Tidak ada kisah Cinta di dunia ini yang seindah kisah novel..
Tidak ada yang tahu.. Seperti apa dan bagaimana proses masa depan kita terjadi..
Namun ada juga beberapa kisah yang serupa dengan kisah di novel..
Karena beberapa kisah novel memang pernah terjadi di dunia nyata..
"Kadang sesuatu yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataan.
Kebencian yang terlalu dalam ini membuatku terjatuh.
Tapi memang begitu kenyataannya laki-laki itu menyebalkan dan aku muak melihat tingkah gilanya itu, dasar laki-laki aneh dia!
Jika bisa saat itu juga aku mematahkan lehernya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena aku...."
_Shica Mahali_
"Jangan dilihat dari luar. Maka kau akan semakin penasaran dengan apa yang ada didalamnya.
Aku menyesal telah menyakiti perasaannya.
Aku tidak mengira kalau ini buah dari kesalahanku.
Maafkan aku, boleh aku mengenalmu lebih jauh lagi?
Tapi aku......"
_Raihan Alfarizi_
PERINGATAN!!!
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucu Irna Marhamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
".. Kadang rasa bersalah ini membuatku takut.. Aku takut kau tidak akan kembali karena kesalahanku.. "
***
1 Tahun Kemudian
•••Raihan Alfarizi•••
Aku duduk dibangku taman didekat sekolahku. Aku mengenakan pakaian olahraga.
Tidak ada orang malam ini. Aku tidak mengerti, kenapa aku bisa berada disini sendirian?
Aku melihat sebuah novel dibangku taman ini. Aku mengambilnya dan membuka lembar demi lembar novel tersebut.
Namun isinya kosong. Kututup lagi dan kubaca judulnya.
Aku dan Kamu Berbeda
Aku mengerutkan keningku bingung. Novel macam apa ini? Diterbitkan tapi tidak ada isinya.
"Kosong 'kan?"
Aku terhenyak kaget mendengar suara perempuan.
Aku mendongkak.
Dia berdiri disampingku, tidak jauh hanya berjarak sekitar satu setengah meter.
Dia gadis berteropong itu.
Maksudku gadis yang berkacamata.
Dia tersenyum padaku kemudian tanpa permisi duduk disampingku dan mengambil novel yang kupegang tanpa izin. Aku memperhatikannya. Ada rasa bahagia aku bisa melihatnya. Apa ini rasa rindu?
Tidak! Aku tidak boleh terjebak dalam rencanaku sendiri.
"Kau disini? Kupikir kau pindah sekolah, dan kenapa kau memakai seragam lamamu?" tanyaku penasaran.
"Cerewet sekali, aku kemari karena aku ingin menemuimu." jawabnya sambil membenarkan kaca matanya.
"Apa? Menemuiku? Kau yakin?" tanyaku. Entah kenapa aku merasa pipiku memanas. Apa aku tersipu malu karenanya?
Dia melirikku kemudian mengangguk dan pandangannya kembali tertuju pada novel ditangannya.
"Apa ada yang ingin kau katakan?" tanyaku.
Karena sedari tadi dia tidak memulai pembicaraan dan hanya menjawab pertanyaanku.
"Sepertinya kau yang mau mengatakan sesuatu" katanya.
Aku termenung sesaat. Memang ada sesuatu yang mengganjal dihatiku. Tapi apa dia tidak akan mengejekku?
"Kenapa kau pindah?" tanyaku tanpa tanpa keraguan lagi menanyakan hal yang selama ini mengganggu pikiranku.
Dia tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" tanyaku kesal. Dia menatapku.
"Menurutmu, kenapa aku pindah?" dia malah balik bertanya.
Tentu saja aku tidak tahu, kalau tahu, akun tidak mungkin bertanya.
Konyol!
Dia masih saja konyol!
"Kau merindukanku, Raihan?" dia malah bertanya omong kosong.
"Aku hanya ingin tahu, jangan besar rasa!" kataku menggerutu.
"Oh ya by the way kau pasti bingung dengan novel kosong ini kan?" tanya dia.
Aku mulai tertarik dengan pembicaraan yang ini.
"Mungkin penerbitnya salah cetak, jadinya ya novelnya dibuang disini" kataku asal.
Kulihat dia tersenyum. "Kau benar Raihan, penerbitnya salah. Dia salah memberikan judul pada buku ini," kata dia sambil membuka isi novel tersebut.
Aku mengerutkan keningku. Apa dia serius? Padahal aku hanya asal menjawab.
"Judul yang salah tidak akan membuat jalan ceritanya benar, makanya isinya kosong." katanya.
"Lalu? " tanyaku.
Dia memberikan novel itu padaku.
"Tugasmu mengisi bagian kosong novel ini" katanya.
Aku semakin bingung. Apa maksudnya coba?
Dia beranjak dari tempat duduknya.
"Lihatlah bagian akhir novel itu," katanya kemudian berlalu pergi. Dia pergi begitu saja? Tanpa permisi?
Menyebalkan sekali dia, pergi dan datang tanpa permisi.
"Hei Nona kacamata tunggu!" kataku sambil bangkit dari bangku taman.
Langkahnya terhenti, kemudian menoleh padaku. Aku ingin bertanya ini sejak lama. Namum, ini memalukan jika aku tanyakan. Aku tidak mau kalau dia berpikir yang bukan-bukan tentangku.
"Jika kau ingin bertanya, cepatlah." katanya setengah menggerutu. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Siapa namamu?" tanyaku kemudian. Aku menatapnya melihat ekspresi datarnya. Memastikan dia tidak berpikir aneh-aneh.
"Kau akan tahu nanti," katanya kemudian dia melanjutkan langkahnya meninggalkanku.
Aku menuruti perkataannya untuk membuka bagian akhir novel ini. Tercetak tebal disana,
Sad ending
Kemudian aku menutup kembali buku novel tersebut dan kusimpan kembali ketempat semula.
"Raihan.."
Aku menoleh. Suara wanita itu..
Rasanya aku mengenal suara itu.
"Raihan.. Kami merindukanmu," seseorang menyentuh dahiku dari belakang.
Aku berbalik.
Aku tercengang melihat wanita yang selama ini aku rindukan.
Wanita yang sangat kusayangi.
Wanita yang telah melahirkanku..
"Mama.."
"Raihan.."
"Mama.."
"Raihan.."
"Mama.. Mama.."
Aku merasakan tepukan pada pipiku. Aku terhenyak dan bangkit.
Kulihat kakakku menatap heran diriku.
"Raihan.. Ada apa?" tanya kak Riska.
Ternyata yang barusan hanya mimpi. Aku merasakan keringat dingin mengalir didahiku.
Kak Riska mengelap keringatku dengan telapak tangannya.
"Kamu merindukan Mama?" tanya kak Riska.
Aku menghela napas dalam-dalam kemudian menatap kak Riska.
"Barusan hanya mimpi," kataku kemudian merebahkan kembali tubuhku.
Kurasakan tangan lembut kakak membelai lembut kepalaku. Rasanya nyaman sekali. Seperti tangan seorang ibu.
"Mama dan Papa pasti merindukan kita juga," kata Riska kemudian berlalu.
Langkah kak Riska terhenti didepan pintu kamarku.
"Oh ya, kamu mau daftar SMA 'kan?" tanya Kak Riska.
Aku terkejut.
Kak Riska benar. Aku segera lompat dari ranjangku.
"Sekarang jam berapa?" tanyaku pada kakak.
"Baru jam 4," jawab Kak Riska.
"Kita akan berjualan 'kan?" tanyaku.
"Ya ampun, Kakak pikir kamu mikirin pendaftaran ulang sekolahmu malah mikirin jualan. Soal jualan ada kak Rizal," kata kak Riska setengah menggerutu.
"Kak Rizal 'kan harus ke pabrik," kataku.
"Tidak ada bantahan! Kau harus terlihat sempurna di hari pendaftaranmu." kata kak Riska penuh penekanan.
Aku tidak bisa menolaknya. Aku pun mengalah.
Setelah jam menunjukkan pukul 7.10, aku menaiki motorku.
Aku segera berangkat ke sekolah baruku, SMA Parameswara.
Sesampainya di sekolah, aku memasuki ruang pendaftaran ulang.
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikum salam," jawab seorang laki-laki paruh baya dari dalam ruangan.
"Silakan masuk," katanya.
Aku pun memasuki ruangan.
"Silahkan duduk,"
Aku pun duduk berhadapan dengan pak Rasyid. Aku tahu namanya dari tanda pengenal di seragamnya. Aku memberikan map merah yang isinya persyaratan daftar ulang.
"Raihan Alfarizi Mulya Abdurrachman, Lulusan SMP Nusa Bangsa?" tanya Pak Rasyid.
"Benar, Pak." jawabku.
"Kamu putra dari bapak Hariz Abdurrachman?" tanya Pak Rasyid menatapku seolah tak percaya.
Aku menghela napas berat setelah mendengar nama ayahku, kemudian aku mengangguk.
"Wah, kamu mau masuk kelas apa? " tanya Pak Rasyid antusias.
"Saya memilih kelas IPS, Pak." kataku menjawab pertanyaannya.
"Kenapa tidak masuk IPA? Anak IPA itu cerdas-cerdas," kata Pak Rasyid yang sepertinya mau memprovokasi diriku.
"Mohon maaf Pak, tapi nilai jurusan itu tidak di lihat dari kecerdasannya saja, tapi juga etikanya. Jika anak IPA cerdas, maka anak IPS berbudi luhur," kataku.
Seperti dugaanku, Pak Rasyid bungkam seribu kata.
"Emm, Iya benar, kamu cerdas sekali. Kamu mau jadi pengacara ya?" tanya Pak Rasyid.
"Tidak, saya suka Ekonomi." kataku.
"Oh iya, tentu saja. Ayahmu pasti ingin kamu meneruskan bisnisnya. Selamat, kamu diterima." kata pak Rasyid sambil menjabat tanganku.
Sudah kuduga, dengan nama belakang ayahku, semuanya jadi lebih mudah.
Sungguh dunia ini sangat tidak adil.
"Tempat baru, dengan kisah yang baru"
By
_Ucu Irna Marhamah_
Sicha sebenar tidak pernah mencintai reynaldi, dengan jelas dia menunjukkan dia masih mencintai pria lain didepan suaminya, hak reynaldi tidak dia berikan tapi saat reynaldi mengambil paksa sicha berkoar sebagai korban, tapi pada satu jadi istri raihan dia senang hati beri hak raihan selalu bermeraan dengan raihan
Sicha tidak layan untuk reynaldi seharusnya reynaldi bisa dapat wanita yang lebih menghargainya