Di masa lalu, Sheng Long adalah Kaisar Iblis Kuno terkuat yang pernah ada. Kekuatannya begitu mengerikan hingga seluruh ras bersatu hanya untuk satu tujuan—menyegelnya selamanya.
Menolak tunduk pada takdir, Sheng Long membelah jiwanya dan bereinkarnasi demi menghindari segel tersebut. Ia terlahir kembali sebagai putra Keluarga Shen, namun dengan harga yang kejam. Kekuatan masa lalunya tersegel, tubuhnya lemah, dan ia dicap sebagai tuan muda sampah yang sakit-sakitan.
Menganggap keberadaannya sebagai aib, keluarganya menikahkannya dengan seorang gadis sederhana yang tak memiliki latar belakang apa pun. Namun justru dari gadis itulah, Shen Long merasakan kehangatan dan ketulusan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan arti kebahagiaan.
Sayangnya, kebahagiaan itu menjadi dosa di mata keluarganya.
Didorong oleh iri dan kebencian, mereka merebut gadis itu dari hidupnya. Tindakan kejam tersebut menghancurkan segel yang membelenggu jiwa Sheng Long. Kaisar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Janji
Malam itu, gubuk tua terasa begitu sunyi. Shen Long menatap telapak tangannya yang gemetar, lalu beralih menatap lebam di pipi Lin Er yang memerah akibat tamparan Shen Mo. Rasa sesak yang luar biasa menghantam dadanya—bukan karena luka fisik, tapi karena ketidakberdayaannya.
"Maafkan aku," bisik Shen Long, suaranya parau. "Ini semua pasti salahku. Jika kau tidak menikah denganku, kau tidak perlu menanggung penderitaan ini."
Lin Er menghentikan kegiatannya membersihkan sisa mangkuk yang pecah. Ia mendekat, lalu menggenggam tangan Shen Long dengan lembut. "Ini bukan salah Anda, Tuan Muda. Untuk besok... biar saya saja yang naik ke gunung. Anda masih terlalu lemah."
Mendengar itu, Shen Long dengan tegas menggeleng. "Jangan! Di sana berbahaya, Lin Er. Banyak binatang buas dan tebing yang curam. Aku tidak ingin kau terluka sedikit pun karena aku. Biarkan aku saja, aku pasti bisa."
"Jika Anda menolak, maka saya akan ikut dengan Anda," ucap Lin Er kukuh. Sorot matanya yang biasanya lembut kini memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan. "Saya tidak akan membiarkan suami saya pergi ke tempat berbahaya sendirian."
Keesokan paginya, saat kabut tipis masih menyelimuti kaki Gunung Angin Dingin, keduanya mulai mendaki. Udara dingin menusuk hingga ke tulang, membuat napas Shen Long terasa berat. Namun, setiap kali ia merasa akan tumbang, Lin Er selalu ada di sampingnya, menyangga lengannya atau sekadar memberikan senyum penyemangat.
Setelah berjam-jam mendaki, di sebuah celah tebing yang tersembunyi, mereka melihat cahaya hijau berpendar.
"Itu dia! Rumput Roh!" seru Lin Er.
Dengan perjuangan ekstra, mereka berhasil mengambil tanaman itu. Keberuntungan seolah sedang memihak mereka; tidak ada binatang buas yang menghadang. Mungkin semesta sedang kasihan pada dua jiwa yang tersakiti ini.
Saat mereka beristirahat di bawah sebuah pohon rindang yang menghadap ke arah lembah, matahari mulai terbenam, menyemburkan warna jingga yang indah ke cakrawala.
Shen Long menatap Lin Er yang sedang sibuk mengikat Rumput Roh agar tidak rusak. Ia merasa sangat beruntung, namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Lin Er." panggilnya lembut.
"Iya, Tuan Muda?"
Shen Long menghela napas, lalu memberanikan diri menggenggam jemari gadis itu. "Mulai sekarang, tolong jangan panggil aku Tuan Muda. Jangan bicara formal padaku. Aku bukan tuanmu, aku suamimu. Panggil saja aku... Shen Long."
Lin Er tersentak, wajahnya memerah hingga ke telinga. "Tapi... itu tidak sopan, Tuan Mu—"
"Tolong," potong Shen Long dengan tatapan memohon yang begitu tulus. "Di dunia ini, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kau. Aku ingin kita setara. Aku ingin merasa bahwa aku benar-benar memilikimu sebagai teman hidup, bukan sebagai pelayan."
Lin Er terdiam sejenak, menatap mata Shen Long yang teduh namun penuh luka. Perlahan, ia mengangguk dan tersenyum malu-malu. "Baiklah... Shen... Long."
Mendengar namanya disebut seperti itu, jantung Shen Long berdegup kencang. Ia menarik Lin Er ke dalam pelukannya. Gadis itu sempat terkejut, namun kemudian membalas pelukan itu dengan menyandarkan kepalanya di dada Shen Long.
"Aku berjanji," bisik Shen Long di telinga Lin Er, "suatu hari nanti, aku akan melindungimu dengan tanganku sendiri. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan keluarga Shen sekalipun, menyentuh seujung rambutmu lagi."
Di bawah langit senja yang romantis, di tengah kesunyian gunung, dua manusia yang terbuang itu saling menguatkan. Bagi Shen Long, Lin Er adalah satu-satunya alasan baginya untuk bertahan hidup di dunia yang kejam ini.
Ia tidak tahu siapa dirinya di masa lalu, dan saat ini ia tidak peduli. Baginya, menjadi suami dari gadis di pelukannya ini sudah lebih dari cukup.