NovelToon NovelToon
TALI MERAH & TEH TARIK

TALI MERAH & TEH TARIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:161
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Sore makin merambat turun, langit berubah jadi paduan warna ungu dan jingga yang lembut, persis seperti perasaan bahagia yang meluap di dada kami. Aku dan Arjun berpamitan setelah cukup lama bercengkerama dengan Ayah dan Ibu-nya. Perpisahan itu terasa hangat, penuh pelukan dan doa baik, seolah aku bukan tamu baru, tapi sudah seperti anak perempuan mereka sendiri.

"Datang lagi ya, Nak Aira. Anggap rumah ini rumahmu sendiri," pesan Ibu Arjun sambil menggenggam tanganku erat, matanya masih memandangku penuh kasih sayang.

Ayah Arjun hanya mengangguk mantap, tersenyum ramah, tatapannya seolah berkata Kami percayakan Arjun sepenuhnya padamu.

Arjun menggandeng tanganku keluar dari rumah itu, langkahnya terasa lebih ringan, lebih lepas, dan lebih bahagia dari sebelumnya. Bajunya yang biru dongker dan celana kremnya masih rapi, sama persis warnanya dengan baju kurta yang kupakai, menciptakan keserasian yang indah setiap kali kami berjalan beriringan.

Rambutku yang disanggul rapi masih tertata sempurna, dan setiap langkah kakiku, gelang Payal pemberiannya itu kembali berbunyi nyaring, menjadi irama kecil yang menemani perjalanan pulang kami.

Sesampainya di motor, Arjun tidak langsung menyalakan mesin. Dia berbalik menghadapku, tangannya yang besar dan hangat mengusap pelan pipiku, menatapku lekat-lekat seolah ingin menanamkan setiap detik momen ini ke dalam ingatannya selamanya.

"Senang nggak, Sayang?" tanyanya pelan, suaranya lembut namun bergetar karena bahagia.

"Aku tau pasti kamu gugup banget tadi, tapi kamu hebat banget. Kamu sopan, kamu manis, kamu cantik luar biasa... Ayah sama Ibu aku langsung jatuh hati sama kamu, persis kayak aku."

Aku tersenyum malu, menundukkan pandangan sejenak sebelum kembali menatap manik matanya yang indah.

"Senang banget, Jun... malah rasanya nggak mau pulang. Ibu kamu baik banget, Ayah kamu bijaksana banget. Aku nggak nyangka bakal disambut seindah itu. Rasanya... rasanya aku udah jadi bagian dari keluarga itu sejak lama."

Arjun tersenyum lebar, lalu menarikku pelan ke dalam pelukannya yang hangat dan aman. Dia membiarkanku bersandar sejenak di dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang berirama tenang.

"Itu karena kamu memang udah jadi bagian dari kami, Ra... udah dari dulu, sejak pertama kali nama kamu masuk ke dalam doa-doaku. Ayah sama Ibu aku sayang sama kamu karena mereka tau, kamu wanita yang bikin anak mereka jadi laki-laki yang lebih baik."

Dia melepaskan pelukannya perlahan, lalu membenarkan selendang di bahuku agar tetap menutup sempurna. Tatapannya berubah jadi lebih dalam, lebih serius, namun penuh kelembutan yang tak terhingga.

"Ra... ada satu hal lagi yang pengen aku tunjukin sama kasih tau kamu hari ini. Sebelum kita pulang ke rumahmu, ayo kita ke satu tempat lagi. Tempat yang paling tenang, tempat biasa aku pergi kalau aku rindu kamu atau kalau aku pengen ngobrol sama Tuhan soal kita berdua."

Jantungku berdesir.

"Tempat apa, Jun?"

Arjun tersenyum misterius sambil membukakan helm untukku.

"Nanti kamu tau. Tapi percaya aja, tempat itu pas banget buat kita, pas banget sama apa yang mau aku sampaikan hari ini."

Tak lama kemudian, motor Arjun kembali melaju, kali ini menuju arah bukit kecil di pinggiran kota, tempat yang sering kudengar orang sebut sebagai Bukit Senja. Tempat itu terkenal dengan pemandangannya yang indah, cakrawala yang terbuka luas, dan suasana yang hening damai.

Sesampainya di sana, kami memarkir motor di pinggir tebing bukit. Suasana sepi, hanya ada kami berdua dan suara angin yang berhembus lembut menyapa pepohonan. Langit di atas kami tampak begitu luas, berwarna merah muda keunguan, dengan matahari yang perlahan mulai terbenam menyapa ujung cakrawala.

Arjun menggenggam tanganku erat, mengajakku duduk di atas batu datar yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam. Di sini, angin bertiup lebih kencang, membuat ujung selendang dan ujung bajuku berkibar pelan, serta rambutku yang tersanggul itu sedikit terurai lembut di leherku.

Arjun duduk di sebelahku, jaraknya sangat dekat, bahu kami saling bersentuhan. Dia menatap pemandangan di depan kami, lalu beralih menatap wajahku, matanya berkilauan diterpa cahaya senja.

"Ra... dulu, sebelum aku berani ngedeketin kamu, sebelum aku berani bilang kalau aku cinta, aku sering banget ke sini. Aku duduk di tempat ini, ngeliat cakrawala yang sama kayak sekarang, dan aku selalu berdoa satu hal aja," ucapnya pelan, suaranya terdengar samar namun jelas di telingaku.

Dia mengangkat tangan kami yang saling menggenggam, menatap jari-jari kami yang saling bertaut.

"Aku berdoa: 'Tuhan, kalau dia memang milikku, dekatkanlah kami, permudahlah jalan kami, dan satukanlah hati kami meski ada banyak beda di antara kami.' Ra... kamu tau nggak? Di budaya aku, cakrawala itu pembatas dunia dan langit, jadi saksi paling jujur. Cahaya matahari itu perlindungan. Dan waktu seperti ini... waktu di mana siang dan malam bertemu, itu waktu paling suci buat mengucap janji."

Arjun berlutut sedikit di sampingku, memposisikan wajahnya sejajar denganku. Dia mengusap pipiku dengan punggung tangannya, tatapannya begitu dalam seolah ingin menembus sampai ke dalam jiwaku.

"Hari ini, setelah kita dapat restu dari orang tuamu, setelah kamu diterima penuh di keluargaku... aku mau ngucapin janji ini lagi, lebih lantang, lebih dalam, dan lebih serius, di hadapan cakrawala yang jadi saksi bisuku dari dulu."

Dia berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang tegas namun penuh emosi:

"Ra, dengerin baik-baik ya... Aku berjanji, akan selalu jadi rumah tempatmu pulang saat dunia terasa asing. Aku berjanji, akan selalu jadi pendengar setia saat mulutmu lelah bicara. Aku berjanji, akan menjaga harga dirimu sama seperti aku menjaga nyawaku sendiri. Dan aku berjanji, akan mencintaimu bukan cuma saat kamu cantik dan tersenyum, tapi juga saat kamu lelah, sedih, atau sedang terluka."

Matanya berkaca-kaca, namun senyum indah tetap terukir di bibirnya.

"Kita udah lewatin banyak hal, Ra. Kita udah buktiin kalau beda itu bukan penghalang, tapi pelengkap. Hari ini, dengan restu kedua orang tua kita, aku ngerasa kita udah punya segalanya. Dan satu-satunya tujuan aku sekarang... cuma satu: bikin kamu bahagia selamanya."

Aku tak kuasa menahan air mata bahagia yang menetes pelan di pipiku. Segala rasa gugup, ragu, dan takut yang pernah ada di hatiku, seolah lenyap sepenuhnya mendengar janji sucinya itu. Aku mengangguk pelan, lalu meremas tangannya yang masih menggenggam tanganku erat.

"Aku percaya sama kamu, Arjun... aku percaya sepenuhnya. Dan aku pun berjanji, akan selalu ada di sampingmu, mendampingimu, dan mencintaimu sampai kapan pun."

Arjun tersenyum bahagia, lalu menarikku kembali ke dalam pelukannya, membiarkan kami berdua diam sejenak di sana, di bawah cakrawala yang indah, dikelilingi doa dan restu yang begitu besar, menyimpan janji cinta yang abadi untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!