Author: Renata From Indonesia
(NOT MINE)
Riana Lee adalah seorang perempuan yang baru saja diterima bekerja di sebuah perusahaan besar di ibukota berkat kecerdasannya, selain pintar ia juga cantik dan ceria, namun disana ia bertemu dengan seorang remaja laki-laki yang tanpa ia sadari. Laki-laki itu perlahan tapi pasti mengambil tempat terbesar di hatinya.
***
Aldrian Weist seorang remaja laki-laki kaya kelas 3 sekolah menengah atas,dia cerdas, tampan, dan ramah, tetapi di balik kepribadiannya yang karismatik itu, ia juga memiliki aura misterius yang dapat membuat orang di sekitarnya merasa sadar untuk tidak membangunkan sisi lain dalam dirinya itu.
Bagaimana keduanya bisa bertemu dan terikat satu sama lain? Dan bagaimana mereka bisa bersama dengan segala perbedaan yang mereka miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon C.Y.J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Les Privat
Dug...dug...dug...
Suara debaran jantungku seakan akan dalam mode loud speaker, aku yakin Aldrian juga pasti mendengarnya, berada pada jarak sedekat ini apalagi dalam posisi yang se intim ini dengan seorang pria tampan, siapa yang tidak akan salting, wajahku sudah terasa panas, tapi tubuhku seakan tidak bisa diajak kompromi, tanganku masih melilit di tengkuknya dan mataku tidak bisa beralih dari wajahnya, untungnya aku masih ingat cara untuk bernafas.
"Emm kau mau memelukku berapa lama? Aku sih gak keberatan, tapi kita harus segera memulai les nya, agar aku bisa menjawab apa saja yang sudah kau ajarkan jika nanti pamanku bertanya, soalnya aku gak pandai berbohong, tidak mungkin kan kalau aku bilang pada Paman kalau kau hanya memberikan les tentang kontak fisik?" Ucap Aldrian sambil mengeratkan pegangannya di pinggangku dan mengangkat tubuhku untuk mengembalikannya ke posisi semula.
Sekarang posisi kami berubah jadi saling berhadapan, dan refleks aku langsung melepaskan peganganku dan meletak tanganku dibalik punggung, malu, aku menundukkan kepalaku dan meminta maaf.
"Maaf aku tidak sengaja masuk kesini saat mencarimu."
"It's fine, aku juga lupa bilang kalau aku mau ganti baju dulu dan lupa untuk menyuruhmu menunggu di meja belajar." Ucapnya sambil menuju pintu, mengisyaratkan agar sebaiknya kita keluar dari ruangan ini.
Dia berjalan duluan menuju pintu dan aku mengikutinya dari belakang, tadi aku tidak menyadari pakaian yang sekarang dikenakannya karena tadi aku hanya fokus melihat wajahnya, sampai dia menyebutkan kata ganti baju barulah aku sadar bahwa pakaian yang dia pakai sekarang sangat kasual tapi juga terkesan cool, membuatku semakin menggelengkan kepala, bagaimana bisa ada karya Tuhan yang sebagus ini, apapun yang dipakainya terlihat keren, meskipun dia hanya memakai kaos oblong sekalipun.
Sesampainya di meja belajar, kami duduk berdampingan, dan untungnya mejanya cukup luas untuk kami berdua, dia mengeluarkan semua buku buku ekonomi dan menunjukkan padaku bagian mana saja yang sudah dia pelajari disekolah, aku mempelajari nya sebentar dan ya bisnis manajemen memang merupakan keahlian ku, pelajaran SMA macam ini hanya seperti pelajaran bilangan anak SD bagiku. Aku kemudian membuat beberapa contoh pertanyaan untuk dikerjakan Aldrian, agar aku juga tahu sejauh apa dia mengerti tentang pelajaran ini.
Aku tidak menyangka kalau dia akan mengerjakannya dengan serius, anak jaman sekarang biasanya paling malas kalau disuruh mengerjakan tugas apalagi untuk seorang anak yang terlahir dari keluarga yang memiliki kuasa macam Aldrian, kebanyakan dari mereka bersikap manja, tapi sepertinya Aldrian berbeda, dia terlihat dewasa.
Sambil menunggu Aldrian selesai mengerjakan tugas yang aku berikan, aku membaca buku pelajarannya dan menandai beberapa materi untuk nanti aku jadikan bahan. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit akhirnya dia selesai mengerjakan soal-soal yang aku berikan, cukup lama juga waktu yang dia butuhkan untuk menyelesaikannya. Dia menyerahkan hasil usahanya itu untukku periksa, dan aku mulai memeriksanya satu persatu.
"Bagaimana?? Aku dapat nilai seratus?"
"Hmm, cara kau memecahkan masalahnya lumayan baik, tapi ada beberapa yang bisa menggunakan metode lain, seperti yang ini.....
Aku menerangkan beberapa metode yang lebih singkat yang dapat mempercepat caranya menyelesaikan soal-soal ini, aku juga menerangkan satu materi yang tadi aku tandai di buku pelajarannya, Aldrian dapat menyerap apa yang aku terangkan dengan cepat, dia juga terlihat sangat bersungguh-sungguh dalam belajar, ternyata kekhawatiran ku selama ini tidak ada gunanya, Aldrian berbeda dari apa yang aku bayangkan.
Mendengar penjelasan Bu Sandra tentangnya, awalnya aku pikir kalau dia akan sedikit angkuh, toh dia punya banyak fans wanita, punya wajah yang terlalu tampan dan kekayaan yang melimpah. Dia punya alasan yang jelas untuk bersikap seperti itu, apalagi terhadap ku yang hanyalah seorang karyawan di perusahaannya, meskipun sekarang aku menjabat sebagai guru privat nya, aku tidak membayangkan bahwa dia akan patuh sebagai murid, apalagi dengan rentang usia kami yang terbilang tidak cukup jauh, dan tentu saja dengan karakterku yang sangatlah jauh dari kesan karismatik. Ini semua diluar prediksi ku, tapi aku senang, setidaknya akan lebih mudah untuk lebih akrab dengannya apabila dia memang memiliki sifat seperti ini.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, sesuai dengan kesepakatan kami, waktu les privat Aldrian hanya empat jam, dan sekarang sudah waktunya aku pulang.
"Ok, sepertinya untuk hari ini cukup sampai disini, Pak Andrew bilang kalau jadwal les mu hanya seminggu tiga kali, kalau begitu sampai jumpa dua hari lagi, dan untuk jadwal pertemuan yang ketiga adalah saat akhir pekan." Ucapku sambil membereskan buku-buku bekas kami belajar dimeja.
"Di akhir pekan juga?? Ohh jangan akhir pekan aku ada janji kencan."
"Memangnya kau mau kencan sehari semalam? Les mu itu cuma empat jam, lagian aku juga gak mau liburan ku terganggu, tapi apa boleh buat Pak Andrew yang menyusun jadwalnya."
"Hmm begitu ya? Jadi kalau Pamanku menyuruhmu untuk kerja sehari semalam pun kau gak bakal protes begitu?"
"Ya gak gitu juga sistem ny-" Belum sempat aku selesai bicara, Aldrian memotong ucapan ku.
"Yaa yaaa sepertinya kalau Pamanku menyuruhmu lompat kejurang pun kau akan melakukannya." Potong Aldrian.
"Whaaa sayangnya aku tidak sepenurut itu, aku masih bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah."
"Tentu tentu, kau kan ibu guru, jadi sudah seharusnya kau tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, dan sudah seharusnya kau juga tahu bahwa belajar di akhir pekan itu merupakan hal yang dilarang."
Aku tarik kembali ucapanku yang menyatakan bahwa Aldrian bersikap dewasa, dia sama sekali tidak ada bedanya dengan anak remaja lain yang lebih memilih bermain daripada belajar.
"Dan seharusnya kau juga tahu bahwa keputusan itu bukan aku yang buat, jadi silahkan yakinkan Pamanmu untuk merubah jadwalnya, jadi aku juga bisa pulang kampung."
"Kau mau pulang kampung? Memangnya kau berasal darimana?"
"Ga jauh, masih tetangganya ibu kota tapi bukan kota yang terlalu besar juga." Jawabku
"Teerrserah, yang jelas seharusnya kau bilang sama Paman kalau kau mau pulang kampung jadi gak bisa ngajar di akhir pekan."
"No problem, aku bisa pulang akhir pekan selanjutnya, lagian aku disini masih kurang dari seminggu jadi belum terlalu rindu kampung halaman."
"Ha, haha, jadi kau sebenarnya bukan tidak bisa komplain, tapi lebih ke tidak mau, ok fine, aku juga lebih memilih untuk gak mau komplain kalau gitu, dan karena aku anak yang rajin, kita tambah jam untuk les di akhir pekan nanti jadi enam jam."
"Ga- ga bisa gitu a-"
Lagi lagi belum sempat aku menyelesaikan kalimatku Aldrian berdiri dan berjalan menuju pintu, dia membukakan pintu dan memberi isyarat agar aku segera keluar dan pulang.
Dengan berat hati aku berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
"Sampai jumpa di les berikutnya bu guru." Sarkas Aldrian saat aku berjalan melewatinya.
Aku melambaikan sebelah tangan sambil tetap berjalan tanpa menoleh ke arahnya ataupun membalas ucapannya.
author menggambarkan Riana yg menunduk trus Aldrian melihat airmata Riana dan Aldrian merasa dadanya sakit.. yaa Allah thor sampe kerasa banget sampe ke hatiku