Untuk mengukuhkan kerja sama dan persahabatan yang sudah terjalin cukup lama, Bara dan Elang menjodohkannya anak sulung mereka, Nathan dan Zea. Namun, pada kenyataannya, justru Zio-putra ketiga Baralah yang akhirnya menikahi Zea. Kok bisa?
"Gue bakal tanggung jawab, lo nggak usah nangis lagi," ucap Zio.
"Aku nggak butuh tanggung jawab kamu, pergi!" usir Zea.
Zio berdecak, "terus, lo mau abang gue yang tanggung jawab? Itu benih gue! gue yang bakal tanggung jawab!"
Tangis Zea semakin pecah," semua gara-gara kamu, aku benci kamu Zio!"
"Bukannya lo emang udah benci sama gue?"
" Aku makin benci sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embunpagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Zea merasa tak nyaman pada tubuhnya yang entah di sebabkan oleh apa, ia tak tahu. Ia merasakan sensasi panas yang aneh, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya, darahnya mengalir ke bawah bagian intinya. Sungguh, Zea merasa salah tingkah melihat Zayn, ada rasa ingin di sentuh pria itu.
"Ze...." panggilan Zio membuat Zea semakin gelisah tanpa sebab.
Zea tidak tahu lagi harus bagaimana, mendadak libidonya meningkat. Apa karena terlalu rindu dengan Nathan hingga melihat Zio saja rasanya ia bernafsu sekali. Padahal dengan Nathan ia juga tak pernah melakukan kontak fisik lebih dari pelukan. Nathan menghargainya sebagai wanita. Tak pernah berbuat aneh-aneh pada Zea.
Tepukan di bahunya membuat Zea berjengit kaget, aroma cologne yang menempel di badan Zio semakin menaikkan gairahnya.
Gila! Zea benar-benar merasa dirinya sudah gila.
Rasa gerah dan panas akibat gairahnya yang naik, membuat Zea semakin tak tahan. Ia menyambar saja minuman yang di bawa pelayan dan meminumnya hingga tandas. Meski rasa minuman itu aneh, ia tak peduli yang penting bisa mendinginkan pikirannya.
"Duh, panas sekali di sini, yo!" ucap Zea. Nadanya sudah tidak biasa tentunya. Ia ingin minum lagi dengan memanggil pelayan.
"Cukup Ze!" cegah Zio menahan gelas di tangan Zea. Zea tentu saja kesal. Zea langsung menarik tangannya yang di sentuh Zio karena itu membuatnya semakin merasa gila. Darahnya berdesir hingga ke intinya.
"Kita pulang sekarang!" Zio menarik tangan Zea. Tak peduli gadis itu meronta minta tangannya di lepaskan.
"Gas, gue balik dulu! Tolong lo urus mobil gue!" Zio memberikan kunci mobilnya pada Agas.
Agas hanya menerima kunci itu tanpa banyak bertanya. Namun, sorot matanya terlalu jelas mengatakan sesuatu kepada Zio. Namun, Zio seperti sengaja menghindari tatapan Agas.
Zio menarik Zea keluar dari tempat itu, "Kunci mobil, lo!" ucapnya meminta kunci mobil milik Zea.
Zea yang sudah mulai linglung, hanya mengernyitkan keningnya, "Jangan, ini mobil aku! Kamu punya sendiri, kan?" rancaunya.
Zio mendengus, ia memaksa mengambil sendiri ke dalam tas milik Zea.
"Masuk!" titah Zio dan Zea hanya manut saja. Di susul oleh Zio yang masuk ke belakang kemudi.
Mobil melaju meninggalkan club malam itu.
Suasana di dalam mobil hening tanpa adanya percakapan antara dua anak manusia tersebut. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Zio hanya menatap lurus ke depan, terlihat sekali ia sedang memikirkan suatu hal yang cukup berat. Sementara Zea, sibuk sendiri menggeliat gelisah karena bukannya turun, tapi libidonya malah semakin menjadi. Di tambah pengaruh minuman beralkohol yang ia minum begitu saja tadi tanpa tahu itu apa, membuatnya semakin tak bisa berpikir normal sekarang.
Zea menoleh, melihat jakun Zio yang naik turun karena menelan saliva, pikirannya semakin liar saja. Jauh di dalam hatinya, ia merutuki pikirannya yang tak ubahnya seorang ja-lang. Tapi, sekuat apapun ia mencoba menepis, hasratnya tak hisa teredam.
"Kita mau kemana, yo?" tanya Zea akhirnya.
Zio menoleh, "Lo ngapain?" bukannya menjawab, Zio malah balik bertanya. Pasalnya kini Zea sedang berusaha melepas blazer yang ia kenakan dan hanya menyisakan atasan serupa tanktop yang melekat di tubuhnya.
"Panas banget, yo!" ucap Zea yang sudah tak peduli lagi akan keberadaan Zio di sana sebagai laki-laki.
Zio menghentikan mobilnya, ia mengambil blazer milik Zea yang di lempar ke dasbor mobil oleh wanita itu lalu ia gunakan buat menutupi dada Zea yang terlihat menantang di matanya.
"Apaaan sih, yo? Gerah banget!" Zea hendak menepis tangan Zio yang berusaha menutup dadanya. Zio menoleh, pandangannya dan Zea bertemu. Melihat wajah Zea yang sudah sangat sayu dengan jarak sangat dekat, bahkan napas wanita itu kini menerpa wajahnya dengan sangat jelas, membuat Zio hampir saja ikut hilang kendali. Ia menelan salivanya lalu memilih untuk kembali duduk dengan benar di belakang kemudi. Namun, hal tak terduga, Zea mencegahnya. Zio bertanya dengan sorot matanya. Zea yang sudah di kuasai hawa nap su langsung mencium bibir Zio dengan rakus.
Zio awalnya hanya diam mematung
Mendapat serangan mendadak dari Zea tersebut. Tangannya berusaha melepas tangan Zea yang sudah melingkar di tengkuknya namun gadis itu tak mau melepaskannya. Pada akhirnya, Zio tak sanggup menolak, ia mulai membalas ciuman Zea dengan lembut.
Cukup lama ciuman itu terjadi hingga Zea melepas pagutannya dan Zio hanya membiarkannya saja.
Sambil mengatur napas dan detak jantungnya yang tak beraturan, Zio kembali melajukan mobilnya.
Zea terus saja merancau tak jelas. Ia bahkan kini berusaha melepas tanktopnya. Zio langsung mencegahnya, "Jangan aneh-aneh, Ze!" ucapnya. Sebagai laki-laki normal, tentu saja pemandangan indah itu berhasil membangunkan gairahnya.
Zea menoleh, "Ini mau kemana?" tanyanya.
Zio tak menjawab. Ia membelokkan mobil ke sebuah penginapan, "Gue nggak mungkin bawa lo pulang dalam keadaan begini," ucapnya.
Zea mengangguk setuju saja dalam ketidaksadarannya. Masih ada sedikit kesadaran yang membuatnya takut jika pulang kerumah dan orang tuanya mendapatinya dalam keadaan seperti ini.
Zio menghentikan mobilnya di parkiran lalu keluar dan mengitari bagian depan mobil untuk membuka pintu mobil untuk Zea. Sebelum ia mengajak gadis itu turun dari mobil, Zio memaksa memakaikan blazer gadis itu terlebih dahulu.
Penginapan itu memang bebas untuk siapa saja tanpa harus menunjukkan bukti untuk pasangan sah. Setelah mendapat kunci kamar, Zio membawa Zea ke kamar tersebut.
Sampai di kamar, Zea langsung melepas blazernya kembali. Ia berjalan mendekati Zio yang sedang mengunci pintu. Begitu Zio memutar badannya, Zea berdiri di depannya dengan tatapan sayu yang sangat menggoda.
Zio menghindar dengan menggeser badannya dan berjalan menuju ranjang. Ia duduk di tepi ranjang tersebut. Beberapa kali ia menghela napas dalam-dalam. Saat mendongak, ia sudah tak melihat Zea di depannya.
"Kemana, dia?" gumamnya lalu ia mendengar suara dari kamar mandi yang ada di kamar tersebut. Zio sengaja memilih kamar VVIP di penginapan tersebut sehingga fasilitas di dalamnya tak kalah dengan hotel mewah.
Zio mendekati kamar mandi, ia penasaran dengan apa yang sedang gadis itu lakukan di sana. Zea terlihat sudah menanggalkan pakaiannya. Gadis itu bergerak gelisah di bawah shower.
Melihat Zio datang, Zea seakan sudah tak ada rasa malu lagi. Zio mengambil handuk dan mematikan shower. Menutup tubuh Zea dengan handuk dan mengajaknya keluar dari sana.
"Panas banget, yo. Nggak tahan. Rasanya aneh sekali!" keluh Zea.
Zio menghentikan langkahnya, ia membuka kemejanya yang basah dan kembali memapah Zea.
Jalannya saja sempoyongan jika tak di papah Zio. Zea lalu mengerling dan tersenyum, "Abang, tahu nggak aku rindu, kangen banget sama abang. Akhirnya abang di sini," rancaunya lalu memeluk erat pinggang Zio.
"Gue Zio, bukan Nathan!" ucap Zio sedikit ketus.
Zea tak peduli jawaban Zio. Ia mengendus dada pria tersebut. Aroma cologne pria tersebut benar-benar membuat darahnya berdesir hingga ke intinya. Tanpa sadar, Zea mende-sah.
Sampai di tepi ranjang, mereka berhenti. Zio kemudian menatap lekat gadis yang hanya memakai handuk tersebut. Di usapnya wajah Zea yang mengerjap-ngerjap dengan manja itu dengan sangat lembut, "Kenapa lo benci sama gue, Ze? Seburuk itu gue di mata lo? Kenapa lo malah milih abang gue? Gue...." Zio tak melanjutkan kalimatnya karena bibirnya sudah di lu-mat oleh Zea yang memang sudah kehilangan akal sehatnya.
Zio melepas paksa ciuman Zea. Zea malah mendorongnya hingga terjengkang ke ranjang laku ia naik ke atas tubuh Zio dan mulai menyentuh dada pria tersebut.
"Ze...." Zio memegang tangan Zea yang bermain di dadanya penuh nap-su.
Ia menatap lekat wajah cantik yang kini mengiba seolah minta untuk di sentuh tersebut," Yo, tolongin aku. Aku udah nggak tahan. Rasanya aneh, dari tadi benar-benar nggak tahan, tolongin aku!" mohon Zea. Ia berusaha kembali memagut bibir Zio, namun pria itu menahannya.
Zio menangkup wajah Zea," Apapun yang terjadi, lo nggak boleh menyesal. Lo harus ingat, gue lakuin ini bukan karena gue benci sama lo... "ucapnya lembut. Zea hanya mengangguk saja tanpa sadar.
Zio memutar tubuh Zea hingga gadis itu kini berada di bawa kungkungannya. Ragu-ragu Zio melakukannya, ia mulai menempelkan bibirnya di bibir Zea,"Maafin gue, Ze...." batin Zio.
...----------------...
hampir tiap hari nyari2 notif barangkali nyempil /Sleep//Sleep//Sleep/
ternyata hari ini kesampaian juga
makasih kak author
sehat" selalu 😘
🌸🏵️🌼 tetap semangat 💪
Zio cinta Zea tapi Zea tunangan dgn Nathan, kakaknya Zio. Karena suatu hal, Zio tidur dengan Zea akhirnya mereka menikah.
alhamdulillah semoga terus lanjut ya kka smpai tamat...
di tunggu up beriktnyaa