Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.
Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?
Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa kau lakukan itu?
Kuda itu akhirnya melambat langkahnya saat tiba di halaman belakang penginapan, tempat yang sengaja dipilih karena tersembunyi dan jarang dilewati orang. Kabut tipis masih menyelimuti tanah, menambah suasana dingin dan penuh ketegangan yang terasa nyata di udara. Xavier turun lebih dulu, lalu dengan gerakan cepat dan dingin, ia membantu Azura turun tanpa menatap mata wanita itu sedikit pun.
"Lewat sini, Pangeran, Putri," bisik Hugo yang sudah menunggu di dekat pagar kayu tua, memberi isyarat tangan agar mereka mengikutinya masuk lewat celah sempit di balik tumpukan kayu bakar dan tanaman rimbun. Itu adalah jalan rahasia kecil yang ia buat khusus untuk berjaga-jaga jika ada bahaya atau pengawasan ketat dari pihak Raja Utara.
Mereka bergerak cepat dan senyap menyusuri lorong-lorong sempit, melewati ruang penyimpanan dan dapur belakang yang sepi, hingga akhirnya sampai di kamar mereka.
"Segera berganti pakaian. Utusan Raja baru saja tiba beberapa menit yang lalu, mereka sudah menunggu di ruang tamu utama," ucap Hugo singkat, wajahnya terlihat cemas namun tetap sigap.
Azura dan Xavier sama-sama mengangguk cepat. Tanpa banyak bicara, mereka segera mengenakan pakaian resmi yang lebih rapi dan sopan, sesuai dengan kedudukan mereka. Azura mengikat rambutnya dengan sederhana namun elegan, menutupi segala tanda kelelahan atau sisa air mata yang mungkin masih terlihat di wajahnya.
Di sisi lain, Xavier kembali mengenakan jubah kebesarannya, menutupi segala jejak perjalanan rahasia mereka malam ini. Sekali lagi, mereka harus memainkan peran mereka di atas panggung sandiwara ini, sebagai suami istri yang harmonis, tamu terhormat, dan tokoh politik yang harus dijaga penampilan dan kehormatannya.
Belum lama mereka selesai dan berdiri tegak, terdengar suara ketukan pintu yang keras dan berwibawa. Diikuti suara Elish dari balik pintu.
"Pangeran, putri, utusan raja sudah datang. Kalian akan segera ke istana menghadap raja," seru Elish.
Saat pintu dibuka lebar, Elish mundur tergesa-gesa dengan kepala tertunduk dalam. Azura sempat tertegun melihat perubahan sikap wanita itu yang drastis. Kemarin saja Elish masih berani menatap Xavier dengan tatapan genit, masih berani mendekat seolah memiliki hak lebih atas pria itu, namun sekarang?
Wanita itu terlihat waspada dan penuh rasa takut, jelas sekali masih teringat betul peringatan keras dan ancaman yang dilontarkan Xavier padanya tadi siang. Azura tidak tahu apa-apa tentang kejadian Elish merendahkan dirinya di depan Xavier tadi siang.
Di belakang Elish berdiri seorang pria paruh baya berpakaian seragam keemasan, tanda kedudukan tinggi dari istana Raja Utara. Wajahnya kaku, dingin, dan penuh arogansi. Pria itu menundukkan kepala sedikit pada Xavier sebagai tanda hormat formal, namun sama sekali tidak melirik atau menyapa Azura, seolah wanita di samping Pangeran itu hanyalah udara kosong atau pelayan rendahan yang tak pantas di anggap ada.
"Pangeran, silakan. Raja sudah menunggu anda," ucap utusan itu datar, lalu berbalik hendak berjalan lebih dulu.
Azura menghela napas panjang, berusaha menahan rasa jengkel yang mulai naik. Sudah biasa ia diperlakukan buruk, dihina, atau dianggap tidak ada oleh pengikut Raja Utara, tapi entah kenapa hari ini rasanya lebih menyakitkan dari biasanya. Mungkin karena ia terlalu lelah, atau mungkin karena hati dan pikirannya masih penuh dengan Orion.
Namun, sebelum Azura sempat berbuat apa-apa, suara berat dan rendah Xavier terdengar membelah udara, dingin namun penuh tekanan yang membuat siapa saja bergidik.
"Tunggu."
Utusan itu berhenti melangkah, berbalik sedikit dengan alis terangkat bingung. Xavier melangkah maju selangkah, berdiri tegak dengan aura kekuasaannya yang mengerikan, menatap tajam tepat ke arah wajah pria utusan itu.
"Kenapa kau tidak menyapa Putri Agung ini?" tanya Xavier pelan namun menuntut, nada bicaranya rendah namun cukup jelas terdengar oleh semua orang di ruangan itu.
Utusan raja itu terdiam seketika. Wajahnya memerah padam karena kaget dan salah tingkah. Ia melirik sekilas ke arah Elish yang juga tampak kaku ketakutan di pinggir ruangan, lalu kembali menatap Xavier yang menatapnya seolah siap menghunus pedang lehernya jika salah bicara.
"Sa-saya... ampuni kelalaian saya, Pangeran. Saya lupa ..." pria itu tergagap-gagap, kepercayaan dirinya yang tadinya tinggi kini runtuh seketika di bawah tatapan tajam Xavier.
"Lupa? Kau lupa dengan putri kalian sendiri? Yang begitu di hormati semua rakyat Utara?"
potong Xavier dingin, langkahnya semakin mendekat hingga utusan itu harus menundukkan kepalanya semakin dalam.
Suasana menjadi hening total. Elish menahan napas, tapi dia makin iri pada Azura yang di perhatikan sebesar itu oleh sang pangeran
Utusan itu menelan ludah dengan susah payah, wajahnya merah padam menahan rasa malu luar biasa. Ia berbalik sepenuhnya menghadap Azura, lalu membungkukkan badannya sangat dalam, jauh lebih rendah daripada saat memberi hormat pada Xavier tadi.
"Maafkan kelalaian saya, putri. Saya, memberi hormat dan menyapa anda dengan segala kehormatan yang pantas anda terima," ucapnya lantang dan penuh rasa segan, meski jelas sekali ada rasa keterpaksaan di sana.
Azura hanya diam, mengangguk pelan tanpa ekspresi yang terlihat, meski di dalam hatinya ada sedikit rasa senang. Ia menatap samping, ke arah Xavier yang kembali memasang wajah dingin dan datar, seolah apa yang baru saja ia lakukan adalah hal paling wajar di dunia ini.
"Baik. Sekarang kita pergi," ucap Xavier singkat, lalu berjalan melewati utusan itu sambil memberi isyarat tangan agar Azura berjalan di sebelahnya.
Saat mereka berjalan beriringan keluar dari ruangan itu, Elish masih terpaku di tempatnya, gigi-giginya gemeretak menahan rasa iri dan benci yang semakin membara.
Di luar, kereta kuda kerajaan sudah siap menunggu. Saat masuk ke dalam dan pintu tertutup rapat, keheningan kembali menyelimuti mereka. Xavier duduk di seberang Azura, menatap keluar jendela yang tertutup tirai tebal. Namun kali ini, Azura berani bertanya, suaranya lirih namun jelas.
"Kenapa kau lakukan itu? Kau yang kau yang selalu membenciku... tapi di depan orang lain kau malah membelaku."
Xavier memalingkan wajahnya perlahan, menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kemarahan, kebingungan, dan rasa sakit yang tersembunyi.
"Jangan salah paham," jawabnya dingin, namun nadanya tak setajam biasanya.
"Aku membela bukan karena aku peduli padamu atau aku percaya padamu. Aku melakukannya demi harga diriku sendiri. Istriku adalah wakilku. Jika kau dihina, berarti aku yang dihina. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan apa yang menjadi milikku, apalagi di depan wajahku sendiri."
Xavier mendekatkan wajahnya sedikit, matanya menatap tajam tepat ke manik mata Azura.
"Dan ingat satu hal, Azura. Masalah kita belum selesai. Aku akan cari tahu siapa apa yang sedang kau rencanakan dengan raja utara. Dan saat aku dapatkan jawabannya... kau akan tahu betapa mahalnya harga sebuah kebohongan."
Azura hanya diam.
Kereta terus berjalan menuju istana megah yang sebenarnya baru ia kunjung tadi dan membawa kabur putranya. Entah apa yang sedang dilakukan selir Evelyn sekarang. Apa dia sudah melapor pada ayah tirinya, atau masih syok setelah kediaman pribadinya di acak-acak.
jgan kasih Xavier lolos dengan mudah 🫣🤣🤣
😁😜🤭
orion telah tubuh jadi anak remaja yg gagah dan berani seperti pangeran xavier...
sabar xavier berjuanglah terus sampai meluluhkan hati azura... azura tidak akan mudah memaafkanmu, masih marah dan dendam dulu menyakiti azura....
Jangan mudah luluh dengan segala godaan Xavier... kasih pelajaran biar tobat....👍👍
padahal xavier telah banyak berubah selama berpisah sama azura, sekarang lebih manja dan cari perhatian azura...
azura masih mempertahankan sifatnya dingin dan datar, galak dan ketus, tapi didepan anak-anaknya pura2 baikan...
berjuanglah pangeran xavier meluluhkan hati azura, karena dulu banyak sakit hatinya...itu hukuman buat xavier dulu salahpaham terus dan gak percaya sama xavier....