NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Empat bulan kemudian.

Hari ini tepat empat bulan setelah kedatangan nenek dan Nisa. Kehidupan yang Natalie rasakan tak sama lagi seerti dulu. Rasanya seperti hidup dalam balik jeruji besi. Tak ada satu hari pun yang bisa membebaskannya.

Hari demi hari terasa begitu berat. Tak ada yang berubah. Semuanya masih sama, bahkan lebih berat. Tubuhnya seakan-akan dipaksa bagaikan robot yang tidak butuh istirahat—harus selalu siap siaga selama dua puluh empat jam. Padahal kenyataannya, ia butuh istirahat. Butuh makan. Bukan hanya kerja-kerja terus sampai tak kenal waktu.

Jangankan untuk istirahat, untuk bernapas aja rasanya sangat sulit. Detik setiap detik yang terlewat sekarang terasa begitu berharga hanya untuk bernapas sejenak. Dinding-dinding rumah rasanya semakin membuatnya terhimpit, menekan napasnya lebih dalam.

Seperti saat ini, Natalie duduk di balkon kamar. Memandang langit malam yang begitu indah dengan secangkir kopi—serta sebatang rokok yang tersemat apik di jarinya. Ya, dirinya merokok sejak beberapa hari yang lalu. Nggak ada yang special, hanya ingin melampiaskan rasa lelahnya dengan dunia. Hanya rokok, tidak lebih. Meskipun ia juga tahu rokok tidak baik untuk tubuhnya, apalagi saat kondisi ginjalnya kurang satu.

Lihatlah tubuhnya yang sekarang. Kurus kering kerontang—nyaris tinggal tulang saja. Mata panda yang terlihat jelas—kadang ia samarkan dengan foundation. Bibir ranumnya yang semula merah kini pucat. Rambutnya yang mulai menipis karena rontok. Tangan yang tak lagi semulus dulu karena goresan yang semakin sering ia buat.

Drrtt … Drrtt …

Natalie mematikan rokoknya saat Nathan dan Fabian melakukan panggilan video call.

"Nata, kok banyak asep sih di belakang Lo?"

"Mana ada sih, Athan. Ini tuh asep pengharum ruangan. Gue pake yang kayak dupa, jadinya banyak asep," alibinya.

Natalie tak mampu menatap wajah keduanya lama. Karena takut ketahuan.

"Eh, besok jalan-jalan yuk!"

"Gue nggak bisa Ian."

"Yahh, princess mah gitu. Ayolah sekali-kali, kapan lagi coba kita jalan-jalan bertiga. Gue kangen tau," bujuk Nathan dengan wajah cemberutnya.

"Kalau malem gue oke. Tapi entar gue yang hubungin kalian bisanya jam berapa."

"Kenapa nggak sore aja, Nata? Kan bisa sekalian kita liat sunset di pantai. Kita udah lama nggak ke sana," bujuk Fabian.

Natalie memikirkan kembali ucapan Fabian. Benar juga, mereka bertiga udah lama nggak menghabiskan waktu bersama—bahkan untuk sekedar ngobrol santai. Terlalu lama bahkan.

"Apa kata nanti deh. Gue matiin ya, mau tidur."

Setelah panggilan berakhir nyatanya Natalie tidak melakukan apa yang di ucapkannya. Ia justru mematik kembali rokoknya yang belum selesai. Nanggung tinggal sedikit lagi. Lagian, ia juga nggak terlalu sering ngerokok. Paling satu hari dua batang, setelah itu ya udah besoknya lagi.

Padahal tubuhnya udah menolak sejak lama. Tapi ia selalu mengabaikan peringatan dari tubuhnya sendiri. Menganggap itu hanyalah angin lalu yang tak perlu terlalu di pikirkan. Toh, kalau dirinya mati pun nggak akan ada yang peduli. Jadi untuk apa ia peduli pada kesehatannya sendiri.

Dirinya juga udah lama nggak melakukan pemeriksaan rutin. Jangankan pemeriksaan, minum obat aja nggak—bahkan udah ia buang gitu aja. Lagian, nggak ada efeknya juga ia meminum obat itu. Jadi untuk apa di simpan, lebih baik buang lah.

Lagi-lagi Natalie membuang napas panjang. Ia merasa sangat bosan sekarang. Padahal tubuhnya udah meronta-ronta minta di istirahatkan, tapi pikirannya masih belum.

......................

Gedorr! Gedorr! Gedorr!

"NATALIE, BANGUN KAMU."

Suara pintu di gedor dengan keras di sertai teriakan kemarahan menyapa indra pendengaran Natalie. Suaranya terdengar familiar. Suara yang sudah lama ia rindukan. Dengan semangat Natalie bangun dari tidurnya, menyambut kedatangan mamanya.

Ceklek.

"Mama," panggilnya sumringah.

Natalie hendak memeluk Sarah, tapi terlebih dahulu mendorong tubuhnya.

"Dasar kamu. Siang begini masih belum bangun. Lihat itu, kembaran kamu sudah ada di dapur masak pagi-pagi. Sudah beberes rumah, dan kamu? Kamu masih enak-enakan tidur!"

Natalie terdiam mendengar kemarahan mamanya. Ia bingung dengan situasi yang terjadi saat ini. Dan, apa tadi? Nisa masak? Padahal selama ini dia lah yang melakukan itu semua, kenapa sekarang berubah?

"Dasar cari muka," batinnya.

"Maaf, ma." Natalie menundukkan kepalanya.

"Saya maafin kamu kali ini. Kalau sampai ini terjadi lagi, saya akan kirim kamu ke rumah kakek. Tinggal di sana selamanya, nggak usah ngarep kembali ke sini," peringat Sarah.

"Nata janji nggak akan ulangi lagi."

"Sekarang lebih baik kamu segera bersiap. Anter Nisa ke sekolahnya."

Setelah mengucapkan itu, Sarah pergi meninggalkan Natalie yang masih diam di tempatnya. Setelah Sarah benar-benar nggak terlihat, Natalie memandang sendu kepergian mamanya. Mamanya sudah berubah, nggak seperti dulu.

"It's okay Natalie, Lo kuat," semangatnya dengan nada rendah.

Setelah bebersih diri, Natalie langsung turun ke bawah memanaskan mobil. Seperti biasa, Nisa nggak mau di antar pakai motor—jadilah setiap hari antar jemput pakai mobil. Setelah mengantar Nisa, Natalie kembali lagi ke rumah untuk mengambil motor. Begitu terus setiap harinya.

Dan sekarang, Natalie sedang berada di ruangan Bu Ani—pemilik warung tempatnya bekerja. Tadi saat dirinya sampai di depan, diri suruh menghadap beliau.

"Maaf Bu, ada apa ya," tanyanya dengan sopan.

"Begini, Natalie. Saya lihat, akhir-akhir ini kamu sepertinya kurang fokus dalam bekerja. Kamu baik-baik saja?" tanya Bu Ani lembut.

"Saya …, nggak apa-apa kok Bu, mungkin," jawabnya sedikit berbisik di akhir.

Bu Ani menghela napas mendengar jawaban Natalie. Ia tahu ada sesuatu yang nggak beres dengan tubuh salah satu pegawainya itu. Bukan apa, waktu awal-awal Natalie bekerja di sini ia adalah orang yang paling bersemangat. Tapi akhir-akhir ini banyak pekerjaannya yang keliru, nggak fokus, bahkan lebih sering terlihat capek.

"Begini saja, lebih baik kamu periksa ke dokter. Saya ijinin kamu untuk nggak bekerja hari ini," putus Bu Ani.

"Tapi, saya beneran nggak apa-apa kok," ucapnya sedikit bersemangat, meski sebenarnya hanya pura-pura.

Karena jujur saja, tubuhnya sekarang lebih mudah lelah dan capek. Bahkan beberapa bagian tubuhnya membengkak.

"Maaf, nggak bisa Natalie. Ini demi kebaikan kamu juga. Jadi kamu bisa pulang sekarang," finalnya.

"Iya, Bu. Kalau gitu saya pulang dulu," nyerahnya.

Saat keluar Natalie di tanya oleh karyawan yang ada di sana. Ia hanya menjawab seadaanya dengan senyum lebar, agar tidak ada yang curiga.

"Terus sekarang gue harus ke mana?"

Saat ini Natalie sedang duduk sendirian di taman—tempat yang biasa ia kunjungi bersama dua sahabatnya. Ia duduk di sisi bangku taman sambil melihat jalan.

"Apa ke rumah Tante Dewi aja, ya? Tapi nanti kalau ada mama gimana."

"Argh! Bosen," keluhnya.

Ting!

.

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!