"Tolong hentikan, tolong!" teriak Zena.
Saat ini gadis dalam ketakutan itu hanya pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa, pria yang sudah pasti dipengaruhi alkohol itu melecehkannya dengan menyobek pakaian Zena.
Tidak ada satupun yang menolong gadis malang itu.
"Tolong jangan lakukan itu!"
"Tolong..."
"Tolong...."
Zena menghindar dengan memukul-mukul dada pria tersebut.
"Aaaaaaaaaa!" Zena seketika berteriak menahan rasa sakit disaat tubuhnya digagahi tanpa ampunan.
Zena pada akhirnya pasrah dengan air matanya menetes, dengan penuh hawa nafsu pria di atas tubuhnya terus mencari kenikmatan.
Zena tampak setengah sadar dengan mata yang terbuka, namun pasrah, sosok pria di atas tubuhnya benar-benar tidak terlihat dan hanya kalung yang tampak bergoyang dan perlahan mata Zena tertutup.
Siapakah sosok pria misterius tersebut dan apakah Zena mampu menjalani kehidupannya setelah kejadian kelam?
Jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 Akhirnya Dia Tahu
"Kenapa harus melakukan semua ini kepadanya?" tanya Anggi membuat langkah Samudra terhenti.
"Apa karena dia tidak perawan?" tebaknya.
Samudra mengerutkan dahi dan kembali membalikkan tubuh.
"Jadi kau mengetahui? Pantas saja kau tetap berpihak kepadanya meski dia telah menipuku dalam pernikahan dan kau juga menutup matamu tentang kebenarannya," ucap Samudra tersenyum sinis.
"Lalu apa keperawanan seseorang adalah tingkat yang paling tertinggi dalam pernikahan dan sehingga ketika wanita itu tidak perawan lagi dan pantas diberlakukan seperti ini? Apa kami para wanita begitu sangat menjijikan jika sudah tidak perawan lagi?" tanya Anggi dengan nada suaranya terasa sesak jika sudah berkaitan dengan sahabatnya.
"Mungkin semuanya tidak akan menjadi masalah, jika sahabatmu jujur kepadaku sebelum pernikahan, tapi justru dia menipuku dengan pernikahan ini,.aku bahkan tidak tahu perkataan mana yang harus aku percaya, apakah benar dia memang sudah tidak perawan sebelum menikah denganku atau justru mengkhianati pernikahan kami di saat aku meninggalkannya," ucap Samudra.
"Jahat sekali tuduhan kamu Samudra kepada wanita baik seperti dia, kamu pikir dia berani dekat dengan laki-laki lain, dia sangat menjaga dirinya dan juga pernikahan kalian!" tegas Anggi.
"Kalau memang pikiran kamu seperti itu kepadanya, lalu kenapa dia munafik dan menutup dirinya menggunakan pakaian tertutup, untuk menutupi kebusukannya," ucap Samudra.
"Zena mungkin akan menjadi wanita suci dengan kehormatan yang tidak hilang jika dia tidak diperkosa!" tegas Anggi dengan suara lancang seketika membuat Samudra terdiam.
Keheningan terjadi sesaat.
"Apa katamu?" tanya Samudra.
"Kenapa? Jadi kau tidak mengetahui jika wanita yang kau nikah sudah melewati masa kelam akibat perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab?" tanya Anggi.
"Apa yang kau katakan?" tanya Samudra.
"Kau benar-benar pengecut Samudra, kau bahkan tumbuh bersama dengan Zena dan kau tidak mengetahui bagaimana kepribadiannya yang sebenarnya dan justru menuduhnya telah menodai pernikahan kalian dengan berhubungan dengan laki-laki lain atau menuduhnya telah menipumu dalam pernikahan dengan mengatakan kehidupannya yang bebas sebelum menikah dan kau tidak tahu bertahun-tahu Zena melewati masa traumanya sendirian karena pemerkosaan yang dia alami!" tegas Anggi.
"Jadi Zena di lecehkan...." lirih Samudra benar-benar schok.
"Benar, 5 tahun lalu kejadian tragis itu dia alami di saat perayaan hari kelulusan, entah siapa laki-laki yang melakukan itu kepadanya, hidupnya dan kehormatannya benar-benar dihancurkan dan bahkan Zena......" Anggi tiba-tiba terdiam dan tidak melanjutkan kalimatnya.
"Aku tidak harus mengatakan bahwa dia bahkan melahirkan anak hasil pemerkosaan itu," batin Anggi tidak mengungkapkan kebenaran secara sempurna.
Samudra tampak kaget, frustasi dan benar-benar tidak percaya dengan kebenaran yang telah diungkapkan Anggi.
"Terserah Samudra, kau ingin mempercayai perkataanku atau tidak, tetapi kau tidak pernah memberi kesempatan kepada Zena untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya, kau sibuk dengan semua tuduhanmu dan ekspektasimu kepada istrimu yang harus sempurna, kau juga belum tentu suci sehingga kau berani menjudge buruk seorang wanita yang melewati masa-masa kelam dalam hidupnya sendirian,"
"Dia mungkin sudah berdamai dengan masa lalunya, menerima takdirnya, tetapi kau malah menantangnya, memintanya untuk membawa laki-laki bejat itu ke hadapanmu, apa kau tidak pernah berpikir bahwa Zena harus kembali mengingat masa kelam itu dan tubuhnya harus kembali berperang dengan rasa sakit yang dialami," ucap Anggi
"Awalnya aku tidak ingin mengatakan ini kepada kamu, tapi aku tidak tega melihat sahabatku terus-menerus kau sakiti, dia tidak pantas mendapatkan semua ini yang seharusnya dia dapatkan adalah keadilan atas apa yang terjadi kepadanya!" tegas Anggi.
Sejak tadi Samudra tidak menyangkal dan tidak berkutik sedikitpun, Samudra benar-benar tidak percaya dengan apa yang telah terjadi dan ternyata ada luka yang begitu besar disembunyikan oleh istrinya.
Bukan mengkhianati pernikahan mereka atau merelakan kehormatannya begitu saja tetapi justru pemerkosaan yang sangat keji yang dialami oleh Zena.
******
Samudra berada di dalam mobil dengan menyetir, kelajuan mobil tersebut sampai tidak terkendali, Samudra ternyata mengingat semua perkataan Anggi yang mengungkap kebenaran bahwa Zena adalah korban pemerkosaan 5 tahun lalu.
"Aaaaaaa sial!" Samudra berteriak sembari memukul setir mobil.
"Apa-apaan semua ini?"
"Kenapa Zena tidak mengatakan yang sebenarnya!"
"Apa ini kebohongan, ini hanya drama untuk mengecohku kembali?" Samudra ternyata masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Masih ada keraguan dengan kebenaran yang diungkapkan Anggi kepadanya.
"Sial....." Samudra memukul stir mobil kembali dan bahkan bunyi klakson terdengar keras.
Samudra kembali pulang ke apartemen karena pin sudah diganti-ganti oleh istrinya dan otomatis Samudra harus memencet bel dan untung saja dibuka cepat oleh Zena yang saat ini mungkin ingin atau baru saja menyelesaikan salat sehingga masih memakai mukena.
Samudra berdiri diam di tempatnya, tidak mengatakan apa-apa tetapi matanya menatap Zena, Samudra seakan bisa melihat ada luka yang besar dari kedua bola mata itu.
Seperti biasa Zena tidak terlalu seakrab itu dengan suaminya, tidak perlu menyapa, tidak perlu mencium punggung tangan dan langsung berlalu begitu saja dari Samudra.
Zena memang baru saja menyelesaikan sholat magrib, sebelum kembali ke kamar Zena berjalan menuju dapur terlihat membuat minuman, tenggorokannya terasa sakit dan makin terlalu banyak pekerjaan dan kurang memperhatikan kesehatan sehingga mengalami radang.
Setiap pergerakannya di dapur diperhatikan oleh Samudra yang saat ini duduk di sofa. Samudra seakan-akan ingin bertanya kepada Zena tentang apa yang sebenarnya terjadi, tetapi ada gengsi yang tinggi dan rasa kemarahannya yang merasa tertipu belum tertutupi dengan kebenaran yang telah diungkapkan Anggi.
Zena tidak menyadari bahwa sejak tadi diperhatikan oleh suaminya, setelah membuat minuman itu Zena kembali ke dalam kamar.
Zena ternyata melanjutkan dengan membaca Alquran, suaranya begitu indah dan sangat merdu mampu menenangkan hati, suara indah itu terdengar sampai ke ruang tamu membuat samudra menoleh ke arah kamarnya Zena.
Samudra berdiri dari tempat duduknya, Samudra berjalan menghampiri kamar Zena dan melihat bagaimana Zena yang duduk bersila kaki dan membaca Alquran.
Flashback
"Mama, Papa!"
Pemakaman yang dipenuhi dengan haru, anak kecil berusia 8 tahun menangis memeluk mesan kedua orang tuanya yang meninggal dalam kecelakaan tragis.
Pria remaja berusia 15 tahun, memakai pakaian hitam tampak mendekati gadis tersebut, menenangkan dan membawa ke dalam pelukannya. Pria itu tak lain adalah Samudra, dia benar-benar turut prihatin atas apa yang terjadi pada anak dari sahabat kedua orang tuanya.
Pada akhirnya Zena diangkat oleh kedua orang tuanya, dirawat dengan baik dan diberikan kasih sayang sama sepertinya. Zena perlahan melupakan kesedihannya dengan Samudra yang selalu ada, menemaninya bermain dan hari-hari mereka jalankan bersama.
Zena tumbuh dalam pantauan Samudra sampai remaja meski mereka terkadang harus berpisah karena Samudra melanjutkan pendidikannya di luar negeri, sementara Zena masih duduk di bangku SMA di Jakarta.
Tetapi ketika Samudra kembali ke Jakarta dan maka orang yang pertama kali dia temui adalah Zena, banyak cerita yang mereka jalani bersama dengan saling mengetahui satu sama lain dan bahkan sejak memasuki SMA, Zena sudah memilih untuk berhijab dan cadar itu dipakai ketika dia lulus SMA.
Selama kurang lebih 5 tahun mereka tidak bertemu semenjak Zena lulus SMA, Zena sudah beranjak dewasa dan fokus pada pendidikannya, pada ibadahnya dan menjaga dari lawan jenisnya.
Bersambung.....
cepet terungkaplah kasusnya..
klo bener samudra ayahnya..jangan biarkan dia mengetahuinya..biar menyesal seumur hidupnya..