NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 : KEMUNCULAN KI JAKA JAGAD

Embun pagi masih menempel lebat di ujung daun jati saat Bayu dan Karta melangkah menjauhi pinggir sungai. Jejak langkah mereka perlahan hilang tertutup dedaunan kering yang terhembus angin.

Di pundak Bayu terselip busur Sanghyang Rasa, senjata yang tak pernah ia salah gunakan; di pinggang Karta, pisau Sanghyang Waja berkilau samar setiap kali terkena pantulan cahaya matahari yang mulai menembus rimbunnya Wana Kelor.

“Kang, kita mau ke mana sekarang?” bisik Karta sambil menendang pelan batu kerikil di depannya.

“Kalau pulang ke kampung, takutnya pasukan Kadipaten sudah menunggu di sana. Kalau diam di sini, perut rasanya sudah keroncongan minta diisi.”

Bayu berhenti sejenak, menatap ke arah lembah yang terlihat samar dari balik pepohonan.

“Kita tak boleh pulang dulu. Adipati Rangga Sasmita pasti sudah mengamati setiap jalan masuk ke Cikabuyutan. Kita cari tempat persembunyian sementara di bukit sebelah sana, tempat yang hanya sedikit orang tahu.”

“Terus makan apa?” tanya Karta cemberut.

“Ubi rebus kemarin sudah habis, dan aku tak sempat mengambil cadangan di gubuk belakang rumah.”

Bayu tersenyum tipis. “Kita cari di hutan. Ada pisang hutan, umbi liar, dan air sungai yang jernih. Itu sudah cukup untuk sementara waktu.”

Mereka kembali melangkah, menjaga jarak dan selalu waspada terhadap suara sekecil apa pun. Sejak kejadian kemarin, udara di sekitar terasa berbeda. Seolah ada mata-mata yang mengintai dari balik setiap batang pohon, ada telinga yang menangkap setiap bisikan yang terucap. Nama “Pamanah Rasa” yang kini menjadi harapan rakyat, sekaligus menjadi tanda tanya besar bagi mereka yang berkuasa.

Di kejauhan, di sebuah persimpangan jalan yang tertutup semak belukar, sekelompok orang berdiri diam. Pakaian mereka lusuh namun tebal, wajah mereka tertutup kain atau topi lebar, hanya menyisakan mata yang menatap tajam ke segala arah.

Di tengah mereka berdiri seorang lelaki yang tampak lebih tua, bertubuh tegap, dengan jenggot hitam yang mulai memutih di ujungnya. Matanya tajam seperti elang, menatap lurus ke arah jalan yang baru saja dilewati Bayu dan Karta.

Itulah Ki Jaka Jagad. Pemimpin penyamun yang namanya jarang disebut namun sering membuat gempar wilayah pedalaman. Ia bukan sekadar perampok biasa; ia tahu cara membaca angin, tahu kapan harus menyerang dan kapan harus menghilang. Selama bertahun-tahun ia bergerak sendiri, tak tunduk pada raja maupun adipati, menganggap hukum hanyalah aturan buatan mereka yang punya kekuasaan.

“Jejak mereka baru saja lewat,” ucapnya pelan, suaranya berat dan bergetar rendah.

“Langkahnya ringan, namun berbekas kuat. Benar-benar orang yang tak biasa berjalan tanpa tujuan.”

Seorang anak buahnya mendekat, menunduk hormat. “Kita kejar sekarang, Tuan? Katanya dia membawa harta yang diambil dari konvoi Ki Surya. Mungkin masih tersisa banyak.”

Ki Jaka Jagad tertawa pendek, tawa yang tak menyiratkan kebahagiaan sedikit pun.

“Kejar? Untuk apa? Kau kira dia menyimpannya untuk dirinya sendiri? Kabar yang kudengar, semua dibagikan ke desa-desa. Tak sehelai benang pun ia bawa pulang.”

“Lalu kenapa kita mengawasinya?” tanya yang lain bingung.

“Karena dia bodoh,” jawab Ki Jaka Jagad dingin.

“Dia pikir kebaikan akan dilindungi semua orang. Dia pikir jika ia tidak menyakiti siapa pun, orang lain tak akan menyakitinya. Dunia ini tak bekerja begitu. Orang-orang berkuasa tak peduli niatmu baik atau buruk. Yang mereka pedulikan hanyalah siapa yang berani menentang mereka.”

Ia melangkah maju, menendang pelan ranting kering di kakinya. Bunyi patahannya terdengar nyaring di keheningan pagi.

“Dan orang bodoh ini justru memberi kita keuntungan besar,” sambungnya sambil tersenyum licik.

“Nama Pamanah Rasa kini sudah dikenal luas. Semua orang tahu dia berani melawan Kadipaten, berani mengambil kembali apa yang dirampas. Cukup bagi kita melakukan apa yang kita mau, lalu tinggalkan tanda yang mengarah padanya.”

“Maksudmu Ki?”

“Konvoi istana yang membawa pajak dari wilayah selatan akan lewat di sini lusa,” ucap Ki Jaka Jagad perlahan.

“Kita serang, kita ambil semuanya, dan di lokasi kejadian nanti kita tinggalkan satu anak panah berukir khas. Semua orang akan tahu siapa pelakunya.”

“Tapi bagaimana jika nanti ia membantah?”

“Siapa yang akan percaya?” Ki Jaka Jagad menoleh tajam.

“Rakyat sudah menganggapnya pahlawan. Pemerintah sudah menganggapnya penjahat. Kalau ada perampokan besar yang menggunakan namanya, mana yang akan lebih mudah dipercaya? Bahwa dia melakukannya, atau ada orang lain yang memanfaatkannya?”

Anak buahnya saling berpandangan, lalu perlahan tersenyum. Rencana itu terdengar menguntungkan sekaligus berbahaya, namun itulah yang selalu mereka cari.

Sementara itu Bayu dan Karta telah sampai di sebuah gua kecil di lereng bukit Cijambe. Tempat itu sejuk, terlindungi dari pandangan siapa pun, dan hanya bisa dicapai jika tahu jalan yang benar. Bayu meletakkan busurnya di atas batu datar, lalu duduk bersandar pada dinding gua yang lembap.

“Kang, kau dengar tak tadi?” tanya Karta tiba-tiba.

“Seperti ada suara orang berbicara di kejauhan, tapi tak terlihat siapa pun.”

Bayu mengangguk pelan. “Aku mendengarnya. Angin membawa suara yang tak biasa. Hati-hati Karta, kita tak sendirian di hutan ini.”

“Maksudnya ada binatang buas?”

“Bukan binatang,” jawab Bayu pelan.

“Melainkan manusia. Dan kadang manusia lebih berbahaya daripada harimau atau beruang.”

Karta mengerutkan kening, tangannya memegang gagang pisaunya erat.

“Kalau mereka berani mengganggu kita, aku beri pelajaran. Biar tahu rasa pisau Sanghyang Waja!”

“Jangan terburu-buru,” cegah Bayu.

“Kita belum tahu niat mereka. Jika mereka tak mengganggu, kita tak perlu mencari masalah. Tapi jika mereka berniat jahat, kita harus siap menjaga diri tanpa melanggar batas.”

Matahari mulai meninggi. Di Kadipaten Ciaruteun, Adipati Rangga Sasmita mondar-mandir di dalam pendopo. Wajahnya merah padam, tangannya berkali-kali meremas surat laporan yang baru saja diterima. Ki Wira Kusuma berdiri diam di hadapannya, wajah tegang namun tak berani bersuara lebih dulu.

“Lima gerobak hilang begitu saja?” bentak Adipati, suaranya menggelegar.

“Dua puluh prajurit tak mampu mengalahkan satu orang bertopeng? Apa gunanya kalian semua?”

“Orang itu memiliki kekuatan aneh, Tuanku,” jawab Ki Wira Kusuma hati-hati.

“Panahnya tak pernah meleset, namun tak ada yang mati. Hanya lumpuh sesaat. Seolah dia sengaja memberi peringatan tanpa menumpahkan darah.”

“Peringatan?” Adipati tertawa sinis.

“Itu bukan peringatan! Itu penghinaan terbuka! Dia pikir dia bisa mengatur semua ini sesuka hati? Dia pikir dia lebih berkuasa daripada saya?”

Ia menghentakkan kakinya ke lantai. “Cari dia! Ke mana pun dia pergi, temukan dia!"

"Tangkap hidup atau mati, tapi aku ingin melihat wajah aslinya! Aku ingin tahu siapa yang berani melawan perintahku!”

“Sudah diperintahkan, Gusti. Pasukan sedang menyisir setiap jalan masuk ke desa-desa. Namun sampai sekarang belum ada petunjuk pasti.”

“Perluas pencarian!” perintah Adipati tegas.

“Kirim utusan ke istana, katakan bahwa perampok bernama Pamanah Rasa ini mulai mengganggu jalur perdagangan dan pengiriman pajak. Minta bantuan pasukan istana. Biar raja sendiri yang tahu betapa berbahayanya orang ini!”

Di tempat lain, di dalam hutan yang lebih dalam, Ki Jaka Jagad duduk melingkar bersama anak buahnya di sekitar api unggun kecil. Di hadapannya tergeletak sebilah anak panah yang baru saja dibuat, bentuk dan ukirannya dibuat persis menyerupai ciri khas busur Sanghyang Rasa.

“Siapkan semuanya,” ucapnya tenang.

“Lusa saat konvoi lewat, serang dengan cepat. Ambil semua barang berharga, bakar sisa yang tak bisa dibawa, dan tinggalkan anak panah ini di tempat paling terlihat.”

“Lalu bagaimana dengan orang yang sebenarnya?” tanya salah satu anak buahnya.

“Biarkan dia yang disalahkan,” jawab Ki Jaka Jagad dingin.

“Biarkan dia dikejar istana dan dikejar rakyat yang keliru. Saat dia sudah terdesak dan tak punya tempat bersembunyi, barulah kita muncul. Saat itulah kita bisa memanfaatkannya atau menyingkirkannya sesuai kebutuhan.”

Malam mulai turun. Langit di atas Wana Kelor perlahan berubah menjadi gelap pekat, hanya diterangi cahaya remang bulan yang tersembunyi di balik awan. Bayu duduk di mulut gua, menatap ke arah kampung halamannya yang tak terlihat dari sana.

Hatinya terasa berat. Ia hanya ingin melindungi orang-orang yang tak berdaya, namun semakin ia berusaha, semakin banyak musuh yang muncul entah dari mana.

Karta duduk di sampingnya sambil mengunyah umbi panggang yang ia temukan. “Kang, kau tak tidur?”

“Belum,” jawab Bayu pelan.

“Pikiranku tak tenang. Seperti ada badai besar yang akan datang.”

“Kita hadapi saja nanti kalau sudah datang,” ucap Karta santai meski matanya tetap waspada.

“Yang penting sekarang perut kenyang, dan kita masih berdiri tegak. Kalau ada yang mau cari masalah, biar pisauku yang bicara duluan.”

Bayu menoleh sedikit, lalu tersenyum tipis melihat ketulusan sahabatnya itu. “Terima kasih Karta. Kau tak pernah bertanya kenapa, kau tak pernah ragu mengikuti.”

“Kang itu yang sudah menolongku berkali-kali,” jawab Karta sambil menggaruk kepala.

“Kalau Kakang yang baik saja dikejar-kejar, berarti ada yang salah dengan dunia ini. Aku tak akan pergi ke mana-mana.”

Angin malam berhembus kencang, menggoyangkan dedaunan di sekitar mereka. Jauh di kejauhan, terdengar suara tawa rendah yang hilang tertiup angin. Ki Jaka Jagad sudah menetapkan rencananya.

Jaring fitnah perlahan mulai teranyam. Dan tanpa disadari Bayu, perjalanannya yang penuh keadilan kini terancam terperangkap dalam jebakan yang dibuat oleh orang yang sama-sama dibenci penguasa, namun dengan niat yang jauh berbeda.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!