Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 25
Antika membuka halaman demi halaman majalah yang dibacanya. Ia merasa suntuk dan bosan. Akhirnya gadis berambut sepinggang itu memilih menonton televisi. Antika tanpa sengaja menekan channel yang tengah membahas tentang perilaku seorang kekasih yang setia atau tidak. Acara yang pembahasannya tentang alasan seorang pria tidak ingin hubungannya diketahui banyak orang.
"Jadi kalau cowok nggak mau hubungan asmaranya diketahui banyak orang itu salah satu alasannya karena dia malu punya pasangan yang nggak sesuai dengannya. Atauuuuu karena punya pacar yang lain? Ih, ngeri banget, sih." Antika terdiam. Pikiran nya kembali teringat tentang keraguan Aldri untuk melangsungkan resepsi mereka.
"Kenapa manyun sedih begitu?"
"Oh, enggak kok Bu. Cuma lagi nonton TV aja, tuh. Acara bincang-bincang. Bintang tamunya seorang paranormal. Hihihi." Antika cengingisan karena merasa lucu. Zaman sekarang masih juga percaya paranormal.
" Eh, malah tertawa. Nak tidak usah menonton hal seperti itu. Percuma dan tidak berguna. Justru akan menambah pikiran sehat menjadi berfikir negatif. Lebih baik juga dengarkan pengajian para ustad, ustadzah."
"Siap, Bu. Lagian kan aku cuma lagi bosen aja. Makanya nonton TV eh ketemunya acara ini." Antika pun mematikan televisinya dan fokus kepada Ibu mertuanya.
"Bu."
"Ada apa sayang? Kalau ada yang kamu pikirkan atau bingung tanya saja sama Ibu." Indira duduk di samping Antika.
"Jujur aja aku kepikiran tentang resepsi pernikahan." Indira terdiam. Ia berpikir bahwa Antika pasti kecewa karena Aldri tidak segera melaksanakannya.
" Tika Ibu minta maaf karena Aldri tidak segera melangsungkan resepsi pernikahan kalian. Tapi .,...."
"Bukan. Bukan. Bukan itu maksud aku, Bu."
"Lalu?"
"Begini. Aku nggak mau resepsi pernikahan kami dilaksanakan buru-buru. Biar aja sementara waktu kami bisa lebih dekat lagi Bu. Karena nggak tahu kenapa, aku ngerasa ada sesuatu yang buat hubungan kami nggak nyaman. Nggak tahu itu mungkin perasaanku aja."
" Tika apa kamu merasa Aldri tidak tulus mencintaimu?"
"Nggak, Bu. Sama sekali nggak begitu. Aku bisa ngerasain cinta itu. Cuma aku merasa Mas Aldri seperti mengkhawatirkan sesuatu. Apa terjadi sesuatu sama mas Aldri, Bu?"
" Tidak sayang. Mungkin saja saat ini Aldri merasa ragu mengumumkan pernikahan kalian Karena posisinya sebagai pemilik beberapa perusahaan. Pastinya setelah semua orang tahu tentang kalian. Maka akan ramai dibicarakan di media maupun mulut ke mulut banyak orang. Aldri khawatir kamu akan merasa tidak nyaman, Nak "
"Aku tahu itu Bu. Mas Aldri emang orang yang hebat. Dia pekerja keras dan punya kharisma. Pasti banyak wanita di luar sana yang mimpi jadi pasangannya." Antika menghela nafas.
"Kenapa Tika kok ngomongnya begitu?"
"Justru di pikiranku saat ini bukan aku alasan utamanya, Bu. Aku khawatir justru aku yang akan jadi beban. Karena aku nggak sebanding dengan Mas Aldri. Mas Aldri sosok pria yang hampir sempurna." Antika menunduk dan kedua tangannya memainkan jari-jari.
Ternyata Antika merasa tidak percaya diri. Syukurlah bukan karena dia tidak mencintai anakku.
Indira tersenyum. Tangan nya menggenggam kedua tangan Antika.
" Tika sebagai seorang ibu. Ibu sangat mengenal watak anak ibu. Ibu sangat memahami bagaimana perasaan Aldri kepadamu. Dia sangat mencintaimu, Nak. Tidak perduli apapun kondisinya, dia akan selalu mencintaimu. Bahkan kamu satu-satunya yang ingin ia nikahi. Aldri menerimamu apa adanya. Apa pun dirimu akan selalu dicintai Aldri."
Kedua mata Antika berkaca-kaca. " Terima kasih, Bu. Maafkan aku yang selalu membuat Ibu dan Mas Aldri khawatir.
"Bu, aku bukannya nggak percaya sama perasaan Mas Aldri hanya saja aku merasa insecure ama diriku sendiri. Tapi setelah mendengar apa yang ibu bilang, aku merasa bersalah karena ragu akan cinta kami. Maaf kan aku Bu." Antika memeluk Ibu mertuanya.
" Tidak apa-apa, Nak. Wajar merasa begitu karena memang kalian masih baru menikah. Dan sudah banyak ujian yang kalian lalui. Ibu yakin suatu saat pasti hubungan kalian akan semakin kuat." Indira mengusap punggung Antika.
" Aamiin Bu. Tapi untuk saat ini aku nggak buru-buru, Bu. Biar kami lebih dekat lagi. Kalau aku udah ngerasa benar-benar yakin. Maksud ku yakin untuk mengumumkan pernikahan kami. Baru aku akan minta resepsi kami segera dilaksanakan. Seenggaknya aku butuh waktu sebulan lagi. Nggak apa-apa kan Bu?"
"Apapun keputusan Tika, ibu pasti akan selalu mendukungnya."
Dalam perjalanan pulang Aldri masih memikirkan tentang pendapat Egi. Agar bisa menangkap pemuda brengsek yang menghancurkan masa depan Antika. Akan tetapi justru Aldri berpikir sebaliknya. Apakah mungkin si brengsek itu akan berani muncul setelah dia memilih kabur karena telah menodai Antika.
"Aargh! Brengsek. Kenapa aku malah takut? Kalau sampai pemuda itu mendengar kabar tentang kami. Dan bagaimana kalau dia memilih merusak semuanya dengan membeberkan apa yang sudah terjadi pada Antika. Brengsek!" Aldri memukul setir mobilnya.
Aldri menepikan mobilnya. Ia menempelkan keningnya di atas kedua tangannya yang memegang setir mobil. Perasaan nya sungguh kalut.
"Seandainya semua itu terjadi apa tidak akan mampu menerimanya, atau justru sebaliknya? Tidak! Aku sama sekali tidak bisa membayangkan kalau kami harus melewati masa itu lagi. Saat Tika memilih bunuh diri. Astagfirullah."
Aldri membentur membenturkan keningnya pada setir mobil. Ia akhirnya bersandar pada jok mobil dan menengadahkan kepalanya dan menghela nafas dengan keras.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika tidak melaksanakan resepsi, Tika akan berpikir aku tidak mencintainya. Kalau kulaksanakan resepsi, aku tidak bisa membayangkan seandainya pemuda itu datang. Ya Allah aku harus bagaimana sekarang?"
Setelah beberapa saat Aldri kembali menyetir mobilnya menuju rumah. Meskipun pikirannya masih ragu-ragu, ia memutuskan dan memantapkan hati memilih melaksanakan resepsi. Ia akan memberitahu Antika dan ibunya.
Usai makan malam Aldri memilih masuk ke kamar dan menunggu Antika di kamar mereka. Indira memahami sesuatu. Maka wanita itu meminta Antika meninggalkan pekerjaan yang sedang ia lakukan. Indira meminta Antika untuk menemani Aldri.
Aldri tengah menatap langit ketika Antika masuk ke dalam kamar. Pria itu bergeming. Seperti nya karena selalu banyak yang dipikirkan saat ini membuat Aldri tak menyadari keberadaan Antika hingga saat gadis itu memeluknya dari belakang. Aldri akhirnya tersadar dari lamunannya.
Antika memeluk Aldri dari belakang. Kepalanya menempel di punggung suaminya. Ia memejamkan mata sejenak menikmati kehangatan tubuh suaminya.
"Tika. Sejak kapan kamu masuk?"
"Sejak wajah tampan suamiku memandang selain istrinya."
Aldri tersenyum. "Maaf." Tubuhnya berbalik dan memeluk Antika.
Mereka menikmati pelukan hangat itu. Sesaat seolah-olah masalah pergi begitu saja dari alam bawah sadar mereka. Ternyata benar apa kata para intelek yang mengatakan bahwa sebuah pelukan sebagai obat mujarab saat hati gelisah.
"Darling pasti mikirin soal resepsi kan? Sebaiknya nggak usah dilaksanakan dulu."
"Hah???"