Hutang budi karena pernah ditolong, seorang pria kaya berjanji akan menikahkan putrinya kepada pemuda bernama Kosim anak orang miskin yang menolongnya.
Di lain pihak istri seorang kaya itu tak setuju. Dia tak rela bermenantukan anak orang miskin dengan rupa kerap dicemooh orang desa.
Namun sang suami tak mau ingkar janji, ia menyebut tanpa ditolong orang miskin itu entah bagaimana nasibnya mungkin hanya tinggal nama.
Akhirnya sang istri merestui namun dalam hatinya selalu tumbuh rasa antipati kepada sang menantu, tak rela atas kehadiran si menantu orang miskin yang buruk rupa.
Bagaimana jadinya? Ya, "Mertua Kaya Menantu Teraniaya."
Lebih rincinya ikuti saja jalan ceritanya di buku kedua penulis di PF NToon ini.
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fendy citrawarga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Kabur Lewat Dapur
Deni menyebut ibunya Tante, lalu mau menghadiahi c***an, sebuah perbuatan nista yang benar-benar membuat Amih Iah amat terpukul.
Anak yang dibangga-banggakan sebagai mahasiswa dengan harapan punya masa depan yang baik, malah menjadi korban pergaulan yang sangat merendahkan harkat dan derajat orangtua sebagai orang terpandang dan bahkan bergelar haji dan hajah.
"Ya Tuhan mengapa anakku sampai begini?" gumam Amih Iah baru ingat Tuhan.
Amih masih menghadapi Deni yang tengah mabuk berat. Dia melupakan sama sekali urusannya dengan Kosim, si menantu miskin, si tikus besar, sebab menghadapi si Deni yang diharapkan kelak menjadi sultan malah kelakuannya persis setan.
Suasana itu digunakan Kosim untuk mengajak sang istri segera kabur dari rumah yang bak neraka bagi Kosim dan Yani istrinya itu.
"Ayo sayang kita segera pergi mungpung Amih lagi menghadapi sultan kerasukan setan," bisik Kosim kepada istrinya.
Yani merespons ajakan sang suami dengan penuh semangat. Dia segera memasukkan pakaian yang belum dimasukkan ke dalam tas. Sudah beres dia pun lalu mengikuti langkah Kosim.
Diam-diam Yani dan Kosim kabur melalui pintu dapur. Ketika melewati kamar mandi, Kosim sempat menoleh sejenak.
"Selamat tinggal kamar mandi neraka," gumam Kosim.
Dia ingat kamar mandi, ingat pula sejuta kenangan pahit ketika dipaksa mengisi bak hingga penuh air setiap setiap saat.
Ya, bak mandi itu setiap harinya kalau Amih masuk harus sudah penuh, lalu dipakai dengan sesuka hati. Setali tiga uang dengan si Deni, kalau bak air kosong ia mencak-mencak kepada Kosim.
Kini kedua orang yang suka menyusahkan Kosim itu lagi saling berhadapan. Entah bagaimana nasib keduanya.
Kosim tadi sempat mendengar Deni menyebut ibunya Tante lalu mau menghadiahi ci***an.
"Makan tuh sultan setan!" hardik Kosim dalam hatinya.
Udara malam yang dingin tak membuat Yani dan Kosim menghentikan langkahnya. Keduanya terus berjalan di gang menuju jalan besar desa.
Beruntung di jalan tak bertemu siapa-siapa lagi karena memang waktu sudah hampir mendekati pukul 22:00. Di desa jam segitu orang-orang sudah pada ke kamar tidur atau menonton televisi.
Yani berjalan di depan, Kosim di belakangnya sambil membawa dua tas besar.
Ketika langkah mereka mendekati ujung gang dan akan ke jalan raya, tiba-tiba Yani menghentikan langkah karena di depannya ada lelaki yang tengah berjalan ke arahnya.
Yani terkejut melihat yang tengah berjalan ke arahnya.
"Kang, lihat?" tanya Yani ke Kosim.
"Ada apa Yan?"
"Lihat tuh siapa yang berjalan ke sini, jangan-jangan," ujar Yani dia sudah degdegan karena makin dekat orang yang berjalan itu, makin jelas siapa dia sesungguhnya.
"Oh iya ya? Kita harus bagaimana?" tanya Kosim setelah melihat dengan jelas siapa yang tengah berjalan ke arah keduanya.
Jalan gang itu memang di ujung dekat jalan raya cukup terang. Sedangkan di tempat Yani dan Kosim berdiri menghentikan langkah agak gelap sehingga yang tengah berjalan belum menyadari ada yang mengawasinya.
"Kita balik lagi mencari jalan gang kecil di sana, yuk!" ajak Kosim.
"Tanggung, pasti kelihatan. Tuh makin dekat ke sini," kilah Yani.
"Terus?"
"Ya, hadapi saja dan berterus terang," timpal Yani.
"Baik," balas Kosim. "Ayo kita lanjutkan jalan pura-pura tak melihat," tambah Kosim.
Lalu keduanya meneruskan langkah hingga sampailah ke kawasan yang terang benderang. Kini orang yang tengah berjalan ke arah Yani dan Kosim itu melihat keduanya, sontak dia terkejut dan menghentikan langkahnya.
"Kalian, mau ke mana?" tanya orang itu.
"Kami, kami, kami mau ke rumah Emak, Pak!" tutur Yani terbata-bata.
Ternyata orang itu adalah Pak Haji Soleh yang baru pulang dari suatu urusan, yaitu menemui Mang Koyod agar mau bekerja lagi di rumahnya karena kasihan Kosim jadi objek suruhan Amih tanpa belas kasihan.
"Sudah bilang sama ibumu?" tanya Pak Haji sembari mengajak Kosim dan Yani ke pinggir gang dekat tembok gedung sebuah rumah.
"Saya sudah bilang Pak, tetapi Amih tak mengizinkan. Ya sudah kabur saja karena mohon maaf Yani yang bersikeras minta pergi. Saya pun sudah membujuk Yani agar bersabar, biarlah Kosim yang jadi bulan-bulanan amarah Amih dan kalau lagi-lagi Amih menyiksa Yani seperti tadi, Kosim siap mebela. Namun Yani memaksa ingin pergi. Oleh karena itu kami berdua mohon izin kepada Bapak dan mohon maaf sebesar-besarnya atas kelancangan kami berdua pergi tanpa permisi," tutur Kosim dengan nada suara pelan karena perasaan dalam hatinya yang bercampur aduk bahkan kemudian Kosim pun terisak.
"Ya sudahlah, Bapak memaklumi niat kalian mau pindah. Jangankan kalian, Nabi pun disuruh hijrah oleh Allah saat menghadapi masalah. Hijrah bukan mengalah, tetapi mencari strategi unuk meraih kemenangan. Intinya Bapak mendukung, habis mau apa lagi. Kamu anakku Yani, kamu menantuku Sim, dan ibumu istriku Yan. Bapak harus bisa mengayomi semuanya," tutur Pak Haji Soleh dengan amat bijak.
"Iya Pak, terima kasih atas restunya," tutur Yani, lalu mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan bapaknya.
"Sekarang kalian akan langsung ke rumah Emak?" lanjut Pak Haji Soleh.
"Kayaknya begitu, Pak. Habis ke mana lagi kami menumpang tidur," tutur Kosim.
"Kalau kalian langsung ke rumah Emak, apakah sudah dipikirkan keamanan kalian? Sebab pasti ibu kalian bakal menyusul dan kalian sia-sia pergi kalau kembali diketahui oleh ibu kalian," ujar Pak Haji.
Yani dan Kosim saling pandang. Benar juga apa yang barusan dikatakan oleh Pak Haji, pastinya Amih Iah menyusul dan menyuruhnya kembali ke rumah, terutama Yani. Kalau Kosim boleh jadi takkan disuruh kembali.
"Benar juga ya Pak. Pasti Amih akan menyusul ke rumah Emak. Lalu kami harus bagaimana ya Pak?" ujar Kosim kebingungan.
"Apa tidak sebaiknya ke Kak Toni di kota Pak?" tanya Yani ingat kakak sulungnya yang berada di kota.
"Pasti ibumu bakal menyusul pula dan akan lebih menambah masalah, Yan,"
ujar Pak Haji tak menyetujui putrinya harus kabur ke rumah kakaknya di kota.
Hening beberapa saat.
"Sudah begini aja. Sekarang kalian langsung ke rumah Mang Koyod, Bapak juga barusan dari rumahnya dan menyuruh Mang Koyod bekerja lagi di rumah kita karena Bapak kasihan melihat Kosim selalu jadi bulan-bulanan ibumu. Bilang saja kalian bersua dengan Bapak dan Bapak diam-diam nanti akan ke sana menengok kalian," kata Pak Haji.
"Baik Pak, terima kasih nasihatnya. Iya kami akan ke rumah Mang Koyod aja, semoga beliau berkenan menerima," kata Kosim.
"Ya, bilangin aja apa masalahnya kalian dan pasti Mang Koyod sudah tahu sehingga pasti bakal mau melindungi. Nanti Bapak bilangin lagi, mungkin besok siang Bapak ke sana."
"Ya terima kasih Ayah. Mohon maaf atas kelancangan putri dan menantumu ini," Yani pun merangkul Bapaknya.
Pak Haji menyambutnya dengan mengelus-elus kepala putrinya.
"Ya Bapak maafkan, Nak. kalian harus bersabar. Namanya juga rumah tangga, pasti harus meniti dari titian paling dasar sebelum sampai ke puncak titian keberhasilan. Sudahlah malam makin larut hati-hati di jalan ya," ujar Pak Haji.
Yani pun melepaskan rangkulan ke bapaknya lalu giliran Kosim yang sungkem ke Pak Haji. Kosim pun dielus-elus punggungnya dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan dari Pak Haji.
Lalu Pak Haji merogoh dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan kemudian dikasihkan kepada Kosim.
"Ini untuk kalian bekal di sana. Soal pekarjaan Kosim nanti kita bicarakan lagi biar Kosim punya pegangan. Sementara Mang Koyod pun akan dipekerjakan lagi di rumah, siang hari, sore hari pulang jadi kalau ada apa-apa Bapak bisa titip pesan ke Mang Koyod," kata Pak Haji membuat hati Kosim dan Yani senang
"O ya Pak. Bapak juga harus segera pulang. Tadi ketika kami kabur melalui pintu dapur, Amih sedang memarahi Kak Deni, entah karena apa," kata Yani tak menjelaskan bahwa Deni sedang mabuk berat.
"O ya? kalau begitu Bapak akan segera pulang. Silakan kalian pergi hati-hati di jalan ya!" kata Pak Haji lalu meninggalkan putri dan menantunya.
Dalam dada Pak haji berkecamuk amarah dahsyat mendengar ceritaan Yani bahwa ibunya tengah memarahi Deni.
"Dimarahi karena apa?" gumam Pak Haji sembari mempercepat langkah menuju rumahnya.
(Bersambung)