NovelToon NovelToon
Balas Dendam Suamiku!

Balas Dendam Suamiku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pelakor / Keluarga / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dya Veel

Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
​Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.

Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amsterdam

Pesawat yang ditumpangi Arini akhirnya menyentuh landasan Amsterdam Airport Schiphol dengan hentakan lembut, diiringi suara roda yang bergesekan panjang. Dari balik jendela kecil di samping kursinya, ia melihat langit abu-abu pucat yang khas, berbeda dari biru terang yang biasa ia kenal. Lampu-lampu bandara berbaris rapi, memantul di aspal yang tampak sedikit basah. Sebuah pengumuman terdengar, dengan aksen asing, menandakan mereka telah tiba di tempat tujuan.

Arini belum langsung berdiri. Ia menarik napas pelan, seolah ingin memastikan bahwa ini benar-benar nyata. Perjalanan panjang yang melelahkan akhirnya selesai, dan kini ia berada di tempat yang selama ini hanya ia lihat lewat layar.

Saat lampu sabuk pengaman mati, penumpang mulai bergerak. Ada yang terburu-buru mengambil tas, ada yang masih duduk sambil meregangkan badan. Arini ikut bangkit perlahan, meraih ransel kecilnya.

Pintu pesawat terbuka. Udara dingin langsung menyentuh wajahnya, membuatnya sedikit menggigil. Lorong menuju terminal tampak bersih dan terang, dengan dinding putih dan lantai mengilap.

Langkah demi langkah, Arini berjalan bersama arus penumpang lain. Suara roda koper, percakapan dalam berbagai bahasa, dan pengumuman bandara bercampur menjadi satu.

Saat memasuki area terminal, pandangannya terbuka lebih luas. Schiphol terasa sibuk, tapi tertata. Langit-langit tinggi, papan petunjuk berwarna kuning dengan tulisan hitam yang jelas, serta jendela besar yang membiarkan cahaya alami masuk.

Arini berhenti sejenak, hanya untuk melihat sekeliling. Ada perasaan asing, tapi bukan yang menakutkan. Lebih seperti halaman baru yang masih kosong.

Ia melanjutkan langkah menuju imigrasi. Antrean bergerak pelan. Setelah melewati pemeriksaan, Arini keluar ke area kedatangan.

Pintu kaca terbuka otomatis, dan suasana langsung berubah. Ada yang saling menyapa, ada yang memeluk dengan lega. Arini berdiri sejenak di sisi ruangan, membiarkan semua itu berlalu di depannya.

Senyuman tipis mengembang pada wajahnya. Arini meraih kacamata hitamnya dan mengenakannya. Ia menarik kopernya dengan mantap dan berjalan meninggalkan bandara itu.

"Good bye, Indonesia. Welcome to new era," batin Arini bahagia. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar masuk ke dalam dadanya.

Sebuah mobil hitam menghampiri wanita itu di depan pintu lobby bandara. Tak berselang lama seorang supir kemudian keluar dari sana dan membantu Arini untuk membawakan koper serta tasnya untuk di masukkan ke bagasi mobil.

Itu adalah Vino. Ia adalah anak dari Pak Yono, supir Arini yang bekerja di kediamannya di Jakarta. Laki-laki ini masih muda dan ia sekarang melanjutkan pendidikannya di Amsterdam. Sambil berkuliah, ia juga bekerja di kediaman keluarga Arini yang ada di kota ini.

Arini memiliki sebuah rumah di Amsterdam, namun itu rumah milik neneknya. Setelah kedua orang tuanya meninggal 15 tahun lalu, ia memutuskan untuk tinggal di Indonesia bersama Grace dan meninggalkan Amsterdam.

5 tahun berlalu, sang nenek meninggal dan akhirnya rumah itu tak berpenghuni. Kebetulan saat itu, anak Pak Yono yaitu Vino mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Amsterdam.

Jadi Arini meminta laki-laki itu untuk menetap saja di kediamannya disana bersama dengan beberapa pembantu rumah tangganya yang ada disana untuk menjaga kediaman itu agar tetap berpenghuni.

Sudah hampir 10 tahun tak bertemu dengan Vino, kini laki-laki itu sudah tumbuh menjadi seseorang yang tampan. Wajahnya yang dulu terlihat pemalu kini sudah berubah, ia sekarang tampak lebih percaya diri dan terlihat sudah lebih dewasa.

"Apa kabar, Nyonya Arini? Nyonya sehat?" tanya Vino dengan ramah.

Arini tersenyum sambil menangguk. "Of course. By the way, ngga usah panggil nyonya dong! Panggil saja saya, kak! Okey?"

Laki-laki itu tertawa pelan mendengar ucapan Arini. Setelah ia memasukkan barang-barang Arini ke bagasi, ia lalu membukakan pintu bagi Arini untuk masuk ke dalam mobil.

Mereka pun bergegas pergi meninggalkan bandara itu. Mobil itu melaju dengan cepat membelah sepanjang jalan kota. Deretan bangunan-bangunan dengan arsitektur rapi serta baru bata menjulang tinggi di sepanjang jalanan yang mereka lewati.

Pemandangan ini tampak seperti hal baru bagi Arini. Padahal dulunya kota ini adalah tempat ia dibesarkan, namun entah mengapa saat ia kembali kemari dirinya merasa seperti melihat kota ini untuk pertama kalinya.

Vino melirik sekilas Arini dari kaca spion dalam mobil. "Nyonya? Eh maksudnya Kak Arini-"

Vino hendak memanggil nama Arini namun ia masih merasa belum terbiasa memanggilnya dengan sebutan 'kak', rasanya seperti tidak sopan memanggil majikan dengan sebutan itu.

Arini menoleh pelan, menatap laki-laki itu. "Hm, kenapa Vino?"

"Oh, e-enggak. Cuma nyonya, eh maksudnya kak!"

"Kak Arini kayak lagi banyak pikiran gitu,"

ucap Vino.

Arini tersenyum lirih, "Ya, saya memang lagi banyak pikiran sih akhir-akhir ini.."

"Karena masalah itu ya? Maaf ya kak, kalau saya nanya hal yang agak sensitif," tanya Vino.

Sejujurnya ia penasaran, ia tidak terlalu tahu mengenai masalah Arini dengan suaminya. Namun ia takut jika menanyakan hal ini akan membuat Arini jadi semakin larut dalam pikirannya.

"Iya.."

"Saya merasa sepertinya saya sudah salah langkah sejak awal,"

"Saya harap secepatnya saya bisa segera bercerai dengan Adrian," timpal Arini.

Vino melirik wajah Arini kembali dari kaca spion. Sorot matanya tampak lelah, bahkan meski ia berusaha tersenyum namun wajahnya tak bisa menyembunyikan kesedihan yang ia pendam.

"Kak, mungkin ngga selamanya pilihan yang kita tentuin itu benar-benar tepat. Tapi setidaknya pilihan itu bisa ngajarin kita untuk lebih baik kedepannya,"

"kalau pilihan kakak salah, bukan berarti hidup kakak sudah hancur,"

"terkadang hidup itu emang ngga selalu mulus. Mungkin itu memang jalan Tuhan, agar mata kakak terbuka,"

"ini semua bukan sepenuhnya salah kakak kok. Hanya Kak Adrian yang memang ngga bisa cukup dengan satu pilihannya sendiri,"

"jadi, kakak harus tetap bahagia. Banyak yang masih sayang kakak, dan mereka pengen kakak bisa ngelanjutin hidup kakak lebih baik."

Arini tertegun. Ia tak tahu harus merespon dengan kata-kata seperti apa. Ya, ucapan Vino benar. Semua tidak sepenuhnya salahnya, mungkin memang Adrian yang belum benar-benar mencintai dirinya dengan sepenuh hati.

Senyuman hangat muncul pada wajah wanita itu. Matanya berkaca-kaca, ia merasa hatinya tersentuh dengan ucapan laki-laki itu. Rasanya beban di dadanya perlahan menghilang.

"Thank you, Vino."

"Kamu benar,"

Vino tersenyum. Ia melihat wajah Arini lebih berseri dari sebelumnya. Syukurlah, kini wanita itu tidak bersedih lagi seperti beberapa saat lalu.

"Ohya, Bibi Aliya udah masakin stroopwafel kesukaan Kak Arini, lho!"

"kakak harus cobain! Maknyus banget!" ucap Vino.

"Beneran nih? Wih, udah lama banget saya ngga makan stroopwafel! Wah, pasti enak tuh!"

1
gina altira
bangkitlah Arini
Zia Zee
justru yg ngga marah itu yg bahaya
Zia Zee
muak banget, soalnya pasang watados
Lili Inggrid
lanjut
Zia Zee
Author, ttp semangat yaa nulisnya! ini novel bagus bangett!!
Zia Zee
Mulut Gio emang minta dicabein,, hahaha
Zia Zee
🤣🤣
Zia Zee
bacaa sinopsisnya menarik. makin masuk kesini alurnya rapi, diksinya bagus, tokoh utama ngga menye², cusss lanjut bacaaa
gina altira
Ooh ternyata Adrian itu aslinya Kere,, yg kaya itu Arini.
gina altira
Hadeuh bentar lg didepak tuh sama Arini.
gina altira
Sabar, jgn grasak grusuk
gina altira
Nah gini wanita berkelas, ga usah viral " an gitu
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
Arini kuat banget yaa😭jarang ada wanita yang bertahan dengan kepura puraan di saat suaminya telah melakukan perselingkuhan
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
keren kaka🔥🔥🔥
Iva Ranetta: thank youu 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!