NovelToon NovelToon
CEO Tengil Meet Guru Tomboy

CEO Tengil Meet Guru Tomboy

Status: tamat
Genre:CEO / Romansa / Keluarga & Kasih Sayang / Kebangkitan pecundang / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: IAS

Arjuna atau yang biasa dipanggil Juna karena kegemarannya bermain dan mendaki gunung membuat ARJ Adventure.
Juna tidak mau bekerja di Dewa Corp Company atau DCC perusahaan milik sang kakek. Dia lebih suka menekuni hobinya, karena hal itu dia dianggap sebagai orang yang tidak berguna. Namun berbeda dengan sang ayah, Dharma membebaskan apa saja yang akan Juna lakukan selama itu positif. Mendapat dukungan ayah dan ibunya membuat Juna bersemangat walau selalu diremehkan oleh sepupunya Dante Dewantara yang begitu obesi menjadi pemilik DCC.

Gendis seorang guru di sebuah sekolah swasta terkenal di negeri ini DIS Dewantara International School yang mempunyai cita cita keliling Indonesia selalu mendapat perlakuan buruk dari Maylin, teman SMA nya yang sekarang menjadi kepala HRD di DIS.

Bagaimana Juna dan Gendis menghadapi masalah mereka, dan bagaimana mereka saling berhubungan?
Ikutin terus kisah Juna dan Gendis ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CTMGT 10

“Eh Jun, ini Gendis yang waktu itu jatuh bukan.” tanya Rama

“iya , yang itu. Dia calling aku katanya mau ikut.” jawab Juna sekenanya dan hanya dijawab oh saja oleh rama sambil angguk-angguk. 

Padahal, aku yang ngajak tuh cewek, bukan dia yang mau ikut. Batin Juna sambil tersenyum singkat tanpa diketahui kedua temannya.

Flashback on

Ting….

Maaf, ini nomor mbak Gendis bukan ya. Maaf tadi salah kirim. Maaf kalau mengganggu

Juna

Oh, mas Juna. Tidak apa-apa mas. Iya ini nomor saya. Tidak-tidak ganggu kok.

Gendis

Syukurlah kalau begitu, oh iya sekalian mau nawarin, minggu depan aku mau ngadain trip ke Rinjani. Mbak Gendis mau ikutan tidak?

Juna

Jangan panggil mbak mas, kayaknya tuaan mas deh dari pada aku hehehe. Waduh mas tapi aku belum ada uang untuk akomodasinya. 

Gendis.

Oh tenang, nanti Gendis bisa bayar setengah saja atau dengan kata lain Gendis hanya bayar untuk pendakiannya saja. Untuk pesawat nanti aku free kan.

Juna

Waduh, jangan mas. Nanti mas rugi. Tidak enak juga sama yang lain.

Gendis

Oh tenang. Hitung-hitung buat kompensasi kamu jatuh kemarin.

Juna

Oh gitu, oke deh mas Gendis ikut.

Gendis

Yess!!! sorak Juna dalam hati. Entah kenapa ada perasaan lain saat bertemu dengan Gendis. 

Flashback off

Juna masih senyum-senyum sendiri mengingat cara modus dia mengajak Gendis untuk mengajak Gendis dalam trip kali ini. Namun PR bertambah yakni yang tadinya ia rencanakan hanya sekitar 8 peserta trip kini menjadi 10 peserta. Untungnya itu terpenuhi. Jadi ia tidak merasa khawatir lagi.

Semua sudah siap tinggal menunggu hari keberangkatan saja, dan entah kenapa Juna merasa tidak sabar menunggu hari itu.

🍀🍀🍀

Disisi lain Gendis yang pulang dari sekolah nampak lesu. Gendis menepikan motornya di taman kota, melepas helmnya dan duduk di kursi taman tersebut. Ia tidak mau pulang dalam mood yang kacau.

"Huuuuft….. Haaah….." Gendis mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar. Sejenak pandangannya meng scan  ke penjuru taman. Nampak beberapa anak-anak yang tengah bermain bola, keluarga kecil yang tengah bersantai menikmati sore. Para abg yang bercengkrama tertawa. Gendis melihat semua itu dengan senyum, sejenak melupakan yang terjadi tadi di sekolahan. 

Gendis mengambil ponselnya mencari nama Ratih sahabatnya. Biasanya kalau setiap ada masalah ketika bercerita dengan Ratih maka ia akan merasa lega. 

"Halo Tih.. Sedang sibuk kah?"

"Baru pulang dari Bimbel nih. Ada apa?" 

Gendis pun menceritakan kejadian di sekolah tadi. Di seberang sana Ratih diam terlebih dahulu membiarkan sahabatnya itu meluapkan keluh kesah nya. Setelah selesai baru Ratih memberi tanggapan.

"Kok sepertinya ada yang aneh ya Dis."

"Aku juga merasa begitu, anak itu tuh gugup kayak takut-takut gitu pas dia mau mulai mendongeng."

"Apa ini ada hubungannya sama Maylin?" Tebak Ratih.

"Entah, tapi aku tidak mau berburuk sangka. Oh iya Jumat besok aku mau ikut trip ARJ Adventure. Ke Gunung Rinjani."

"Heh,apa… kok aku tidak diajak." 

"Hehehe sorry, dadakan juga. Next time kita pergi bersama lagi ya."

"Iya deh, selamat bersenang-senang. Lupakan dulu permasalah itu. Healing dulu."

Gendis pun menutup teleponnya dan memutuskan untuk pulang, ia merasa sudah cukup untuk mengembalikan suasana hatinya kembali menjadi normal.

Rencananya ketika ia pergi ke Lombok besok dia akan mengatakan mendapat cuti dari sekolah dan bukan karena diskors. Gendis tidak mau ayah dan ibu nya khawatir dan menjadi beban pikiran. Gendis juga tidak mau sang adik Bagus gegabah mengambil tindakan. Bagus pasti akan menyalahkan Maylin, walaupun Gendis punya sedikit kecurigaan terhadap Maylin, namun ia tidak mempunyai bukti. Jadi lebih baik merahasiakan ini terhadap orang rumah, pikir Gendis.

🍀🍀🍀

Di DCC Dante begitu sibuk menyiapkan proyek pembangunan jembatan yang tengah ia kerjakan. Dia sampai lupa sudha berjanji hari ini akan datang menemui adiknya.

"Jay, sekarang sudah jam berapa? Tanya Dante kepada Jay asisten pribadinya. 

" Jam 7 malam tuan." Jawab Jay singkat.

Doi kan punya jam di tangannya dan di laptopnya juga ada penunjuk waktu masih saja bertanya gerutu Jay dalam hati.

 "Hmmm…" Jawab Dante sambil terus sibuk dengan laptopnya. 

"Astaga!!!" Tiba-tiba Dante berteriak, Jay yang mendengar suara Dante reflek berdiri dan berlari ke arah Dante.

"Ada apa tuan. Ada yang salah?" Tanya Jay takut-takut.

"Jay aku lupa. Aku berjanji kepada Alina untuk datang menemuinya. Ayo Jay kita ke rumah paman Dharma." Ucap Dante sambil mematikan laptopnya dna berlari kecil keluar kantornya. 

Jay yang melihat tingkah tuannya hanya bisa mendengus kesal. Kupikir ada sesuatu yang salah atau urgent, batin Jay.

Jay pun mengambil mobil dan dengan cepat mengemudi ke arah rumah Dharma. Tidak butuh waktu lama hanya sekitar 30 menit sudah sampai. 

"Selamat malam Tuan Dante." Sapa seorang pelayan

"Malam, dimana semua orang." Tanya Dante datar.

"Ada di ruang makan tuan. Kebetulan sedang makan malam." 

Dante pun mengangguk paham dan berjalan ke ruang makan.

"Kakak….." Teriak Alina senang sambil berlari ke arah Dante dna memeluk sang kakak. Dante pun membalas pelukan sang adik, ia mengecup pucuk kepala Alina sayang.

"Kakak kenapa baru datang, Alina kangen sama kakak." Ucap Alina manja. Saat ini Alina baru berusia 15 tahun. Dia juga bersekolah di DIS.

"Maaf, kakak banyak kerjaan jadi tidak bisa menemui adek secepatnya." Jawab Dante lembut, ya hanya dengan Alina lah Dante bisa bersikap seperti itu. 

"Sudah-sudah, Al ajak kakak mu untuk kemari makan." Ucap Dharma menengahi. 

Mereka pun akhirnya makan bersama , sesaat Dante melirik mencari keberadaan seseorang yang sebenarnya juga ia tidak mengharapkannya di situ. 

"Kakak kenapa, cari Bang Juna ya." Tanya Alina.

"Uhuk… uhuk…." Dante kaget dengan pertanyaan Alina hingga tersedak. Ia pun buru-buru minum.

Anjeli yang melihat tingkah Dante pun tersenyum, ia tahu sebenarnya keponakannya itu tidak benar-benar membenci sang anak.

"Juna sedang ada di Ruko, beberapa minggu ini ia lebih senang tidur di sana dari pada pulang ke rumah." Ucap Anjeli memecah keheningan.

"Hah… dasar bocah tengil itu. Dia tidak pernah ingat pulang. Apalagi kalau mau ada trip." Timpal Darma.

"Memang Abang mau kemana yah?" Tanya Alina sambil menyeka mulutnya menandakan makannya telah selesai.

"Mau ke Lombok katanya." Jawab Darma.

Dante yang mendengar obrolan mengenai kakak sepupu nya itu pun hanya diam, ia memilih menikmati makanannya dengan tenang. Hmmm, baguslah. Biarkan dia sibuk bermain seperti itu, itu akan memudahkan jalanku menuju tampuk pimpinan tertinggi Dewa Corp Company, batin Dante senang. 

Mereka pun selesai makan dan menuju ke ruang keluarga. Alina pamit kembali ke kamar karena harus menyelesaikan tugas sekolahnya dan Anjeli menemaninya. Tinggalah Darma dan Dante berdua di ruang tersebut. 

"Daddy mu tidak menanyakan keadaan Alina kah?" Tanya Darma membuka percakapan.

"Tidak paman." 

"Lalu mommy mu?"

Dante pun menggeleng lagi.

"Dasar benar-benar keterlaluan Dorman dan Wanda itu. Apa sebagai orang tua mereka tidak pernah merasa khawatir sedikitpun dengan keadaan anak gadisnya." Ucap Darma geram. Dante hanya mendengar saja apa yang diucapkan pamannya.

"Mereka bahkan tidak sadar karena ulah mereka Alina sampai trauma dan tertekan." Tambah Darma.

"Siapa yang tertekan. siapa yang trauma. Cucu ku kenapa!!" 

"Papa

" Kakek"

TBC

Sampai sini dulu ya.

Jangan lupa untuk klik like dan komentarnya. Berikan vote setiap bab nya agar otor bahagia heheheh.

Terima Kasih

Matursuwun

1
Pak Cipto
awal cerita yang menarik.....
Netty Netty
very good
Netty Netty
mata2 dewantara😄
Netty Netty
sdh bagus thor, berasa mendaki 🤣
Netty Netty
😍
Netty Netty
/Casual/
Netty Netty
👍
Ika Alif
salam Thor aku baca karya author tidak urut dari karya pertama awal baca karya author cerita kai...semangat thor
Hasna Nursyafah
wahhhh ada rama bapaknya mr.sun 😂
Dandelion
aku cari2 kisah cinta si om dan tantenya chan..ternyata ada novel plg awal 😁😂
Sri Supriatin
saya banjir air mata, padahal sdh nenek2/Sob//Sob/
Jumi Eko
bagus
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
pertama kali baca karya kak author ini pas baca babysiter untuk yayah... dari situ aku mulai lihat karya2nya yang lainya juga, ternyata semua seru... tetap semangat berkarya kak...
Mazree Gati
rumah gede dua lantai ga punya art,,yg nyapu sama ngepel siapa,,,?????
Sunarmi Narmi
Berdoa dn minta ke Authornya Ndis supaya Maling kundang dpt karma /Grin//Grin//Grin//Grin/
echa purin
👍🏻
Babar Dbabarian
seperti nya ini cerita pengalaman pribadi mu ya thor, aku juga dulu suka keluar masuk hutan tapibsekarang aku sudah tua tak sanggup lagi untuk mendaki tapi aku sangat merindukan itu semua untuk melepas semua beban masalah
falea sezi
author cewek kah
falea sezi
keren
Andrea
/Heart//Heart//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!