Seorang gadis bernama Fira yang selalu dihantui rasa takut akan bayangan masa lalu ini pun tiba-tiba harus dihadapkan oleh beberapa peristiwa kematian yang selalu menghubungkan dirinya.
Disaat yang bersamaan ini lha, dia bertemu dengan seorang pria bernama Fathan yang juga memiliki rahasia.
awalnya, karena merasa kasihan terhadap Fira hingga akhirnya Fathan memutuskan untuk menjaga Fira.
Namun siapa sangka, Fathan pun menemukan kenyataan tentang siapa Fira sebenarnya yang akhirnya membuat dia yakin dengan perasaannya.
Hingga suatu saat terjadi kesalahpahaman dan Fira pun harus di hadapkan oleh kejadian yang cukup menakutkan seorang diri.
Apakah pada akhirnya Fira dapat melaluinya seorang diri ataukah Fathan akan muncul disaat-saat yang tepat dan menjelaskan semuanya? sebenarnya kejadian masa lalu seperti apa yang dialami oleh Fira sehingga peristiwa kematian pun selalu terhubung dengannya? lalu rahasia seperti apa pula yang dimiliki oleh Fathan sehingga membuat dia menjauhi Fira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Friska Nanda Raisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pak Fathan aneh
“A—aku,...” ucapnya yang ragu, “sudahlah. Lebih baik kita tidur sekarang.”
Aku yang mendapatkan jawaban seperti itu dari Pak Fathan pun hanya bisa mengangkat kedua bahuku. Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Pak Fathan. Tapi jika Pak Fathan tidak ingin bercerita, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Keesokan paginya, setelah selesai sarapan, kami berdua meminta ijin untuk pulang karena kuliah belumlah libur dan Pak Fathan sendiri pun juga masih harus mengajar.
Dengan berat hati, ibu pun mengizinkan kami pergi. Sebelum pergi, ibu berpesan agar kami berhati-hati dalam perjalanan pulang. Dengan mantap Pak Fathan pun memastikan kalau dia akan selalu berhati-hati.
Kini kami sudah ada dalam perjalanan menuju rumah. Di tengah perjalanan tiba-tiba Pak Fathan bergumam, “Syukurlah kamu sekarang baik-baik saja.”
“Hah?” ucapku spontan dan Pak Fathan pun tersenyum.
“Ish. Makin hari makin aneh aja,” gumamku dalam hati sambil melirik ke arahnya.
***
Beberapa saat kemudian kami pun telah sampai di rumah. Namun entah ada urusan apa, Pak Fathan pun tiba-tiba berkata kalau dia ada urusan dan harus segera pergi.
Sesaat setelah Pak Fathan pergi, lagi-lagi ponselku berdering dan terlihat di sana nomor yang di sembunyikan. Mengetahui hal itu, aku pun seketika langsung mematikan ponselku dan menaruhnya jauh dariku.
“Aku gak mau dengar apa-apa lagi. Gak mau,” ucapku sambil menutup ke dua telingaku.
Di saat yang bersamaan, Bibi datang dan menegurku. Dia juga bertanya kenapa aku menutup telingaku. Namun aku hanya bisa menjawab tidak apa-apa dan kemudian menyalakan televisi.
Keesokan paginya, Pak Fathan sama sekali tidak pulang ke rumah dan terpaksa aku harus berangkat sendiri ke kampus.
Sesampainya aku di kampus, Jio datang menghampiriku dan bertanya, “Fir, lo kemarin habis di keroyok ma fans Pak Fathan ya?”
“Hilih di keroyok udah kayak apaan aja. Gak kok. Mereka cuma tanya gue ada hubungan apa sama Pak Fathan,” jelasku.
“Trus?” tanyanya.
“Ya gue bilang aja kalau gue gak ada hubungan apa-apa sama Pak Fathan,” ucapku.
“Mereka percaya?” tanya Jio penasaran.
Aku menggeleng sambil berkata, “Enggak.”
“Lha terus?” tanyanya lagi.
“Hehehe.. waktu itu di saat yang bersamaan Pak Fathan datang dengan wajah galaknya sehingga membuat para mahasiswi itu takut,” sahutku.
“Eh? Wajah galak?! Lha kok harus pasang wajah galak?” tanyanya.
Aku pun mengangkat ke dua bahuku tanda aku pun sendiri tidak tahu kenapa begitu.
***
Saat jam kuliah di mulai, aku baru sadar kalau sekarang tuh mata kuliah Pak Fathan dan aku lupa kalau terakhir kali dia masuk, dia memberikan tugas yang lumayan banyak.
“Oh tidak,...” ucapku sambil menepuk jidatku, “ah tapi mungkin saja dia gak masuk. Kan dia sendiri aja belum pulang ke rumah. Jadi mana mungkin sekarang dia masuk.”
Di saat yang bersamaan...
“Pagi teman-teman,” ucap seseorang yang baru saja masuk namun suaranya sudah dapat aku kenali, “bagaimana kabar kalian hari ini?”
“Oh tidak!!” teriakku dalam hati.
“Baik, Pak.”
“Syukurlah kalau kalian semua baik-baik saja. Nah berhubung kalian baik-baik saja, bagaimana kalau kalian sekarang mengumpulkan tugas yang terakhir kali aku berikan,” ucapnya sambil tersenyum.
“Aaaah, Bapak.” keluh mereka.
Sementara aku,...
“Oh tidak!!” Lagi-lagi seperti itu teriakku dalam hati.
Walau pun mereka mengeluh seperti itu, tapi nyatanya mereka tetap bisa mengumpulkan tugas dari Pak Fathan. Sedangkan aku, jangankan untuk mengumpulkan, mengerjakannya saja tidak.
Pelan-pelan aku melirik ke arah Pak Fathan yang kebetulan juga ternyata dia pun melihat ke arahku dengan tatapan tajam.
“Habislah sudah,” gumamku dalam hati sambil menutupi wajahku.
“Eh, Fir. Lo gak ngumpulin tugas?” tanya Jio lirih.
“Gue lupa Yo,” sahutku yang tak kalah lirih.
“Ehm. Ya sudah. Jika semua sudah mengumpulkan tugas, sekarang kita lanjutkan pelajarannya,” ucapnya yang kemudian menerangkan dengan sabar materi demi materi.
***
Sore harinya, aku yang langsung melarikan diri dari kampus, eh lebih tepatnya melarikan diri dari Pak Fathan ini pun hanya bisa bersembunyi di dalam kamar. Entah apa yang akan dia lakukan kalau sampai dia sadar kalau aku tidak mengumpulkan tugas.
“Firaaaaa!!!!” teriaknya saat dia sampai di rumah.
“Oh tidak,” gumamku lirih dan ketakutan.
Karena mungkin tidak mendapatkan jawaban dari aku, tiba-tiba saja pintu kamar di ketuk sambil dia pun berkata, “Fir, buka pintunya!”
Aku yang sebenarnya takut ini pun mau tidak mau membukanya.
Sesaat setelah pintu aku buka, Pak Fathan pun langsung masuk ke dalam kamar dan bertanya, “Fir, kenapa kamu tidak mengumpulkan tugas dariku?”
“A—a—aku belum mengerjakannya, Pak,” sahutku lirih.
“Aih. Kenapa belum dikerjakan? Memangnya tugas dariku itu susah?” tanyanya.
Aku pun tanpa sadar mengangguk namun kemudian, “Eh, gak susah.. gak susah,” sahutku.
Pak Fathan pun menyipitkan matanya dan berkata, “Benarkah?”
Aku pun mengangguk kencang dan dia pun bertanya, “Kalau gak susah, kenapa masih belum dikerjakan?”
“Lupa,” sahutku singkat.
Mendengar jawaban dariku yang seperti itu, spontan Pak Fathan langsung memukul kepalaku dengan gulungan kertas yang sedang ia bawa.
“Ya sudah. Sekarang kamu kerjakan. Aku tunggu kamu sampai selesai,” ucapnya yang langsung duduk di tepi tempat tidur.
Aku yang mendengar ucapannya seperti itu pun hanya bisa melongo. Sementara Pak Fathan yang mungkin sadar dengan ekspresiku itu pun langsung berkata, “Kenapa masih diam saja. Sudah sana kerjakan.”
“Iya.. iya,” sahutku yang kemudian langsung membuka buku tugas darinya.
Saat aku sedang serius mengerjakan tugas darinya, tiba-tiba saja dia berkata, “Fir, kamu tahu gak kalau kamu itu ternyata sudah di rindukan oleh seseorang sejak lama.”
Mendengar ucapan Pak Fathan yang tiba-tiba mengungkit itu pun spontan aku langsung menghentikan tulisanku.
“Hah? Masa’ sih, Pak. Memangnya siapa, Pak?” tanyaku merasa ada yang aneh dengan Pak Fathan.
“Ah. Bukan siapa-siapa. Sudah lanjutkan mengerjakan tugasnya,” ucapnya yang membuatku penasaran.
“Pak?!” ucapku.
“Udah. Kerjakan saja tugasnya. Aku keluar sebentar,” sahutnya yang kemudian beranjak pergi.
Aku yang melihatnya seperti itu pun hanya melongo.
***
Malam harinya setelah aku selesai mengerjakan tugasku, aku pun segera mencari Pak Fathan. Namun entah mengapa, aku tidak menemukan keberadaannya.
“Bi, Bibi lihat Pak Fathan gak?” tanyaku saat melihat Bibi sedang mengambil air minum di dapur.
“Tuan?! Bukannya tuan ada di rumah. Coba Non cari saja ke kamarnya. Mungkin Tuan sedang mengerjakan pekerjaannya,” ucap Bibi.
“Oh gitu ya, Bi. Ya sudah kalau begitu aku ke kamarnya saja,” ucapku dan Bibi pun mengangguk.
Sesampainya aku di depan kamar Pak Fathan, tiba-tiba entah mengapa jantungku berdetak kencang. Aku baru sadar kalau semenjak aku tinggal di rumahnya, baru kali ini aku mendatangi kamarnya.
Dengan menarik nafas panjang, aku pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamarnya. Namun setelah beberapa saat mengetuk, kamar masih juga belum di buka. Karena jiwa penasaranku yang meronta-ronta akhirnya aku pun mencoba untuk membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak terkunci.
Perlahan-lahan aku pun masuk sambil berkata, “Pak, permisi.”
Kamar itu terlihat rapi namun pencahayaannya yang redup membuat kamar tersebut terlihat suram.
“Pak, Bapak ada di kamar gak?” tanyaku sambil berjalan mengendap-endap seperti maling.
Panggilan demi panggilan pun tidak kunjung mendapatkan sahutan dari Pak Fathan hingga aku menyentuh sebuah pigura foto yang ada di atas meja kerjanya.
“Ini?!” ucapku dan di saat yang bersamaan tiba-tiba saja ada yang menepuk pundakku membuat aku ketakutan setengah mati dan berteriak.
“Astaga. Kamu ini, Fir. Kenapa teriak kencang begitu sih?” protes Pak Fathan.
“Eh, Bapak. Aku pikir tadi siapa. Aku kan takut, Pak,” sahutku.
“Udah tahu penakut, masih coba buat masuk kamar orang,...” ucap Pak Fathan yang kemudian langsung duduk di tepi tempat tidurnya, “mana?”
“Mana apanya, Pak?” tanyaku.
“Tugasmu. Kamu kan menyelinap masuk kamar orang karena mau kasih tugasmu kan? Atau jangan-jangan kamu kangen sama aku?” goda Pak Fathan.
Aku yang mendengar itu pun sontak langsung gugup dan kemudian bilang, “Siapa juga yang kangen sama Bapak. Nih, tugasnya.”
Setelah itu aku pun langsung lari keluar meninggalkan kamar Pak Fathan.
“Bisa-bisa jantungan aku kalau lama di dalam sana,” gumamku setelah berada di luar kamar Pak Fathan.
***
“Tidak.. tidak.. tidak..!! Siapa kamu? Menjauhlah dariku. Tidak.. jangan mendekat, aku mohon. Tidaaaaaak!!”
“Hhaa... Hhaa...” Tiba-tiba aku terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal. “Mimpi seperti itu lagi. Ta—ta—tadi itu sebenarnya siapa?” gumamku sambil memegangi pucuk rambutku.
Dan di saat yang bersamaan,...
“Kamu gak apa-apa, Fir?” tanya Pak Fathan yang dengan tergesa-gesa masuk ke dalam kamarku.
“Aku takut, Pak. Aku bermimpi kejadian itu lagi,” ucapku lirih.
“Kejadian itu? Kejadian apa, Fir?” tanyanya.
Aku pun menggeleng lalu berkata, “Bukan apa-apa, Pak. Pokoknya aku takut.”
Setelah mendengar jawabanku, Pak Fathan pun langsung memeluk tubuhku yang gemetar sambil berkata, “Sudah.. sudah.. kamu tenang ya. Sudah ada aku di sini. Kamu Istirahatlah lagi.”
Pak Fathan merebahkan tubuhku dan menyelimutiku. Tak lupa tangannya pun selalu menggenggam tanganku sehingga merasa tenang.
***
Pagi hari tampak begitu cerah saat sinar matahari masuk melewati celah kelambu jendela kamar sehingga menyilaukan mataku.
Aku pun mengucek-ucek mataku karena silau. Lalu samarku mendengar seseorang berkata, “Kau sudah bangun?”
Antara sadar dan belum sadar, aku pun coba untuk diam sejenak dan sesaat kemudian aku menengok ke sebelahku yang ternyata di sana...
“Aaaaaargh, Bapak!” teriakku yang untuk ke dua kalinya mendapati Pak Fathan sedang tidur di sebelahku.
“Astaga. Kamu itu ya. Bisa gak sih gak teriak seperti itu,” protes Pak Fathan.
“Ba—ba—bapak kenapa bisa tidur di sini lagi?” tanyaku.
“Pakai segala tanya. Cepat bangun. Tanganku sudah mati rasa nih,” ucapnya.
Aku yang baru sadar kalau aku tertidur di pundaknya itu pun langsung segera bangun dan menunduk. Betapa malunya aku. Aku tidak tahu apa saja yang sudah terjadi semalam.
“Cepat mandi. Udah siang. Aku tunggu kamu di ruang makan,” ucapnya yang langsung bangun dan pergi.
Sementara itu aku, aku merutuki diriku sendiri sambil menepuk-nepuk keningku berulang kali karena telah merasa betapa bodohnya aku.
***
Di ruang makan, aku selalu memperhatikan Pak Fathan. Di lihat dari ekspresinya yang sama seperti biasa, aku merasa kalau pasti tidak akan terjadi apa-apa semalam antara aku dengannya.
Di saat aku sedang larut dalam pikiranku sendiri, entah mengapa dia menghentikan sarapannya dan menatapku.
Kini tatapan kami pun saling bertautan. Hingga akhirnya...
Bersambung...