persahabatan segitiga antara Tobia, seorang laki-laki tampan cekatan dan penyayang yang sudah bekerja sebagai perawat dengan Mada, seorang gadis periang yg masih kuliah semester 5, mereka tumbuh bersahabat sejak Mada pindah rumah saat usianya 9 tahun. Akankah persahabatan ini berubah menjadi rasa lain atau akankah persahabatan ini menjadi aneh karena kehadiran dokter Harun diantara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggumu tidak melelahkan....
"Kriiiiiiiiiing.....kriiiiiing....kriiiiiing....." jam wekker klasik berwarna silver sudah mulai berteriak-teriak untuk membangunkan Mada. jam wekker klasik peninggalan orang tuanya yang masih apik dan berfungsi baik,selalu ia gunakan sebagai pengganti orang tuanya untuk membangunkannya setiap pagi.
Tepat jam 04.30. Mada terjaga. Ia duduk dengan masih setengah tertidur. Mada menggosok kedua mata dengan punggung kedua tangannya. Sengaja ia taruh jam wekker di meja dekat balkon jendela yang berjarak sekitar 8 langkah dari ranjangnya agar ia segera bergerak meraih jam wekker sehingga rasa kantuknya segera hilang.
"Selamat pagi....Terima kasih Bapak...ibu... Selalu membangunkanku." kalimat yang setiap pagi diucapkannya. Sambil menekan kepala jam wekker agar terdiam.
Dengan malas yang masih menggelayuti tubuhnya, dan kegelisahan yang terus meracuni otaknya, Mada turun menuju kamar mandi.
Nenek dan kakek yang sudah sibuk mempersiapkan menu makan hari ini, hanya memandang cucunya dengan tatapan sayu yang susah untuk dijelaskan. Nenek dan Kakek saling menatap tanpa berkomentar,lalu menarik nafas panjang dan melanjutkan kegiatannya.
Sudah beberapa hari sejak Tobia pergi, Mada yang niasanya bangun jam 6 dengan malas-malasan, tiba-tiba berubah drasti.
Jam setengah lima pgi selalu bangun, ke kamar mandi, masuk kamar lagi. Tepat jam 5 Mada selalu keluar kamar dengan baju olahraga lengkap. Lari pagi mengikuti rute yang biasanya Tobia lalui.
Jam 6 Mada sampai rumah kembali. Melepas sepatu olahraganya, lalu menyiram bunga-bunga yang ditanam apik oleh Kakek dan Nenek nya. Selesai itu, ia duduk di rumput jepang yg basah dengan meluruskan kedua kakinya. Kedua tangannya lurus ke belakang menopang tubuhnya. Wakahnya menengadah keatas menikmati langit pagi yang terasa sangat kosong baginya.
Kakek dan Nenek hanya bisa memperhatikan perilaku cucunya dari jendela. Tak banyak yang bisa Kakek atau Nenek tanyakan. Melihat raut wajah sang cucu yang setiap pagi terlihat gelisah, membuat Kakek dan Nenek tak bisa berbuat banyak selain hanya memberikan waktu bagi Mada tanpa banyak ikut campur.
"Ada yang bisa sibantu Nek?" tanya Mada saat memasuki rumah.
"Nenek sudah selesai. Tinggal nunggu kamu aja. Kita sarapan bareng."
"Kamu mandi aja sono. Badanmu bau... Lagian tuh, celana kamu basah." kata Kakek.
Mada mengangguk kecil dengan mulut terkatup membuat pipinya mengembang. Dan tak sadar membuat matanya membulat.
"Semoga dia bisa cepet pulih." kata Nenek yang hanya ditanggapai dengan anggukan mantap sang Kakek.
.........................
"Sebelum melakukan pemasaran, pemilik bisnis akan melakkan riset dan analisis agar produk dapat secara efektif terjual ke pasar yang tepat. Seorang business analyst bertugas untuk melakukan analisa pasar, mengukur efektivitas produk, dan memonitor metrics data sesuai dengan kebutuhan bisnis. Pekerjaan di bidang ini juga dapat menjadi prospek kerja ilmu komunikasi. Dengan melakukan analisis tersebut, prospek kerja ilmu komunikasi yang satu ini dapat membantu perusahaan produsen meningkatkan keuntungan dan kepuasan konsumen. Maka swbagai mahasiswa ilmu komunikasi, kalian harus mempelajari......." Kalimat panjang dari sang Dosen tidak membantu mengurangi kebosanan Mada, malah memperparahnya.(\=sumber: https.//www.umn:ac.id>jurusan ilmu komunikasi)
"Aneh sekali... Mata kuliah dosen ini selalu penuh peminat." gumamnya lirih.
"Tentu saja. Karena dia ganteng maksimal. Eike aja semangat karena wajah dan badannya itu loh beeeeuuuuhh...." kata seorang lebong yang duduk di depan Mada.
Mada yang tak menyangka suaranya akan terdengar orang lain pun sontak hampir berteriak saking kagetnya, namun untung dia masih tersadar dan segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa?" tanya sahabatnya yang duduk agak jauh darinya dengan isyarat mulut tanpa suara.
Dibalas Mada dengan mengangkat kedua bahunya.
"Waaaaah.... Satu jam akhirnya berlalu. Kalau bukan karena mata kuliah wajib, rasanya aku ingin sekali melewatinya saja." kata sahabat Mada seraya merebahkan bahunya di bangku sebelah Mada.
"Kalau bisa, kamu maunya nggak usah kuliah, tapi tau-tau wisuda dengan IPK 4. Gitu kan?"Mada meledek.
"Cafe yuk. Yang waktu itu pernah kamu traktir. Sekarang gantian aku yang traktir. Oke?"
"Setuju."
"Kemana guys? Boleh gabung?" tanya seorang teman Mada lagi saat mereka berjalan di koridor.
"Yuks... Cafe dooong..." jawab Mada." Dia yaang traktir."
"Ah...aku aja. Aku baru dapet bonus besar hari ino dari papahku." kata yang barusan gabung.
"Waaah... Cool banget itu. Ayok-ayok."
Pada dasarnya mereka tidak terlalu dekat sebelumnya, sepulang kuliah, biasanya Tobia sudah menunggunya di depan. Atau kalau tidak Mada yang buru-buru pulang entah ada aja urusan dengan Tobia.
Makanya selama ini bisa dibilang Mada tidak punya dunia lain selain Tobia. Dan ketika Tobia pergi, Mada baru merasakan banyak kekosongan dan Kegelisahan. Namun sisi positifnya, ia bisa memiliki beberapa pertemanan.
"Kenalin dong abang rasa pacarmu itu?" kata salah satu temannya itu saat mereka sampai di parkiran cafe.
"Iya... Dia keren loh... Badannya itu loh." kata yang lain.
"Ah... Dia lagi diluar kota. Bisa aku kenalkan nanti kalau dia pulang."
"Oh... Pantesan... Lama nggak nongol. Biasanya kamu juga nggak ada waktu buat nongkrong. Bahkan habis nugas pun juga buru-buru pulang."
Mendengar ucapan teman-temannya itu, Mada hanya bisa terdiam.
"Itukan mobilnya Mas Tobia..." pikir Mada saat berjalan hendak menuju pintu cafe.
"Sebentar ya guys." katanya pamitan buru-buru mendekati mobil jeep yang terparkir di samping bangunan cafe.
"Kemana?" teriak temannya saat Mada sudah tidak lagi menghiraukannya.
"Ada apaan sih?" kata temannya saat menghampiri Mada yang celingak-celinguk di dekat mobil jeep warna silver itu.
"Ini mobilnya mas Tobia... Beneran." kata Mada sambil menunjuk plat mobil.
"Yakin?" temannya ikut celingukan mencari yang empunya mobil.
"Aku mau tunggu disini aja. Maaf ya...kalian masuk duluan." kata Mada kemudian.
"Yakin nih ditinggal?"
"Heem yakin." Mada mengangguk mantap masih sambil celingukan.
Mada duduk di trotoar samping mobil jeep yang terparkir itu. Setengah jam sudah berlalu, namun tak satu pun orang mendekat ke sana.
Mada duduk dengan kedua lututnya ditekuk menopang dagunya. Dengan rasa cemas bercampur dengan senang ia menunggu dengan penuh harap.
"Kita mampir ke pasar kota cari oleh-oleh, trs pulang ya." Terdengar percakapan kecil di belakang mobil.
"Asyiiik!!!" terdengar seruan girang anak kecil.
Mada bangkit mencari sumber suara. Seorang lelaki bertubuh agak gempal, berdiri di dekat pintu kemudi. Sedangkan sisebrang kemudi tampak seorang wanita menggandeng dua anak. Mada tertegun sesaat hanya memandangi mereka secara bergantian.
"Ada yang bisa dibantu mb?" tanya si laki-laki.
Beberapa kali Mada memastikan plat nomor mobil. karena tidak menyangka si pembawa mobil adalah orang lain, ia masih tidak menjawab si laki-laki. Sampai akhirnya si wanita mendekati Mada.
"Mbak... Apa ada sesuatu?" tanya si wanita dengan nada lembut sambil menepuk bahu Mada.
"Oh... Saya pikir saya mengenal mobil ini. Saya taahu pemiliknya.... Tapi kalian...." Mada tidak siap dengan jawaban yang seharusnya.
Si laki-laki tampak memperhatikan Mada yang berdiri bingung sambil memegang gelas minuman dingin di tangan kiri dan hp di tangan kanan.
"Aaahh....!!!! Saya pinjam mobil ini dari teman baik saya. Karena mobil saya baru ada dibengkel. Dia tahu saya harus menghadiri acara keluarga dengan anak dan istri saya, jadi dia meminjamkan mobilnya."
"Benarkah?!" raut wajah Mada tampak lega sekaligus kecewa.
"Mbak pasti tunangan yang sering dibicarakan Tobia ya? Tobia memakai cincin yang sama dengan yang mbak pakai itu. Wah ternyata beneran cantik sesuai yang dia ceritakan." kata si lelaki.
"Tu...tunangan?" Mada kembali tidak mengerti, apa yang dimaksud si laki-laki.
"Tobia selalu memakai cincin di jari manis tangan kirinya, makanya saya tanya. Dia mengaku itu cincin dari tunangannya. Beneran persis seperti cincin di jari manis mbak itu."
"Lalu bagaiman kanarnya disana? Baik-baik sajakah?"
"Ya... Dia orang baik yang penuh energi. Tidak pernah absen kerja. Bahkan selalu datang lebih awal. Selalu ringan tangan dengan kesulitan teman -temannya. Sering membantu siapa saja yang dijumpainya. Kami sangat menghormatinya. Beliau ketua yang sangat bijak." puji si laki-laki.
"Kalau begitu... Maaf sudah mengganggu." kata Mada sedikit menunduk, lalu berpamitan.
"Tidak apa-apa mb... Eh, apa ada pesan untuk Tobia?"
Madahanya menjawabnya dengan gelengan kepala dan senyuman tipis.
"Cincin yang sama? Tunangan? Sssshhhh... Cincin ini adalah cincin yang dipakai ibu saat kecelakaan. waktu itu jari-jari ayah banyak sekali luka, tapi tidak ada cincin. Darimana mas Tobia dapet cincin yang sama persis...." pikir Mada sambil berjalan mencari halte bus.
"Apa kutanya langsung aja ya? Ah tidak... Aku tidak berani. Dia sama sekali tidak menghubungiku. Kalau aku yang duluan menghubunginya, aku takut dia makin kesel. Sebaiknya aku sabar dulu." Mada menghembuskan nafas panjang.
"Tapi aku sebenarnya tisak bisa sabar. Apa yang dia pikirkan sebenarnya? Apa dia beneran nggak peduli lagi sama aku? Tapi kenapa disana dia bilang aku tunangannya? Atau tunangannya sebenarnya orang lain? Hanya cincinnya saja yang kebetulan sama dengan yang aku punya?"
Banyak sekali hal yang terasa sangat membingungkan bagi Mada. Namun tak satu pun jawaban ia peroleh.
.....................
"Bangun woi!!!! Bocah manja!!!" suara Tobia terdengar sangat jelas di telinga Mada. Membuatnya tersenyum kecil lalu berusaha membuka mata.
Mada dusuk diranjangnya lalu celingukan mencari sumber suara. Ia melongok ke jendela, lalu setengah berlari turun keluar kamar. Tapi tak dijumpainya suara itu.
"Apa tadi cuma mimpi ya? Tapi suaranya jelas banget. Apa dia dirumah ya?" gumam Mada lalu berlari menuju rumah Tobia. Namun rumah tampak sepi tidak ada yang menyahut panggilan dan ketukan pintu.
Dengan kecewa dia kembali kerumahnya. Dia duduk sesaat di teras rumah.
"Mas Tobia!!!!! Aku kangen!!!!" serunya seperti orang gila.
Dengan lunglai ia kembali masuk rumah. Terdengar suara dering hapenya. Bergegas ia mengambilnya. "semoga mas Tobia." pikirnya.
"Ah... Dokter Harun." katanya setengah kecewa.
"Apa yang kamu lakukan? Dirumah atau diluar?" tanya dokter Harun.
"Dirumah..." jawab Mada singkat.
"Kok lemes? Bangun tidur? E... Aku ngganggu nggak?"
"Udah bangun dari tadi kok. Ada apa?"
"Hmmmm temenin di perpustakaan boleh? Maaf ya... Belum bisa ngajak kencan ditempat yang layak, banyak sekali yang harus aku lakukan."
"Ok.... Tidak masalah. Diperpustakaan juga menyenangkan."
"Ok... Aku jemput ya. Sharelok."
"Ok... Aku siap-siap."
Mada segera membersihkan diri dan berdandan secukupnya. Tak lama terdengar suara mobil terparkir di pinggir jalan depan rumahnya. Mada segera turun menghampirinya.
"Hai!!!!" seru Mada sambil melambaikan tangan.
"Hai.... Disini rumahmu?" tanya dokter Harun sambil memandang sekeliling.
"Heem.." Mada mengangguk.
"Kok sepi?"
"Iya. Kakek Nenek belum pada pulang."
"Hmmm kita langsung saja berarti?" tanya dokter Harun.
"Ok." Mada menjawab dengan mantap.
"Kamu cuma tinggal sama Kakek Nenek?" tanya dokter Harun dalam perjalanan.
"Heem."
"Orang tuamu?" dokter Harun tampak penasaran.
"Sudah meninggal. Kecelakaan."
"Oh... Maaf...maaf.. Aku tidak tahu. Aku tidak bermaksud...
"Tidak apa- apa... Itu sudah lama. Jadi aku sudah baik-baik saja.
"Hmmmm kita langsung ke perpustakaan atau mampir cari sesuatu dulu." dokter Harun berusaha mengalihkan perbincangan.
"Bisa kita mampir beli kertas dulu?" kata Mada sambil memperlihatkan map bawaannya.
"Oh... Kamu juga harus mengerjakan tugas sepertinya. Oke. Kita beli kertas dulu." dokter Harun tampak merasa bersalah. Suasana menjadi sedikit canggung.
.................
Kita ke dokter stela sebentar...
Dokter Stela tampak sedang sibuk mengerjakan sesuatu dilaptopnya, beberapa kertas tampak tak rapi di atas mejanya.saat kemudian pintu ruangannya diketok oleh seseorang.
"Tok...tok...tok...tok..."
"Silahkan masuk!" seru dokter Stela masih sibuk dengan kertas-kertas ditangannya.
"Sayang..." seru seseorang membuat dokter Stela mengalihkan pandangan dari kertas dan laptopnya.
"Mama.!!!!" dokter Stela bangkit meninggalkan mejanya, menyambut tamu istimewanya.
"Sibuk sekali kamu sampe nggak diangkat telpon mama."
"Oh ya..?!" kata dokter Stela seraya memeriksa hp yang ternyata ia silent dan tersimpan di kantong jas kerjanya. Kebetulan jas itu dia cantolkan ke rak di pojok ruangan belakang mejanya. Jadi tentu saja dia tidak mengira ada yang menghubunginya.
"Kapan Mama sampai? Kukira masih beberapa hari ke depan."
"Papa sangat khawatir sama kamu. Makanya ngajak berangkat lebih awal."
"Dimana Papa sekarang?"
"Dia lagi ke tempat teman lamanya. Jadi Mama kesini sendirian."
"Eeemmmm kangen..." dokter Stela sekali lagi memeluk Mama tercintanya.
"Mama tadi mau ketemu Tobia terlebih dulu. Tapi diruangannya kosong. Katanya belum lama pergi."
"Oh ya? Pekerjaanku sangat banyak Ma, jadi aku tidak memperhatikan."
"Apa dia sedingin itu padamu?"
"Ah.. Tidak juga. Terkadang dia ngajak makan bareng atau sekedar ngopi bareng. Mungkin dia baru ada urusan. Atau pekerjaannya sudah selesai."
"Berhenti membelanya terus. Jika kamu benar-benar mencintainya, ibu akan membantu kalian agar bisa bersama." kata Mama dokter Stela dwngan penuh kasih sayang.
"Tidak Ma... Pendirian ku tetap sama. Aku tidak akan pernah memaksanya menyukaiku. Atau pun menikahiku." kalimat dokter Stela tampak sedikit pilu.
"Apa yang dipikirkan Harun, sampai tisak melirikmu sekalipun."
"Mama... Mengertilah dia sedikit... Mungkin dia baru ingin fokus mengurus rumah sakit keluarganya. Jadi dia belum memikirkan tentang hidupnya."
"Kamu juga jangan terlalu fokus dengan Harun. Jika memang dia tidak bisa diharapkan, cari laki-laki lain. Hiduplah bahagia Nak."
"Iya ma..."
"Harun tidak pernah melihatmu.. Apa karena dia punya pacar lain, atau sedang menunggu seseorang?" kata Mamanya dokter Stela.
"Mungkin... Entahlah."
"Apa itu benar Stela?" suara seseorang yang sudah berdiri di pintu membuat dokter Stela daan Mamanya kaget.
"Oh..!! Tante... Sudah lam disana? Mari silahkan masuk."
"Ah... Maaf Jeng... Aku pikir Stela berbincang dengan temannya." Kata Bu Sukma ,ibunda dokter Harun ,tampak salah tingkah.
"Tidak apa-appa jeng. Bagaimana kabar? Sehat kan?" bu Malya , Mamanya dokter Stela menyapa.
"Sehat...sehat semua jeng. Kapan sampai Indonesia jeng?"
"Tadi pagi. Papanya Stela banyak pekerjaan di Indonesia, jadi harus berangkat lebih awal."
"Oh...begitu. Tapi maaf tado nggak sengaja denger percakapan kalian." kata bu Sukma merendah. "Apa bener Harun punya kekasih Stel?"
"Ah... Aku juga tidak begitu tahu tante... Dia tidak pernah cerita. Dan sepertinya juga tampak tidak pernah ada yang datang mencarinya, kecuali para pasien."
"Syukurlah.... Kalau begotu perjodohan akan tetap berjalan seperti rencana. Iya kan Jeng?"
"Saya pikir kita tidak perlu terburu-buru Jeng. Kita biarkan anak-anak kita saja yang memutuskan."
"Kenapa Jeng? Bukankah kemarin kalian sudah setuju?"
Bu Malya menarik nafas panjang lalu berkata: "Mungkin sebaiknya Jeng bicara dari hati ke hati dengan harun terlebih dahulu. Baru kita putuskan nanti. Memaksakan kebahagiaan anak-anak itu tidak akan membuat kita hidup nyaman dikemudian hari Jeng." bu Malya tampak bijak.
"Apa maksudnya ini? Kalian menolak?"
"Kami tidak menolak Jeng... Hanya saja kami perlu memastika bahwa harun benar- benar bisa mencintai anak kami sepenuh hati. Kami juga hanya orang tua yang menginginkan yang terbaik untuk anak kami."
"Akan kupastikan Harun mencintai kamu dan hanya memiliki kamu sepenuhnya."
"Makanya jangan terburu-buru memutuskan Jeng. Kita pendekatan perlahan saja. Lagian Harun saat ini pasti sedang sangat disibukkan dengan urusan rumah sakit. Pasti dia belum memiliki waktu untuk memikirkan dirinya sendiri." lagi- lagi Bu Malya menjawab dengan penuh pengertian membuat bu sukma kehabisan kata-kata.
"Baiklah Jeng kalau begitu. Akan ku bahas lagi dengan Harun. Terima kasih kalian sangat pengertian.... Tante benar-benar sangat ingin memiliki menantu seperti kamu." kata bu sukma.
"Terima kasih Tante..."
"Bagaiman kalau kita makan diluar Jeng?" Ajak bu Sukma.
"Sebaiknya Mama dan Tante makan bersama. Saya benar-benar banyak yang harus diselesaikan." kata dokter Stela sambil menunjuk mejanya yang penuh lertas tidak rapi.
"Ok... Tapi kamu jangan lupa makan ya. Jaga kesehatan." kata bu Malya.
"Ok Ma. love you." dokter Stela memeluk Mamanya dan kemudian juga memeluk ibunya dokter Harun.
"Braaak!!!!" suara pimtu ruangan dokter Stela tiba-tiba dibuka kasar oleh seorang laki-laki peruh baya.
"Kamu dokter Stela? Apa yang kamu lakukan? Kenapa anak saya malah jadi koma? Padahal sudah sadar sebentar??!!!!!" teriak orang itu.
Beberapa petugas keamaman tampak menyusul lalu memegangi orang itu yang tentu saja memberontak.
"Maaf pak... Saya sedang mengusahakan yang terbaik." jawab dokter Stela.
"Kamu sengaja ingin membunuh anakku? Karena kami orang miskin!!!! Kamu ingin memgambil organ-organnya kan?" teriak orang itu lagi.
"Tidak pak... Mohon tenang. Kami benar- benar akan mengusahakan yang terbaik." dokter Stela berusaha meyakinkan orang itu. Namun orang itu terus memberontak cengkeraman petugas keamanan sampai akhirnya terlepas.
Lelaki paruh baya itu mendekati dokter Stela hendak memukul dokter Stela. Reflek dokter Stela menundukkan kepala dan melindunginya dengan kedua tangan. Saat itulah datang penolong yang dengan sigap mampu menangkis pukulan si lelaki paruh baya itu.
Dokter Stela yang masih tertunduk dengan kedua tangan melindungi kepalanya, hanya melihat kaki sang penolong. Kaki dan sepatu serta celana yang sangat dikenalnya.......
................
To be continue....
ah tapi lucu
Makasih bang yosh,kereen novelnya
habis ini otw baca yang lainnya... apalagi yang burn out tuh,bikin penasaran 😄😄
maauu dong Tobia buat aku aja😂😂