Dibalik sikap ceroboh dan somplak di antara ketiga sahabatnya, Zahra menyimpan kisah hidup yang cukup memilukan. Masa kecil bersama Yudha di sebuah Panti Asuhan, membuat Zahra menganggap Yudha sebagai kakak bahkan Zahra sangat mengagumi lelaki itu dan berharap bisa menjadi pendamping hidup Yudha selamanya—kelak.
Di satu sisi, Zahra berusaha menghindar dari Arga karena tidak ingin 'sial' jika berada di dekat lelaki itu. Setelah sebuah penolakan terlontar dari mulut Zahra, Arga memilih untuk pergi.
Namun, bagaimana jika sebuah rahasia tentang Yudha terkuak dan hal itu membuat Zahra kecewa? Akankah Zahra bisa memaafkan Yudha, atau mengejar cinta Arga yang pernah dia tolak sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Tatha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Zahra mendesis dan meletakkan pisau secara kasar. Arga yang melihat itu pun, mendekat dan raut wajahnya penuh kecemasan. Arga meraih tangan Zahra, memasukkan telunjuk gadis itu ke mulutnya dan menyesap perlahan untuk menghentikan darah yang mengalir.
Terkejut atas apa yang dilakukan Arga, Zahra hanya diam dan menatap Arga yang begitu telaten menyesap darahnya dengan perlahan. Jantung Zahra berdebar kencang, apalagi saat bayangan adegan film-film romantis yang sering ditontonnya terputar di otaknya. Kedua sudut bibir Zahra tertarik. Senyumnya mengembang saat melihat betapa romantisnya apa yang dilakukan Arga saat ini.
"Lain kali, jangan cuma jari gini, tapi kalau bisa tanganmu sekalian dipotong!" Ucapan Arga mampu membuyarkan lamunan Zahra.
Gadis itu mencebik kesal dan menarik tangannya dengan paksa. Arga tersenyum lalu bergegas pergi dari sana. Zahra menggerutu saat melihat Arga pergi begitu saja bahkan tanpa sepatah kata pun.
"Ish! Udah galak, nyebelin pula!" Zahra kembali memotong sayur dengan kesal. Bahkan, bunyi pisau yang beradu dengan talenan mampu memberi kode kalau gadis itu sedang meluapkan kekesalannya.
"Jadi, kamu benar-benar ingin memotong tanganmu? Biar aku bantu kalau begitu."
Zahra terkejut saat mendengar suara Arga dari arah belakang. Gerakan tangan Zahra terhenti seketika dan dia pun hanya berdiri terpaku di depannya. Zahra menunduk ketika mendengar derap langkah Arga yang mendekat. Namun, beberapa detik kemudian, Zahra tertegun saat Arga meraih tangannya dan memasang plester di luka tadi.
Setelah Arga selesai memasang plester tersebut, Zahra menatap Arga dengan lekat. Dia tidak menyangka kalau Arga akan seperhatian itu padanya. Arga pun mengalihkan pandangan karena tidak mau terhanyut dalam pesona Zahra yang mungkin saja bisa membuatnya lupa diri.
"Jangan sampai terkena air." Arga kali ini tidak pergi dan justru bersandar di samping Zahra.
"Lalu, bagaimana saya mencuci sayuran ini, Tuan?" Zahra bertanya ketus. Dia merasa dongkol saat tidak melihat satu pun pelayan yang tadi membantunya. Bahkan, Zahra tidak tahu sejak kapan pelayan-pelayan tadi pergi. Mungkin beberapa pelayan tadi adalah hantu jadi pergi tidak perlu diantar.
"Memangnya Anda bisa, Tuan?" tanya Zahra setengah meledek.
"Kamu meremehkanku?" Arga tampak kesal. Namun, Zahra justru terkekeh.
"Saya 'kan cuma bertanya, Tuan. Kenapa Anda mesti sewot," ledek Zahra. Gadis itu mulai sedikit berani.
"Diamlah dan kerjakan saja. Jangan sampai membuat Nona Rasya makin menunggu lama." Arga meraih sayur yang telah dipotong dan mencucinya, sedangkan Zahra mulai menumis bumbu-bumbu.
***
Setelah semua siap dan sudah tersaji di atas meja, Arga segera memanggil Rasya dan Pandu. Kini, mereka berempat duduk di ruang makan. Rasya menelan ludah saat melihat tampilan bakmi buatan Zahra yang begitu menggugah selera. Bahkan, tanpa menunggu Pandu, Rasya segera mengambil dan memakan dengan lahap.
Mereka yang di sana hanya melihat dan menelan ludah berkali-kali ketika melihat cara makan Rasya yang seperti orang kelaparan.
"Pelan-pelan, Ra." Pandu menaruh sendoknya kembali. Lalu menaruh segelas air putih di dekatnya untuk berjaga-jaga jika Rasya tiba-tiba tersedak. Rasya tidak menanggapi, dan sibuk menikmati bakmi tersebut.
Mereka tercengang saat Rasya menghabiskan dua piring bakmi. Rasya yang makan, tetapi justru Pandu yang merasa perutnya begah. Pandu tidak menyangka kalau Rasya makan selahap ini bahkan terkesan rakus. Padahal biasanya, Rasya tidak memiliki selera makan dan lebih sering memuntahkan makannya ketika baru diisi beberapa suap.
"Zae, elu tidur sini aja. Masih banyak kamar kosong di sini," suruh Rasya, tetapi Zahra menggeleng cepat.
"Gue kasihan Suketi di rumah sendirian. Markonah lagi sift malam. Gue mau pulang aja habis ini," tolak Zahra.
"Ish! Kenapa tadi Suketi enggak diajak ke sini sekalian?" Zahra hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Rasya. "Kalau begitu biar Arga yang mengantarmu."
"Enggak usah, Ra. Gue naik taksi aja."
"Enggak boleh! Kalau elu enggak mau diantar Arga maka besok elu harus berhenti jadi tukang bersih-bersih di kantor."
"Astaga, elu jahat banget, Ra." Zahra mendengkus kasar, tetapi Rasya justru menjulurkan lidah untuk mengejek sahabatnya.
sempat sempat menjadikan Arga tumbal setan👻👻👻