangannya mengusap-usap punggung dan rambut Aira dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. "Semua omongan Tante itu nggak bener. Semuanya bohong. Jangan didengerin ya, itu cuma sampah yang nggak perlu diambil hati."

Aira yang berada di dalam pelukan hangat itu akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Ia memukul pelan dada bidang Elvano, lalu menangis sejadi-jadinya di sana, menumpahkan semua kesedihan, semua kekecewaan, dan semua rasa sakit hatinya ke dada suaminya.

"Huwaaaaaa... Mas... huuu... sakit... sakit banget Mas..." isak Aira keras, tangannya mencengkeram kuat baju Elvano seolah takut dilepaskan.

"Iya aku tahu, aku tahu sayang, sakit banget kan..." Elvano mengelus kepala Aira terus menerus, memberikan kenyamanan. "Maafin aku ya, maafin aku karena udah biarin kamu denger omongan sejahat itu. Maafin aku."

Mereka berdua tetap berdiri memeluk di tengah kamar untuk waktu yang cukup lama, sampai tangisan Aira mulai mereda menjadi isak-isak kecil saja dan napasnya mulai teratur kembali.

Elvano akhirnya melepaskan pelukannya sedikit, lalu memegang kedua pipi Aira yang basah dan hangat itu dengan kedua tangannya yang besar. Ia menatap manik mata istrinya dalam-dalam, menghapus sisa air mata yang masih menetes dengan ibu jarinya.

"Dengerin aku baik-baik ya, Aira..." kata Elvano lembut, tatapan matanya sangat serius dan tulus. "Apa yang Tante Rina omongin tadi itu, semua salah. Nggak ada satu pun kata yang bener. Itu cuma omongan orang yang hatinya iri, dengki, dan nggak suka liat orang lain bahagia. Ngerti?"

Aira menatap mata suaminya dengan mata yang masih berkaca-kaca, bibirnya bergetar mencoba bicara.

"Ta... tapi Mas... katanya... katanya Aira cocoknya jadi pembantu, katanya Aira ndeso, katanya Aira nggak pantas," suara Aira terdengar putus asa dan lemah. "Aira... Aira jadi ngerasa kecil banget Mas. Aira ngerasa nggak pantes berdiri di samping Mas."

PLAK!

Bukan memukul, tapi Elvano menepuk pelan dahi Aira dengan jari telunjuknya manja dan sayang.

"Ah, apaan sih kok ngomong gitu?" Elvano menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Siapa yang bilang kamu nggak pantas? Aku nggak pernah merasa begitu sama sekali. Justru aku bersyukur banget punya istri kayak kamu, Aira. Aku bersyukur banget Allah ngirim kamu ke hidup aku."

"Tapi... tapi Mas Elvano kan CEO besar, orang penting, mantan Mas juga cantik-cantik kayak Natasha itu..." Aira menunduk sedih, air matanya siap jatuh lagi. "Aira kan cuma wanita biasa, sederhana, apa adanya."

"Terus kenapa kalau biasa?" Elvano mengangkat dagu Aira agar menatap dirinya lagi dengan tegas. "Justru itu kelebihan kamu, Aira. Kamu baik, kamu tulus, kamu sopan, kamu rajin, dan kamu cantik dengan caramu sendiri. Cantik yang alami, cantik yang menenangkan hati, bukan cantik yang cuma buat pamer tapi mulutnya jahat kayak mereka."

Elvano mengusap pipi Aira dengan sangat lembut, menatapnya penuh kekaguman.

"Dengerin ya... Aku nikah sama kamu bukan karena harta atau penampilan mewah. Aku nikah sama kamu karena aku lihat hatimu bersih. Dan inget satu hal ini baik-baik..."

Elvano mendekatkan wajahnya, menatap mata Aira tajam, namun penuh dengan kelembutan.

"Kamu itu nyonya besar di rumah ini. Kamu ibu untuk anak-anak kita nanti. Kamu istri sah aku. Posisi kamu itu sangat tinggi dan sangat dihargai. Nggak ada satu pun orang di dunia ini yang berhak ngerendahin kamu, apalagi bilang kamu cocok jadi pembantu kek gitu! Itu penghinaan besar dan aku nggak terima!"

"Tapi... rasanya nyeri banget Mas pas denger kata-kata itu." isak Aira pelan, dadanya masih terasa sesak.

"Iya aku tahu, aku ngerti banget perasaan kamu." Elvano kembali memeluk bahu Aira dan mengajaknya duduk di tepi kasur yang empuk itu. "Aku juga marah banget tadi, pengen rasanya aku usir dia jauh-jauh dan nggak aku temuin lagi selamanya. Tapi demi menjaga nama baik keluarga, aku tahan dulu. Tapi tenang aja, mulai sekarang, aku nggak bakal biarin dia masuk rumah ini lagi kalau mulutnya masih jahat dan nggak bisa jaga kek gitu."

Aira diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut suaminya. Setiap ucapan Elvano bagaikan obat manis yang menetes perlahan-lahan menyembuhkan luka di hatinya yang perih. Setiap kalimat yang diucapkan suaminya memberikan kekuatan baru yang luar biasa besarnya.

"Mas beneran nggak merasa malu punya istri kayak Aira?" tanya Aira ragu-ragu, menatap wajah Elvano, mencari kepastian yang mutlak. Matanya masih basah dan berbinar penuh harap.

Elvano tersenyum tipis, senyum yang sangat tampan dan meneduhkan hati. Ia mengacak-acak pelan rambut Aira dengan gemas.

"Malu apanya? Justru aku bangga banget tau nggak? Banyak orang yang nyari istri baik itu susah banget kayak nyari jarum di tumpukan jerami. Dan untungnya Allah ngasih kamu ke aku. Jadi mulai sekarang, tolong buang jauh-jauh pikiran negatif itu ya. Anggap aja angin lalu yang lewat. Anggap aja sampah yang nggak perlu diambil hati atau dipikirin."

"I... iya, Mas." Aira mengangguk kecil, dadanya terasa jauh lebih lega dan hangat. "Makasih ya Mas, makasih udah mau bela Aira, makasih udah sayang sama Aira."

"Sama-sama, sayang." Elvano menarik Aira kembali ke dalam pelukannya, membiarkan kepala istrinya bersandar nyaman di bahunya yang bidang dan kokoh. "Kamu itu tanggung jawab aku. Wajib banget aku lindungi dan jagain hati kamu. Nggak boleh ada yang nyakitin kamu, termasuk omongan jahat orang lain."

Mereka duduk berpelukan lama sekali di tepi kasur itu. Suasana kamar yang tadinya penuh dengan kesedihan dan air mata, kini perlahan berubah menjadi hangat, tenang, dan penuh dengan rasa kasih sayang yang semakin menguatkan ikatan di antara mereka berdua.

Aira menyadari satu hal penting hari ini...

Walaupun ada orang yang berusaha menjatuhkan dan merendahkannya, selama ada Elvano yang berdiri kokoh di sampingnya, membela dan mencintainya apa adanya, maka Aira merasa dia adalah wanita yang paling kuat dan paling berharga di dunia ini.

Setelah tangisan Aira benar-benar berhenti dan wajahnya sudah mulai membaik meskipun masih sedikit bengkak dan merah di sekitar mata, Elvano pun mengajak istrinya untuk duduk lebih nyaman di atas kasur yang empuk itu.

Elvano mengambil kotak tisu di meja samping tempat tidur, lalu membersihkan sisa-sisa air mata di pipi dan hidung Aira dengan sangat lembut dan hati-hati, seolah-olah Aira adalah porselen yang sangat rapuh dan harus dijaga dengan sangat baik.

"Nah, gitu dong senyum lagi." bisik Elvano lembut saat melihat wajah istrinya mulai tidak terlalu murung. "Wajah cantik itu jangan buat nangis terus dong. Nanti jelek , nanti Mas nggak sayang lho." godanya sedikit.

Aira tersenyum kecil tipis, meskipun senyum itu masih terlihat sedikit sedih dan lemas, tapi setidaknya ada senyum yang terukir.

"Iya, Mas." jawabnya pelan. "Maaf ya Mas kalau Aira jadi cengeng gini. Aira nggak bermaksud bikin Mas pusing atau repot."

Elvano langsung menggelengkan kepalanya tegas, lalu mencubit pelan pipi Aira yang masih terasa hangat dan mulus itu.

"Ah, jangan ngomong gitu dong. Kamu itu istri aku. Tempat kamu curhat, tempat kamu nangis, dan tempat kamu bahagia itu ya di samping aku. Jadi jangan pernah merasa merepotkan atau apa gitu, ngerti?"

Aira mengangguk patuh, hatinya terasa sangat hangat dan nyaman mendengar ucapan itu. Rasanya dicintai dan diterima sepenuhnya adalah hal terindah di dunia ini.

"Ngerti, Mas."

"Nah, gitu dong." Elvano tersenyum puas, lalu ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai, bersandar pada kepala ranjang yang empuk, dan menarik tubuh Aira agar berbaring menyamping di sampingnya atau bersandar nyaman di dadanya.

"Ayo sini, istirahat dulu. Badan kamu pasti lemes habis nangis banyak tadi kan?" ajak Elvano lembut, suaranya terdengar sangat memanjakan.

Aira pun menurut dengan senang hati. Ia membaringkan kepalanya di atas dada bidang dan kekar milik suaminya, mendengar detak jantung Elvano yang berdetak teratur, kuat, dan sangat menenangkan. Tangan besar Elvano terus mengusap-usap punggung dan rambut Aira dengan gerakan yang sangat lambat, ritmis, dan memanjakan.

Suasana di dalam kamar menjadi sangat hening dan damai. Hanya terdengar suara napas mereka yang teratur, dan suara angin sepoi-sepoi yang berhembus di luar jendela.

"Mas..." panggil Aira pelan setelah beberapa saat mereka diam menikmati kedekatan itu. Suaranya terdengar manja dan lembut.

"Hmm? Kenapa?" sahut Elvano tanpa menghentikan usapan tangannya di rambut panjang Aira.

"Aira... Aira jadi mikir nih." Aira mulai berbicara dengan nada ragu-ragu, jari-jarinya bermain-main di kancing baju suaminya. "Apa bener ya Mas, kalau penampilan Aira itu memang kelihatan kurang pantes atau kurang gaya gitu? Jadi orang lain pada ngomongin yang bukan-bukan?"

Elvano menghentikan gerakan tangannya sejenak, lalu menatap wajah istrinya yang ada di dadanya itu dengan tatapan yang lembut.

"Kenapa tiba-tiba mikir gitu lagi?" tanya Elvano pelan.

"Soalnya kan Tante Rina bilang gitu, katanya Aira bajunya polos terus, rambutnya dikuncir biasa aja, nggak kelihatan kaya nyonya besar." Aira mengerucutkan bibirnya sedikit cemberut, wajahnya terlihat sedih lagi. "Mungkin Aira harus berubah ya Mas? Harus lebih sering dandan, pake baju yang mahal-mahal, pake make up tebal biar kelihatan keren dan sepadan sama Mas? Biar nggak ada yang ngomongin lagi?"

Mendengar itu, Elvano justru terkekeh pelan, suara tawanya renyah dan hangat, lalu ia kembali mengelus rambut Aira.

"Ah, dasar kamu ini, kepikiran banget ya omongan orang?" Elvano menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Dengerin aku ya, Aira. Jawaban jujur dari aku, serius banget nih."

Elvano berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu berkata dengan sangat serius dan tulus, hingga Aira bisa merasakan ketulusan itu.

"Aku suka banget sama kamu yang apa adanya sekarang ini. Aku suka kamu pakai baju yang sopan, sederhana, tapi bersih dan rapi. Aku suka kamu dandan natural gini, wajahmu bersih, kelihatan seger, dan cantik alami. Itu jauh lebih enak dilihat dan jauh lebih nyaman dipandang daripada yang dandan berlebihan, pakaiannya ketat-ketat atau mencolok, tapi aslinya hatinya jahat dan mulutnya tajam."

"Sumpah, Mas?" mata Aira berbinar-binar mendengarnya, rasa percaya dirinya mulai tumbuh kembali.

"Iya sumpah. Serius deh." Elvano mengangguk yakin sekali. "Kamu itu cantiknya tuh dari dalam. Cantik karena hatimu baik, sopan santunmu tinggi, dan kamu tulus. Itu nggak bisa dibeli dengan uang atau baju mahal sekalipun. Jadi jangan pernah berubah jadi orang lain cuma karena omongan orang lain ya. Tetap jadi Aira yang aku kenal sekarang. Itu sudah lebih dari cukup buat aku, bahkan itu jauh lebih dari cukup."

"Hhh... lega rasanya denger Mas bilang gitu." Aira menghela napas panjang lega, lalu ia menyandarkan kepalanya kembali lebih nyaman dan erat di dada suaminya. "Aira kira Mas bakal malu atau kurang suka kalau Aira penampilannya biasa aja gini."

"Masa sih? Aku kan udah bilang berkali-kali." Elvano mencubit hidung Aira gemas. "Lagian kalau kamu dandan terus atau pake baju yang terlalu terbuka atau mencolok, nanti aku yang cemburu lho. Aku kan posesif. Aku cuma mau kelebihan dan kecantikan istri aku itu cuma aku doang yang bisa liat dan nikmatin sepenuhnya. Orang lain nggak perlu tau."

Aira tertawa kecil akhirnya, tawa yang tulus dan cerah seperti matahari yang baru saja muncul kembali setelah hujan reda.

"Hehehe... iya deh kalau gitu. Aira tetep jadi diri sendiri aja ya. Mas yang suka, berarti yang lain nggak perlu didengerin."

"Nah bener! Pintar." Elvano tersenyum bangga melihat istrinya kembali ceria. "Anggap aja omongan Tante Rina tadi itu cuma suara nyamuk yang ganggu, kita tepis aja jauh-jauh. Oke?"

"Oke, Mas!" Aira mengangguk semangat.

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!