NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Mochi

"Ada masalah dengan pekerjaan?" tanya Keira.

Kai mematikan layar sebelum dia bisa membaca pesan. "Seseorang membuat laporan palsu."

"Tentangmu?"

"Tentang orang yang kubantu."

Keira menunggu penjelasan, tetapi Kai hanya mengatakan bahwa bukti sudah disiapkan. Malam mereka di taman berakhir lebih cepat. Dalam perjalanan kembali ke villa, tangan mereka tetap bertaut, meski urusan yang tidak disebutkan berjalan bersama di antara keduanya.

Keesokan harinya, mereka pulang ke Jakarta bersama Vera dan Leon. Vera terlihat lebih segar. Leon tidak pernah menyinggung kejadian di taman, tetapi memastikan Vera duduk di kursi depan agar tidak mual.

Hampir pukul satu dini hari ketika Keira dan Kai turun dari mobil di dekat apartemen. Jalan basah setelah hujan. Toko-toko sudah tutup dan hanya lampu warung dua puluh empat jam yang masih menyala.

Suara rengekan terdengar dari bawah mobil parkir.

Keira berhenti. "Kamu dengar?"

Seekor anjing besar berbulu putih abu-abu merangkak keluar. Bulunya kusut dan berlumpur. Satu kaki depannya tidak menapak sempurna, tetapi ekornya tetap bergerak ketika Keira berjongkok.

"Pelan," kata Kai. "Dia mungkin takut."

Keira meletakkan telapak tangan dekat tanah dan membiarkan anjing itu mencium. Hidung basah menyentuh jarinya. Sesaat kemudian, kepala berbulu itu jatuh ke lututnya.

"Dia lapar."

Kai membeli air dan ayam rebus dari warung. Anjing itu makan perlahan sementara Keira menghubungi klinik hewan dua puluh empat jam.

Dokter jaga meminta mereka membawa anjing untuk memeriksa luka dan memindai microchip. Mereka naik taksi ke klinik. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada patah tulang, hanya telapak yang lecet dan kekurangan cairan. Tidak ada microchip atau kalung pemilik.

"Kami bisa menampung semalam," kata dokter. "Besok kalian sebaiknya unggah foto ke grup kehilangan hewan. Kalau tidak ada pemilik, baru putuskan adopsi."

Keira melihat anjing yang kini tidur dengan kepala di sepatu Kai.

"Aku tidak bisa meninggalkannya di kandang."

Kai menghela napas. "Apartemenmu semakin sempit."

"Apartemen kita," kata Keira tanpa sadar.

Kai menoleh. Keira pura-pura sibuk membaca petunjuk obat.

Mereka membawa anjing itu pulang setelah lukanya dibersihkan. Kai menggelar handuk di ruang tamu, Keira menaruh mangkuk air di dekat sofa. Hewan itu berputar dua kali sebelum menjatuhkan tubuh di antara mereka.

Dokter melarang mereka memandikan seluruh tubuhnya sebelum telapak kaki membaik. Jadi Keira membersihkan lumpur dengan kain hangat sementara Kai memotong bulu kusut di sekitar luka. Mochi beberapa kali mencoba menarik kaki, tetapi tenang ketika Kai mengusap lehernya.

"Kamu ternyata sabar dengan hewan," kata Keira.

"Hewan tidak berbohong. Kalau takut, mereka menjauh. Kalau percaya, mereka tinggal."

Keira tidak tahu apakah kalimat itu hanya tentang Mochi.

Mereka menempel pengumuman di grup warga apartemen dan komunitas hewan hilang Jakarta. Foto diambil dari dua sisi, ciri luka dicatat, tetapi mereka sengaja tidak menuliskan semua tanda khusus agar orang yang mengaku pemilik bisa diverifikasi.

"Kalau tujuh hari tidak ada yang bisa membuktikan kepemilikan, kita kembali ke dokter," kata Keira sambil mencatat instruksi. "Vaksin, obat cacing, pemeriksaan kulit, lalu microchip baru."

Kai melihat daftar biaya. "Aku bayar pemeriksaan dan vaksinnya."

"Kita bagi dua."

"Aku yang menemukan warung ayam."

"Aku yang mendengar dia lebih dulu."

Mochi mengangkat kepala ketika suara mereka meninggi, lalu meletakkan satu kaki di paha Keira dan satu lagi di kaki Kai.

Mereka sama-sama diam.

"Baik," kata Kai. "Bagi dua."

"Makanan dan jalan pagi juga bergantian. Jadwalkan di kalender."

"Aku tidak bangun pukul lima."

"Mulai besok bangun."

Kai menatap Mochi. "Kamu baru datang dan hidupku sudah diatur lebih ketat."

Ekor Mochi memukul lantai, seolah menyetujui Keira.

Untuk pertama kalinya, apartemen kecil itu terasa seperti keluarga.

"Dia seperti mochi yang jatuh ke lumpur," kata Keira.

"Mochi?"

Telinga anjing itu bergerak.

Keira tersenyum. "Dia suka."

"Kamu belum tahu pemiliknya."

"Untuk sementara namanya Mochi. Kalau ada pemilik, kita kembalikan. Kalau tidak..."

"Dia tinggal."

Keira memandang Kai. "Kamu yang bilang apartemen sempit."

"Tapi dia sudah memilih sepatuku."

Mochi mendengkur kecil. Di luar jendela, awan bergerak dan memperlihatkan sedikit langit malam Jakarta.

Ponsel Kai berbunyi. Dia berjalan ke balkon, tetapi kali ini pintu kaca tidak tertutup rapat.

"Buka seluruh catatan pengadaan," katanya kepada orang di seberang. "Cocokkan aliran dana dengan rekening resmi. Kirim jawaban tertulis beserta audit independen. Kalau Teguh menuduh suap, biarkan publik melihat siapa yang menerima uang dari vendor."

Jeda singkat.

"Tidak perlu menyerangnya di media. Beri bukti kepada penyidik. Setelah itu, tuntut pencemaran sesuai prosedur."

Keira mengelus kepala Mochi, tetapi telinganya menangkap setiap kata.

Kai kembali seolah baru menyelesaikan telepon biasa.

"Temanmu punya masalah besar," kata Keira.

"Sudah selesai."

"Kamu bicara seperti direktur hukum."

"Aku banyak membaca."

"Tentu. Sama seperti kamu membaca rencana reformasi untuk hiburan."

Kai duduk dan mengambil salep kaki Mochi. "Kamu mau menginterogasiku atau membantu memegang kakinya?"

Keira memilih membantu. Namun rasa ingin tahunya tidak hilang.

Pagi berikutnya, setelah mengunggah pengumuman anjing ditemukan, Keira mengumpulkan pakaian kotor. Jas hitam yang dipakai Kai malam di parkiran ikut masuk tumpukan.

Saat dia memeriksa saku sebelum mencuci, sebuah kartu jatuh ke lantai.

Hitam pekat. Tanpa nomor tercetak di bagian depan.

Keira membungkuk dan mengambilnya.

Kartu hitam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!