NovelToon NovelToon
Sistem Raja Cuan Membangun Kampung Halaman

Sistem Raja Cuan Membangun Kampung Halaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Lelah menjadi budak korporat di kota besar tanpa hasil dan malah dikhianati oleh orang terdekatnya, Yao Wi memutuskan menyerah dan pulang ke kota kelahirannya yang miskin dan terbelakang. Namun, siapa sangka keputusannya untuk menyerah justru menjadi titik balik hidupnya saat sebuah sistem misterius tiba-tiba aktif di kepalanya.

Ding!

​[Selamat datang, Tuan Rumah Yao Wi.]

​[Sistem ini bertujuan untuk membantu Anda mengubah kota kelahiran Anda yang tertinggal menjadi kota paling makmur di bumi.]

​[Aturan Utama Sistem: Tuan rumah akan menerima seratus ribu setiap hari dari setiap jiwa yang terdaftar resmi sebagai warga kota ini.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

​Brak!

​Suara pintu dibanting dengan keras membuat tubuh Yao Wi tersentak kaget.

​Ia menatap pria paruh baya bertubuh tambun yang berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam.

​"Keluar dari apartemenku sekarang juga, dasar sampah!" teriak pria itu yang merupakan bapak kosnya.

​"Tapi Pak, saya hanya telat bayar dua hari, tolong beri saya waktu," ucap Yao Wi mencoba membela diri.

​"Dua hari kau bilang?" balas bapak kos itu sambil meludah ke lantai lorong.

​"Kau bahkan sudah dipecat dari perusahaanmu kemarin sore, dari mana kau bisa dapat uang untuk bayar bulan depan?"

​Yao Wi terdiam mendengar ucapan tajam tersebut.

​Ia tidak bisa membantah karena apa yang dikatakan bapak kosnya adalah fakta.

​Ting!

​Suara notifikasi ponselnya berbunyi memecah keheningan yang canggung itu.

​Yao Wi membuka pesan itu dan melihat foto mantan pacarnya, Li Na, di layar.

​Di foto tersebut, Li Na sedang tersenyum manis memeluk lengan Wang Hao, mantan manajernya di kantor.

​"Yao Wi, terima kasih atas ide proyekmu yang luar biasa," tulis Wang Hao dalam pesan teks itu.

​"Berkat idemu, aku naik jabatan menjadi direktur dan Li Na sekarang bersamaku."

​"Jangan pernah kembali ke Beijing, dasar pecundang kampungan."

​Yao Wi meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih pucat.

​Ia sudah bekerja siang malam selama lima tahun di kota metropolitan ini tanpa henti.

​Ia tidak pernah mengambil hari libur dan selalu makan mi instan demi menabung untuk masa depan.

​Tapi pada akhirnya, hasil jerih payahnya dirampas begitu saja oleh orang kaya yang punya koneksi.

​Bahkan wanita yang ia cintai dan ia biayai hidupnya pun ikut pergi mengkhianatinya.

​"Baiklah, aku akan pergi dari sini hari ini juga," kata Yao Wi akhirnya dengan suara serak.

​Ia meraih koper tuanya yang sudah kusam di sudut ruangan.

​Hanya koper inilah yang menemani perjalanannya saat pertama kali datang ke kota ini lima tahun lalu.

​Dan sekarang, ia pulang dengan koper yang sama, tanpa membawa apa-apa selain kekecewaan yang mendalam.

​Bapak kos itu mendengus sinis dan melipat tangannya di dada besarnya.

​"Bagus, jangan pernah bermimpi bisa hidup sukses di kota besar jika kau hanya orang miskin yang tidak punya modal."

​Yao Wi tidak membalas hinaan itu sama sekali.

​Ia menyeret kopernya keluar dari kamar sempit yang menjadi saksi bisu perjuangannya selama ini.

​Langkahnya terasa sangat berat saat menuruni anak tangga apartemen yang gelap.

​Hujan gerimis mulai turun menyambutnya saat ia keluar dari gedung.

​"Seolah langit pun ikut menertawakan nasibku yang menyedihkan ini," batin Yao Wi dengan senyum pahit.

​Ia berjalan menembus gerimis menuju stasiun kereta bawah tanah.

​Stasiun kereta terlihat sangat ramai oleh orang-orang yang sibuk berangkat kerja hari ini.

​Yao Wi membeli tiket kereta kelas ekonomi paling murah menuju kota kelahirannya, Kota Linzhou.

​Linzhou adalah sebuah kota kecil di ujung provinsi yang sangat tertinggal dan miskin.

​Tidak ada gedung tinggi, tidak ada mal mewah, hanya ada jalanan berdebu dan populasi penduduk yang menua.

​Semua anak muda di Linzhou selalu bermimpi untuk pergi ke kota besar mencari kehidupan yang lebih baik.

​Sama seperti Yao Wi lima tahun yang lalu saat ia baru lulus sekolah.

​Namun sekarang, ia harus kembali dan menelan ludahnya sendiri.

​Ia duduk di kursi kereta yang keras dan sempit.

​"Lihat pria itu, bajunya sangat kotor dan basah," bisik seorang penumpang wanita di seberang kursi.

​"Pasti dia pengangguran yang gagal bertahan di ibu kota," balas teman di sebelahnya sambil tertawa kecil.

​Yao Wi mendengar bisikan merendahkan itu tapi memilih menutup matanya rapat-rapat.

​"Terserah apa kata mereka, aku memang gagal total," batin Yao Wi pasrah.

​Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel terdengar nyaring di telinganya.

​Srettt! Srettt!

​Yao Wi memejamkan matanya, mencoba menenangkan rasa sakit yang menusuk dadanya.

​Perjalanan ini memakan waktu lebih dari belas jam yang melelahkan.

​Ia hanya minum air putih dari botol bekas untuk mengganjal perutnya yang keroncongan.

​Ciiiit!

​Kereta akhirnya berhenti dengan suara decitan panjang yang memekakkan telinga.

​Yao Wi membuka matanya dan melihat pemandangan yang familiar dari balik jendela kusam kereta.

​Bangunan stasiun Linzhou masih sama seperti lima tahun lalu, catnya mengelupas dan atap sengnya berkarat.

​"Kita sudah sampai di perhentian terakhir, Kota Linzhou," terdengar suara pengumuman dari pengeras suara yang kresek-kresek.

​Yao Wi berdiri dengan gontai dan mengangkat kopernya.

​Ia melangkah turun dari kereta dan menghirup udara di kota kelahirannya.

​Udara di sini memang tidak sesak oleh polusi, tapi entah kenapa terasa sangat hampa.

​Jalanan di depan stasiun terlihat sangat sepi seolah tidak ada kehidupan.

​Hanya ada beberapa tukang ojek tua yang sedang duduk merokok di pos jaga yang reot.

​"Ojek, Mas? Mau ke mana?" tawar seorang bapak tua dengan senyum ramah yang memperlihatkan giginya yang ompong.

​Yao Wi menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis.

​"Tidak, Pak, terima kasih, saya mau jalan kaki saja," jawab Yao Wi sopan.

​Uang di dalam dompetnya saat ini hanya tersisa lima puluh ribu saja.

​Ia harus menghemat setiap peser untuk bisa makan esok hari.

​Yao Wi berjalan menyusuri jalanan kota yang lengang tanpa trotoar yang layak.

​Banyak toko di pinggir jalan yang tutup permanen dan bangunannya dibiarkan terbengkalai begitu saja.

​Kota ini benar-benar seperti kota mati yang tidak memiliki harapan untuk maju.

​Ia menatap pantulan bayangannya di genangan air hujan sisa semalam.

​Wajahnya terlihat sangat pucat, matanya berkantung hitam tebal, dan pakaiannya lusuh seperti pengemis.

​"Apakah hidupku akan berakhir sebagai pecundang tua di kota mati ini?" gumam Yao Wi pada dirinya sendiri.

​Ia merasa sangat putus asa hingga rasanya ingin mati saja.

​Ia bahkan tidak tahu harus bekerja apa di kota yang bahkan tidak memiliki satu pun pabrik besar ini.

​Langkahnya tiba-tiba terhenti di depan sebuah jembatan tua yang melintasi sungai kering.

​Ia menatap dasar sungai berbatu di bawah jembatan dengan tatapan kosong dan hampa.

​Tiba-tiba, rasa pusing yang luar biasa hebat menyerang kepalanya tanpa peringatan.

​Yao Wi memegangi kepalanya dengan kedua tangan dan jatuh berlutut di tanah berdebu.

​"Ahhh, sialan, sakit sekali, apa ini?" rintihnya menahan rasa sakit yang seolah membelah otaknya.

​Ding!

​Sebuah suara mekanis yang sangat aneh bergema jelas di dalam kepalanya.

​Yao Wi terbelalak lebar, mengira ia sudah mulai gila atau berhalusinasi karena terlalu lama kelaparan.

​[Mendeteksi keputusasaan yang ekstrim dari target tuan rumah.]

​[Sistem Pembangunan Kota Halaman yang Tak Terkalahkan sedang melakukan proses pengikatan jiwa.]

​[Satu persen, lima puluh persen, seratus persen!]

​[Pengikatan berhasil diselesaikan tanpa penolakan.]

​Yao Wi mengusap matanya dengan panik dan napas terengah-engah.

​Sebuah layar virtual berwarna biru transparan tiba-tiba muncul melayang di depan wajahnya.

​"Sistem? Apakah ini semacam sistem curang seperti di novel yang sering kubaca saat senggang?" ucap Yao Wi dengan suara gemetar.

​Ia melihat deretan tulisan bercahaya yang tertera di layar virtual tersebut.

​[Selamat datang, Tuan Rumah Yao Wi.]

​[Sistem ini bertujuan untuk membantu Anda mengubah kota kelahiran Anda yang tertinggal menjadi kota paling makmur di bumi.]

​[Aturan Utama Sistem: Tuan rumah akan menerima seratus ribu setiap hari dari setiap jiwa yang terdaftar resmi sebagai warga kota ini.]

​Mata Yao Wi melebar hampir keluar saat membaca aturan gila tersebut.

​"Seratus ribu dari setiap warga? Setiap hari tanpa jeda?" teriak Yao Wi tidak percaya dengan apa yang dibacanya.

​Ia segera melakukan perhitungan matematika sederhana di dalam kepalanya yang masih berdenyut.

1
Fajar Fathur rizky
aturan mentri zhou di bantai
Hadi Hadi
mantap🤭
Hadi Hadi
sikat💪
Hadi Hadi
up up
Kirigaya Haruto
tinggi gedungnya 5 kali burj khalifah
Kirigaya Haruto
alur ceritanya bagus dan gak berbelit-belit walaupun aku gak tau uangnya dari mana bisa ngeluarin uang sebanyak itu
Fajar Fathur rizky
hahahaha mampus kau
Kirigaya Haruto
linzhou itu kota di China gimana bisa di linzhou ada jalan sudirman yang lekat sama kota2 di Indonesia
Kirigaya Haruto
kan harusnya jumlah uangnya itu 4.348.550.000 kenapa dia bisa ngeluarin 5m hari ini kan uangnya seharusnya gak cukup
Kirigaya Haruto: aku sebagai pembaca veteran selalu menemukan pola yang sama jumlah uang yang keluar sama jumlah uang yang masuk itu gak seimbang banyakan uang keluar dari pada uang yang masuk
total 2 replies
Hadi Hadi
up💪
Nissa Safira: terima kasih kaka hadi🥰🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up💪
Hadi Hadi
lanjut💪
Hadi Hadi
good😍
Hadi Hadi
semangat💪
Hadi Hadi
mantap😍😍💪
Hadi Hadi
semangat💪
Hadi Hadi
bantai💪
Hadi Hadi
mantap
Hadi Hadi
sikat
Hadi Hadi
lanjut💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!