NovelToon NovelToon
DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyudi0596

Setelah menghadiri pesta pertunangan Rias Gremory sahabat kecilnya yang berakhir digagalkan oleh Sekiryuutei:Issei Hyoudou. Sona sitri di dorong oleh kakaknya Serafall untuk mencari keluarga baru demi menambah kekuatan tempur garis depan.

Menanggapi itu Sona mengamininya, lalu saat kembali ke dunia manusia. Dia menyaksikan seorang pemuda dengan sacred gear [Imperial Tiger Mantle] bertarung dengan malaikat jatuh tingkat tinggi.

Remaja itu mati terbunuh dan Sona membalas kematiannya dengan membunuh malaikat jatuh itu. Lalu mereinkarnasikan remaja itu yang ternyata masih murid akademi Kuoh sekelas dengan Issei sang sekiryuutei.

Inilah kisah Yudi sang Pawn Sitri yang bersumpah untuk selalu menjaga janjinya demi melindungi rekan-rekannya dari berbagai masalah.

Update rutin, kalau mendesak mungkin 1 chapter [Harap Maklum] Janga ragu Subscribe guys, kalau bisa pencet tombol likenya ya👍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

Sebuah rasa pahit yang sangat familiar kembali merayap naik dan mencekik kerongkongan Sona. Itulah hal yang paling tidak ia sukai dalam hidupnya. Hal itu jugalah yang selalu membuat seluruh anggota peerage keluarganya (Tsubaki, Momo, Reya, Tomoe, dan Saji) selalu memperlakukannya dengan jarak dan tingkat penghormatan yang sangat tinggi.

Sona tahu bahwa mereka sangat menghormatinya atas kualitas kepemimpinannya, tapi di sudut terdalam hatinya, Sona tidak bisa menepis perasaan bahwa sebagian besar dari sikap hormat tersebut lahir dari rasa inferioritas mereka karena mengetahui fakta bahwa Sona adalah "Adik dari Maou Leviathan".

Bukan berarti Sona membenci rasa hormat. Ia tentu ingin dan menuntut untuk dihormati sebagai seorang pemimpin (King). Tapi ia mendambakan sebuah penghormatan yang ditujukan murni dan utuh hanya untuk eksistensi 'Sona Sitri' semata, tanpa ada tempelan embel-embel bayang-bayang kakaknya.

Fakta sejarah itulah yang menciptakan sebuah jarak; dinding kaca transparan yang sangat tipis, namun terasa begitu jauh dan tidak bisa ditembus antara dirinya dan anggota keluarganya.

Jarak emosional itulah yang pada akhirnya membuat suhu di dalam ruang klub OSIS selalu terasa begitu kaku, disiplin, dan terlampau dingin.

Meski dari luar kelompok OSIS-nya selalu terlihat sempurna, teratur, dan efisien, dinding tipis hierarki itu membuat anggota keluarganya tidak pernah berani bersikap santai, bercanda tanpa beban, atau bersikap layaknya teman sebaya seumurannya.

Ditambah dengan kepribadian asli Sona yang kaku, terlalu serius, dan sangat canggung dalam urusan emosional, jarak tak kasat mata itu justru semakin melebar.

Diam-diam, saat sedang sendirian, Sona terkadang merasa sedikit iri ketika melihat kehangatan, canda tawa lepas, dan kedekatan tanpa jarak yang terbangun secara natural antara Rias Gremory dengan seluruh anggota keluarganya di Klub Ilmu Gaib. Namun, Sona tidak tahu harus berbuat apa.

Jika ia secara tiba-tiba merubah sifatnya menjadi sosok yang periang, murah senyum, dan hangat pada anggota OSIS keesokan harinya, Sona tahu persis bahwa Tsubaki, Saji, dan yang lainnya justru akan panik luar biasa.

Mereka pasti akan mengira bahwa mereka telah melakukan kesalahan fatal atau tidak melayaninya dengan baik, yang ujung-ujungnya hanya akan memperparah kekakuan situasi.

Karena rentetan alasan kompleks itulah, jauh di dasar relungnya, Sona merasa sangat terstimulasi dan senang saat Yudi hadir. Seseorang yang baru ia kenal, yang dengan berani beradu argumen, menyanggah instruksinya secara logis, dan menolak tantangannya tanpa rasa takut, murni karena Yudi sama sekali tidak mengetahui siapa identitas aslinya. Dan kini... ilusi kesetaraan itu akan hancur lebur.

Sona menundukkan pandangannya ke arah meja. Ia bersiap menerima ucapan maaf terbata-bata dari pemuda di depannya, bersiap melihat Yudi berubah menjadi sosok pelayan penurut lainnya.

"WOAAAAH!!"

Sebuah jeritan melengking yang sangat nyaring meledak tanpa aba-aba dari mulut Yudi.

"KEREN! KEREN! KEREN SEKALI!"

Yudi menarik paksa tangannya dari wajahnya. Ia melompat berdiri dari kursinya. Kedua matanya tidak memancarkan rasa takut atau penyesalan sedikit pun, melainkan berbinar terang benderang layaknya bintang jatuh. Ia memukul udara kosong dengan kepalan tangannya berulang kali.

Teriakan ledakan antusiasme yang jaraknya hanya dibatasi sebuah meja itu membuat Sona tersentak mundur dengan sangat keras. Punggungnya membentur sandaran kursi. Kepalanya terdorong ke belakang hingga kacamata baca yang bertengger di hidungnya nyaris meluncur jatuh ke pangkuannya.

"Ka... kau ini kenapa tiba-tiba menjerit seperti orang gila?!" bentak Sona dengan suara yang dipaksakan ketus, tangannya buru-buru membenarkan letak kacamatanya. Jantungnya kembali berpacu liar. "Bukannya sudah kubilang, dan kau sudah berjanji, untuk tidak bertindak hiperbolis seperti itu lagi?!"

Meski memarahi, ada secercah rasa harap-harap cemas yang kembali hidup di dalam dada Sona saat melihat tidak ada raut inferioritas di wajah pemuda itu.

"Tentu saja aku menjerit karena aku sangat, sangat senang, Kaichou!" balas Yudi dengan senyum selebar mungkin yang menampilkan seluruh giginya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan telapak tangannya di atas meja Sona.

"Fakta bahwa aku ternyata telah bereinkarnasi menjadi bagian dari kelompok keluarga Sitri... dan fakta bahwa kau, tuanku sendiri, ternyata adalah seorang adik kandung dari sosok Maou Leviathan yang sangat legendaris itu... Bukankah itu adalah plot cerita yang sangat epik dan super keren?!"

Sona membeku. Mata ungunya berkedip lambat. Itu lagi. Dia menggunakan logika yang tidak rasional lagi, pikir Sona, mencoba mempertahankan kewarasannya.

Ia masih menekan asanya, meyakini bahwa pada ujung kalimatnya nanti, antusiasme semu itu akan memudar dan pemuda ini pasti akan mengatakan kalimat permintaan maaf karena telah bertindak kurang ajar padanya siang tadi.

"Dan karena fakta itulah..." Yudi menurunkan nada suaranya, senyum konyolnya perlahan digantikan oleh sebuah seringai tipis yang tajam. Matanya menatap lurus menembus lensa kacamata Sona. "...aku sekarang merasa teramat sangat bangga. Karena siang tadi, di hadapan banyak orang, aku sebagai seorang amatir telah berhasil meruntuhkan ego dan mematahkan kalkulasi waktu milik seorang adik langsung dari sang Raja Iblis dalam permainan catur!"

Udara di ruang OSIS seolah tersedot habis. Sona yang semula sudah mempersiapkan mental baja untuk menerima permintaan maaf dan sikap tunduk dari Yudi, justru dihantam oleh sebuah deklarasi keangkuhan tingkat tinggi.

Alih-alih merasa takut atau menyesal atas tindakannya merendahkan Sona siang tadi, Yudi malah menggunakan identitas baru Sona sebagai medali emas untuk melegitimasi dan mendeklarasikan ulang keberhasilannya meruntuhkan tembok perfeksionis sang Ketua.

Sona kehilangan kata-kata. Mulutnya sedikit terbuka. Ia benar-benar telah kehilangan kemampuannya untuk menebak arah pola pikir dan isi kepala pemuda yang berdiri di depannya ini.

Sebelum Sona sempat memproses keterkejutannya, Yudi bergerak lagi. Ia menarik tubuhnya tegak lurus, mengangkat tangan kanannya, dan menunjuk tepat ke depan wajah Sona dengan tatapan mata yang teramat sangat serius dan mengintimidasi.

"Bersiaplah untuk bekerja keras mulai dari sekarang, Sona Kaichou," deklarasi Yudi dengan artikulasi yang pelan namun sangat tajam. "Mengetahui secara pasti identitas aslimu sebagai adik kandung dari entitas terkuat, sama sekali tidak membuatku takut. Hal itu justru bertindak sebagai bahan bakar yang membuat diriku semakin bersemangat dan gila untuk berlatih menjadi lebih kuat!"

Yudi mengepalkan tangannya yang menunjuk Sona. "Aku pasti akan membuktikan di hadapan matamu sendiri, bahwa aku sangat pantas untuk melayani... eh, salah, bukan melayani." Yudi meralat kalimatnya dengan cepat, seringai di wajahnya semakin lebar. "Maksudku... aku pantas untuk BERSAING langsung denganmu dan pada akhirnya melampaui seluruh pencapaianmu!" pungkasnya dengan tekad membara untuk meruntuhkan seluruh dominasi hierarki yang ada di ruangan tersebut.

Di dunia bawah, bagi iblis keturunan bangsawan biasa mana pun, kalimat barusan merupakan sebuah bentuk penghinaan dan pemberontakan fatal, karena seorang pelayan rendahan (Pawn) telah berani bersikap sangat lancang dan mendeklarasikan persaingan terbuka secara frontal dengan tuannya sendiri (King).

Namun... bagi Sona Sitri, yang seumur hidupnya selalu berada dan tercekik di bawah bayang-bayang superioritas kakaknya, serta segala usaha keras dan pencapaian individunya selalu disangkutpautkan dengan nama besar kakaknya... pernyataan provokatif barusan justru terdengar bagaikan sebuah nyanyian kebebasan.

Itu adalah sebuah deklarasi perang murni dari sosok yang sama sekali tidak mempedulikan 'siapa Sona berdasarkan garis keturunannya'. Deklarasi itu membuktikan secara mutlak bahwa Yudi memandang Sona semata-mata karena ia adalah Sona Sitri—seorang gadis cerdas, perfeksionis, dan pemimpin saingannya yang ingin ia kalahkan secara adil dengan kemampuannya sendiri.

Dada Sona terasa hangat, sebuah sensasi menggelitik yang sangat asing menyebar di perutnya. Namun, rasa waspada dan skeptisisme yang telah mendarah daging di dalam dirinya menuntut sebuah pembuktian akhir.

Sona ingin menguji ketahanan mental dari bidaknya ini. Ia harus memastikan secara mutlak apakah ucapan berani itu hanyalah sebuah luapan emosi sesaat (bualan), atau memang lahir dari tekad yang sungguhan tak tergoyahkan.

Untuk melakukan pengujian itu, Sona harus memaksakan dirinya untuk mengucapkan satu kalimat pamungkas yang paling tidak ia sukai, kalimat klise bangsawan yang paling ia benci untuk diucapkan seumur hidupnya.

"Kenapa kau berani sekali berkata lancang seperti itu padaku?!"

Sona berdiri dari kursinya dengan gerakan menyentak. Kedua tangannya menggebrak meja kerja. Ia merendahkan intonasi suaranya hingga ke titik beku, menatap tajam ke arah Yudi dengan intensitas aura membunuh yang dilepaskan secara penuh. "Apa kau lupa siapa aku ini, hah?! Apa kau lupa kalau kau berhadapan dengan adik dari seorang Raja Iblis?!"

Aura ungu pekat meledak dari tubuh Sona, menciptakan tekanan angin yang membuat ujung rambut Yudi berkibar ke belakang.

Menghadapi intimidasi magis dan ancaman nama besar tersebut, Yudi tidak mundur satu inci pun. Ia justru membalas gebrakan Sona dengan menggebrak meja menggunakan kedua tangannya, memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya terpisah beberapa jengkal.

"Hah! Dasar tidak tahu malu!" balas Yudi dengan teriakan yang tak kalah lantang, matanya memancarkan api keberanian murni. "Kau pikir kau bisa membungkam dan mengecilkan nyaliku hanya dengan meminjam dan berlindung di balik nama besar kakak perempuanmu yang hebat itu?!"

Yudi mendengus keras. "Hadapi aku dengan kemampuan dan harga dirimu sendiri sebagai Sona Sitri! Aku sangat yakin dan bertaruh bahwa kau bukanlah tipe pengecut yang suka berlindung di balik ketiak nama besar keluargamu saat kau terpojok secara argumen! Lagipula, buka telingamu lebar-lebar!"

Yudi menunjuk dada Sona dari kejauhan. "Aku mengatakan 'mengetahui kau adalah adik Maou, aku jadi bersemangat' itu, sama sekali BUKAN berarti aku memiliki pola pikir murahan seperti: 'wah, kalau aku bisa mengalahkanmu, aku bisa pamer dan berbangga diri karena sudah berhasil mengalahkan adik seorang Maou'. Tidak sama sekali!"

Napas Yudi memburu cepat. "Aku ingin kita berlomba dan bersaing sebagai dua individu setara, Sona. Hanya aku dan kau."

Mata ungu Sona membulat sempurna. Kemarahan artifisial yang ia ciptakan menguap seketika tak bersisa. Ia terdiam cukup lama, terpaku menatap wajah pemuda di depannya yang dipenuhi keringat tekad. Penjelasan eksplisit Yudi barusan menghancurkan seluruh dinding keraguannya.

Pemuda ini, secara mutlak dan tanpa sedikit pun manipulasi... tidak memandang Sona sebagai Adik dari Maou Leviathan, melainkan murni mengakui dan menantang eksistensi Sona Sitri seutuhnya tanpa tempelan gelar politik apa pun.

Di balik ekspresi wajahnya yang menegang karena terkejut, jantung Sona berdebar kencang. Ia harus menggigit bagian dalam pipinya sangat kuat untuk menahan rasa girang dan ekstase luar biasa yang meledak di dalam dadanya. Inilah dia. Inilah satu-satunya pengakuan kecil dan tantangan setara yang paling ia impikan seumur hidupnya.

Namun, bagian terakhir dari ucapan Yudi memicu alarm analitis Sona.

"Apa... apa sebenarnya maksud dari ucapanmu mengenai kata 'berlomba' itu?" tanya Sona. Ia berhasil mengatur pita suaranya untuk bertanya dengan nada yang terdengar dingin, mengubur dalam-dalam rasa girang dan getaran emosionalnya di balik topeng Kaichou yang absolut.

Yudi tidak langsung memberikan jawaban. Ia perlahan menarik tubuhnya menjauh dari meja, berdiri tegak, dan mengatur napasnya. Sebuah senyum kecil, senyum seorang petaruh sejati, terukir di sudut bibirnya.

"Sangat sederhana," ucap Yudi dengan semangat yang membara. Ia mengarahkan tangan kanannya yang terbuka lurus ke arah Sona. "Ayo kita buat sebuah pertaruhan resmi. Berikan tebakan terbaikmu mengenai seberapa banyak aku, seorang amatir, bisa menyelesaikan tugas membuat kontrak dengan klien manusia dalam rentang waktu yang kau tentukan."

Seringai Yudi semakin melebar. "Jika hasil akhirku nanti gagal dan tebakan angka pesimismu itu terbukti benar, aku menyerahkan diriku seutuhnya dan kau bebas menghukumku dengan cara apa pun yang kau suka tanpa ada bantahan dariku."

Yudi menunjuk tepat di tengah dada Sona. "TAPI... jika pada akhir waktu nanti aku berhasil melampaui tebakan angka mustahilmu itu dan mematahkan ekspektasimu... maka sebagai imbalannya, kau harus turun tangan secara langsung dan membantuku melatih fisik dan sihirku agar aku bisa bertambah kuat setiap harinya. Bagaimana? Syarat pertaruhan yang sangat adil dan saling menguntungkan, bukan?!"

...* * *...

1
Bayuon So7
Lagi dan lagi saji blunder di sini cok
Bayuon So7
wedeh jadi MC punya hubungan sama Irina menarik untuk di tunggu hubungan seperti apa ya
Bayuon So7
Irina lawak orang lagi perang malah perkenalan diri,, emang beneran julukan dari si Milicas. Malaikat yang memproklamirkan diri
Bayuon So7
Si Imut koneko🤭
Bayuon So7
Weh mau gelut kayaknya nih, semogaa author senantiasa sehat deh
Bayuon So7
Debatnya asyik cuy, mantap lanjutkan💪
Zuta Huda
Kurang ngerti min, aku disuruh sepupuku buat like
Tessar Wahyudi: Terima kasih likenya dan salam untuk sepupunya ya👍
total 1 replies
Bayuon So7
Gak ekspektasi kalau dari pertanyaan simple bisa ambil kesimpulan seperti itu.
Paolo Maldini
Bang gw mau lempar 💣 nih
Fans Real Madrid
Semangat author
Tessar Wahyudi: makasih, semoga gak kapok ya
total 1 replies
Bayuon So7
sudah kuduga emang Kiba
Bayuon So7
Hoah udah mau masuk ke arc kiba kah?
Bayuon So7
Ada aja kelakuan Sona dan Yudi ini ya 🤣
Bayuon So7
Tutorial memancing keributan 🤭
Bayuon So7
marketing sales gak tuh🤭
Bayuon So7
Aduh Saji, begitu pedenya bilang kalau iblis reinkarnasi awal-awal sulit mendapatkan kontrak🤭
Bayuon So7
Tsubaki Flexing njir🤣
Bayuon So7
beneran juga sih, hasil yang memuaskan. Ini MC diam-diam serakah juga ya, kalau dilihat-lihat 🤭. tapi tetap masuk akal kok Thor.👍
Bayuon So7
Hn jadi ini semacam Cooling down setelah pertarungan sengit, mantap Thor.
Bayuon So7
Gua cuma mau bilang bisa cepetin gak updatenya penasaran njir🤭
Tessar Wahyudi: Sabar dong bang, semua ada waktunya mohon ditunggu dengan sabar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!