Di hari pertama masuk kerja di sebuah perusahaan besar tanpa sengaja di tengah jalan menuju perusahaan Safira menabrak sebuah mobil mewah. Karena terburu-buru Safira hanya bisa meminta maaf dan memberikan nomor ponselnya agar dia bisa ganti rugi.
Dan ketika Safira tiba di rumah pria tampan pemilik mobil itu, Safira tidak mampu membayar biaya perbaikan mobil yang terbilang sangat mahal baginya.
"Kebetulan saat ini saya sedang kekurangan pembantu. Jika kamu mau saya bisa membayarmu 10 juta perbulan."
Tawaran seperti itu, bisakah Safira menolak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Libur Jadi Pembantu
‘Tok... tok... tok...’
Safira mengetuk pintu kamar Amar.
“Masuk.” Terdengar suara dari dalam ruangan.
Safira membuka pintu dan menarik koper itu ke dalam kamar. Dia melihat Amar mengenakan baju tidur abu-abu sedang mengusap rambutnya dengan handuk.
“Tunggu sebentar! Aku akan membantumu mengeringkan rambutmu,” kata Safira berlari menuju lemari kecil dan mengeluarkan pengering rambut dari dalam laci.
Safira mencolokkan kabel dengan listrik, lalu berbalik memanggil Amar. “Kemarilah,” kata Safira menepuk sofa di depannya.
Amar mendengarkan perintah Safira berjalan dan duduk di sofa. Safira mulai menyalakan pengering rambut, mengeceknya dengan tangannya, lalu mengarahkannya pada rambut Amar.
Safira menggerakkan pengering rambut sambil mengusap rambut Amar dengan pelan. Dia bisa merasakan rambut Amar terasa sangat lembut dan lebat.
Amar membiarkan Safira bermain dengan rambutnya. Dia mengangkat wajahnya dan melihat pantulan keduanya pada cermin besar di pintu lemari.
Amar terpesona melihat bayangan keduanya di cermin.
“Selesai,” ucap Safira dan mematikan pengering rambut, ingin menyimpannya kembali ke tempat semula. Safira berdiri menyamping, jadi dia tidak melihat cermin di depan keduanya.
Safira yang sibuk tidak memperhatikan Amar yang terus menatap cermin mengamati perilakunya.
“Aku sudah memasukkan semua pakaianmu ke dalam koper,” katanya menarik koper ke sebelah Amar. “Apa masih ada yang perlu aku lakukan?” tanyanya.
“Tidak ada. Kamu bisa istirahat,” jawab Amar.
“Baiklah. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa memanggilku. Selamat malam.”
“Em. Selamat malam.”
Safira lalu berjalan keluar dari kamar Amar, tidak lupa menutup pintu untuknya, dan kembali ke kamarnya sendiri.
°°°°°
Keesokan harinya, Safira berangkat ke perusahaan menggunakan motor lamanya. Dia akan kembali menemui orang tuanya mumpung Amar sedang pergi dan memberinya hari libur.
Tiba di perusahaan, Safira berpapasan dengan teman kantornya, Firly.
“Tumben banget kamu naik motor. Bukannya kemarin-kemarin kamu naik mobil?” tanya Firly basa-basi.
“Aku lagi ingin naik motor aja,” jawab Safira asal-asalan.
“Eh, kamu lihat dia. Dia masuk perusahaan sehari lebih lambat dari kita. Tapi dia bisa langsung jadi sekretaris direktur R&D. Kamu tahu, direktur R&D itu adalah anak presiden,” bisik Firly.
Safira mengikuti tatapan Firly dan melihat Arini yang sedang menunggu lift. Safira tidak tahu kalau Arini sebenarnya juga bekerja di perusahaan ini.
Kenapa dia tidak pernah memberitahunya? Safira bertanya dalam hati.
“Dengar-dengar katanya dia punya hubungan sama anak presiden. Jangan-jangan dia masuk perusahaan lewat pintu belakang!” sambung Firly.
“Dari mana kamu tahu?” tanya Safira.
“Aku punya mata-mata di sana. Dan kamu juga tahu orang itu. Jadi pasti beritanya sangat akurat!”
“Siapa?”
“Yudi. Yang masuk bersamaan dengan kita,” jelas Firly.
Keduanya sudah tiba di depan lift.
Arini yang melihat kedatangan Safira segera tersenyum menyapanya. “Hai, Safira. Selamat pagi.”
“Selamat pagi,” balas Safira sedikit terasing.
Melihat perubahan Safira yang menjadi terasing darinya membuat Arini merasa dirugikan. Safira pasti masih marah atas kejadian kemarin.
Firly yang berdiri di samping Safira terkejut melihat keduanya ternyata saling mengenal.
Pintu lift terbuka, Safira segera masuk dan menekan tombol lantai 6, Firly segera mengikuti, Arini juga ikut masuk dan menekan tombol lantai 9. Arini ingin berbicara dengan Safira, tapi merasa tidak enak karena ada orang lain dalam lift selain mereka berdua.
Tiba di lantai 6, pintu lift terbuka, Safira keluar dari lift diikuti oleh Firly.
“Kalian ternyata saling kenal. Kenapa kamu tidak memberitahuku?” tanya Firly berjalan berdampingan dengan Safira menjauh dari lift.
“Kamu tidak bertanya.” Safira berkata dengan datar.
Firly merengut kesal mendengar jawaban Safira. “Apa kalian musuhan?” tanyanya lagi.
“Tidak.”
“Tapi, aku melihat kalian sepertinya tidak akur.”
“Jangan pikirkan itu. Lihat direktur ada di sini,” kata Safira mengalihkan perhatian sekalian mengingatkan Firly.
Firly segera berhenti dan melihat ke depan dan memang benar direktur sepertinya sedang mencari mereka.
Safira dan Firly menyapa pak Direktur dan mendengarkan arahannya. Setelah itu mereka segera melaksanakan perintah direktur.
Safira sibuk seharian mengerjakan dokumen yang diminta direktur. Untungnya dia bisa menyelesaikannya tepat waktu dan tidak ada masalah.
Senang, Safira mengendarai motornya menuju kediaman Mahendra.
°°°°°
“Ibu, Safira pulang!” teriak Safira melihat ibunya sedang menurunkan jemuran.
Ibu Kamila terkejut mendengar suara putrinya. Safira berlari dan memeluk ibunya. “Bu, aku merindukanmu,” katanya pada ibunya.
“Kamu terlihat kurus. Apa kamu tidak makan dengan baik di sana? Atau pekerjaan kamu terlalu berat?” tanya bu Kamila sambil mengamati Safira dari atas ke bawah.
“Aku tidak kurus, Bu. Malah aku merasa berat badanku semakin bertambah,” ucap Safira bertingkah imut.
“Oke, oke. Ayo masuk. Kamu pasti lelah. Kebetulan kamu pulang hari ini, Ibu tadi membeli ikan gabus di pasar. Ibu akan membuat ikan gabus bakar kuah santan untukmu.” Bu Kamila berkata sambil mengambil keranjang jemuran untuk membawanya ke dalam rumah.
“Benarkah! Ibu sungguh yang terbaik! Sini Bu, biar aku yang membawanya,” kata Safira sambil merebut keranjang dari tangan ibunya.
Safira membantu ibunya membawa keranjang ke tempat setrikaan. Dia ingin membantu ibunya menyetrika pakaian, tapi ibu menolak dan menyuruh Safira untuk berganti pakaian dan beristirahat.
Safira mendengarkan perkataan ibunya kembali ke kamarnya dan berganti pakaian. Dia lalu kembali menemui ibunya dan membantunya melipat pakaian.
Sementara menyetrika dan melipat pakaian, bu Kamila bertanya tentang pekerjaan Safira. Safira menjawab pertanyaan ibunya dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Selesai menyetrika dan melipat pakaian, kedua ibu dan anak menuju dapur yang digunakan khusus untuk pelayan. Safira membantu ibunya memasak makan malam. 1 jam kemudian makan malam sederhana buatan Safira dan bu Kamila siap.
Saat semua hidangan sudah diletakkan di atas meja makan, ayah Safira pak Lukman yang baru saja selesai mencuci mobil masuk ke rumah.
“Wah, harum sekali apa yang kamu masak?” tanya pak Lukman mencium bau makanan.
“Ibu membuat ikan gabus bakar kuah santan. Ayah ayo kita makan bersama,” jawab Safira.
“Kapan kamu datang, Nak?” tanya pak Lukman terkejut melihat Safira.
“Aku baru saja kembali tadi.”
“Bagaimana pekerjaan kamu? Bukankah kamu bilang kamu bekerja hingga malam?” Pak Lukman berjalan ke meja makan dan duduk.
“Ah, bos memberiku libur selama 6 hari. Jadi aku akan tetap tinggal di sini selama 6 hari ke depan.” Safira menjawab sambil menyendok nasi ke dalam piring ayahnya.
Ketiga anggota keluarga itu menikmati makan malam mereka bersama.
Beberapa saat setelah makan malam, Safira menuju kamar mandi kebetulan bertemu Arini yang keluar dari kamar mandi baru saja selesai mandi.
“Safira, apa kamu masih marah karena aku menjadi pacar Aditya?” tanya Arini yang melihat Safira di depan kamar mandi.
“Buat apa aku marah. Bukankah aku sudah memberitahumu waktu itu?” ujar Safira.
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak membalas pesanku? Dan tadi di perusahaan kamu sepertinya menghindariku.”
“Aku sibuk. Jadi tidak sempat melihat pesanmu," elak Safira.
“Benarkah, kamu sungguh tidak marah? Apa kita masih tetap bersahabat. Bagaimana kalau kita pergi menonton bioskop bersama? Bukankah film yang kamu tunggu-tunggu telah tayang. Kebetulan malam ini Aditya akan membawaku menonton bioskop. Ayo kita pergi bersama?” ajak Arini.
“Arini, apa sih yang sebenarnya kamu inginkan?! Kamu tahu aku menyukai Aditya sejak lama. Aku selalu curhat padamu selama ini. Dan bodohnya aku menceritakan semuanya padamu. Aku menyukainya, tapi justru kamu yang menjadi pacarnya!” Teriak Safira kesal mendengar ucapan Arini.
“Aku ... aku juga menyukai Aditya. Maaf, Safira. Aku tidak bisa menolak saat Aditya memintaku jadi pacarnya, walau aku mengetahui kamu juga menyukainya, aku tidak bisa menolaknya. Kita berdua sama-sama mencintai Aditya. Terserah Aditya siapa yang dia pilih,” ucap Arini dengan mata memerah.
Safira semakin kesal dan marah mendengar ucapan Arini. “Jadi kamu ingin pamer ke aku kalau Aditya lebih memilih kamu daripada aku! Aku nggak nyangka bakal ditikung sama sahabat sendiri!”
Air mata Arini langsung jatuh, ini pertama kalinya Safira berbicara keras padanya.
kasian itu
♥️♥️♥️♥️
Suka banget cerita kayak gini, tentang CEO konglomerat yang baik hati dan nggak angkuh.
ayo ajukan kontrak...
agar mkn bnyak pembaca..