Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Mempersiapkan Kamar untuk Arya
Hari-hari setelah kunjungan ke Kakek Idris terasa semakin hangat. Sarah tidak bisa berhenti tersenyum setiap kali mengucapkan nama yang diberikan sang kakek. Arya Grayson. Nama itu terasa begitu sempurna di lidahnya, seolah sudah menjadi takdir.
Suatu pagi, saat Sarah sedang sarapan, Samudra duduk di sampingnya dengan secangkir kopi hitam. Ia menatap Sarah yang sedang tersenyum sambil mengusap perutnya.
"Sarah, aku punya ide," ujar Samudra.
"Apa itu, Pak?" tanya Sarah.
"Aku ingin kita mulai mempersiapkan kamar untuk Arya. Kamar di sebelah kamar tidur utama masih kosong. Aku ingin mengubahnya menjadi kamar bayi," ujar Samudra.
Sarah membelalak, lalu tersenyum lebar. "Benarkah, Pak? Aku boleh mendekorasinya?"
"Tentu. Itu kamar untuk anak kita. Aku ingin kamu yang memilih semuanya. Kamu bisa memilih warna, furnitur, dan dekorasi apa pun yang kamu suka," jawab Samudra.
Sarah merasa sangat bahagia. Ia langsung bangkit dari kursi, dan berjalan menuju kamar kosong di sebelah kamar tidur utama. Samudra mengikutinya, tersenyum melihat semangat Sarah.
Kamar itu cukup luas, dengan jendela besar yang menghadap ke taman. Cahaya matahari pagi masuk dengan sempurna, menerangi ruangan dengan warna keemasan. Sarah membayangkan bagaimana kamar itu nantinya.
"Pak, aku ingin dindingnya dicat warna kuning muda. Dan aku ingin ada gambar awan dan bintang di langit-langitnya," ujar Sarah.
"Tentu. Aku akan memanggil pelukis untuk membuat mural langit," jawab Samudra.
"Dan aku ingin tempat tidur bayi dari kayu jati, dengan kelambu putih yang tipis. Di sampingnya, aku ingin meletakkan kursi goyang untuk aku menenangkan Arya saat dia menangis," lanjut Sarah.
Samudra mengangguk, mencatat semua keinginan Sarah di ponselnya. "Apa lagi?"
"Di sudut kamar, aku ingin rak buku kecil. Aku akan menaruh buku-buku cerita anak di sana. Dan di atas rak, aku ingin meletakkan boneka beruang yang kita beli di London," ujar Sarah.
Samudra tersenyum. "Aku akan memastikan semuanya ada."
Mereka berdua menghabiskan pagi itu dengan merencanakan kamar bayi. Sarah sangat antusias, ia bahkan menggambar sketsa tata letak kamar di sebuah kertas. Samudra duduk di sampingnya, memperhatikan setiap detail yang Sarah gambar.
"Pak, aku ingin ada lampu tidur berbentuk bintang. Supaya Arya tidak takut gelap," ujar Sarah.
"Aku akan mencarinya," jawab Samudra.
Hari itu, Samudra memanggil tim dekorator interior untuk datang ke mansion. Sarah dan tim dekorator berdiskusi tentang warna, bahan, dan perabotan yang akan digunakan. Sarah memilih warna kuning muda dan putih sebagai tema utama, dengan sentuhan warna biru langit pada aksen-aksen kecil.
Tim dekorator mulai bekerja. Mereka mengecat dinding dengan warna kuning muda yang lembut, dan seorang pelukis mulai membuat mural awan dan bintang di langit-langit. Sarah sering duduk di ambang pintu, memperhatikan proses pekerjaan dengan senyuman.
"Kamu sangat bahagia, ya?" tanya Samudra, yang tiba-tiba muncul di samping Sarah.
"Iya, Pak. Aku tidak pernah membayangkan akan memiliki kamar bayi secantik ini," jawab Sarah.
"Arya akan sangat menyukainya," ujar Samudra.
Beberapa hari kemudian, furniture mulai tiba. Tempat tidur bayi dari kayu jati dengan ukiran halus, lemari pakaian mini, dan rak buku kayu. Sarah mengatur sendiri posisi semua barang, dengan bantuan Yola.
Saat kursi goyang tiba, Sarah duduk di atasnya, dan mencoba mengayun pelan. "Ini sangat nyaman, Yola. Aku bisa duduk di sini sepanjang malam."
Yola tersenyum. "Ibu akan sering menggunakannya nanti. Bayi biasanya suka digoyang."
Sarah juga memasang kelambu putih di atas tempat tidur bayi. Kelambu itu sangat tipis dan cantik, memberikan kesan yang sangat lembut.
Di rak buku, Sarah menata buku-buku cerita anak dengan rapi. Beberapa buku sudah ia beli sejak di London, dan beberapa lagi ia beli di toko buku lokal. Ia juga meletakkan boneka beruang yang dibeli Samudra di atas rak, tepat di samping buku-buku itu.
Di dinding, Sarah menggantung beberapa hiasan berbentuk binatang lucu. Ada rusa, kelinci, dan burung hantu. Semuanya terlihat sangat menggemaskan.
Malam harinya, saat semua furniture sudah terpasang, Sarah berdiri di tengah kamar bayi, menatap sekeliling dengan mata berkaca-kaca.
"Pak, ini sangat indah," bisiknya.
Samudra berdiri di sampingnya. "Arya akan menyukainya. Dia akan tumbuh di kamar ini, penuh dengan cinta."
Sarah menatap Samudra. "Terima kasih, Pak. Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk merasakan kebahagiaan ini."
Samudra merangkul Sarah, dan mencium keningnya. "Kamu layak mendapatkan semua ini, Sarah. Dan aku akan memberikan yang terbaik untukmu dan Arya."
Malam itu, Sarah duduk di kursi goyang di kamar bayi, sambil menatap tempat tidur kecil yang masih kosong. Ia mengusap perutnya, yang mulai sering bergerak.
"Halo, Arya. Ini kamarmu. Ibu dan ayah sudah mempersiapkannya untukmu. Kami tidak sabar menunggu kedatanganmu," bisiknya.
Janin itu menendang pelan, seolah merespons kata-kata Sarah. Sarah tersenyum, dan air matanya jatuh.
"Arya, kamu sangat dicintai," bisiknya.
Kehidupan Sarah di mansion kini terasa semakin sempurna. Ia tidak hanya menjadi calon ibu, tapi ia juga sedang membangun masa depan bersama Samudra. Kamar bayi itu bukan sekadar ruangan, tapi simbol dari cinta dan harapan mereka.
Dan Sarah tahu, bahwa saat Arya lahir nanti, ia akan tumbuh di rumah yang penuh dengan cinta.