Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Bayang-Bayang di Balik Senyum
Beberapa bulan telah berlalu setelah Boqin Tianzun dan Sua Mei menikah. Di sebuah wilayah yang jauh dari puing-puing Sekte Giok, di pinggiran Kota Anggrek Hitam, Boqin Tianzun dan Sua Mei hidup dalam kedamaian yang semu. Boqin menggunakan sebagian harta jarahannya untuk membangun sebuah rumah kayu yang indah di tepi danau, dikelilingi oleh formasi pelindung yang sangat kuat namun tak terlihat.
Sore itu, Boqin mengajak Sua Mei berjalan-jalan ke pasar kota untuk membelikannya beberapa perhiasan dan kain sutra. Sua Mei tampak jauh lebih segar, meskipun kecantikannya lebih bersifat lembut dan sederhana, tidak mencolok seperti para kultivator wanita.
Tiba-tiba, sebuah kereta kencana yang ditarik oleh dua ekor kuda spiritual berhenti tepat di depan mereka. Seorang gadis muda dengan jubah mewah berwarna ungu turun, dikawal oleh beberapa pengawal dengan aura yang kuat. Gadis itu adalah Han Ruoli, putri bungsu dari pemimpin Sekte Matahari Suci, salah satu dari tiga sekte terbesar di wilayah tersebut.
Han Ruoli menatap Boqin Tianzun dengan mata yang berbinar. Wajah Boqin yang tampan, tenang, dan memiliki aura misterius langsung menarik perhatiannya. Namun, saat tatapannya beralih ke Sua Mei yang sedang menggandeng tangan Boqin, wajahnya berubah menjadi jijik.
"Sayang sekali," ucap Han Ruoli dengan nada tinggi yang sengaja dikeraskan. "Pria setampan dan seanggun dirimu harus berjalan dengan seorang pelayan kumuh yang bahkan tidak punya energi Qi. Hey, tampan! Mengapa kau membawa sampah ini bersamamu? Jika kau butuh pelayan, aku bisa memberimu sepuluh yang jauh lebih cantik dari dia."
Sua Mei menundukkan kepala, cengkeramannya pada tangan Boqin mengerat karena malu dan takut.
Boqin Tianzun tidak marah. Ia justru menoleh ke arah Han Ruoli dan memberikan senyum yang sangat manis—senyum yang membuat jantung gadis itu berdegup kencang.
"Nona benar, dia memang sangat sederhana," ucap Boqin lembut. "Terima kasih atas sarannya."
Han Ruoli tertawa bangga, merasa telah menang. "Datanglah ke Sekte Matahari Suci jika kau bosan dengan hidup membosankanmu ini. Aku suka wajahmu."
Kereta itu berlalu, meninggalkan debu dan tawa sombong.
Begitu kereta itu hilang dari pandangan, senyum di wajah Boqin tetap ada, namun matanya berubah menjadi kegelapan yang tak berdasar. Di dalam kepalanya, ia sudah merancang cara paling menyakitkan untuk memenggal kepala gadis itu dan membakar seluruh sektenya hingga rata dengan tanah.
Sekte Matahari Suci... Matahari kalian akan segera terbenam dalam darah, batin Boqin.
Malam itu, setelah memastikan Sua Mei tertidur lelap, Boqin duduk bersila di ruang tengah. Ia mengeluarkan sebuah gulungan teknik terlarang yang ia curi dari gudang rahasia ayahnya: Teknik Pembagi Jiwa: Klon Abadi.
Boqin memuntahkan sedikit darah esensi, dan perlahan, energi Qi-nya mulai memadat di depannya. Sebuah sosok muncul—sosok yang persis dengannya. Klon ini memiliki semua ingatan lembut Boqin tentang Sua Mei, namun tidak memiliki ingatan tentang kekejamannya.
"Jaga dia. Jangan biarkan dia tahu apa yang terjadi di luar." perintah Boqin asli.
Klon itu mengangguk dengan senyum lembut yang tulus. "Aku adalah kedamaiannya, sementara kau adalah badainya."
Boqin Tianzun yang asli bangkit. Ia mengganti jubah putihnya dengan pakaian hitam yang praktis. Ia meninggalkan sepucuk surat untuk Sua Mei, mengatakan bahwa ia akan pergi ke gunung belakang untuk meditasi mendalam selama beberapa bulan agar bisa melindunginya lebih baik lagi.
Ia tahu Sua Mei tidak akan curiga karena ada dirinya (klon tersebut) yang tetap menemaninya setiap hari, memasak untuknya, dan membelai rambutnya sebelum tidur.
Boqin berjalan keluar rumah tanpa suara. Ia menatap ke arah pegunungan di mana Sekte Matahari Suci berdiri dengan megah.
"Sua Mei adalah cahayaku, dan aku akan memastikan tidak ada satu pun bayangan di dunia ini yang berani mengusik cahayaku," bisik Boqin pada angin malam. "Han Ruoli... kau ingin aku datang ke sektemu? Aku akan datang. Tapi bukan sebagai pelayanmu, melainkan sebagai algojomu."
Boqin melesat secepat kilat menuju pendaftaran murid baru Sekte Matahari Suci yang akan dibuka esok hari. Ia akan masuk ke sana dengan identitas baru, merangkak dari bawah, dan menghancurkan setiap pilar sekte itu dari dalam, sementara dunianya yang asli tetap tenang dan damai di tepi danau.