NovelToon NovelToon
PENDEKAR NAGA SAKTI

PENDEKAR NAGA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Adih Supriadi

Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 29

*PERANG BESAR 5*

Layang Raksasa

Jam 8 malam.

Angin bukit bertiup cukup kencang. Cukup untuk mengangkat kain. Cukup untuk membawa nyawa.

Di tepi tebing Rinjani, 4 prajurit sudah siap. Lutut di tanah, tangan memegang erat  4 layangan raksasa warna hitam.

Tali kendalinya digenggam sampai putih. Mereka menunggu satu aba-aba.

Tapi para komandan belum tiba.

Para Jendral masih di perjalanan. Barisan obor kecil bergerak pelan di tengah bukit, menanjak ke puncak.

Suara langkah baju zirah terdengar samar dari bawah.

Di puncak bukit, seorang bayangan sudah duduk dari tadi.

Apis. Pendekar Naga Hitam.

Padahal namanya tidak masuk daftar terbang malam ini. Tapi dia datang paling awal.

Dia cek satu-satu: rangka bambu, simpul tali, kain layangan. Ditarik, diketuk, ditiup.

“Ini kendor... ini bisa sobek kena angin laut...” gumamnya sambil mengikat ulang.

*Prajurit 1* memberanikan diri. “Naga Hitam... bukannya kau tidak ikut misi?”

Apis tidak menoleh. Tangannya tetap kerja. “Aku tidak ikut terbang. Tapi aku ikut jaga.”

Dia menatap laut gelap di kejauhan. Di ujung sana ada  Perahu Merah Pangeran Juling.

“Semoga berhasil,” bisik Apis. Bukan doa keras. Cuma bisik.

“Semoga mereka bisa tahan Pangeran Juling. Paksa pasukan Khan pergi. Keluar dari Nusantara.”

Dia mengepalkan tangan.

“Kalah menang urusan nanti. Yang penting... *perang selesai*. Tidak ada lagi ibu yang nangis. Tidak ada lagi adik yang jadi yatim. Tidak ada lagi korban jiwa.”

Angin makin kencang. Layangan-layangan itu bergetar, seakan tidak sabar mau terbang.

Dari kejauhan, suara *Jasiren* terdengar. “Apis... Pendekar Naga Hitam. "

*Jendral Kerbau* teriak dari bawah. “Ngapain kau di situ, Hitam?!”

" Pingin ikut yaaaa... Ayoo ngaku... "ledek Arden.

Apis berdiri. Membungkuk hormat. “Melapor, Jendral. Layangan siap. Angin siap.”

Dia melirik ke langit lalu berucap.

" Semoga takdir Tuhan berpihak untuk kita."

Obor-obor sampai. *Para Jendral dan Pendekar* akhirnya berdiri di tepi tebing.

*Jasiren* di depan. *Naga Sakti* di samping. *Jendral Macan* dan *Jendral Kerbau* di belakang. Napas mereka berat habis mendaki.

"Gimana Bro... Udah siap layangan ya..." ucap Oval.

"Aman Bang, kondisi siap dan bagus, angin juga bagus malam ini." ucap Apis.

"Sudah waktunya Jasiren..." ucap Pendekar Naga Langit.

"4 pendekar, Bersiap di Posisi!!!." teriak Jasiren.

*Arden, Oval, Jendral Kerbau, Jendral Garuda* langsung maju. Tanpa banyak kata.

Mereka 4 orang yang terpilih. Naik ke bawah rangka *4 layangan raksasa* warna hitam.

Tali pengikat diikat ke pinggang. Pedang diselipkan.

*Apis* menyerahkan tali terakhir ke Arden. “Kenceng, Kak. Anginnya galak malam ini.”

Arden mengangguk. "Oke Bro, kita juga harus Galak ke para penjajah itu .”

Semua diam. Cuma ada suara angin yang makin menderu.

*Jasiren* angkat tangannya tinggi-tinggi. Matanya ke langit.

Menunggu... menunggu...

_WUSSSHHH—_

*Angin kencang datang!* Menghantam tebing. Kain layangan mengembang penuh.

Tarikannya kuat sampai prajurit yang pegang hampir terpental.

“SEKARANG!” raung Jasiren.

“*LEPAS!*”

4 prajurit melepas pegangan.

_BRAK!_  Wussssss........

*Empat pendekar meluncur dari tebing.* Tubuh mereka terangkat. Layangan hitam meraung kena angin. Naik... naik... tinggi.

Dari bawah, *Naga Sakti* mengepalkan tangan. “Bismillah...”

*Apis* berteriak sampai suaranya pecah.

“HIDUP NAGA! JAYA NUSANTARA..!!!. "

*Di Langit*

Cukup tinggi. Laut di bawah hitam mengilap seperti kaca.

*Arden* mengangguk ke 3 yang lain.

Sekali sentak, *tali panjang pengait bukit diputus*. _CRAK!_

Tanpa ikatan, 4 layangan kini bebas. Meluncur deras dibawa angin barat.

*Oval* teriak. “Kendali sendiri! Arahkan ke merah! Ke perahu Pangeran Juling!”

*Jendral Kerbau* tertawa. “Gila! Ini terbang paling gila seumur hidupku!”

*Jendral Garuda* menukik duluan. “Ikuti aku! Aku paling paham angin laut!”

Empat titik hitam bergerak rapi. Memotong bulan. Tanpa suara. Tanpa lentera.

Target di depan: *Perahu Merah Pangeran Juling*.

Lentera redupnya jadi satu-satunya titik terang di laut gelap.

500 meter... 300 meter...

Angin malam membawa mereka makin jauh dari tebing.

*Arden, Oval, Jendral Kerbau, Jendral Garuda* melayang sunyi.

Empat titik hitam di langit tanpa bintang.

Di bawah mereka... *pantai Nusantara*.

Pemandangan yang bikin dada sesak.

*Satu sisi: Indah.*

Pasir putih memantulkan cahaya bulan. Ombak Rinjani berdebur pelan, seakan berbisik: _Pulangkan anak-anakku._ Hutan kelapa bergoyang. Tanah kelahiran mereka. Tenang.

*Sisi lain: Neraka.*

*Ribuan pasukan Khan* berkemah di sepanjang pantai.

Obor berjejer seperti kunang-kunang merah. Puluhan tenda besar.

Dapur lapangan mengepul. Prajurit mengasah tombak.

Kapten berteriak mengatur formasi kapal. Kuda meringkik. Meriam didorong ke bibir pantai.

Hiruk pikuk perang. Ramai. Panas. Penuh sombong.

Tapi tidak satu pun dari ribuan kepala itu mendongak ke atas.

Tidak ada yang sadar *4 pendekar melintas tepat di atas kepala mereka.*

*Arden * menahan napas “Lihat itu,... seribu tombak... seratus pedang... .”

*Jendral Kerbau* berbisik. “Kalau satu aja lihat kita, habis kita ditembak rame-rame.”

*Jendral Garuda* menukik dikit biar lebih gelap. “Diam. Ikuti bayangan awan. Angin bawa kita.”

*Arden* cuma menatap lurus ke depan. Ke titik merah di laut.

“Biarkan mereka ribut di bawah. Kita punya urusan di atas air.”

Empat layangan itu meluncur tanpa suara. Seperti hantu. Seperti doa.

Di bawah, seorang prajurit Khan tertawa sambil makan. Di atas, empat nyawa Rinjani melayang demi menghentikan tawa itu selamanya.

Layangan raksasa menderu terbang ke arah laut, deru yang tak sampai ke darat.

Dari kejauhan mulai tampak 3 perahu besar berjajar.

"Arden... Itu yang tengah, warna merah...!!" teriak Oval ke Arden.

"Oke!!!.... Belok sedikit ke kanan agar lurus menuju perahu." ucap Arden.

4 layangan berbelok sedikit ke kanan munuju 3 perahu perahu besar.

***

Di bukit.

Lari dua orang prajurit rinjani membawa satu layangan raksasa.

Apis tersenyum melihat hal tersebut, itu rencana dirinya.

" Hai.... Suruh siapa itu... Kalian membawa layangan raksasa kemari..." ucap Jasiren dengan nada keras.

2 prajurit ketakutan.

"Siap Pendekar.. Ini di suruh oleh Pendekar Naga hitam." ucap Prajurit dengan tegas.

Jasiren memandang ke Apis. Apis cengengesan...

Jasiren memandang ke Pendekar Naga Langit.

"Apis, sabar lah.... Mari duduk santai dulu, di saat kita bisa bersantai maka b ersantai lah... Di saat kita bertarung maka bertarung lah.. Mari duduk kita ngopi dulu..." ucap Pendekar Naga Langit santai.

Apis garuk kepala yang tak gatal.

"Hemmm gagal deh." ucap Apis.

"Sabar lah... Mereka pun baru terbang Apis, dan berdoa, semoga Guru mu itu berubah pikiran." ucap Jasiren.

Puncak bukit. Jam 8.30 malam.

Empat bayangan sudah hilang ditelan gelap ke arah laut. Suara angin bawa layangan pun nggak kedengeran lagi.

Tinggal hening.

Jasiren, Apis, dan Naga Sakti duduk di atas batang pohon besar yang tumbang*.

Di depan mereka, api unggun berderak pelan. Percikan apinya naik turun, sama kayak hati mereka.

Apis nyeduh kopi di cangkeng seng.

Wanginya pahit, ngebul. Dia tuang 3 cangkir.

“Sini, Jendral. Kopi hitam. Biar melek.”

Naga Sakti nerima. Tangannya masih dingin kena angin bukit. “Terima kasih, Hitam.”

Jasiren cuma diem. Pandangannya ke laut gelap. Tempat 4 pendekar tadi terbang.

Lama mereka diem. Cuma suara kayu kebakar.

Akhirnya Jasiren buka suara. “Kalau berhasil... Pangeran Juling jadi sandera kita.”

Naga Sakti mengangguk pelan. “Pasukan Khan pasti goyah. Mereka nggak akan berani serang brutal kalau Pangeran ditahan.”

“Strategi selanjutnya,” kata Jasiren, matanya nyala kena api. “Kita paksa *mundur total dari Nusantara. Bukan gencatan senjata. Pulang. Selamanya. "

Apis ngaduk kopinya. “Tapi kalau gagal, Jendral?”

Jasiren narik napas. “Kalau gagal... kita perang habis-habisan besok pagi. Nggak ada lagi negosiasi. Kita tarik semua pendekar dari desa. Benteng terakhir di Lembah Cemara.”

Naga Sakti menatap api. “Korban pasti banyak.”

“Hah...” Jasiren ngusap wajah. “Itulah yang nggak mau aku liat. Makanya malam ini taruhannya gede banget. 4 nyawa buat ribuan nyawa.”

Apis angkat cangkirnya. “Buat Arden. Buat Oval. Buat Kerbau. Buat Garuda.”

Jasiren dan Naga Sakti ikut angkat cangkir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!