Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Begitu pintu utama terbuka secara perlahan, jajaran pelayan yang dipimpin oleh Angelina sudah berbaris rapi dengan sikap penuh hormat.
"Selamat datang kembali di mansion, Tuan," sapa Angelina dengan nada suara yang halus dan hangat.
Namun, pandangannya dan para pelayan lainnya seketika tertuju pada sosok wanita cantik berambut pirang keemasan serta anak perempuan yang digendong oleh Darius.
"Angelina," panggil Darius dengan datar namun penuh wibawa. "Perkenalkan, ini Karina dan putriku, Maria. Mulai hari ini, mereka akan tinggal di sini bersama denganku."
Mendengar ucapan tersebut, Angelina dan seluruh pelayan wanita di ruangan itu tersentak kaget sejenak. Namun, Angelina segera menguasai diri dan kemudian membungkukkan badannya diikuti oleh pelayan lainnya.
"Selamat datang di Mansion Nomor Satu, Nyonya Karina dan Nona Muda Maria," ucap Angelina dengan penuh kehangatan dan rasa hormat. "Sebuah kehormatan bagi kami untuk melayani Anda berdua."
Karina tersenyum canggung melihat sambungan yang luar biasa tersebut. Sementara Maria menyembunyikan wajahnya yang menggemaskan di bahu Darius karena sedikit malu-malu.
"Angelina, segera siapkan sebuah kamar di sebelah kamarku untuk Karina dan Maria," perintah Darius dengan tegas. "Pastikan seluruh kebutuhan mereka terpenuhi."
"Siap, Tuan. Semuanya akan segera kami siapkan dengan sempurna," sahut Angelina dengan penuh kepatuhan.
Darius kemudian menatap Karina dengan sorot mata yang penuh kelembutan. "Istirahatlah dulu di dalam. Ini adalah rumah kalian sekarang."
Karina mengangguk dan menggenggam jemari Darius dengan erat. Di dalam mansion yang megah ini, untuk pertama kalinya setelah menjalani perjuangan berat, ia akhirnya merasakan kehangatan.
Di dalam aula utama, kehangatan kini menyelimuti seluruh ruangan. Angelina menyambut Karina dan Maria dengan sigap dan menunjukkan keramahan tingkat tinggi.
"Nyonya Karina, Nona Muda Maria, mari saya antarkan ke area santai terlebih dahulu sembari para pelayan menyiapkan kamar di lantai atas," ucap Angelina dengan lembut dan senyuman yang begitu tulus.
Karina menatap Darius sejenak, membalas genggaman tangannya sebelum akhirnya tersenyum lega. "Terima kasih, Angelina."
Darius berlutut sebentar di hadapan Maria, mengusap pipi putrinya itu. "Maria ikut Mama dan Bibi Angelina dulu, ya. Papa ada urusan sebentar."
"Iya, Papa! Jangan lama-lama ya!" celoteh Maria dengan riang, lalu menuntun tangan ibunya mengikuti langkah Angelina menuju ruang keluarga.
Setelah Karina dan Maria menuju area tengah mansion, kehangatan di wajah Darius perlahan memudar. Raut wajahnya kembali menjadi dingin, tenang, dan dipenuhi oleh kewaspadaan.
Darius melangkah perlahan menuju area luar yang berada di samping aula utama. Angin berembus pelan, menerpa kemeja putih kasualnya saat ia berdiri menatap hamparan taman yang luas.
Pria itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel tanpa merek miliknya. Baru saja ia hendak menekan tombol, layar ponselnya lebih dulu menyala dan bergetar halus.
Nama Julian tertera di sana. Melihat hal itu, Darius segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel tersebut di telinganya.
"Bicaralah, Julian," ucap Darius dengan suara yang rendah, datar, dan tenang, sembari menatap lurus ke arah taman mansion.
"Tuan," ujar Julian di seberang telepon dengan nada lugas dan penuh ketegasan. "Para pengawal Keluarga Adhitama saat ini sedang menyisir seluruh sudut Ibukota untuk mencari keberadaan Anda."
Alis Darius terangkat tipis, lalu bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. "Mencariku?"
"Benar, Tuan," terang Julian secara rinci. "Keluarga Adhitama sepertinya panik karena sejak semalam Anda tidak pulang ke kediaman utama ataupun memberi kabar."
Mendengar laporan tersebut, sudut bibir Darius terangkat tipis, mengukir senyum dingin yang sarat akan sindiran dan cemoohan.
"Mereka panik hanya karena aku tidak pulang?" gumam Darius dengan tenang. "Rupanya Keluarga Adhitama sangat takut jika 'aset' yang ingin mereka tumbalkan tiba-tiba menghilang."
"Bagaimana perintah Anda, Tuan?" tanya Julian dengan tegas. "Apakah perlu kami mengarahkan pergerakan para pengawal itu ke tempat lain, atau menahan mereka?"
"Tidak perlu," sahut Darius datar, suaranya tenang tanpa ada keraguan sedikit pun. "Biarkan saja. Aku sendiri akan kembali ke Kediaman Adhitama sekarang."
"Siap, Tuan," sahut Julian di seberang telepon dengan suara mantap tanpa keraguan sedikit pun.
Setelah itu Darius menutup sambungan teleponnya, lalu memasukkan kembali ponsel tanpa merek tersebut ke dalam saku celananya.
Sorot matanya yang dingin menatap lurus ke arah taman. Setiap tindakan Keluarga Adhitama yang penuh kalkulasi kini akan berhadapan langsung dengan ketenangan mutlak yang ia miliki.
Darius lalu melangkah keluar dari mansion dengan langkah perlahan. Ia kemudian masuk ke dalam mobil Mercedes-Maybach S-Class hitam miliknya.
Mobil mewah itu meluncur melewati gerbang utama, meninggalkan kompleks elit tersebut dan bergabung dengan arus lalu lintas Ibukota menuju kediaman Keluarga Adhitama.
Sementara itu, suasana di kediaman Keluarga Adhitama diliputi ketegangan yang semakin membuncah, membuat setiap helaan napas terasa berat
Di dalam ruang keluarga, Tuan Besar Hardiman duduk di sofa sambil menopang tongkatnya dengan kedua tangan yang mengepal erat. Wajah tua itu dipenuhi garis-garis kemarahan.
"Anak tidak tahu diri!" geram Tuan Besar Hardiman, menghantam lantai dengan ujung tongkatnya. "Tiga hari lagi acara pernikahannya akan digelar, tapi dia justru menghilang tanpa kabar sejak semalam!"
Miranti Adhitama menyunggingkan senyum sinis. "Sudah saya katakan sejak awal, Ayah. Membawa kembali anak terbuang itu, hanya akan menjadi beban bagi Keluarga Adhitama."
"Cukup, Miranti!" potong Surya Adhitama dengan suara berat namun tegas. "Darius adalah putraku. Kau jangan terus-menerus memojokkannya!"
"Putra yang membawa masalah, Mas Surya!" sahut Miranti Adhitama tak mau kalah. "Lihat sekarang! Seluruh pengawal sudah kita sebar, tapi tidak ada satu pun yang menemukan keberadaannya!"
Tepat saat perdebatan di ruang keluarga itu makin memanas, hembusan angin dingin seolah mendadak menyusup masuk ke dalam rumah.
Langkah kaki yang tenang dan teratur terdengar mengetuk lantai. Seluruh mata di ruang keluarga seketika tertuju ke arah pintu masuk.
Darius melangkah masuk dengan santai. Kemeja putihnya yang tergulung hingga ke siku tampak sangat rapi, memancarkan aura kepemimpinan. Wajahnya tetap datar, tanpa ada sedikit pun raut rasa bersalah.
Melihat pemuda itu, Tuan Besar Hardiman langsung menegakkan posisinya. Tatapan matanya yang tajam berkilat penuh kemarahan.
"Dari mana saja kau, Darius?!" bentak Hardiman dengan suara menggelegar. "Tiga hari lagi pernikahanmu dengan Adelina Atmadja digelar, tapi kau malah keluyuran tanpa kabar!"
Surya Adhitama menghela napas lega saat melihat putra sulungnya itu kembali dalam keadaan utuh, meski rasa cemas masih jelas membayang di raut wajahnya.
Sementara itu, Miranti Adhitama menyilangkan kedua tangannya di dada sambil mendengus sinis. Sedangkan, Violetta yang duduk di sudut sofa hanya bisa terdiam sembari menunduk.
Di balik raut wajahnya yang selalu berusaha tampak tenang di hadapan ibu mertuanya, ada gemuruh emosi dan rasa cemas yang luar biasa membakar dadanya.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya