NovelToon NovelToon
Saya Jokernya

Saya Jokernya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Mayat yang Tersenyum

​Garis kuning polisi itu selalu terlihat seperti sebuah pita pembatas yang ironis. Sebuah garis tipis yang memisahkan dunia orang-orang hidup yang sibuk dengan urusannya, dan sebuah panggung teater bisu tempat tragedi baru saja terjadi.

​Aku menunduk sedikit, mengangkat pita bertuliskan Police Line - Do Not Cross yang melintang di depan pintu kayu mahoni ganda setinggi tiga meter itu.

​Sepatu bot kulitku yang basah oleh sisa badai semalam berdecit saat menginjak lantai marmer Italia. Aku melangkah masuk ke dalam unit penthouse di lantai empat puluh dua ini dengan hati-hati, berusaha tidak merusak jejak apa pun yang mungkin tertinggal di area pintu masuk. Di luar sana, jalanan Sudirman sedang macet parah akibat genangan air setinggi betis, namun di balik dinding kedap suara ini, kemewahan seolah mengisolasi penghuninya dari realitas.

​Udara di dalam ruangan ini terasa salah. Sangat salah.

​Sistem pendingin ruangan sentral menyala di suhu terendah, menciptakan hawa dingin yang langsung menusuk dan menggigit pori-pori kulit. Namun, suhu buatan yang membekukan itu sama sekali tidak mampu menyembunyikan aroma khas yang selalu merayap mengikuti kematian. Campuran antara bau tembaga pekat dari darah yang mulai mengering, keringat dingin, dan bau asam dari fungsi tubuh manusia yang terlepas saat nyawa dicabut secara paksa.

​Di tempat semewah ini, bau kematian itu berbaur secara canggung dengan wangi parfum musk mahal dan aroma tajam cerutu Kuba yang sudah menjadi tumpukan abu di atas meja. Kombinasi yang membuat perutku melilit.

​"Kau terlambat dua puluh menit, El."

​Suara serak yang berat itu datang dari arah ruang kerja di sebelah kiri lorong utama. Inspektur Bramantyo—atau yang lebih sering kupanggil Bram saat kami tidak sedang berada di depan atasan—berdiri menyandar di ambang pintu kaca.

​Pria paruh baya itu mengenakan mantel cokelat lusuhnya yang khas, memegang sebuah gelas kertas berisi kopi yang uap panasnya sudah lama menghilang. Kantung matanya terlihat hitam dan tebal, mengendur di bawah matanya yang merah. Itu adalah tanda yang terlalu familier bagiku; tanda bahwa ia menghabiskan malam dengan kurang tidur, terlalu banyak kafein, dan tumpukan berkas—sebuah rutinitas normal bagi detektif senior di divisi pembunuhan utama.

​"Banjir di bawah sana benar-benar gila, Senior. Mobilku nyaris mogok di perempatan," jawabku, mengibas-ngibaskan sisa air hujan dari lengan jaket kulitku. Aku merogoh saku, menarik sepasang sarung tangan lateks berwarna biru terang. Aku menyelipkan jari-jariku ke dalamnya satu per satu, menarik ujungnya hingga terdengar bunyi jepretan pelan karet yang menampar pergelangan tanganku. "Lagipula, korban kita tidak akan lari ke mana-mana, kan?"

​Bram mendengus pelan. Seulas senyum tipis yang sarat akan kelelahan muncul di sudut bibirnya. "Ya. Kurasa dia sedang sangat menikmati waktu duduk santainya pagi ini. Masuklah. Tapi perhatikan langkahmu, jangan sentuh karpet wol di dekat meja kerja. Tim forensik belum selesai menyisir area itu untuk mencari serat pakaian atau rambut."

​Aku mengangguk, berjalan melewati ruang tamu yang dipenuhi furnitur minimalis modern bernilai ratusan juta rupiah. Sofa kulit berwarna putih bersih, meja kaca tebal, dan sebuah lukisan abstrak raksasa di dinding yang sama sekali tidak kumengerti nilai seninya.

​Saat aku melangkah masuk ke ruang kerja yang ditunjuk Bram, cairan asam lambungku langsung mendesak naik ke pangkal tenggorokan.

​Bukan karena banyaknya ceceran darah. Kenyataannya, ruangan ini sangat bersih. Terlalu bersih. Tidak ada tanda-tanda perkelahian, tidak ada vas bunga yang pecah, tidak ada cipratan darah di dinding. Yang membuat bulu kudukku meremang hebat adalah pemandangan yang tersaji tepat di tengah ruangan tersebut.

​Seorang pria paruh baya duduk bersandar di kursi kerja kulit berukuran besar. Ia masih mengenakan piyama sutra berwarna merah marun yang tampak kusut. Kedua tangannya mencengkeram erat sandaran tangan kursi itu. Begitu kuatnya cengkeraman tangan yang kini telah kaku tersebut, hingga kuku-kukunya memutih pasi dan lapisan kulit kursi yang mahal itu robek di bawah tekanan jari-jarinya.

​"Handoko Salim," Bram menyebutkan nama itu sambil menatap daftar di buku catatan kecilnya, nadanya datar seolah sedang membacakan menu sarapan di kantin. "Pria berumur lima puluh empat tahun. Status duda. Ditemukan oleh asisten rumah tangganya pagi ini jam enam tepat saat membawakan sarapan."

​Bram menutup buku catatannya dan menatapku. "Tidak ada tanda-tanda masuk paksa. Jendela kaca panorama itu terkunci rapat dari dalam. Sistem keamanan biometrik di pintu depan sama sekali tidak mendeteksi akses luar selain sidik jari korban dan asisten rumah tangganya."

​Mendengar nama 'Handoko Salim', rahangku mengeras tanpa sadar. Gigiku bergemeletuk pelan.

​Handoko bukan sekadar nama acak dari buku telepon kota ini. Dia adalah pengacara korporat kelas atas. Pria licin bak belut bersisik yang selalu punya seribu satu celah hukum dan lobi politik kotor untuk menyelamatkan para konglomerat dari jerat penjara. Dan yang lebih mengganggu, yang membuat dadaku tiba-tiba terasa sesak... dia adalah salah satu konsultan hukum utama Vanguard Group. Perusahaan ayahku. Pria yang sudah kuanggap sebagai paman sendiri saat aku masih kecil.

​Aku menelan ludah, memejamkan mata selama dua detik. Aku berusaha keras menekan pikiran-pikiran personal dan memori masa kecil itu ke sudut paling gelap di otakku. Menguncinya rapat-rapat. Saat ini, aku bukanlah Elara si putri mahkota Vanguard yang manja. Aku adalah Detektif Elara. Lencana kuningan yang menempel di ikat pinggangku menuntut dedikasi penuh. Aku harus fokus pada fakta yang ada di depan mata.

​Aku melangkah lebih dekat ke arah mayat Handoko, berjingkat hati-hati memastikan langkah sepatu botku tidak menyenggol penanda bukti bernomor kuning yang telah diletakkan tim forensik di atas lantai. Saat aku berdiri tepat di seberang meja kerjanya, jarak kami kini hanya kurang dari satu meter. Pemandangan wajah Handoko terlihat sepenuhnya.

​Jantungku berdegup satu ketukan lebih cepat, seakan ada tangan dingin yang meremasnya dari dalam dadaku.

​Aku sudah melihat banyak mayat dalam tiga tahun karirku di divisi ini. Korban perampokan sadis di gang gelap, kecelakaan lalu lintas yang menghancurkan tubuh, hingga pembunuhan berencana karena utang piutang. Namun, ekspresi yang membeku di wajah Handoko adalah sesuatu yang belum pernah kulihat seumur hidupku.

​Kedua matanya melotot lebar, nyaris keluar dari rongganya. Pembuluh darah kapiler di matanya telah pecah, membuat bagian putih bola matanya berubah menjadi warna merah yang menyeramkan. Tapi yang paling mengerikan adalah area mulutnya.

​Bibir Handoko ditarik ke atas dan ke luar dengan sudut yang sangat ekstrem, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan gusi yang memucat karena aliran darah telah berhenti. Otot-otot di pipi dan rahangnya menegang dalam sebuah kontraksi yang sangat kaku dan tidak wajar.

​Handoko mati dengan sebuah senyuman. Senyuman yang lebar, asimetris, dan memancarkan teror yang murni.

​"Risus sardonicus," gumamku pelan, setengah berbisik. Aku mendekatkan wajahku, menyorotkan senter pena dari saku kemejaku untuk memeriksa pupil matanya tanpa berani menyentuh kulitnya yang mulai membiru.

​"Gunakan bahasa manusia yang bisa kumengerti, El," tegur Bram sambil menyesap kopinya yang sudah dingin, berdiri di sebelah kiriku dengan dahi berkerut ngeri menatap mayat itu.

​"Kejang otot wajah," jelasku, mematikan senter pena dan melirik ke arah Bram. "Biasanya kondisi ini disebabkan oleh infeksi tetanus yang parah, keracunan strychnine, atau jenis neurotoksin mematikan tertentu. Racun yang memaksa sistem saraf menyala secara berlebihan, membuat otot-otot berkontraksi hebat, sebelum akhirnya racun itu membakar sistem pernapasan."

​Aku menunjuk ke arah wajah Handoko dengan ujung pena. "Senyum ini bukan senyum bahagia karena mati dalam damai, Bram. Ini adalah kontraksi paksa dari otot-otot zygomaticus di sekitar mulut. Dia tidak mati dengan tenang. Dia mati dalam keadaan kejang yang menyiksa... dan ketakutan yang luar biasa melihat pembunuhnya."

​Bram menghela napas panjang, meletakkan gelas kertasnya di atas bufet kayu jati di belakangnya. "Dokter forensik yang pertama kali tiba pagi tadi menduga ini serangan jantung biasa. Katanya, jantung korban berhenti mendadak."

​"Orang tidak merobek kulit kursi mahal mereka hingga jari mereka lecet karena serangan jantung biasa," bantahku cepat. Aku menunjuk ke arah tangan Handoko yang mencengkeram kursi kayu berlapis kulit itu. "Lihat otot lehernya yang menonjol keluar. Lihat sisa keringat dingin yang mengering di kerah piyamanya. Seseorang—atau sesuatu—membuatnya sangat ketakutan, menyiksanya secara fisik, sampai jantungnya menyerah dan meledak. Ini jelas pembunuhan."

​Aku mengalihkan pandanganku dari wajah Handoko yang menyeramkan itu, mencoba mengusir rasa mual. Aku mulai mengobservasi sekeliling ruangan dengan pandangan menyapu.

​Jika ini adalah pembunuhan, pelakunya adalah seorang profesional. Atau orang yang sangat teliti.

​Tidak ada barang pecah belah yang berserakan. Tidak ada laci meja yang ditarik paksa hingga jatuh. Tidak ada buku yang berantakan dari raknya. Ruangan ini terlalu rapi untuk sebuah tempat terjadinya pembunuhan. Namun, sebagai detektif, mataku langsung menangkap sebuah anomali.

​Di sudut kanan ruangan, tertutup sebagian oleh bayangan rak buku, pintu sebuah brankas baja besar yang tertanam di dinding terbuka lebar.

​Aku berjalan pelan ke arah brankas tersebut. Di dalamnya, bertumpuk-tumpuk uang tunai dalam pecahan seratus dolar Amerika yang diikat karet, beberapa keping emas batangan, dan dua buah kotak beludru merah yang kuyakin berisi perhiasan mewah.

​Semuanya utuh. Tidak ada satu pun barang berharga itu yang disentuh, apalagi diambil.

​"Perampokan yang sangat buruk dan amatir jika tujuannya adalah memperkaya diri," komentarku, merendahkan tubuhku untuk mensejajarkan pandangan dengan isi brankas.

​Aku menunduk lebih dalam, mengarahkan cahaya senter penaku ke dasar brankas lapis baja tersebut. Di atas lapisan kain beludru di dasar brankas, terlihat sebuah ruang kosong yang bersih di antara tumpukan uang dan emas yang sedikit berdebu. Jejak persegi panjang yang sangat jelas, menandakan bahwa sebelumnya ada sesuatu yang diletakkan di sana.

​"Sebuah map dokumen. Atau mungkin buku catatan tebal," gumamku menyimpulkan, berdiri kembali dan menatap Bram. "Pelakunya tahu persis apa yang dia cari di ruangan ini. Dia sama sekali tidak peduli pada harta Handoko. Dia menginginkan informasi. Dan dia tahu kapan harus masuk."

​"Tapi bagaimana pelakunya bisa masuk?" Bram berjalan mendekatiku, ikut melihat ke dalam brankas dengan tangan bersedekap. "Kamera CCTV di lorong apartemen luar tidak menunjukkan siapa pun yang lewat sejak tengah malam selain asisten rumah tangga yang datang pagi ini. Sementara CCTV di dalam penthouse... mati tepat pukul dua dini hari karena gangguan sinyal."

​"Gangguan sinyal?" Alisku bertaut.

​"Ya. Hanya sepuluh menit layar sekuriti menjadi blank. Tim IT gedung mengira itu hanya glitch akibat badai petir. Setelah sepuluh menit berlalu, kamera kembali menyala normal, dan Handoko sudah terekam duduk kaku dalam posisi seperti itu."

​"Sepuluh menit," ulangku, memutar tubuhku menghadap jendela kaca panorama besar yang menampilkan pemandangan lautan gedung kota Jakarta dari ketinggian. Sisa hujan masih menabrak kaca, meninggalkan jejak air yang mengalir turun seperti air mata.

​Seseorang, pikirku, menyusup masuk ke unit paling atas di gedung berpengamanan maksimal ini dalam jendela waktu sepuluh menit. Melumpuhkan Handoko, menyuntikkan racun atau menakut-nakutinya hingga mati kejang, memaksanya membuka brankas, mengambil dokumen rahasia, dan keluar tanpa meninggalkan satu pun jejak di kamera.

​Itu bukan sekadar kejahatan jalanan. Itu adalah pertunjukan sulap tingkat tinggi. Sebuah ilusi yang dirancang untuk mempermalukan polisi. Dan aku sangat membenci trik yang tidak bisa kupecahkan.

​Aku kembali berjalan mendekati meja kerja Handoko. Firasatku sebagai detektif meronta-ronta di dasar perutku, berteriak bahwa aku melewatkan suatu detail penting. Pelaku secerdas dan seteliti ini tidak mungkin tidak meninggalkan 'tanda tangan'. Para pembunuh yang melakukan eksekusi terencana dengan tingkat kesulitan teatrikal seperti ini biasanya memiliki ego yang sangat besar. Mereka tidak ingin aksi mereka dianggap sebagai kecelakaan biasa. Mereka ingin diakui. Mereka ingin ditakuti.

​Aku menelusuri permukaan meja kerja dengan mataku yang menyipit. Ada sebuah laptop berwarna perak yang tertutup rapat, sebuah gelas kristal berisi sisa cairan keemasan—kemungkinan besar wiski impor berumur tua—dan sebuah asbak perak berukir.

​Tunggu.

​Mataku terpaku. Aku mencondongkan separuh tubuhku ke depan, melewati tumpukan map kosong, dan menyipitkan mata ke arah dada mayat Handoko.

​Awalnya, benda itu tidak terlihat jelas karena warnanya menyatu dengan motif garis-garis tipis pada piyama sutranya dan terhalang bayangan dagunya yang menunduk. Tapi ada sesuatu yang diselipkan tepat di saku dada kiri piyama Handoko. Sesuatu yang menonjol keluar.

​Tepat di atas jantung pria itu yang kini telah berhenti berdetak.

​"Bram," panggilku, suaraku berubah menjadi setengah bisikan yang tegang. Aku memastikan tidak ada nada panik di sana, hanya fokus absolut. "Apakah tim forensik sudah memeriksa saku pakaian korbannya?"

​"Belum," jawab Bram, dahinya kembali berkerut. Ia melangkah mendekatiku. "Protokol standar, El. Mereka baru memotret area luar dan mengambil sampel sidik jari dari gelas wiskinya. Kenapa? Apa yang kau lihat?"

​Aku tidak menjawab pertanyaan Bram secara verbal. Aku meraih sepasang pinset logam berujung presisi dari dalam tas peralatanku yang terselempang di bahu. Dengan napas yang kutahan dan tangan yang dijaga agar tidak bergetar sedikit pun, aku mendekati wajah Handoko. Mayat yang tersenyum mengerikan itu seolah sedang mengejekku saat wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter.

​Dengan gerakan yang sangat perlahan dan hati-hati, ujung logam pinsetku meraih ujung benda datar yang menyembul dari saku dada sutra tersebut. Benda itu licin, tidak seperti kertas HVS atau karton biasa. Saat aku menariknya keluar dengan lembut, tidak ada lipatan. Teksturnya terasa kaku.

​Sebuah kartu.

​Aku mundur selangkah, mengangkat kartu itu ke udara, membiarkan cahaya lampu halogen di langit-langit ruangan meneranginya dengan jelas agar Bram bisa melihatnya.

​Itu bukan kartu remi berbahan kertas murah yang bisa dibeli di minimarket. Kartu ini terasa tebal, terbuat dari bahan kaku yang dilapisi lapisan matte yang licin. Saat aku memutarnya sedikit, ujung-ujungnya terasa sangat tajam, bisa saja menyayat jari jika aku tidak menggunakan sarung tangan tebal.

​Di bagian tengah kartu yang berwarna putih pucat itu, terdapat ilustrasi yang sangat detail dan... sangat mengganggu pikiran.

​Itu adalah gambar seorang karakter Joker.

​Namun, berbeda dengan badut sirkus yang biasa ditemui di tempat hiburan anak-anak, Joker yang tergambar di sini memiliki tatapan mata yang gelap, kosong, dan penuh perhitungan jahat. Separuh wajah badut itu digambar sedang tersenyum sinis, sebuah ejekan abadi. Sementara dari sebelah matanya yang lain, tergambar setetes air mata berwarna merah gelap—warna yang sangat identik dengan darah yang mulai mengering.

​Ilustrasi itu tidak terlihat seperti hasil cetak massal mesin pabrik. Garis-garisnya tajam, warnanya pekat. Ini adalah sesuatu yang dirancang khusus. Sebuah properti yang dipersiapkan dengan matang dari sang pembunuh.

​Ruang kerja yang dingin itu tiba-tiba terasa jauh lebih hening dari sebelumnya. Bahkan Bram, detektif senior yang biasanya selalu punya komentar sinis untuk segala hal, kini hanya berdiri terdiam. Rahangnya sedikit turun, menatap benda di jepitan pinsetku dengan ekspresi bingung yang dengan cepat berubah menjadi kewaspadaan tinggi.

​Punggungku meremang. Ini bukan pembunuhan acak. Ini jelas bukan kejahatan karena uang.

​Senyum mematikan pada wajah pengacara korporat ini, dokumen rahasia yang hilang dari brankas, dan sekarang... kartu badut yang ditinggalkan di atas jantungnya. Ini semua adalah sebuah rentetan pesan. Dan kartu ini adalah stempel resminya.

​Aku menatap mata kosong sang Joker di gambar kartu itu. Aku bisa merasakan hawa dingin yang aneh merayap naik menelusuri tulang belakangku, menembus jaket kulit tebal yang kukenakan.

​Seseorang sedang merancang dan memulai sebuah permainan yang sangat berbahaya di kota ini. Seseorang yang sangat cerdas, sangat teliti, dan menjadikan elit penguasa kebal hukum sebagai target sasarannya.

​Tanganku mencengkeram pinset itu sedikit lebih erat.

​Siapa yang meninggalkan kartu Joker ini?

1
Emi Widyawati
bagus bangeeetttt. cerita beda dengan yang lainnya. baca novel tapi serasa liat film. bagus banget Thor. lup u sak kebon 😘
Misterios_Man: banyakin likesnya dong biar popularitasnya naik, gratis kok hehehe.
total 2 replies
Ainun masruroh
semangat 💪
Misterios_Man: Ok kak nice dream ya,, jangan lupa ikuti novelnya heheh.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!