Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan dengan sahabatnya, Vanessa. Bahkan mereka sudah memiliki anak dari hubungan gelap itu.
Namun di tengah rasa sakit itu, ayah mertuanya memberikan kehangatan yang tak bisa ia tolak. Membuat Luna memutuskan untuk melepaskan status istri dan menjadi ibu tiri dari mantan suaminya.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang terlupakan 2
Hujan deras membawa petir pada suatu malam, membuat malam terasa semakin mencekam. Di dalam kamar hotel mewah seorang gadis muda berada dalam kegugupan bercampur rasa takut. Keringat dingin sudah membasahi pelipisnya.
Tubuhnya terkurung di bawah tubuh kekar seorang pria yang usianya lebih dewasa darinya. Gadis itu adalah Luna yang masih berumur delapan belas tahun. Dirinya baru saja lulus sekolah beberapa hari.
"Buka semua pakaianmu."
Luna menggeleng sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Buka sendiri atau aku paksa?"
"Tolong jangan. A-ku belum siap."
"Cih!"
Luna tersentak saat tangannya disingkirkan oleh pria yang ada di atasnya. Dirinya tak bisa berkutik saat kedua tangannya dicengkeraman oleh pria itu dan meletakkannya di atas kepalanya.
"Kalau belum siap kenapa berani datang ke sini gadis kecil?"
"A-ku terpaksa."
"Munafik! Ingin mempermainkanku, mm?"
Luna kembali menggeleng.
"Sebenarnya ibuku berada di rumah sakit. Aku butuh uang untuk biaya pengobatannya."
Air mata Luna mengalir deras. Kegelisahan bertambah di bawah tekanan pria itu dan juga mengingat kesehatan sang ibu.
"Berapa uang yang kamu butuhkan?"
"Se-seratus juta."
Luna melihat senyuman tipis di bibir pria itu, semakin membuat Luna ketakutan hingga menangis sesegukan.
"Don't cry, Bebe."
Luna menatap pria itu dengan matanya yang basah. Ketakutannya tiba-tiba memudar saat merasakan usapan lembut di pipinya.
"Aku akan memberikan dua kali lipat. Tapi … ada syaratnya."
Luna yang tadinya merasa bersyukur kembali terisak. Tidak mungkin pula, pria itu memberinya uang secara cuma-cuma. Namun demi ibunya, Luna mencoba untuk kuat dan terima apa pun syarat dari pria itu. Ia segera mengusap air matanya dan menatap pria itu.
"Aku tahu apa yang kamu mau. Tapi tolong jangan malam ini. Ibuku harus segera di operasi."
Pria itu mengangguk. "Aku butuh jaminan darimu."
"Apa?"
Pria itu menyeringai membuat tubuh Luna merinding.
Luna menggigit bibir bawahnya saat pria itu menurunkan dressnya hingga dadanya nyaris terlihat.
"Kamu mau apa?"
"Memberikan tanda kepemilikanku."
"Apa maksudmu?"
Luna melihat pria itu menempelkan bibirnya di dadanya. Namun detik berikutnya …
"Ah!"
Luna terkejut saat pria itu tiba-tiba menghisap dadanya.
"Ini tandanya." Pria itu menyentuh tanda merah keunguan di dada Luna dengan lembut.
Luna pikir pria itu hanya memberikan kissmark di dadanya. Rupanya ada hal lain yang dilakukan oleh pria. Ia terkejut saat tangan pria itu masuk ke dalam balik pakaian yang ia pakai lalu mengusap perutnya. Sesaat kemudian Luna mencengkeram seprei putih di bawahnya saat merasakan sesuatu di area intinya.
Luna tak tahu apa yang sedang dilakukan oleh pria itu. Rasanya begitu aneh, tetapi mampu membuat tubuhnya rileks. Sesaat kemudian tanpa sadar ia mendesah saat merasakan sesuatu yang keluar dari inti tubuhnya.
DRRTTT …
Luna terbangun dari tidurnya saat suara dering ponselnya memenuhi ruangan. Dengan mata yang masih setengah terpejam, ia mencoba meraih ponselnya yang ada di meja nakas.
Luna lalu membawa benda pipih itu ke dekat wajahnya. Lampu layar menyorot tepat di wajahnya. Luna mengucek mata dengan punggung tangannya, berkedip beberapa kali agar penglihatannya bisa beradaptasi dengan cahaya di dalam ruangan itu.
Setelah matanya terbuka dengan sempurna, Luna melihat ada nama Arumi di layar ponselnya. Saat akan menerimanya, panggilannya berakhir begitu saja. Luna lantas balik menghubungi Arumi.
Dalam satu kali percobaan, Arumi langsung menerima panggilannya.
"Halo, Arumi."
"Luna, are you oke?"
Luna mengangguk meskipun Arumi tidak melihatnya secara langsung.
"Ya, aku baik-baik saja."
"Syukurlah, Luna. Aku takut terjadi sesuatu padamu."
"Suamimu benar-benar keterlaluan. Untung ada ayah mertuamu."
"Ya, ayah mertuaku memang sangat baik padaku."
"Ck, sayang sekali aku sudah memiliki suami. Jika belum aku akan mengejarnya. Ayah mertuamu benar-benar gagah, tampan, kaya lagi."
"Arumi ..."
Luna mendengar tawa Arumi dari seberang sana.
"Aku hanya bercanda."
"Aku benar-benar mencemaskanmu. Tapi syukurlah jika kamu baik-baik saja."
"Terima kasih sudah mencemaskanku."
"Ck, kamu bicara apa. Kamu tidak ingat jika kita ini bestfriend forever."
Luna kembali tertawa kecil mendengar ucapan Arumi. Ia ingat kata itu yang selalu mereka ucapkan jika sedang berkumpul.
"Oh iya, Luna. Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Baiklah, katakan saja."
"Tidak di telepon, Luna. Ini sangat serius. Jadi kita harus bertemu secara langsung."
Luna diam, tidak langsung menjawab pertanyaan Arumi, seolah mempertimbangkan sesuatu.
"Luna …"
"Apa begitu serius?"
"Mungkin lebih dari apa yang kamu bayangkan."
Kening Luna mengerut. Rasa penasaran mulai merayap di dadanya.
"Baiklah, kirim saja lokasinya. Aku akan ke sana."
"Kita bertemu di cafe langganan kita dulu. Jam tiga sore."
"Baiklah. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa, Luna."
Sambungan telepon pun berakhir.
Luna kembali meletakan ponselnya di meja nakas lalu menarik satu bantal dan meletakkannya di atas pengakuannya. Setelahnya ia menghela napas panjang sebelum menyadarkan tubuhnya sejenak.
Pandangannya mengarah pada jam yang tergantung di dinding kamar itu. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Masih ada beberapa jam lagi untuk bertemu dengan Arumi.
Untuk sesaat Luna terdiam sambil mengingat kejadian tengah malam tadi. Jantungnya kembali berdetak sangat kuat saat mengingat betapa dekat dirinya dengan ayah mertuanya.
Luna lantas menyentuh lehernya. Tubuhnya kembali dibuat merinding mengingat ayah mertuanya memberikan kecupan di sana. Ia tahu itu salah, tapi tubuhnya berkhianat.
"Ini gila, Luna," gumam Luna. "Bagaimana bisa kamu bersama … ayah mertuamu."
Luna seperti kehilangan akal jika mengingat semua tentang Bara. Namun ada satu hal yang masih membuatnya merasa penasaran, sebenarnya janji apa yang pernah ia berikan pada ayah mertuanya dan kapan?
Ingatannya tiba-tiba membawanya kembali ke mimpi sebelumnya. Di mana saat ia baru lulus SMA ia pernah berniat menjual diri demi mendapatkan biaya untuk operasi ibunya.
Saat mendapatkan pelanggan pertamanya, ia justru ketakutan. Namun siapa sangka ia justru bertemu dengan laki-laki baik yang memberinya uang dua kali lipat dari yang ia butuhkan.
Luna lalu menyentuh dadanya. Ia ingat pria itu memberinya tanda di bagian itu. Tanpa sadar Luna mengigit bibirnya bawahnya saat ia teringat pria itu membuatnya melayang hanya dengan permainan tangan dan lidahnya. Itulah adalah pertama kalinya Luna mendapatkan sebuah pelepasan.
"Ya Tuhan." Luna membelalakan matanya. "Jangan-jangan—"
"Ah tidak mungkin?"
Luna kembali mengingat-ingat kejadian selanjutnya pada malam itu. Setelah pria itu memberinya uang, dirinya mengucapkan sebuah janji.
"Terima kasih. Aku janji setelah operasi ibuku berjalan lancar dan ibuku sembuh … aku akan kembali ke sini. Kamu bisa memiliku seutuhnya."
Luna melihat pria itu mengangguk pelan lantas menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel sepenuhnya.
"You're mine, Bebe."
Luna memejamkan mata saat pria itu mengecup keningnya dalam waktu cukup lama. Waktu itu Luna benar-benar merasakan kehangatan mengalir di sejujurnya tubuhnya. Kehangatan yang ia inginkan justru datang dari orang asing.
Luna lantas turun dari tempat tidur, berjalan mondar-mandir sambil mengigit ujung kukunya. Jantungnya berdetak tak karuan, jika benar pria pada malam itu adalah Bara.
"Ya Tuhan, bagaimana jika itu benar Papa?"
mereka ayah dan anak ga sih aku curigooong kaya tom and Jerry ga akur