Alexandria Rigest tidak menyangka akan terjebak di antara baku tembak pendemo Sebagai jurnalis dia ingin mengupas tuntas sisi gelap prilaku oknum-oknum yang duduk di parlemen. Ketika terjadi demo serta baku tembak di salah satu gedung pemerintah, Alexa ikut terjaring. Dia sendiri diculik oleh beberapa orang yang berpakaian hitam- hitam dan disekap di ruangan bawah tanah. Alvaro Ady Mema, itu nama bos gangster yang menculiknya. Kehidupan Alexa di manipulasi dan Alexa menjadi budak nafsu Alvaro yang terkenal kejam tidak punya prikemanusiaan. Bisakah Alexa lepas dari cengkraman Alvaro? atau dia malah jatuh cinta kepada bos mafia itu?
****
Hallo readers yang selama ini sudah support aku, mampir ya...
jangan lupa kasi like, gift, vote dan favorit. Trimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEMBURU
Semua ternganga melihat kejadian itu tidak terkecuali Alvaro. Pria ganteng itu seolah di ejek oleh perbuatan Alexa. Keren habis.
Tanpa membuang waktu dia menyusul Alexa ke kamar. Merasa di ikuti Alvaro, Alexa mempercepat langkahnya, dia masuk kamar serta menutup pintu dengan kakinya. "Jedeerrr..."
Dua orang pengawal yang ada di luar kamar kaget. Mereka tambah takut ketika Alvaro berada di depan mereka. Cepat-cepat mereka membuka pintu. Alvaro masuk dan menutup pintu kamar.
"Alexa..." panggil Alvaro ketika tidak melihat Alexa di kamar.
Dia menuju balkon, tapi kosong. Akhirnya dia menuju kamar mandi dan benar saja, Alexa pasti mandi besar. Darah Alvaro kembali mendidih ketika ingat dengan Nickolas, kemungkinan besar Nickolas sudah sempat berbuat senonoh dengan Alexa. pikir Alvaro. Tidak mungkin seorang gangster akan melewati kesempatan emas.
Alexa keluar dari kamar mandi. Betis mulusnya sudah tidak di balut perban lagi, sudah sembuh barangkali. Dia menuju sofa panjang duduk santai di depan Alvaro. Saat ini dia memakai celana pendek dari jean dan t-shirt putih. Sexy dan mempesona.
"Kau mandi besar?" mulut Alvaro tidak tahan kalau tidak bertanya.
"Menurutmu bagaimana, kau cemburu memikirkan aku bersama Nickolas." ucap Alexa duduk di sofa.
"Hahaha...cemburu? kau lihat pacarku sudah datang dari luar negeri?"
"Wanita tadi yang berdandan menor itu pacarmu. Aku sudah lihat pelayan itu. Cocok denganmu sama-sama dari kumpulan yang terbuang.
"Mulut kau pedes, aku benci. Ingat!!. Lagi sekali kau berani keluar memakai pakaian sexy seperti tadi, aku akan seret kau ke jalanan."
"Ya kalau aku ingat." sahut Alexa.
Alvaro kesal mendengar jawaban Alexa yang meremehkannya. Dia lalu mendekat dan menubruk Alexa.
"Hee..apa-apaan ini, aku alexa bukan Maria pacarmu." tangan Alexa menolak tubuh Alvaro. Tapi Alvaro tetap saja tidak bergerak, tangannya memeluk Alexa erat.
"Lepasin gak, aku gigit kau sampai berdarah."
"Gigit saja gak takut." jawab Alvaro menjauhkan lehernya.
Saat Alexa mencondongkan wajahnya, bibir Alvaro cepat nemplok ke bibir Alexa. Perlawanan Alexa membuat Alvaro tambah garang. Dia mendorong tubuh Alexa sampai terjengkang di sofa.
"Alvaro you crazy...."
"Aku gila gara-gara kau." ucap Alvaro menindih tubuh Alexa.
Pria itu seperti kemasukan setan, memaksa gadis itu untuk menerima ciumannya. Bibir Alvaro mendarat, ******* bibir Alexa dengan rakusnya. Alvaro sangat liar, tanpa memberi jeda untuk bernafas. Habis ******* bibir, kini Alvaro memberi leher Alexa kissmark. Tangan Alvaro juga mulai bersilancar. Mereka bergulat berdua.
"Tookkk...tookkk..."
Marchel nyelonong masuk membuat Alvaro dan Alexa serempak menoleh.
"Ketok pintu..." protes Alvaro menutupi dada Alexa yang setengah terbuka. Alexa mau duduk tapi ditahan oleh Alvaro. Sesekali Alvaro mengecup bibir Alexa membuat Marchel cemburu.
"Tadi sudah ketok pintu. Biasanya juga begitu." sahut Marchel dengan wajah tidak sedap dipandang.
"Ada apa?" tanya Alvaro menatap Marchel.
"Kejadian tadi sudah menjadi trending topik di medsos. Polisi membawa korban ke rumah sakit, ada lima puluh korban. Untuk sementara belum bisa di identifikasi, mungkin menunggu hasil visum dari forensik."
"Korban dari pihak kita sudah di kubur semua?"
"Sudah Tuan, dari kita juga hampir lima puluh orang yang meninggal. Pengawal menguburnya di rimba."
"Kita harus mencari pengawal baru, lagi lima puluh orang. Usahin cari di cafe atau bar. Terus ada berita apa lagi?"
"Siap Tuan..."
"Penemuin kokain 1kg di mobil mereka. Mungkin selanjutnya Alexa akan terlihat di CCTV di bar bersama Nickolas..."
"Marchel kenapa waktu itu kau hilang?" tanya Alexa menyingkirkan tangan Alvaro di dadanya. Pria itu membiarkan Alexa bangun, tiba-tiba Alvaro menariknya. Alexa jatuh duduk di pangkuan Alvaro.
"Diam, jangan berontak." kata Alvaro memeluk Alexa dari belakang.
"Tuan, Maria menunggu di kamar."
"Sebentar aku kesana, aku sudah rindu permainan ranjangnya." kata Alvaro mengecup pipi Alexa.
"Kesana kau jangan aku di uyel-uyel, aku bukan pelayanmu." ketus suara Alexa.
"Aku kesana setelah puas denganmu." bisik Alvaro
"Uhh..dasar penjahat." Alexa berusaha lepas, tapi tangan Alvaro mengunci tubuhnya.
"Marchel, jangan pernah mengajak Alexa keluar, dia pasti akan menjadi DPO."
"Tidak mungkin ada yang kenal dengan Alexa, waktu itu dia di make up dan sangat berbeda. Untuk sekarang ini, Alexa tetap menjadi tawanan disini."
"Bagaimana dengan Maria Tuan, dia menunggu anda."
Alvaro terdiam sesaat, dia merasa tidak punya selera dengan yang lain. Setelah lama termenung Alvaro berdiri.
"Aku akan ke kamar." kata Alvalo. Dia sebenarnya nggan melepas Alexa dari pelukannya. Marchel sudah sebel melihatnya.
"Kamu ikut keluar, biarkan Alexa sendiri di kamar."
"Aku menunggu dokter Yani untuk memeriksa." pungkas Marchel tidak mau keluar. Dokter Yani datang di ikuti Mika.
"Selamat sore Alexa, bagaimana keadaan kakimu?"
"Sudah sembuh dokter, aku hanya ingin vitamin untuk memulihkan stamina." dokter Yani memeriksa tekanan darah Alexa dan sebagainya, setelah itu dokter Yani keluar dari kamar.
"Tuan memerintahkan supaya nona turun makan. Saya akan merias nona sesuai gaun yang di belikan oleh Tuan."
"Gaun apa yang Tuan belikan?"
"Yang seperti nona pakai untuk menemui Tuan Nickolas."
"Aku menurut apa yang Tuan mau." ucap Alexa tersenyum tipis, matanya memandang kosong. Mika menatap Alexa dengan iba, dia tidak tahu apakah malam ini Alexa bisa menolak keinginan Tuan Alvaro atau tidak?
"Apa yang kau tahu setelah dinner?" tanya Alexa lirih.
"Menyuntik tubuh nona dengan obat perangsang?"
"Apa itu harus, tidakkah ada jalan untuk menghindar dari kemauan Alvaro?"
"Kecuali mati." gumam Mika hampir tidak terdengar.
"Apakah kau pernah mengalaminya?"
"Tidak semua mengalami, kecuali wanita berkelas seperti nona. Tidak ada yang berani menolak kehendak Tuan, malah kami berebut bisa memberi yang terbaik, supaya bisa hidup enak seperti Maria."
"Apakah Tuan sudah tidur dengan Maria?"
"Tuan berubah drastis semenjak nona ada disini. Dia lebih sibuk di kantor. Biasanya para pelayan di gilir. Habis pakai di tendang keluar. Tidak ada empatinya sedikitpun. Maria dari baru datang sampai sekarang belum disentuh. Tuan malah ke mini bar yang berada dekat kolam renang sambil minum."
"Aku ingin menemani Tuan."
"Tapi Tuan tidak meminta nona menemaninya, aku tidak berani mengizinkan."
"Kau bantu aku berdandan, jangan khawatir. Berdandan disini saja tidak perlu ke salon. Dirias tipis saja."
"Baik nona."
Alexa memakai pakaian casual rajutan tangan, tanpa lapisan, sehingga dalemannya yang berwarna merah menyala terlihat jelas. Rambutnya di gerai panjang. Dia juga memakai make up tipis dengan bibir di poles lip gloss.
Setelah selesai berdandan dia menyemprotkan parfum.
"Kau pergilah, aku akan menemui Tuan sendirian."
Setelah kepergian Mika, Alexa keluar dari kamar, tapi langkahnya di hentikan oleh dua pengawal yang berada di depan kamar.
"Nona tidak boleh keluar tanpa se izin Tuan."
"Aku di panggil Tuan untuk menemani nya minum. Kalau kalian tidak memberi izin aku tidur."
"Silahkan kalau begitu nona, saya mengantar nona ke mini bar."
Alexa menuju mini bar yang berada 500 meter dari kamar Alexa. Dia langsung saja menuju ke tempat Alvaro duduk. Alvaro terus melihat Maria di kolam renang, sampai tidak menyadari kehadiran Alexa.
Melihat Alexa datang raut wajah Maria berubah. Alvaro yang tidak tahu dengan kedatangan Alexa tetap asyik memandangi tubuh Maria. Alexa berdiri di belakang Alvaro dengan tenang.
*****