NovelToon NovelToon
The Reasons

The Reasons

Status: tamat
Genre:Angst / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.

Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.

Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.

Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.

Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#6

Malam hari di Los Angeles selalu membawa atmosfer yang berbeda.

Di dalam ruang makan kondominium yang bernuansa minimalis modern, cahaya temaram dari lampu gantung kristal memberikan kesan hangat yang semu.

Di atas meja makan marmer hitam, tersaji hidangan makan malam mewah buatan tangan Lara: steak daging wagyu dengan siraman saus lada hitam yang aromanya memenuhi ruangan, ditemani dengan kentang tumbuk yang lembut dan sayuran panggang.

Billy Davidson duduk di kepala meja, melonggarkan sedikit dasinya.

Sikapnya malam ini sangat tenang, bahkan cenderung lembut. Ia memotong daging steaknya dengan perlahan, sesekali menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya sambil melemparkan pujian kepada Lara yang duduk di sisi kanannya.

"Masakanmu tidak pernah gagal, honey. Ini jauh lebih enak daripada restoran bintang lima di Beverly Hills," ucap Billy dengan senyuman hangat yang menghiasi wajah tampannya.

Lara membalas ucapan itu dengan senyuman yang tak kalah manis. Ia mengangguk pelan, tampak seperti seorang istri yang tersanjung oleh pujian suaminya. "Terima kasih, Billy. Aku senang jika kau menyukainya."

Mereka melanjutkan makan malam itu dengan kehangatan yang tampak begitu sempurna di permukaan. Namun, kehangatan itu seketika retak bagaikan cermin yang dipukul palu ketika sebuah suara dering ponsel memecah kesunyian.

Ponsel milik Billy yang diletakkan di atas meja bergetar hebat, menampilkan layar yang menyala terang.

Tanpa perlu melirik nama kontak yang tertera di layar datar itu, Lara sudah tahu persis siapa yang menelepon di jam makan malam seperti ini.

Detak jantungnya tidak berubah, tidak ada rasa terkejut ataupun cemburu yang berlebihan di matanya. Rasa itu sudah lama mati.

Di dalam kepalanya, Lara langsung menebak satu nama: itu pasti kakak iparnya tersayang, Catalina Davidson.

Billy meletakkan garpu dan pisau makannya, lalu menyambar ponsel tersebut. Ia menempelkan benda pipih itu ke telinganya, mendengarkan suara di seberang sana selama beberapa detik dengan kening yang perlahan berkerut penuh kekhawatiran yang dibuat-buat.

"Baik, aku akan ke sana sekarang," ucap Billy singkat dengan nada suara yang berat dan tegas.

Tanpa ba, bi, bu, atau memberikan penjelasan panjang lebar kepada istrinya, Billy langsung memutuskan sambungan telepon. Ia bergerak dengan tergesa-gesa, meraih gelas air minumnya di atas meja dan meneguknya hingga tandas dalam sekali tegukan besar.

Pria itu berdiri dari kursinya, merapikan jasnya yang tersampir di sandaran kursi.

"Aku akan—"

"Pergilah suamiku, hati-hati di jalan ya," potong Lara cepat.

Kalimat itu meluncur dari bibir Lara lengkap dengan senyuman manisnya yang paling menawan.

Tidak ada nada keberatan, tidak ada interogasi, dan tidak ada drama cemburu yang biasanya ditakuti oleh para suami. Lara justru menampilkan ekspresi seorang istri yang sangat pengertian.

Sikap patuh dan pengertian Lara membuat ketegangan di wajah Billy mengendur. Pria itu melangkah mendekati Lara, membungkukkan tubuhnya lalu mendaratkan sebuah kecupan di bibir istrinya.

Cup.

"Aku pergi ya," ucap Billy setelah melepaskan kecupan itu, menatap lekat-lekat mata Lara. "Baik-baik di rumah, dan tidurlah lebih cepat, jangan menungguku. Aku mungkin akan pulang besok pagi karena urusannya sepertinya akan memakan waktu lama."

Lara mengangguk manis, tangannya terangkat untuk merapikan sedikit kerah kemeja Billy yang agak melipat. "Iya, Billy. Selesaikan urusanmu dengan baik."

Lara memaku pandangannya pada punggung tegap Billy yang berjalan menjauh, melintasi ruang tamu, hingga suara pintu utama kondominium yang tertutup rapat dan terkunci bergema di dalam ruangan.

Begitu sosok suaminya menghilang, senyuman manis di wajah Lara lenyap dalam sekejap, digantikan oleh ekspresi datar yang dingin dan tatapan mata yang kosong.

Lara bersandar pada sandaran kursinya, menatap sisa makanan di piring Billy yang belum habis. Sebuah tawa getir yang sangat lirih lolos dari tenggorokannya.

Lihatlah... entah apa lagi yang wanita mandiri itu butuhkan malam-malam begini, batin Lara lirih penuh dengan ironi.

Tentu saja, dia merindukan suaminya yang sudah mati, lalu mengalami serangan trauma gila yang tiba-tiba, dan meminta suamiku untuk datang menemani tidurnya. Tidak, tidak... dia merindukan mendiang suaminya, membuatnya ketakutan, dan harus ditemani oleh suamiku sepanjang malam.

Lara tahu persis permainan apa yang sedang dimainkan di balik dinding mansion utama Davidson.

Namun, dia tidak peduli. Dia sama sekali tidak peduli jika suaminya membagi tubuh dan perhatiannya dengan wanita lain.

Baginya, kepergian Billy malam ini adalah sebuah berkah tersembunyi; itu berarti malam ini tubuhnya akan aman dari ancaman bogeman mentah ataupun paksaan fisik biologis yang melelahkan.

Lara meninggalkan meja makan yang berantakan, membiarkan piring-piring kotor itu untuk dibersihkan oleh pelayan harian keesokan harinya.

Ia melangkah perlahan menaiki anak tangga menuju kamar utamanya di lantai atas.

Suasana yang sepi dan gelap terasa begitu mencekam, namun bagi Lara, kesunyian ini adalah satu-satunya pelukan hangat yang bisa ia rasakan.

Begitu masuk ke dalam kamar, Lara langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size yang empuk. Ia berbaring telentang, melipat kedua tangannya di atas perut yang masih menyisakan rasa nyeri, lalu termenung menatap langit-langit kamar yang tinggi dan putih bersih.

Dalam keheningan malam Los Angeles yang berderu di luar sana, pikiran Lara melayang jauh menembus labirin masa lalunya yang kelam.

Lara adalah anak bungsu dari dua bersaudara di dalam keluarga Giger yang terpandang.

Namun, takdir kelahirannya sudah ditulis dengan tinta hitam.

Ibunya meninggal dunia di dalam ruang persalinan akibat komplikasi parah saat melahirkan dirinya ke dunia. Tragedi berdarah di mansion keluarga Giger malam itu menjadi awal dari seluruh penderitaan hidupnya.

Sejak ia tumbuh besar dan mulai bisa memahami kata-kata manusia, semua orang di dalam rumahnya—mulai dari sang ayah, kakak kandungnya, hingga paman dan bibinya—selalu menudingnya dengan jari telunjuk yang tajam.

Mereka mengatakan bahwa dialah sumber kesialan.

Dialah penyebab hilangnya nyawa sang ibu.

Label "Anak Sial" melekat erat di dahinya seperti tato permanen yang tidak akan pernah bisa dihapus.

Apa pun kegagalan bisnis atau kemalangan kecil yang menimpa keluarga Giger, wajah Lara-lah yang akan selalu disalahkan.

Hingga akhirnya, di tengah kegelapan masa remajanya, nama Dorian muncul...

Dorian Vale Knight. Pria itu adalah satu-satunya cahaya terang yang pernah singgah di dalam hidup Lara yang redup.

Seorang pria yang teramat ia cintai dengan seluruh jiwa dan raganya. Namun, kutukan "kesialan" itu tampaknya tidak pernah melepaskan cengkeramannya dari Lara.

Bahkan orang yang paling ia cintai pun harus ikut mengalami kesialan luar biasa hanya karena berada di dekatnya.

Lara memejamkan matanya, ingatan pahit empat tahun lalu kembali berputar dengan jelas di kepalanya.

Malam itu, Lara mengajak Dorian untuk menemaninya menonton bioskop di pusat kota LA. Karena ingin menikmati waktu berdua tanpa gangguan, Lara dengan manja meminta Dorian untuk mematikan ponselnya.

Dorian yang selalu menuruti keinginannya pun mematikan daya ponsel tersebut tanpa curiga.

Namun, di saat mereka sedang tertawa di dalam bioskop yang gelap, keluarga Dorian di rumah sedang panik luar biasa.

Mereka menelepon ponsel Dorian puluhan kali tanpa hasil, mencoba menghubungi pria itu untuk memberitahukan berita duka bahwa nenek dari pihak sang ayah baru saja mengembuskan napas terakhir akibat serangan jantung mendadak. Karena ponselnya mati, Dorian terlambat mengetahui berita itu dan tidak sempat melihat wajah sang nenek untuk terakhir kalinya.

Bukankah itu kesialan yang berpusat dariku? batin Lara, air matanya mulai menggenang di sudut mata.

Tidak berhenti sampai di situ. Akibat rasa bersalah dan tekanan mental yang mendalam setelah kejadian malam itu, fokus belajar Dorian pecah berantakan.

Pria cerdas itu bahkan berujung tidak lulus ujian seleksi masuk universitas lanjutan tingkat tinggi di dalam negeri yang sejak lama ia impikan.

Kegagalan demi kegagalan yang dialami Dorian membuat pria itu akhirnya terpaksa mengambil keputusan besar untuk melanjutkan studi hukumnya keluar negeri, terbang jauh ke New York dan meninggalkan Los Angeles.

Bukankah semua kesialan itu berpusat karena dia bersamaku?

Pemikiran kelam itulah yang akhirnya membuat Lara mengambil keputusan paling berani sekaligus paling menghancurkan di dalam hidupnya: dia harus menjauh dari orang yang ia cintai.

Dorian Vale Knight adalah pria yang terlalu berharga untuk dihancurkan oleh kutukan kesialan yang ada di dalam tubuhnya. Lara memilih mundur, memutus komunikasi, dan membiarkan Dorian pergi mengejar impiannya tanpa bayang-bayang dirinya.

Di tengah rasa frustrasi dan kesepian setelah kepergian Dorian, Lara bertemu dengan Billy Davidson di sebuah aplikasi kencan premium yang ia gunakan sebagai pelarian untuk melupakan rasa sakitnya.

Di awal hubungan mereka, Billy adalah pria yang sangat pandai bersilat lidah. Ketika Lara dengan jujur dan terbuka menceritakan tentang doktrin "Anak Sial" keluarganya, serta kejujuran Lara soal dirinya yang tidak lagi suci—Billy justru menerimanya dengan tangan terbuka.

"Kesialan tidak akan pernah menimpamu jika kau bersamaku, Lara. Aku cukup kuat untuk menghancurkan kutukan itu," ucap Billy malam itu dengan tatapan mata yang penuh keyakinan palsu.

Kalimat itu terdengar seperti dewa penyelamat bagi Lara yang sedang hancur.

Dan lihatlah apa yang terjadi semenjak ia menikah dengan pria itu dua tahun lalu.

Keajaiban ironis terjadi.

Seluruh keluarga besar Giger tidak lagi memanggilnya sebagai anak sial. Caci maki itu lenyap berganti dengan senyuman palsu penuh kepura-puraan.

Keluarga besarnya bahkan dengan tidak tahu malu mengatakan bahwa Lara adalah sebuah "berkah" bagi keluarga, hanya karena pernikahan Lara dengan Billy membawa dampak besar berupa suntikan dana dan kerja sama bisnis yang berhasil menyelamatkan perusahaan keluarga Giger dari kebangkrutan.

Air mata Lara akhirnya menetes perlahan, membasahi bantal sutranya. Namun di sela-sela air mata yang mengalir itu, seulas senyuman tipis dan aneh mendadak terukir di wajahnya.

Dia telah menikmati rasa sakit ini hampir di seluruh sisa hidupnya.

Sejak kecil hingga dewasa, diperlakukan tidak adil oleh darah dagingnya sendiri, dan kini diperlakukan tidak adil serta disiksa oleh suaminya sendiri pun, Lara tidak pernah melayangkan protes sedikit pun.

Dia tidak peduli lagi dengan rasa sakit di tubuhnya. Baginya, rasa sakit fisik akibat pukulan Billy adalah harga murah yang harus ia bayar agar dunia tetap melihatnya sebagai "istri konglomerat yang membawa berkah", bukan lagi "anak sial yang membawa petaka". Jiwanya telah mati rasa, pasrah di dalam labirin penderitaan yang ia ciptakan sendiri.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...°°...

...( ͡° ͜ʖ ͡°) 🔞...

Sementara itu, di belahan kota Los Angeles yang lain, Rolls-Royce hitam milik Billy Davidson berbelok memasuki area halaman luas sebuah kediaman megah berarsitektur klasik di kawasan elite Pasadena.

Mansion utama milik keluarga Davidson itu tampak berdiri kokoh dan sunyi di bawah naungan pohon-pohon palem yang tinggi.

Billy mematikan mesin mobilnya, lalu melangkah turun dengan tergesa-gesa. Ia berjalan melewati koridor depan dan langsung membuka pintu utama mansion yang ternyata tidak dikunci dari dalam.

Langkah kakinya yang lebar membawanya menuju ruang tamu utama yang luas, di mana cahaya lampu di sana sengaja diremangkan.

Begitu Billy melintasi pembatas ruangan, sesosok wanita dengan gaun tidur sutra tipis berwarna merah marun berpotongan rendah melangkah keluar dari balik bayangan tirai.

Wanita itu adalah Catalina Davidson. Wajahnya yang cantik dan matang tampak dihiasi oleh sisa-sisa air mata buaya, memberikan kesan rapuh yang sangat disukai oleh Billy.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Catalina langsung menghambur ke dalam pelukan Billy. Kedua lengan rampingnya mengalungkan leher adik iparnya dengan begitu erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.

Billy membalas pelukan itu dengan kekuatan penuh, merengkuh pinggang ramping Catalina dan menarik tubuh wanita itu hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka.

Detik berikutnya, Billy mencengkeram rahang Catalina dengan lembut namun menuntut, memaksa wanita itu untuk mendongak menatapnya.

Billy menautkan kening mereka berdua, merasakan napas hangat Catalina yang terengah-engah memburu di depan wajahnya.

"Aku sangat merindukanmu, Billy..." bisik Catalina dengan suara yang teramat manja, sorot matanya dipenuhi dengan gairah yang membara, sama sekali tidak mencerminkan seorang wanita yang sedang berduka atas kematian suaminya.

"Aku datang," jawab Billy pendek, suaranya rendah dan serak oleh hasrat yang tiba-tiba memuncak.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Billy menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka.

Lumatan bibir itu menempel sempurna, mengawali sebuah ciuman yang berlangsung dengan begitu panas dan penuh tuntutan.

Ciuman itu bukanlah ciuman penuh kelembutan, melainkan sebuah pelepasan gairah yang terlarang dan penuh dengan kepemilikan.

Billy melumat bibir kakak iparnya dengan kasar, membalikkan tubuh Catalina hingga punggung wanita itu membentur dinding koridor dengan pelan.

Catalina mendesah pelan di sela-sela ciuman mereka, membuka mulutnya lebih lebar untuk membiarkan lidah Billy menyapu rongga mulutnya dengan dominasi yang mutlak.

Jari-jari tangan Catalina meremas rambut belakang Billy, menarik pria itu agar memperdalam pagutan mereka yang semakin memabukkan.

Aroma alkohol samar dari napas Catalina berpadu dengan parfum maskulin Billy, menciptakan atmosfer yang semakin membakar akal sehat.

Billy melepaskan tautan bibir mereka sejenak, hanya untuk memberikan kecupan-kecupan basah yang menjalar turun ke rahang tegas Catalina, lalu beralih menuju leher jenjang wanita itu.

Tangan Billy bergerak liar, meraba lekuk tubuh di balik gaun tidur sutra yang tipis, membelai pinggul dan naik ke atas untuk meremas dada Catalina dengan penuh kuasa.

"Bawa aku ke kamar, Billy," bisik Catalina terengah-engah, matanya sayu menatap adik iparnya yang kini telah sepenuhnya dikuasai oleh nafsu.

Billy tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menyusupkan kedua tangannya di bawah tubuh Catalina, mengangkat wanita itu ke dalam gendongannya dengan mudah, lalu melangkah lebar menuju kamar tidur utama di lantai atas—kamar yang dahulu menjadi saksi bisu pernikahan kakaknya.

Di dalam kamar yang luas dengan ranjang besar berkelambu itu, penyatuan panas antara adik ipar dan kakak ipar itu pun berakhir dengan ledakan gairah yang tak terbendung.

Billy menghempaskan tubuh Catalina ke atas kasur empuk, langsung memposisikan dirinya di atas tubuh wanita itu. Pakaian mereka terlepas satu demi satu, tercoreng oleh noda pengkhianatan yang nyata.

Hubungan intim yang terjadi di antara mereka berlangsung dengan begitu intens dan meledak-ledak.

Billy bergerak dengan ritme yang cepat dan kasar, menyalurkan seluruh hasrat yang selalu tertahan akibat alasan menstruasi dari Lara.

Di bawah kungkungan tubuh Billy, Catalina mengerang dan mendesah keras, menyebut nama Billy berkali-kali sambil mencengkeram punggung tegap pria itu hingga meninggalkan bekas guratan merah.

Mereka bercinta tanpa memedulikan batasan moral dan status kekeluargaan yang mengikat mereka.

Bagi Billy, Catalina adalah pemuas hasrat yang sempurna dan penurut, sebuah pelampiasan atas egonya yang sering kali terbentur oleh sikap Lara di rumah.

Sementara bagi Catalina, Billy adalah pengganti mendiang suaminya yang bisa memberikan perlindungan finansial serta kepuasan batin yang ia butuhkan untuk mempertahankan posisinya di dalam keluarga Davidson.

Di bawah remang cahaya lampu kamar Pasadena, di tengah erangan gairah penyatuan terlarang itu, Billy Davidson telah sepenuhnya melupakan keberadaan istrinya yang sedang berbaring sendirian di kondominium Downtown LA.

Pria itu tidak pernah tahu, bahwa di saat ia sedang mengkhianati pernikahan mereka dengan cara yang paling menjijikkan, Lara Giger justru sedang tersenyum di dalam kegelapan kamarnya, bersyukur atas detik-detik kedamaian yang berhasil ia curi dari neraka rumah tangganya.

1
Mita Paramita
jangan seneng dan bahagia dulu lara🫣 mungkin aja nanti Billy kabur dari penjara terus menculik dan memisahkan lara & dorian🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kak reader paling bisa deh🤭🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Takut banget billy kabur, trus menyakiti lara,, 😬
FoxVault
Cerita nya sangat seru kak 😁
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
Mia Camelia
kenapa kisah cinta keluarga knight selalu ber liku liku berkelok kelok meliuk liuk🤔🤔🤔
jadi gemes nih baca nya thor
Rosdianah 🌷: hihihi maaf ya kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
keluarga knight , sukses semua ya thor...
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄
Rosdianah 🌷: Lancar halu Author 🤣
total 1 replies
Mia Camelia
jangan2 billy punya 2 kepribadian kali nih🤔🤔🤔masa gampang banget berubah2 nya🤣🤣🤣haduh kasian lara😔
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
ya ampun ini kejam sekali billy😂😂😂
Rosdianah 🌷: Modal gampar🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!