BL/BxB. Don't Copy!!!!
Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Hangat
Setiap deru napas Revan terasa seperti sayatan pisau di tenggorokannya yang kering. Dada remaja itu naik turun dengan sangat ekstrem, memburu oksigen yang seolah-olah mendadak lenyap dari atmosfer Jakarta pagi ini. Di bawah terik matahari yang mulai meninggi, ia terus berlari. Rambut hitamnya yang biasa tertata rapi kini berantakan dihantam angin, beberapa helainya basah oleh keringat dingin yang terus mengucur dari pelipisnya.
Ia tidak peduli. Ia tidak memedulikan tatapan penuh kebingungan, bisik-bisik, atau bahkan pandangan menghakimi dari orang-orang yang berpapasan dengannya di sepanjang trotoar. Di mata mereka, Revan saat ini mungkin terlihat seperti orang gila yang sedang melarikan diri dari kejaran sesuatu.
Dan memang benar, Revan sedang melarikan diri ia sedang berlari menjauh dari jerat rasa bersalah yang selama seminggu ini nyaris mencekik warasnya hingga habis.
Langkah kakinya terdengar aneh, menghasilkan bunyi keplak-keplok yang janggal di atas aspal. Revan bahkan tidak menyadari bahwa sejak ia melompat dari tempat tidur dan berlari keluar rumah tadi, ia masih mengenakan sandal rumah berwarna beludru hitam yang tipis. Sandal itu sama sekali tidak dirancang untuk dipakai berlari kencang. Solnya yang tipis membuat setiap kerikil tajam dan panasnya aspal jalanan terasa langsung menembus kulit telapak kakinya. Salah satu bagian ujung sandal bahkan sudah mulai robek, bergoyang longgar setiap kali kakinya menghantam tanah. Namun, rasa perih itu sama sekali tidak mampu menembus tebalnya rasa tidak percaya yang menguasai kepalanya.
Hanya ada satu hal yang bergaung di kepalanya, berulang-ulang seperti kaset rusak yang memekakkan telinga.
Rayyan hidup. Rayyan beneran pulang.
Bagaimana mungkin? Logika Revan terus memberontak, mencoba merobohkan harapan liar yang mendadak tumbuh di dadanya. Ia sendiri yang berdiri di pemakaman itu. Ia yang menyentuh tanah merah yang masih basah. Ia yang meletakkan gantungan kunci bola basket usang di atas makam itu sebagai tanda perpisahan yang tak pernah terucap.
Namun, jika Kevin berkata jujur... jika rumor itu bukan sekadar lelucon kejam...
Revan mempercepat langkahnya, mengabaikan rasa pening yang kembali menghantam bagian belakang kepalanya. Jantungnya berdentum begitu keras, menimbulkan denyutan menyakitkan yang menjalar hingga ke ujung-ujung jarinya.
...****************...
Saat Revan akhirnya tiba di depan gerbang utama kompleks perumahan elite Maheswara Residence, langkah kakinya melambat. Napasnya tersengal-sengal, seragam putih abu-abunya yang tidak terkancing sempurna tampak basah oleh keringat.
Di depan pos penjagaan dan di sekitar jalan masuk menuju rumah keluarga Mahendra, beberapa tetangga kompleks tampak berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Suasana pagi yang harusnya tenang kini terasa tegang dan penuh selubung kecurigaan. Mereka berdiri saling berdekatan, berbisik-bisik dengan gerakan tubuh yang gelisah.
Di antara kerumunan itu, Bu Rika berdiri dengan wajah yang tampak pucat pasi, salah satu tangannya memegang dada seolah sedang menahan debaran jantung yang terlalu kencang.
"Saya tidak bohong, Pak! Kabarnya memang begitu," ujar Bu Rika dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba meyakinkan orang-orang di sekelilingnya. "Katanya yang meninggal itu... yang sudah dikremasi minggu lalu... kemarin sore balik lagi ke rumahnya! Mbok Sari saja sampai menjerit-jerit histeris semalam. Masa iya hantu bisa jalan-jalan sore pakai seragam sekolah?"
Pak Herman, yang tampaknya sengaja datang ke kompleks setelah mendengar desas-desus gila yang beredar di sekolah sejak subuh tadi, menggelengkan kepalanya dengan tegas. Wajah paruh bayanya tampak tegang, berusaha mempertahankan sanksi rasional di tengah kegemparan yang tidak masuk akal ini.
"Jeng Rika, tolong jangan ngomong sembarangan. Ini lingkungan terpelajar," sahut Pak Herman dengan nada menegur yang kental. "Kematian itu takdir yang absolut. Mana ada orang yang sudah diperabukan bisa berjalan pulang? Jangan menyebarkan takhayul yang bisa membuat keluarga Mahendra semakin terpukul. Kita harus menghormati masa duka mereka."
"Tapi Pak Herman—"
Revan tidak memedulikan perdebatan mereka. Ia tidak memperlambat langkahnya sama sekali. Dengan tatapan mata yang gelap dan tajam, ia langsung menerobos kerumunan orang-orang paruh baya itu dengan kasar. Bahu tegapnya menyenggol lengan beberapa tetangga hingga mereka terhuyung ke samping.
"Eh! Siapa itu? Kurang ajar sekali main tabrak-tabrak saja!" protes seorang bapak-bapak dengan kesal.
"Loh, itu kan... Revan?" gumam Bu Rika, mengenali sosok remaja yang ditakuti di sekolah itu. "Ngapain dia ke sini? Masih pakai sandal rumah lagi..."
Pak Herman hanya bisa menghela napas panjang melihat ketidakpatuhan Revan, namun ia tidak mencoba menahannya. Fokus semua orang di tempat itu terlalu tersita oleh misteri besar yang tersimpan di balik dinding tinggi rumah keluarga Mahendra.
Revan terus melangkah. Kakinya membawa dirinya melewati gerbang besi hitam rumah Mahendra yang pagi ini dibiarkan sedikit terbuka. Halaman depan rumah itu tampak sunyi, kontras dengan kegemparan di luar gerbang. Beberapa sisa karangan bunga duka cita yang mulai layu masih berdiri di sudut taman, namun atmosfer kematian yang seminggu ini membungkus tempat itu seolah-olah telah menguap, digantikan oleh ketegangan fajar yang sangat aneh.
Revan berjalan menaiki anak tangga teras depan. Pintu utama rumah yang terbuat dari kayu jati kokoh itu tidak terkunci sepenuhnya. Tanpa mengetuk, tanpa memikirkan sopan santun atau kemungkinan bahwa ia akan diusir oleh Steven atau Reyhan, Revan mendorong daun pintu tebal itu dengan satu hentakan tangan yang gemetar.
Krieeek...
Pintu terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari pagi masuk dan menerangi koridor dalam rumah yang sunyi. Revan melangkah masuk dengan napas yang masih memburu tidak beraturan. Sandal rumahnya yang kotor oleh debu aspal meninggalkan jejak-jejak samar di atas lantai marmer yang bersih.
Ia berjalan lurus menuju ruang tamu utama.
Dan di sana... di atas sofa beludru abu-abu tempat semalam ia diinterogasi oleh keluarganya...
Rayyan sedang duduk tenang.
Remaja itu tidak mengenakan baju rumah biasa, melainkan kaus oblong putih polos yang dipadukan dengan celana jins hitam. Di kedua tangannya, ia memegang seangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis teh hangat yang baru saja disajikan oleh Mbak Intan, salah satu asisten rumah tangga muda yang menggantikan Mbok Sari pagi ini karena Mbok Sari masih terlalu syok untuk bekerja.
Mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan derit pintu yang kasar, Rayyan perlahan menurunkan cangkir tehnya ke atas meja kaca. Ia menoleh ke arah koridor pintu masuk.
Mata mereka bertemu.
Seketika itu juga, ruang tamu yang luas itu mendadak berubah menjadi sangat sunyi. Detik jam dinding yang biasanya tidak terdengar kini terdengar begitu nyaring, seolah-olah waktu sengaja melambat untuk menyaksikan pertemuan dua jiwa yang sempat dipisahkan oleh kematian.
Mbak Intan yang sedang berdiri di dekat lemari pajangan langsung membeku, memeluk nampan kayunya erat-erat dengan wajah yang masih menyisakan ketakutan samar.
Rayyan menatap sosok yang berdiri di ambang ruang tamunya. Dahinya berkerut dalam, menatap penampilan Revan yang benar-benar kacau dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rambut berantakan, napas yang tidak beraturan hingga pundaknya naik turun dengan cepat, seragam sekolah yang kusut dan basah oleh keringat, serta sepasang sandal rumah hitam yang tampak kotor di kakinya.
"Ngapain lu ke rumah gue?" tanya Rayyan.
Suara itu.
Suara yang jernih, sedikit ketus, dan memiliki intonasi yang sangat familier di telinga Revan. Suara yang selama seminggu ini hanya bisa ia dengar dalam bentuk gema menyakitkan di dalam mimpi buruknya. Suara yang seharusnya sudah lenyap bersama abu yang terkubur di bawah tanah.
Revan tidak menjawab. Lidahnya mendadak kelu, terkunci rapat oleh badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Harapan liar yang tadi ia coba tekan kini meledak sepenuhnya, merobohkan seluruh dinding pertahanan rasionalitasnya.
Ia mulai melangkah maju. Sangat perlahan.
Setiap langkah kaki Revan terasa begitu berat, seolah-olah ia sedang berjalan di dalam air yang pekat. Matanya tidak berkedip sedikit pun, terus mengunci sosok Rayyan yang duduk di atas sofa. Ia takut... ia sangat takut jika ia berkedip atau mengalihkan pandangannya selama satu detik saja, sosok di depannya akan pecah menjadi ribuan serpihan ilusi dan menghilang kembali ke kegelapan.
Rayyan yang merasa risi ditatap sedemikian rupa oleh musuhnya meletakkan cangkir tehnya kembali dengan sedikit hentakan. "Gue tanya, lu ngapain ke sini? Kurang kerjaan banget pagi-pagi udah berantakin rumah orang."
Revan masih diam. Ia kini telah berdiri tepat di depan Rayyan, menjulang tinggi di atas remaja yang sedang duduk itu. Bayangan tubuh Revan yang besar menutupi sebagian cahaya matahari yang masuk dari arah jendela besar di belakang mereka.
Tanpa berkata apa-apa... Revan perlahan mengulurkan tangan kanannya yang gemetar hebat.
Jemari Revan yang panjang, yang kemarin sore dipenuhi tanah merah karena mencabuti rumput liar di makam Rayyan, kini bergerak mendekati wajah cowok di depannya. Gerakannya begitu lambat, ragu-ragu, dan sarat akan ketakutan yang teramat sangat ketakutan dari seseorang yang takut menyentuh sesuatu yang terlalu indah hingga bisa hancur hanya karena satu sentuhan kasar.
Rayyan sempat hendak menghindar, namun tatapan mata Revan yang begitu hancur, kosong, sekaligus dipenuhi oleh permohonan yang tak terucap membuat tubuhnya mendadak terkunci di atas sofa. Ia hanya bisa menatap jari-jari Revan yang semakin mendekat ke arah wajahnya.
Sentuh.
Ujung-ujung jari Revan akhirnya mendarat di atas kulit pipi kanan Rayyan.
Seketika itu juga, sebuah gelombang kehangatan yang nyata merambat naik dari ujung jari Revan, menembus saraf-saraf lengannya, dan menghantam langsung ke dalam jantungnya.
Kulit pipi itu halus.
Masih hangat. Sangat hangat.
Revan sedikit menggeser ibu jarinya ke arah bawah telinga Rayyan, menekan perlahan bagian leher di dekat rahangnya. Dan di sana, di bawah tekanan lembut ibu jarinya, ia bisa merasakan sebuah denyutan yang teratur.
Deg... deg... deg...
Masih ada detak nadi yang berdenyut stabil di balik kulit leher itu.
Revan menatap dada Rayyan, melihat bagaimana kaus putih polos itu bergerak naik dan turun dengan ritme yang konstan, menandakan bahwa paru-paru di dalamnya masih menghirup dan mengembuskan udara dengan normal.
Bukan mimpi.
Bukan bayangan semu yang lahir dari keputusasaannya yang gila.
Orang yang kemarin sore ia tangisi di pemakaman... orang yang selama seminggu ini ia yakini telah pergi dari dunia ini selamanya... kini berada di depannya, bernapas, hidup, dan memiliki kehangatan tubuh yang nyata di bawah sentuhan tangannya.
Rasa lega yang teramat sangat dahsyat menghantam dada Revan, begitu kuat hingga membuatnya merasa pusing. Air mata yang selama bertahun-tahun ini tidak pernah bisa keluar dari matanya, kini merebak samar di sudut matanya yang merah.
"Lu..." suara Revan keluar sebagai bisikan yang teramat sangat lirih dan serak, hampir kehilangan seluruh tenaganya.
Plak!
Rayyan langsung menepis tangan Revan dengan kasar dari wajahnya. Ia menegakkan tubuhnya, bergeser sedikit ke sudut sofa untuk memperlebar jarak di antara mereka. Wajahnya tampak memerah karena kesal sekaligus canggung menerima perlakuan aneh dari cowok yang selama ini selalu bersikap kasar dan mencari perkara dengannya di sekolah.
"Apaan sih, aneh banget lu!" ketus Rayyan, mengusap pipinya sendiri yang bekas disentuh Revan tadi. "Datang-datang gak jelas, main pegang-pegang pipi orang. Lu kesurupan hantu penunggu sekolah apa gimana?"
Revan tidak membalas ucapan ketus itu. Ia menarik kembali tangannya yang baru saja ditepis oleh Rayyan.
Namun, tangannya tidak kembali ke posisi semula. Tangan kanan Revan yang tergantung di sisi tubuhnya kini terlihat gemetar dengan sangat hebat sebuah getaran hebat yang menjalar hingga ke seluruh bahu dan lengannya. Tubuh jangkung sang preman sekolah yang biasanya selalu tegak penuh keangkuhan kini tampak sedikit bergoyang, seolah-olah kekuatannya telah terkuras habis hanya untuk memastikan satu kenyataan ini.
Mbak Intan yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu dari sudut ruangan menatap Revan dengan pandangan yang campur aduk antara heran dan takut. Ini adalah pertama kalinya ia melihat sosok Revan remaja yang selama ini dikenal dingin, kejam, dan tidak memiliki rasa takut terlihat begitu rapuh, hancur, dan gemetar di depan seorang Rayyan.
Di dalam kesunyian ruang tamu itu, di bawah kehangatan sinar matahari pagi yang mulai menembus kaca jendela, getaran di tubuh Revan menjadi satu-satunya gerakan yang menceritakan betapa dahsyatnya badai emosi yang sedang merombak seluruh isi kepalanya. Sebuah takdir yang sempat putus kini telah tersambung kembali, namun baik Revan maupun Rayyan belum tahu... harga apa yang harus mereka bayar untuk keajaiban yang belum selesai ini.