Dua Orang yang tidak mempercayai cinta, dipertemuan dalam sebuah pernikahan yang dilakukan hanya untuk pencitraan semata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Sang Pewaris Tahta
Siang itu Dario sengaja memperkenalkan Dhiv kepada dewan Direksi. Ia bahkan memberitahukan kepada mereka prestasi Dhiv selama menjabat sebagai CEO DC Garment di Bandung.
Para dewan direksi begitu terpesona dengan keberhasilan Dhiv dalam menghidupkan kembali sebuah perusahaan yang sudah gulung tikar.
Sementara itu Ben terlihat geram saat melihat ayahnya begitu membangga-banggakan saudara tirinya. Bagaimanapun juga ia merasa ayahnya telah berlaku tidak adil dengan menganak emaskan Dhiv. Ia buru-buru meninggalkan kantornya setelah rapat selesai.
Ben sengaja melampiaskan kemarahannya kepada istrinya saat pulang ke rumah.
Lelaki itu benar-benar tak bisa menahan emosinya saat melihat Ratih. Malam itu entah kenapa semua yang dilakukan Ratih selalu salah di depan Ben.
Mulai dari penampilannya sampai dengan menu makan malam yang dihidangkan pun tak luput dari kritik pedasnya.
"Tidak bisakah sehari saja kau tampil cantik di depanku, aku tahu kau sakit tapi apa susahnya sih dandan untuk menyenangkan suamimu saat pulang kerja, lalu untuk apa make up sebanyak itu jika hanya menjadi pajangan!" seru Ben
"Selama ini aku tidak pernah menuntut apapun darimu, aku hanya ingin melihat mu tampil cantik saat aku pulang kerja itu saja. Aku sudah terlalu pusing dengan urusan pekerjaan jadi setidaknya wajah cantik istriku bisa mengalihkan semua penatku saat pulang ke rumah," imbuhnya
Ratih hanya menunduk, ia tak berani menatap wajah suaminya saat sedang marah. Mendengar ada keributan di Wastu Sriwedari membuat Shelomita segera menyambangi kediaman putranya itu.
Melihat kedatangan Shelomita membuat Ratih langsung meninggalkan keduanya. Ia sengaja memberikan kesempatan kepada keduanya untuk berbicara empat mata.
"Apa yang terjadi Ben?" tanya wanita itu menghampiri Ben
"Tidak ada apa-apa Ibu," jawab Ben dengan wajah malasnya
"Jangan bohong, katakan pada ibu apa yang membuatmu begitu kesal hingga melampiaskan semuanya kepada Ratih," desak Shelomita
Ben kemudian menceritakan semuanya kepada ibunya. Ia juga mengeluarkan semua unek-uneknya kepada sang Ibu. Shelomita hanya menggelengkan kepalanya, wanita itu tak habis pikir kenapa suaminya begitu bersikeras untuk menjadikan Dhiv sebagai penggantinya.
"Sepertinya ini tidak bisa dibiarkan, aku harus segera bertindak. Sebaiknya kau bersabar sedikit nak, ibu akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Aku harap kau juga tidak perlu melampiaskan kemarahan mu pada Ratih. Ingat ... Ratih memiliki dua puluh persen saham di DC Group, justru disaat seperti ini kau harus memberikan perhatian lebih padanya bukan malah menghakiminya. Jadi minta maaflah pada dia, jangan sampai membuat hatinya terluka dan meninggalkan dirimu," terang Shelomita
Wanita itu kemudian menceritakan rencananya kepada putranya itu.
Sementara itu Ratih terlihat begitu gusar setelah mendengar semua cacian suaminya.
Ia menangis tersedu-sedu di taman menumpahkan semua kesedihannya di roof top rumahnya. wanita itu menganggap jika hanya tempat itu yang aman untuk meluapkan kesedihannya tanpa seorangpun yang tahu. Bagaimanapun Ratih berusaha tegar dan tetap bertahan menjadi menantu keluarga Dario meskipun ia tahu jika suaminya tak pernah mencintainya.
Namun wanita itu tidak peduli karena baginya Ben adalah laki-laki yang baik karena mau menikahinya meskipun ia tahu jika Ratih mengidap penyakit kronis yang mematikan.
Ratih bahkan berusaha menyesuaikan diri dengan keluarga Dario yang begitu dingin terhadapnya terutama Shelomita yang dari awal menentang Pernikahan mereka.
Ia terlihat memukul-mukul dadanya menahan sesak yang selama ini ia tahan, sebagai istri ia merasa gagal karena tidak bisa menyenangkan hati suaminya.
Lala yang sedang mencari udara segar tidak sengaja mendengar suara tangis Ratih. Gadis itu berusaha mencari sumber suara itu dan melihat seorang wanita yang sedang terisak diatasi roof top. Karena penasaran Lala kemudian menghampiri wanita itu.
"Kak Ratih??" Lala begitu terkejut saat mengetahui jika wanita yang sedang menangis itu adalah Ratih.
Ia berusaha menghiburnya, berharap bisa membantu wanita itu melupakan kesedihannya.
"Kalau kaka tidak keberatan, Lala siap kok menjadi teman curhat kaka. Ka Ratih boleh menceritakan semua keluh kesahnya kepada Lala, semoga dengan begitu Kaka bisa merasa lega dan tidak sedih lagi. Jangan khawatir rahasia di jamin aman," bisik Lala
Ratih tersenyum mendengar ucapan gadis itu, "Menurutmu apa aku ini jelek??" tanya Ratih menatap Lala
Lala menatap lekat wajah Ratih, "Kata siapa, kaka cantik kok, dengan sedikit sentuhan make up Kaka akan terlihat semakin bersinar," sahut Lala
"Apa kau yakin??" tanya Ratih
"Tentu saja, meskipun aku belum pandai merias wajah tapi aku bisa kok membuktikan kepada Kaka kalau kak Ratih itu emang cantik,"
"Kalau begitu apa kau bisa membantu merias wajah ku,"
"Dengan senang hati," jawab Ratih sumringah
Ratih kemudian mengajak Lala ke kamarnya. Dengan sedikit malu-malu Ratih menyampaikan keinginannya kepada gadis itu, "Tolong ajari aku make up ya dek,"
"Siap 69!!" jawab Lala membuat Ratih tercengang
"Kok 69 sih dek??" tanya Ratih terperangah
"Karena yang lain kurang hot kak," jawab Lala membuat Ratih tertawa
"Kamu lucu juga ya La," sahut Ratih
"Kata orang sih gitu, padahal aslinya gak tuh," jawab Lala kemudian mulai membersihkan wajah Ratih
Gadis itu mulai merias wajah kaka iparnya dengan memberinya toner wajah, dilanjutkan dengan serum dan moisturizer.
Ia juga sengaja mengajak Ratih bercengkrama selama meriasnya.
"Kak Ratih itu sudah cantik alami jadi tinggal poles dikit aja langsung terlihat cantiknya," ucap Lala memoleskan lipstik warna nude ke bibir tipis Ratih
"Baru kamu loh yang bilang aku cantik," sahut Ratih sinis
"Apa itu yang membuat kaka gusar?" tanya Lala
Ratih mengangguk menanggapi ucapan Lala.
"Cantik itu relatif kak, tinggal bagaimana seseorang menilainya. Ada yang melihatnya dari wajah, penampilan, atau bahkan dari tutur kata dan tingkat lakunya. So jangan pesimis karena kecantikan alami kita akan luntur jika kita tak percaya diri," ucap Lala memberikannya semangat
"Tara, sudah selesai!" seru Lala berbinar-binar
Ratih tersenyum simpul melihat wajahnya di depan cermin.
"Kamu cantik Ratih??"
Ratih langsung menoleh kearah suara lelaki yang memujinya itu. Ia begitu gembira saat melihat Ben tersenyum memujinya.
Lelaki itu kemudian memeluknya erat dan meminta maaf padanya karena sudah membuatnya bersedih.
"Thanks La, sudah membuat istriku menjadi cantik," ucap Ben
"Sebenarnya tanpa make up kak Ratih sudah cantik kok, hanya saja Ka tidak bisa melihatnya. Hanya dengan rasa cinta Kak Ben akan bisa melihat betapa cantiknya kak Ratih meskipun tanpa make up. Karena sejatinya cantik itu bukan dari make up tapi dari hati," ujar Lala membuat Ben terperangah dan semakin merasa bersalah kepada Ratih.
Lala segera pamit pergi saat melihat keduanya saling memaafkan.
*Grep!!
Lala langsung menarik lengan seseorang yang menepuk pundaknya dan membekuknya .
"Awww!!" teriak Dhiv meringis kesakitan
Lala segera melepaskan lelaki itu dan mendorongnya saat menyadari dia adalah Dhiv. Ia kemudian mengulurkan tangannya dan membantu pria itu bangun.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Lala
"Wah, kau memang benar-benar Bar-bar La, hampir saja tanganku terkilir karena mu!" tutur Dhiv
"Makanya jangan suka mengagetkanku,"
"Ok!"
"Btw kenapa kamu datang kemari malam-malam begini?" selidik Lala
"Itu karena aku akan tinggal di sini mulai malam ini. Bukankah sebagai calon suamimu aku harus selalu berada di sisimu, jadi aku pastikan akan selalu berada di dekat mu agar kau tidak kesusahan di rumah ini," ucap Dhiv tersenyum padanya.
"Wah, ternyata bukan hanya aku yang akan kembali ke rumah ini, tapi adik bungsuku juga melakukan hal yang sama!" seru Raffa
ada