Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Kenanga sampai di rumah menjelang magrib, ternyata suami dan anaknya sudah ada di rumah. Bima dan Davina merasa heran dari mana datangnya Kenanga. Biasanya wanita itu selalu ada di rumah dan menyambut kepulangan mereka, tapi kali ini malah tidak ada di rumah, juga tidak izin pada Bima ke mana perginya.
"Assalamualaikum," ucap Kenanga saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Bima dengan pelan.
Kenanga mendekati sang suami dan menc*um punggung tangan pria itu, hal yang selalu dia lakukan sebagai penghormatan pada suaminya. Meskipun dalam hati Kenanga sudah tidak sudi melakukannya, tapi demi mencari bukti dia menahan semuanya. Wanita itu yakin semua ini tidak akan lama lagi.
"Mama dari mana? Aku dari tadi nyariin Mama. Biasanya Mama selalu di rumah," ucap Davina sambil bergelayut manja di lengan wanita itu.
Kenanga mencoba tersenyum dan melepaskan tangan Davina yang melingkar pada lengannya. Dia merasa tidak nyaman dengan sikap putri sambungnya itu. Biasanya Kenanga akan dengan senang hati membalas ucapan manja gadis itu. Namun, sekarang dia merasa enggan, terlalu malas jika harus berpura-pura terus bersikap manis.
Kenanga heran, Davina sudah dewasa bahkan teman-temannya sudah ada yang menikah, tapi kenapa gadis tidak bisa berpikir bijak dan melihat kebaikannya selama ini. Davina berusia dua puluh dua tahun, seharusnya wanita seusianya bisa berpikir sendiri tanpa ada pengaruh dari orang lain.
"Tubuh Mama kotor, jadi sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengan Mama, nanti kamu sakit." Kenanga memberi alasan agar Davina tidak curiga.
"Memang Mama dari mana saja tadi?"
"Mama habis dari rumah Oma Sophia, habis itu ketemu sama teman Mama. Karena terlalu asik ngobrol jadi lupa waktu. Mama juga sampai lupa untuk memberi kabar."
"Aku kira mama pergi ke mana gitu, habisnya tidak biasanya ponsel Mama mati."
"Iya, tadi baterainya habis. Mama ke kamar dulu, mau mandi. Tubuh Mama rasanya gerah sekali."
Kenanga berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Davina dan Bima. Dia memang sudah merasa lelah dan ingin membersihkan dirinya. Begitu sampai di kamar, Kenanga mengunci pintu dari dalam. Biasanya dia tidak seperti ini dan selalu membebaskan siapa pun keluar masuk kamarnya, tapi sekarang sudah tidak sama lagi seperti dulu.
Apalagi Kenanga juga butuh memasang CCTV yang dia beli tadi. Setelah dari taman dirinya memang membeli CCTV dalam perjalanan pulang. Kenanga juga belajar cara memasangnya agar bisa bekerja dengan baik.
Dia sengaja tidak membayar orang untuk memasangkan di rumahnya, khawatir jika orang itu akan membocorkan rencananya. Kenanga ingin melakukan semuanya sendiri karena rasa percayanya pada orang lain sudah hilang sejak dirinya mengetahui kebenaran tentang keluarganya.
Untung cara memasang CCTV-nya tidak terlalu sulit. Kameranya juga Kenanga sengaja memilih yang paling kecil agar mudah disembunyikan. Dia tadi membeli CCTV sebanyak empat buah. Semuanya nanti akan dia pasang di beberapa tempat kemungkinan dipakai untuk suaminya membicarakan tentang rahasia. Kenangan memilih kamera CCTV yang super canggih, hingga mampu merekam suara juga.
Setelah selesai mandi, Kenanga keluar dari kamar dengan membawa satu kamera CCTV yang dia masukkan ke dalam kantong piyama yang dipakai. Rencananya Kenanga akan memasang CCTV itu di kamar Davina. Jujur dia penasaran seberapa jauh putri sambungnya itu mengetahui mengenai rencana papanya.
"Bik, Mas Bima sama Davina ke mana?" tanya Kenanga pada pembantunya saat di ruang makan, tapi tidak ada siapa pun. Makanan juga belum siap.
"Pak Bima ada di ruang kerjanya, Bu. Kalau Non Davina ada di kamarnya."
"Makan malamnya sudah siap?"
"Sedikit lagi, Bu."
"Kalau begitu saya mau ke kamar Davina sebentar, nanti Bibi panggil saja kalau semua sudah siap."
"Iya, Bu."
Kenanga pun pergi ke kamar putrinya. Dia mengetuk pintu dan masuk begitu saja. Wanita itu mencoba untuk bersikap manis seperti sebelum-sebelumnya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Ada apa, Ma?" tanya Davina begitu melihat ibunya memasuki kamarnya. Memang bukan hal yang aneh karena Kenanga juga cukup dekat dengan Davina sebelumnya dan bebas keluar masuk kamarnya.
"Tidak ada apa-apa, Mama hanya ingin ngobrol sama kamu. Akhir-akhir ini kamu sibuk sekali, sampai-sampai kamu melupakan Mama. Bahkan untuk acara bulanan yang biasanya kita menghabiskan waktu bersama pun kamu nggak bisa dan memilih sibuk dengan tugas."
"Maaf, Ma. Bulan depan aku janji akan benar-benar meluangkan waktu."
Bulan depan? Sepertinya itu tidak mungkin Kenanga yakin dirinya tidak memiliki kesempatan itu lagi. Kalaupun nanti dirinya belum mendapatkan bukti yang kuat untuk meninggalkan keluarga ini, Davina juga belum tentu ada waktu untuk bersama dengannya. Pasti gadis itu lebih memilih bersama dengan mamanya, seperti bulan ini.
"Bagaimana kuliah kamu?" tanya Kenanga.
"Semuanya lancar kok, Ma. Hanya tinggal sidang skripsi saja. Doain semoga lancar ya, Ma."
"Tentu. Kamu lanjut saja belajarnya, Mama cuma mau nemenin kamu di sini, sambil nunggu makan malam selesai dibuat bibi."
Davina menganggu dan melanjutkan belajarnya, sementara Kenanga memperhatikan setiap sudut kamar Davina. Dia berpikir, kira-kira dimanakah tempat yang aman untuk meletakkan kamera CCTV agar tidak terlihat oleh siapa pun.
"Mama lagi lihatin apa?" tanya Davina membuat Kenanga tergagap.
Tadi Kenanga begitu fokus mencari tempat untuk persembunyian CCTV, hingga dia tidak memperhatikan Davina.
"Tidak apa-apa. Mama hanya melihat-lihat isi kamar kamu saja, ternyata tidak ada yang berubah."
Kenanga tersenyum manis meski dengan terpaksa agar Davina tidak curiga padanya. Wanita itu pun duduk di atas ranjang dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya, sementara Davina hanya diam memikirkan tingkah mamanya yang terlihat aneh.
Hingga akhirnya pandangan Kenanga pun tertuju pada bunga hias yang berada di sudut kamar itu. Bunga itu hanyalah bunga hias buatan, sudah pasti tidak akan diganti dengan bunga baru, jadi tempat itu bisa digunakan untuk menyimpan CCTV di sana.
Kenanga berjalan ke arah vas bunga tersebut berada. Namun, pandangannya tertuju pada sebuah foto yang tergantung di dinding. Dia sengaja menatap foto tersebut agar apa yang dilakukannya tidak terlihat oleh Davina karena mengira Kenanga hanya sedang memperhatikan foto tersebut.
Ternyata memang benar, Davina hanya menatap Kenanga yang sedang memperhatikan fotonya. Dia merasa aneh karena wanita itu terus saja menatap, seolah ada sesuatu di dalamnya padahal itu hanya foto dirinya saat masih kecil dulu.
"Ma, kenapa menatap foto aku kayak gitu? Apa ada masalah dengan foto itu?" tanya Davina yang begitu penasaran.
Kenanga pun menoleh ke arah Davina dan tersenyum. Namun, tangannya bekerja dengan baik meletakkan kamera CCTV pada bunga yang ada di sudut ruangan itu.
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu