Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.
Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.
Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
"Lengkap!"
Brak!
"Astaga!"
Michelle terlonjak mundur saat melihat seseorang berdiri di sebelah lokernya begitu pintu loker tertutup, cowok dengan sorot mata dingin itu memasang wajah datar seperti biasa.
"Kak Alvin ngagetin aja," ujar Michelle, mengusap dadanya. "Ada apa?"
"Lo pulang sendiri," jawab Alvin langsung.
Michelle sempat kaget, kemudian sorot kagetnya berganti dengan tatapan kecewa. "Kenapa? Emang Kak Alvin mau ke mana dulu? Futsal? Aku tungguin kok sampe selesai. Tapi pulang bareng, ya?" mohon Michelle.
Alvin malah mengambil ponselnya, lalu menelpon seseorang yang merespon dengan sangat cepat.
"Tolong jemput Michelle di sekolah."
"..."
"Terima kasih, Pak."
Sambungan terputus, Alvin menatap Michelle yang masih memasang wajah memohonnya.
"Pak Hadi bakal jemput lo, tungguin aja di halte depan," ujar Alvin. "Langsung pulang, nggak usah mampir-mampir," tambah cowok itu, lalu meninggalkan Michelle di ruang loker kelas X itu.
Michelle menatap punggung Alvin yang semakin menjauh, masih dengan sorot kecewa yang ketara. Ia tersenyum miris.
"Kenapa nggak bilang aja sih mau nganterin dia? Emang ya dia lebih penting dari aku," gumam Michelle, lalu melangkah keluar dari ruang loker.
Devis yang bersandar pada tiang tidak jauh dari tangga dekat loker tampak menaikkan sebelah alisnya saat melihat Alvin keluar dari ruang loker kelas X. Cowok itu pasti baru saja menemui seseorang, tidak mungkin Alvin pergi ke loker kelas X, kelas IPA pula. Karena loker kelas XI IPS berada di lantai 2 bersama dengan loker kelas XI yang lain.
Tidak lama setelah Alvin meninggalkan ruang loker itu, tampak seorang cewek bersurai hitam keluar dari ruangan itu dengan wajah ditekuk. Cewek itu berhenti di depan pintu, tampak menatap kepergian Alvin sampai cowok itu keluar dari gedung sekolah.
"Ngeselin banget sih!" ujar cewek itu sambil menghentakkan kakinya. "Untung sayang," sambungnya lirih, namun Devis dapat mendengarnya.
Kedua mata Devis sempat terbuka lebih lebar, terkejut dengan apa yang cewek itu katakan. Namun dua detik kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring saat ia menarik satu kesimpulan dari kejadian yang baru dilihat dan didengarnya.
"Kasihan banget ditinggalin."
Michelle tersentak saat seseorang tiba-tiba duduk di sebelahnya, sampai reflek bergeser saking terkejutnya.
"L-lo?" gagap Michelle. "Lo ngapain di sini?" tanyanya.
Devis melirik sekilas. "Duduk, nggak lihat?"
Michelle mendelik, lalu melengos membuang muka tidak mau meladeni cowok itu lebih lama. Baru tadi pagi Michelle berniat tidak akan berurusan lagi dengan cowok perusuh ini, salah satu caranya adalah jangan mengobrol dengan cowok itu.
"Lo suka sama Alvin, ya?"
Michelle langsung menoleh, keningnya berkerut tidak suka saat melihat Devis kini menatapnya dengan senyuman miring. Entah apa arti dari senyuman itu, tapi Michelle menyimpulkan kalau Devis sedang mengejeknya.
"Bukan urusan lo!" balas Michelle, kembali membuang muka.
"Alvin udah punya pacar."
"Udah tau!" sahut Michelle judes.
Cowok berjaket hitam itu tertawa kecil. "Udah tau kenapa masih dideketin? Nggak tau malu apa nggak tau diri?"
Michelle menoleh dengan tatapan nyalang yang langsung ia tujukan pada cowok itu, sementara Devis malah menaikkan sebelah alisnya.
"Lo kenapa sih gangguin gue mulu?" tanya Michelle kesal.
"Lo kenapa sih kepedean banget?" tanya Devis balik. "Gue kan cuma mau duduk di sini, siapa yang gangguin lo?"
"Terus kenapa tanya-tanya?!" Suara Michelle naik satu oktaf bahkan cewek itu sampai berdiri.
Mereka berdua menjadi pusat perhatian karena suara Michelle, bahkan Devis sampai harus menunduk memijat pelipisnya.
"Ayo pulang bareng gue," ujar Devis sambil berdiri.
Michelle mencibir. "Kenapa gue harus mau?"
"Karena gue maksa," jawab cowok itu santai, lalu berjalan menuju motor merah yang ia parkir di pinggir jalan.
Kening Michelle berkerut, ia ingat betul kalau waktu itu Devis memboncengnya dengan motor hitam. Michelle menggeleng cepat.
"Pulang sendiri sana!" usirnya.
"Yakin?" tanya Devis sekali lagi. "Halte mulai sepi tuh."
Michelle menoleh melihat teman-temannya yang menunggu jemputan di halte semakin sedikit, apalagi baru saja bus yang mereka tunggu datang.
"Cuma mau ngasih tau aja sih, kalau dulu ada perampokan di halte ini, dan korbannya meninggal," ujar Devis santai sambil memasang helmnya. "Katanya suka gentayangin orang yang--"
"Yang bener?" sahut Michelle, ketara sekali ia takut dari wajah pasinya.
Devis mengangguk. "Kalau lo mau di sini ya terserah, gue--"
"Gue ikut!" Michelle bergegas mendekat dengan wajah pucat pasi. "Gue bareng pulang," mohonnya.
Devis menarik sudut bibirnya, lalu mengedikkan kepala memberi isyarat agar Michelle naik. Cewek itu hanya menurut dan naik dengan ragu-ragu.
"Pegangan."
Michelle mendelik. "Pegang mana?"
Devis mendengus, lalu menepuk pundaknya. Hal itu malah membuat Michelle meringis, ia kira Devis punya maksud lain.
"Pegangan," ulang cowok itu.
"Iya, tap-- Astaga!"
"BISA AGAK PELAN NGGAK?!"
"DIH, BUDEK!"
Michelle menunduk karena wajahnya terasa seperti ditabrak angin, surai cokelatnya yang hari ini diurai beterbangan seperti iklan shampo. Ia yakin, sampai di rumah pasti rambutnya kusut.
Sementara Devis menunduk sekilas, ujung bibirnya tertarik. Entah sadar atau tidak, cewek itu malah melingkarkan lengannya di perut Devis alih-alih pegangan di pundak cowok itu.
...☆☆☆...
Alvin memerhatikan cewek bersurai coklat itu seolah tidak ada obyek lain yang bisa menyedot perhatiannya seperti ini, cewek itu membuat dunia Alvin seolah berpusat padanya.
Nara, cewek dengan senyum manis itu tampak sibuk memilih bunga yang sudah layu dan memisahkannya dengan bunga yang masih segar. Sudah menjadi rutinitas Nara bekerja di toko bunga ini setiap pulang sekolah, toko bunga ini adalah milik Bibinya.
"Alvin,"
Alvin menegakkan posisi berdirinya yang semula bersandar pada salah satu rak bunga saat Nara berjalan ke arahnya.
"Kamu nggak pulang aja? Udah mau sore nih, harusnya pulang terus istirahat," ujar cewek itu.
Alvin selalu mengantar Nara ke tempat ini setiap pulang sekolah, dan tidak lupa mampir jika tidak ada kegiatan lain. Alvin hanya ingin melihat ceweknya lebih lama, entah kenapa menatap Nara saja bisa membuat hatinya menghangat, apalagi saat cewek itu tersenyum.
"Kamu kenapa sih lihatinnya gitu banget? Suka banget bikin aku salah tingkah," ujar Nara, salah tingkah.
Alvin menarik ujung bibirnya membentuk seulas senyum. "Kamu kelihatan makin cantik kalau lagi senyum, apalagi malu-malu begini."
"Apasih!" Jawaban Alvin membuat pipi Nara semakin memanas sampai cewek itu harus menutupnya dengan telapak tangan.
Melihat senyuman itu di bibir Nara, rasanya Alvin tidak tega untuk mengatakan apa yang ingin segera ia katakan. Untuk kesekian kali Alvin ragu, ia benar-benar takut membuat pacarnya ini terluka.
"Ra, aku mau bicara sama kamu."
Tapi cepat atau lambat Nara harus tahu, lebih baik cewek itu tahu dari Alvin sendiri daripada harus mendengar dari orang lain. Karena itu akan semakin menyakitinya.