Aneuly Priliana (18) sejak kecil ia hanya tinggal dengan nenek nya, namun semenjak nenek nya meninggal ia harus tinggal di panti asuhan, ia sekolah memakai uang beasiswa dan uang hasil kerja paruh waktunya untuk menyambuh hidupnya.
Setelah lulus sekolah menengah atas, ia lebih memilih bekerja sebagai baby sister keponakan sahabatnya, yang ternyata menaruh hati pada Aneuly sejak mereka bersahabat.
Selama bekerja Aneuly tergoda oleh Duda Tampan, Ayah dari ketiga anak asuhnya.
Darendra Maximillan (27) Pria tampan yang sudah mempunyai tiga anak kembar ini, Mulai jatuh cinta pada gadis yang di cintai adiknya sendiri, gadis yang juga menjadi baby sister anak nya.
Namun Daren mati - matian berusaha mengelak rasa suka pada gadis bernama Aneuly itu. Tapi Ketiga anak nya sangat dekat dengan Aneuly dari pada dengan dirinya.
"Aku seperti mempunyai 4 orang anak, mereka semua sangat manja," gerutu Aneuly kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitryas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DLM II Eps 10
Dengan raut wajah senang Diana menutup sambungan telponya, membuat Ronald sang suami penasaran dengan isi percakapan istrinya itu.
"Mami bicara sama siapa sampai sumringah kaya gitu?" tanya suaminya penarasaran lalu menutup koran yang sedang ia baca.
Diana berjalan lalu duduk di samping Ronald ayah dari anak-anaknya. "Mami abis telponan sama bi Nur pih," jawab Diana tersenyum menatap layar ponsel nya. Diana tersenyum karena mendengar kabar perkembangan cucu-cucu nya melalui bi Nur.
"Mami akhir-akhir ini sering banget telponan sama bi Nur, memang nya ngasih kabar apa sih?," tanya nya semakin senasaran. Karena selama 5 hari ini Diana terus rajin menanyakan keadaan cucu-cucu nya. "Apa cucu kita ada yang sakit?" tanya nya lagi mengingat tidak ada satu pun cucunya yang menelepon Ronald.
"Aneu pih, Mami suka sama dia," jawab Diana singkat. Membuat Ronald kembali menatapnya sambil mengerutkan kedua alisnya bingung.
"Maksud mami?"
"Aneu teman Abian yang mulai kerja jagain anak-anak, Mami suka cara dia mengurus anak,"jawab Diana dengan antusias. "Mami juga setuju jika Abian mau menikahinya," lanjutnya lagi.
"Main nikahhin aja … anak nya mau engga?" tanya Ronald, dia heran kenapa istrinya ingin menjodoh-jodohkan anaknya.
"Pasti mau, Papi ga liat kalo Abian menyukai Aneu? tiap Abian ceritain temen nya dia pasti ceritain Aneu dengan sangat antusias pih." ujur Diana mengingat saat dulu Abian sering bercerita tentang Aneu.
Ronald mengambil cangkir di depan mejanya, dia menyesap teh hangat itu sambil menimang-nimang ucapan Diana, "tapi papi mau Daren menikah dulu sebelum Abian, lagian Abian baru masuk Kuliah mam …" lirih nya pelan sambil menyimpan cangkirnya kembali.
"Huh anak itu, mami bingung sama Daren Pih. Dia pasti mau aja Pih kalau kita jodohin, dia tidak peduli dengan perasaan nya sendiri," ucap Diana karena dulu Daren juga tidak menolak saat di jodohkan dengan beberapa orang sebelum dengan sahabatnya Yonaya yang memberi 3 cucu kepadanya.
"Justru itu …Papi merasa bersalah, Papi ingin dia mencari seseorang yang dia cintai jangan hanya kita yang menjodohkanya." jawab Ronald.
"Tapi anak itu mana tertarik dengan wanita Pih! dia hanya tertarik dengan pekerjaan." gerutunya kesal. Mengingat dari dulu Daren tidak pernah berpacaran apalagi bermain wanita.
"Iya kita harus mendesaknya, ini sudah waktunya anak-anak dapat kasih sayang dari seorang ibu. Apalagi Daren tidak meperdulikan anak-anak nya, dia hanya pokus dengan pekerjaanya." Jawab Ronald merasa hawatir jika cucunya akan semakin nakal karena kurangnya kasih sayang.
"Iya mami harus membujuknya," jawab Diana dengan serius, karena perkataan suami nya memanglah benar. "Lusa Mami mau ke rumah Daren papi mau ikut?" tanya Diana mengingat jadwal kunjunganya akan tiba.
"Iya Papi ikut," jawab Ronald singkat.
.
.
.
Di kediaman Daren, Aneuly sangat gelisah dengan kelakuan Tuanya selama 5 hari bekerja di sini, buktinya seperti sekarang Daren sengaja menyuruh nya untuk mengantarkan minum ke dalam kamarnya.
Tapi yang jadi permasalahan Aneu adalah saat dirinya masuk ke dalam kamar Daren dengan sengaja hanya memakai handuk yang melilit di pinggang nya dan memperlihatkan otot-otot di tubuhnya dengan dada yang bidang dan sedikit bulu-bulu halus.
Aneu tidak berani menatapnya, dengan cepat Aneu menaruh gelas di atas nakas, dia bergegas keliar, "saya permisi tuan," ucap Aneu lalu melangkah pergi.
"Mau kemana? aku belum mendapat Vitamin hari ini," ucap Daren yang langsung merengkuh pinggang Aneu. Yang di maksud Vitamin oleh Daren itu adalah sebuah ciuman, sejak terakhir kali ketahuan Brisea hampir setiap hari Daren mengambil satu ciuman dari Aneu.
"Saya tidak tahan, ingin mencium bibirmu Aneu," Ucap Daren mengeratkan kedua lengan yang memegang pinggang Aneu.
"Tuan sadar apa yang tuan ucapkan barusan," tanya Aneu.
Kamu sangat cantik Aneu," bisik Daren dengan kilat gairah di matanya, tanpa memperdulikan pertanyaan Aneu. Dan entah kenapa pujian Daren membuat kedua pipi Aneu memerah menahan malu.
Daren terkekeh pelan, ia lantas mengambil jatahnya hari ini dan menempelkan bibirnya di bibil kenyal Aneu. "Emmmpph …" Aneu tidak mau membuka bibirnya, karena dia semakin kesal dengan kelakuan Daren yang semakin tidak tau malu.
Daren dengan sengaja menggigit bibir bawahnya, membuat Aneu meringis nyeri sambil membuka mulutnya tanpa menunggu lama lidah Daren dengan cepat mengambil kesempatan untuk menjelajahi isi mulut Aneu. Bermain lidah dan mengabsen setiap jajar gigi rapih Aneu.
Aneu menepuk dada Daren saat dirasa dirinya sudah mulai kehabisan napas, karena ciuman panas dan menggebu dari bibir Daren.
"Lepaskan … apa tuan sadar dengan setatus kita?" tanya Aneu untuk mengingatkan, dan berhasil membuat Daren sadar dari gairahnya.
"Kenapa? bukanya kamu menyukainya?" tanya Daren tidak mengerti.
"Apa tuan pikir ini pantas kita lakukan!" ketus Aneu, dia sudah sangat tidak sabar ingin menyudahi kebiasaan buruk majikannya itu. Aneu melepaskan tautan kedua lengan Daren yang ada di pinggang nya.
"Memangnya kenapa? kita sama-sama menyukainya," pikir Daren dengan percaya diri, kembali melangkah mendekati Aneu.
"Tidak ini tidak baik tuan! apa kata tante Diana jika dia tau kelakuan tuan seperti ini padaku," ujur Aneu. "mencium pengasuh anak-anaknya setiap hari," Aneu semakin memperjelas ucapanya.
"Tidak masalah, kamu tinggal menikah denganku dan menjadi ibu dari anaku. Jadi kita bebas berciuman setiap harinya," jawab Daren memudahkan semua urusannya.
Aneu tidak menyangka jika ucapan seperti itu bisa dengan mudah ia keluarkan dari mulutnya, Aneu semakin berpikir jika yang di lakukan Daren saat ini bukan karena cinta namun karena memang dirinya haus akan perempuan.
"Maaf tuan saya harus pergi," jawab Aneu membalikan tubuhnya dan bersiap melangkah pergi, namun Daren dengan cepat merengkuh tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya di lekuk leher Aneu.
"Tolong lepaskan saya tuan," ucap Aneu menatap pintu di depan matanya.
"Apa mau mu Aneu, katakan?" tanya Daren yang bingung dengan sikap Aneu hari ini, karena kerena kemarin-kemarin saat dirinya mencium Aneu dia tidak banyak bicara seperti hari ini.
Aneu menghela napas lalu menghembuskannya pelan, dia tidak mungkin bilang jika diu butuh kepastian alan hubungan mereka berdua yang tidak jelas ini. Namun Aneu takut jika hanya dirinya lah yang menyukainya.
Apalagi saat ucapan yang keluar dari mulut Daren dengan begitu mudahnya bilang menikah, itu membuat Aneu semakin meragukan jika Daren selama ini hanya memainkannya saja.
"Aku butih kejelasan tentang ciuman yang selalu kamu curi dari bibirku tuan?" tanya Aneu dengan sungguh-sungguh.
Daren lalu melepaskan pelukan nya dia membalikan tubuh Aneu dan berkata.
"Aneu ..."
𝑡𝑜 𝑏𝑒 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑖𝑛𝑢𝑒𝑑... ℎ𝑎ℎ𝑎
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...