NovelToon NovelToon
Aku Bukan Istri Yang Lemah Lagi

Aku Bukan Istri Yang Lemah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan Kecil Di Pagi Hari

​Nindya yang semula mencoba mengabaikannya, akhirnya membuka mata. Rasa lelah di tubuhnya akibat kurang tidur tak sebanding dengan rasa enggan berada di ruangan yang sama dengan suaminya. Suara ketukan jari Haris pada layar kaca dan pendar cahaya ponsel yang sesekali menerangi langit-langit kamar makin menegaskan bahwa keberadaan Nindya di tempat itu benar-benar dianggap tidak ada.

​Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Nindya menyibak selimutnya perlahan. Ia duduk di tepi ranjang, lalu menyanggul rambutnya dengan asal.

​Pergerakan Nindya yang mendadak itu membuat Haris menghentikan ketukan jarinya. Pria itu menoleh dengan dahi berkerut, merasa terganggu karena usahanya membalas pesan Siska terdistraksi.

​"Kamu mau ke mana?" tanya Haris dengan nada sedikit ketus, merasa terusik oleh sikap Nindya yang tiba-tiba beranjak dari kasur. "Ini sudah jam satu malam, Nindya. Jangan mulai berulah."

​Nindya tidak membalas. Ia bahkan tidak memutar kepalanya untuk menatap Haris. Baginya, suara Haris saat ini tak ubahnya bising angin malam yang tak perlu ditanggapi. Nindya meraih bantalnya sendiri, memeluknya di dada, lalu menyambar selimut tipis yang terlipat di ujung ranjang.

​"Aku tanya, kamu mau ke mana?" suara Haris bertambah tinggi, menyiratkan kejengkelan yang makin menumpuk. Pria itu tidak terbiasa diabaikan. Selama empat tahun ini, Nindya selalu menjadi pihak yang mendengarkan, menjawab, dan mengalah. Sikap Nindya yang memperlakukannya seperti angin lalu membuat ego Haris tergores parah. "Nindya! Kalau aku bicara itu dijawab!"

​Nindya tetap membisu. Lidahnya terasa terlalu mahal untuk sekadar mengucapkan satu kata kepada pria yang hatinya berada di tempat lain. Dengan langkah kaki yang tenang namun mantap, Nindya melangkah menuju pintu kamar. Ia memutar gagang pintu, keluar, lalu menutupnya kembali dengan sangat pelan—memastikan tidak ada suara benturan keras yang bisa membangunkan Arka di kamar sebelah.

​Haris tersentak kaku di atas tempat tidur, menatap pintu kamar yang kini tertutup rapat. Keheningan tiba-tiba menyergap ruangan itu, jauh lebih dingin dari udara pendingin ruangan. Ada rasa hampa yang aneh menusuk dadanya, namun Haris cepat-cepat menepisnya. Ia berdengus kesal, melempar ponselnya ke atas meja nakas, lalu melipat tangannya di dada.

​Baguslah kalau mau tidur di kamar Arka, batin Haris mencoba menghibur egonya sendiri. Terserah kamu mau merajuk sampai kapan.

​Sementara itu, di kamar sebelah yang bernuansa serba biru lembut, Nindya meletakkan bantal dan selimutnya di sisi kasur Arka yang kosong. Ia berbaring perlahan di samping putra kecilnya yang tertidur lelap dengan napas yang teratur. Nindya memeluk tubuh hangat Arka dari belakang, menghirup aroma minyak kayu putih khas anak-anak dari pakaian putranya.

​Rasa tenang yang sudah lama hilang perlahan merayapi dada Nindya. Di kamar ini, di dekat Arka, ia tidak perlu berpura-pura. Ia tidak perlu menahan sesak mendengarkan notifikasi ponsel wanita lain, dan ia tidak perlu lagi menatap punggung pria yang tak pernah mencintainya. Nindya memejamkan mata dengan senyuman tipis di bibirnya. Ini adalah malam pertama dari sisa hidupnya yang akan ia dedikasikan sepenuhnya untuk Arka—tanpa Haris di dalamnya.

​Sinar matahari pagi merembas tipis di antara celah gorden kamar yang bernuansa biru lembut. Suara cicit burung di halaman luar perlahan menyambut datangnya pagi. Di atas tempat tidur empuk berbentuk mobil-mobilan itu, Arka mengusap matanya yang masih terpejam dengan tangan mungilnya. Lengannya bergerak acak, mencari guling kesayangannya, namun jemari kecilnya justru menyentuh helai rambut halus dan kehangatan lain di sampingnya.

​Bocah kecil itu mengedipkan matanya berulang kali, menyesuaikan pandangannya dengan cahaya pagi. Begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, matanya yang bulat melebar. Senyum terukir lebar di wajah polosnya saat menyadari sosok yang berbaring tepat di depannya.

​"Mama?" bisik Arka pelan, seolah takut sosok di depannya hanyalah mimpi pangeran kecil di pagi hari.

​Nindya, yang sejatinya hanya tertidur ayam karena beban pikiran yang menumpuk, perlahan membuka mata. Hal pertama yang menyapa pandangannya adalah wajah tampan putra kecilnya yang menatapnya dengan binar bahagia. Rasa lelah dan sesak yang menghimpit dadanya sejak semalam mendadak menguap, digantikan oleh kehangatan luar biasa yang merayapi seluruh sudut hatinya.

​"Pagi, Sayang," balas Nindya dengan suara serak khas bangun tidur. Senyum tulus—senyuman pertama yang benar-benar berasal dari dasar hatinya setelah sekian lama—terembang di bibir cantiknya.

​"Mama tidur di kamar Arka?" tanya Arka polos, tangannya bergerak mengusap pipi Nindya yang lembut. "Arka senang banget! Biasa Mama tidur sama Papa."

​Kalimat polos Arka sempat membuat dada Nindya berdenyut pelan, namun ia segera menepisnya. Nindya tidak boleh menunjukkan setitik pun duka di hadapan malaikat kecilnya ini. Ia mengecup dahi Arka dengan penuh kasih sayang, menghirup aroma alami tubuh putranya yang menenangkan.

​"Iya, semalam Mama kangen banget sama Arka. Mama mau tidur dekat anak pintar Mama ini," sahut Nindya lembut sembari mengacak-acak rambut Arka yang agak berantakan. "Arka senang tidak tidur sama Mama?"

​"Senang banget, Mama! Nanti malam tidur di sini lagi ya?" pinta Arka dengan mata berbinar-binar penuh harapan.

​"Tentu saja. Mulai sekarang, Mama akan sering tidur di sini accompany Arka," jawab Nindya tanpa keraguan sedikit pun dalam nadanya. Keputusannya sudah bulat. Kamar utama yang dingin itu bukan lagi tempatnya.

​"Hore!" Arka bersorak girang, lalu melempar tubuh kecilnya ke dalam pelukan Nindya. Ia melingkarkan lengan mungilnya di leher sang ibu, menyembunyikan wajahnya di dada Nindya.

​Nindya merengkuh tubuh Arka erat-erat. Di dalam dekapan hangat putra kecilnya, Nindya menyadari satu hal yang amat penting: ia tidak membutuhkan cinta dari pria yang tak menghargainya. Kehadiran Arka dan tawa polosnya sudah lebih dari cukup untuk melengkapi kepingan hidupnya yang sempat hancur.

​Sementara itu di luar kamar, suara langkah kaki Haris terdengar samar di lorong, disusul deru mobil yang perlahan menjauh dari halaman rumah. Haris telah berangkat pagi-pagi sekali tanpa berniat mencari tahu atau menyapa anak dan istrinya. Namun kali ini, Nindya bahkan tak berniat memikirkannya. Ia tersenyum, mengusap punggung Arka, dan siap menyambut pagi yang baru hanya bersama putra tercintanya.

1
sunaryati jarum
Maya baik bangett Sampau mau menggantikan Sif,Noval memberi kompensasi mungkin
sunaryati jarum
Maya baik bangett Sampau mau menggantikan Sif,Noval memberi kompensasi mungkin
sunaryati jarum
Aduuh masih tidak punya malu mengharap Nindya kembali.Dalsm mimpi saja tidak akan, Haris.Kamu mengadu tentang Siska pada Nindya tidak malu diketawain dan disyukurin
sunaryati jarum
Ingin hati mau melihat Arka putranya namun kelelahan hat dan fisiknya membuatnya tidur.
sunaryati jarum
Kehancuran hidupmu yang terpampang jelas,akibat kamu tidak setia Haris.
sunaryati jarum
Bab sebelumnya bawa mobil dari taman ke kontrakan kok sekarang cari taksi.Sunnguh karma yang.ksmu terima tunai,Haris.
sunaryati jarum
Masih beruntung kamu menyesal dan sadar akan semua kesalahanmu,hingga Masi ada waktu untuk memperbaiki diri,walau sudah terlambat
sunaryati jarum
Jika niat Haris baik jangan terlalu kejam zRin,dan kamu Haris ingat Arin masih trauma akan perbuatanmu,dia tidak percaya padamu,Ris.Itulsh konsekuensi atas pengkhianatan kamu dalam rumah tanggamu.
sunaryati jarum
Haris itu ayahnya mungkin ingin memperbaiki kesalahannya,jika tidak berbuat buruk, berikan waktu Haris untuk menemui Arka putranya tapi dengan izinmu, bukan diam- diam seperti ini
sunaryati jarum
Otw bahagia Nindya dan Arka
sunaryati jarum
Nah terima dan jalani serta perbaiki diri
sunaryati jarum
Simpan penyesalanmu,anakmu saja tanpa diajari , merasakan bahwa kamu tidak pernah hadir memberi kasih sayang dan perhatian
sunaryati jarum
Nikmati buah kesombongan dan pengkhianan yang kau lakukan ,Haris.Jangan- jangan dalam kandungan Siska bukan benih Haris.👋👋👋🤣🤣🤣
Ade Chubi
syukurin
sunaryati jarum
Bagus Nindya Haris jika datang membujuk tinggal ingatkan semua kesalahannya.
Datu Zahra
katanya gundik kecelakaan, kaki terkilir parah, masa ya udha jalan². cepet amat sembuh
Alia Chans
kasihan banget ya jadi Nindy😣
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Semangat dengan status dan kehidupan barumu
sunaryati jarum
Nikmati kehidupan yang telah kamu pilih Haris.Itulah jika kebaikan kau balas dengan pengkhiatan,kau dan Siska tidak akan pernah menemukan kebahagiaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!