NovelToon NovelToon
Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: fieThaa

"Menikahlah dengan wanita pilihan Kakek. Anggaplah ini sebagai permintaan terakhir Kakek kepada kamu, Askara."

Sebuah permintaan yang terlontar dari mulut pria paruh baya yang sudah tak berdaya, yaitu Genta Wiguna.

Ghattan Askara Wiguna adalah pria yang mencoba meninggalakan tanah air demi dua misi. Misi pertamanya sudah berhasil, yaitu menjadi pengusaha sukses. Namun, tidak dengan misi kedua. Bayang wajah wanita yang telah membuat hatinya porak poranda masih selalu melekat di hati dan kepalanya. Ternyata, mengikhlaskan itu tidak semudah yang dibayangkan.

Kali ini, Aska dihadapkan dengan sebuah permintaan sang kakek yang sudah lemah dan melekat berbagai alat medis di tubuh pria yang banyak membuatnya berubah.

Apa Askara akan mengabulkan permintaan terakhir sang kakek? Atau dia memilih untuk menunggu wanita yang dia cintai yang tak lain adalah istri dari mantan sahabatnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Calon

"Maaf, saya terlambat."

Aska mengerutkan dahi ketika dia mendengar ucapan dari seorang wanita di belakangnya. Dia mencoba memutar kepalanya dan matanya melebar melihat wanita yang ada di belakangnya itu siapa.

"Fahrani," ucap Aska.

Senyum simpul Fahrani berikan kepada Aska. Dia memperhatikan penampilan Fahrani yang sangat berbeda dari tiga tahun lalu. Penampilannya mirip dengan Jingga jika dilihat sepintas.

"Kamu-"

"Fitting baju juga. Kenapa?" sergah Fahrani. Aska menggeleng dan berdecih kesal.

Namun, otak Aska tengah berputar ketika yang datang ke butik itu adalah Fahrani, "Apa jodohku adalah Fahrani?" Begitulah batinnya berkata.

Tubuh Aska menegang ketika Fahrani pun mengambil kebaya yang senada dengan baju yang tengah Aska gunakan.

"Hah?" Aska tidak bisa berkata apapun. Dia terus memperhatikan Fahrani yang tengah mencoba kebayanya itu dan bercermin. Memutar-mutar tubuhnya di depan cermin sambil tersenyum.

"Cantik, ya?" Aska tertegun melihat penampilan Fahrani yang terbalut kebaya cantik dan sangat pas di tubuhnya itu. Dia malah membayangkan jika Jinggalah yang memakai kebaya itu, pasti akan sangat cantik dan sangat cocok bersanding dengan dirinya.

"Hei!" tegur Fahrani kepada Aska.

Aska menghembuskan napas kasar dan tidak menjawab pertanyaan Fahrani. Dia ingin segera membuka baju yang dia pakai, tetapi salah satu karyawan di sana melarang. "Kami harus mengambil gambar Tuan dan Nona untuk bukti kepada Tuan Genta."

Aksa mematung dan sudah tidak salah lagi Fahrani lah yang akan menjadi calon istrinya. Tangan Fahrani sudah melingkar di lengan Askara membuat Askara sedikit tersentak. Senyum Fahrani mengembang dengan sempurna, berbeda dengan Aska yang hanya menunjukkan wajah datarnya.

Dari arah kaca luar ada seorang wanita yang hatinya merasa sakit sekali. Sedari tadi dia mengejar Aska dan ternyata Aska masuk ke dalam butik itu. Namun, dia harus menerima pil pahit bahwa Aska sedang fitting baju dengan seorang wanita yang dia juga kenali.

"Kenapa kamu gak bilang bahwa kamu mau menikah?" lirihnya. Matanya sudah berkaca-kaca dan air matanya tak bisa dibendung lagi. Menetes begitu saja. Bertepatan dengan itu, Aska menoleh ke arah luar dan dia melihat Jingga yang tengah menatapnya pilu.

"Jingga!"

Aska segera masuk ke ruang ganti dan membuka pakaian yang dia gunakan. Dia meninggalkan Fahrani seorang diri demi mengejar Jingga. Inilah bukti bahwa Aska maupun Jingga belum bisa melupakan satu sama lain.

JIngga terus berlari dengan air mata yang tak tertahan. Aska terus mengejar hingga dia bisa meraih tangan Jingga. "Aku bisa jelasin."

Tubuh Jngga menegang mendengar ucapan dari pria yang masih dia sayangi. Aska membalikkan tubuh Jingga agar menghadap ke arahnya. Tangannya menghapus air mata yang sudah membanjiri wajah perempuan itu.

"Ikut aku." Aska menggenggam tangan Jingga dan membawanya pergi.

Di dalam mobil hanya keheningan yang tercipta. Baik Aska maupun Jingga tidak ada yang membuka suara sama sekali. Mobil Aska sudah masuk ke area restoran yang memiliki ruang private. Dia membawa Jingga ke dalam restoran tersebut.

"Kenapa Bang As gak bilang?" Jingga sudah menatap Aska dengan tatapan datarnya.

"Untuk apa? Bukankah kamu ...." Aska menghentikan ucapannya.

"Bang, aku-"

"Aku akan menikah dengan wanita pilihan Kakek."

Duar!

Seperti tersambar petir di siang bolong. Tubuh Jingga membeku, bibirnya kelu dan matanya nanar.

"Inilah cara aku melupakan kamu." Kini, Aska menatap ke arah JIngga begitu dalam. "Jujur, sampai saat ini aku belum bisa mengikhlaskan kamu. Apalagi melupakan kamu." Kepala Aska sudah tertunduk, menandakan dia juga sangat sedih.

"Lalu, kenapa?"

"Aku ingin memenuhi permintaan terakhir dari kakekku. Orang yang sangat aku sayangi, sama seperti aku menyayangi kamu. Namun, kasih sayangnya lebih tulus dari kasih sayang kamu kepadaku." Aska sudah menatap wajah Jingga.

Jleb.

Ucapan Aska sangat menusuk ulu hati. Seperti ditampar sangat keras oleh ucapan dari pria di depannya itu.

"Aku sudah berjanji, aku tidak akan merebut milik orang lain. Lebih baik aku yang tersakiti dari pada orang lain yang aku sakiti."

Jingga terdiam mendengar ucapan dari Aska. Dia menatap manik mata Aska yang juga menyiratkan kesedihan yang sangat mendalam.

"Bang, sebenarnya aku-"

"Jingga."

Aska segera menoleh ke arah suara. Hatinya bergemuruh kencang apalagi pria itu menghampiri Jingga.

"As-ka."

"Aku permisi."

Aska pergi begitu saja dengan hati yang sangat perih. Melihat wanita yang dia sayangi bersama mantan sahabatnya sendiri.

.

"Lu serius?" tanya Ken.

Aska hanya mengangguk, sudah satu bungkus rokok dia hisap. Kini, dia membuka bungkusan yang kedua.

Juno menepuk pundak Aska menandakan simpati. Dia menatap dalam manik mata Aska.

"Semoga wanita pilihan Kakek lu itu bisa membuat lu bahagia," ucapnya.

Aska hanya tersenyum tipis. Pandangannya lurus ke depan. "Kebahagiaan gua hanya bersama Jingga."

Ken dan Juno menoleh bersamaan kepada Aska yang terlihat sangat frustasi. Frustasinya dia karena tadi dia melihat Bian menghampiri Jingga. Seperti membuka luka lama kembali.

"Si bang sat juga tadi hubungin gua. Nanyain lu," ujar Ken. Aska menatap ke arah sahabatnya itu, menyuruhnya untuk melanjutkan ucapannya kembali. "Gua bilang aja lu gak pernah datang ke kafe. Gak punya nyali juga dia datang ke rumah lu 'kan," papar Ken.

Cukup lama Aska berada di kafe, hingga telepon dari sang ibu membuatnya harus pulang. Keponakannya tengah menangis ingin tidur bersama dirinya.

"Lu gak ke angkringan?" tanya Juno.

"Anak Sultan lagi dititipin ke gua. Emak bapaknya lagi bulan madu," sahutnya.

"Anjaii! Kalah lu!" ejek Ken. Aska hanya tertawa, sahabatnya ini hanya ingin menghilangkan kegalauan yang tengah melandanya.

Tibanya di rumah, kedua alis Aska menukik tajam karena melihat Fahrani tengah berbincang dengan kedua orang tuanya.

"Antel!" Balita tampan berlari ke arahnya dan ingin segera digendong.

"Tenapa lama? Atu nantut Penen bobo." Celotehan Gavin mampu membuat Aska tertawa dan membawanya ke kamar sang keponakan tanpa menyapa Fahrani.

"Anteu itu capa?" tanya Gavin ketika Aska membawa Gavin ke kamar mandi untuk menggosok gigi juga membersihkan tangan dan kakinya.

"Emang Empin gak dengar apa yang diobrolin Mimo dan Pipo?" Gavin terdiam sejenak, dia mencoba untuk berpikir.

"Ni-tah."

Satu kata asing yang Gavin ingat dan mampu membuat Aska terdiam. Gavin menatap omnya yang tiba-tiba terdiam.

"Apa itu, Antel?" tanya Gavin. Balita yang hendak menginjak usia tiga tahun sangat ingin tahu dengan kosa kata yang baru dia dengar.

Aska belum menjawabnya, dia malah membersihkan tangan dan kaki Gavin. Kemudian, menggendongnya dan meletakkannya di atas tempat tidur. Dia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Gavin.

"Kalau anteu yang di bawah tadi itu jadi istri Uncle. Empin setuju gak?"

Gavin terdiam, dia menatap langit-langit kamarnya yang terdapat lukisan awan.

"Atu ... lebih tuta tama anteu yan tadi tetemu di toto ainan."

(Aku ... lebih suka sama Tante yang tadi ketemu di toko mainan)

Dahi Aska mengkerut sedangkan di luaran sana seorang pria berumur senja tersenyum mendengarnya.

...****************...

Komen dong ....

1
dwi'x
Luar biasa
Ray Aza
asli sy makin bingung dgn respon aska... tlg ksh tau salah bian dibagian mana as? dia jg sama2 ga sadar spti jingga sm2 korban si mel spti jingga... liyer euy...
Ray Aza
sampe sini.... sy msh gagal paham. letak kesalahan bian kpd jingga dibagian mana????
Ray Aza
dari sini...
Qaisaa Nazarudin
Apa Jingga di JODOHKAN dengan sahabat Aska sendiri ya? Gak mungkin kan Jingga selingkuh..🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Title janda juga kadang belum tentu udah bolong,Kalo emang bolong juga udah emang terangan title nya udah ada,Lha apa kabar yg title gadis tapi serasa JANDA..
Ucie
jodoh emang kejutan....💥💥💥
Yus Nita
😄😃😃😃😆😆
Yus Nita
kepeleset lidah Aq baca nama anak cewek bang Azka 😊😊😊
Yus Nita
makanya lg sehat jangan belagu
udah taksempur abDi lu sadar.,
atau ngemis y.. minta di akui.. 😁😁😁
Yus Nita
😄😄😄😄😄😄😄
Yus Nita
tak selama ny mendung itu kelabu...
pasti ada sinar setelah ny..
Yus Nita
skakmatbuat Rifal
Yus Nita
klrga Wiguna dlm kurun waktu yg tak jauh jarak ny dari kakek Genta.
Yus Nita
kok si Eki sama emak ny blom dpt karma y..
padahal udah banyak hati yg mereka sakiti..
Yus Nita
lah emang ny si Eki stress bin serakah harta udah sembuh dari depresi ny..
Yus Nita
sabar y Thor...
orang sabar rezeki ny luas 😊😊😊
Yus Nita
masak cantek2 dan Nak orang kaya mau jadi peslor kamu key...
jangan y dek y.
Yus Nita
😄😄😄😄😄😄
Yus Nita
sejak sekarang.. hamidi kaleee.. 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!