Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.
Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.
Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 jam bersama Zane.
Oh Tuhan... aku benar-benar tak sanggup lagi. Dokter bedah itu semakin dekat. Cengkraman tangannya semakin ketat di pinggangku. Dia memiringkan kepalanya ke arahku. Markus memeperdekat jarak hidung kami. Nafasku memburu panas. Denyut jantungku makin tak karuan.
Aku memejamkan mata ketakutan. Tapi aku menunggu kelanjutan aksinya. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku lumat saja bibir merah itu? Atau aku tampar wajahnya. Pertanyaan bodoh memperkeruh pikiranku saat ini.
Aku benar-benar gagal dalam misi ini. Aku tak bisa mengendalikan diri. Wajah Marcus semakin dekat. Tangannya menyentuh daun telingaku. Dia membelai rambutku dengan lembut.
Aku panik. Aku menepis tangan Markus dan memutus rangkaian panas penuh debaran itu.
"Apa kau masih Virgin?"
"Pertanyaan macam apa itu? Itu privasi dokter ... "
"Hahahaha... kau gemetar saat aku mendekat Irish... tampaknya kau bahkan belum pernah berciuman, ya?"
Sontak pertanyaan Marcus membuatku terdiam. Aku mengangkat pantatku bergeser. Aku kecolongan. Harusnya aku tak memperlihatkan sesuatu yang memalukan seperti tadi. Aku harus jadi wanita strong ... walaupun sebenarnya aku gugup.
"Ya ... aku belum pernah pacaran sebelumnya." Jawabku malu-malu.
Aku menepis tangan Markus bukan karena gugup, tapi aku takut dia akan mengetahui rahasia di balik telingaku itu. Seorang dokter bedah sepertinya pasti tau jika melihat tumpukan kulit mati di belakang daun telingaku. Dia pasti curiga ada sesuatu yang tertanam di situ.
Mataku terus menatap otot perutnya yang putih berkeringat itu. Sementara Marcus sibuk mengeluarkan jarum suntik dan menyedot cairan merah dalam botol kecil. Dia lalu meraihku, menarikku masuk ke dadanya dan menyuntikkan jarum itu ke pangkal pinggulku dengan cepat. Aku kaget tak sempat melawan.
Auuu ... Ssssttt ... Aku mengerang pelan dan reflek menggigit lehernya. Belum pernah aku di suntik sekasar itu dengan posisi yang berbaya pula.
"Marcus ... cairan apa yang kau suntikan ini?" tanyaku pelan.
"Tenanglah... ini hanya obat penahan sakit, dan penenang. Rilex ... kau akan nyaman sebentar lagi."
Tak sadar aku pun mulai mengantuk dan tertidur di pelukannya.
"Irish ... Irish ... kau dengar aku ... bangun ... bangunlah Irish..."
Mike berteriak di kupingku dengan cemas. Mike menjadi panik karena jika dia menekan tombol alarm safety maka chip di tubuhku akan mengeluarkan cahaya biru dan mengirim sinyal ke satelit Phantoms.
Anggota Phantom akan datang dalam waktu 3 menit menyerbu lokasi, namun Mike tak melakukan hal itu, dia tahu itu akan merusak seluruh misi. Mike terus memanggil namaku, sementara aku tak sadarkan diri. Tubuhku rasanya mengambang, sebenarnya cairan apa yang di suntikan Markus kepadaku, ini bukan hanya tentang obat penenang, entah sesuatu seperti apa yang dia berikan kepadaku. Aku pun tidak tahu.
Keesokan harinya.
Pagi itu, jam di dinding beton berwarna cream kecoklatan menunjukkan pukul 09.15 pagi. Aku berusaha bangun dari tempat tidur yang terasa asing. Mataku baru terbuka, aku masih setengah sadar. Pandanganku belum sepenuhnya siap menatap sekeliling.
Aku berusaha bangkit dari tempat tidurku, tubuhku terasa kaku dan pegal, setelah beberapa detik aku membenarkan posisiku dengan tepat agar sendi-sendi tubuhku melemas. Dari atas tempat tidur aku melihat seorang pria bertubuh kekar membelakangi jendela dan menatap mentari pagi yang menyengat. Senyum simpul tampak indah di wajahnya.
"Zane ... dia tersenyum?"
Aku terkejut melihat pemandangan aneh itu. Aku baru mengenalnya beberapa hari, tapi pagi ini wajahnya benar-benar berbeda dari yang ku lihat di arena.
Aku memandang sekeliling.
"Dimana ini?" gumamku.
Semua ini tampak asing bagiku, ini bukan apartemen milikku, ini juga bukan ruang VIP tempatku tadi malam. Dan ini juga bukan tempat yang pernah aku datangi sebelumnya. Sebenarnya di mana ini, aku melihat seisi ruangan, kasur empuk beralaskan sprei berwarna biru tampak sangat lembut dan hangat dibawahku.
Meja dan kursi tersusun rapi di sudut ruangan, Zane tampak memejamkan mata menghadap matahari di tepi jendela. Sepertinya dia tidak sadar kalau aku sudah bangun.
Aku menghampirinya, "kenapa aku di sini? apa kau yang membawaku?"
Pria itu lalu berbalik dan tersenyum kepadaku.
"Bukankah kau ingin menghabiskan waktu 24 jam kepadaku?"
"Iya benar ... itu taruhan kita, tapi kenapa aku bisa sampai di sini?"
"setelah diberi obat penahan rasa sakit, kau tiba-tiba tertidur pulas, jadi Markus membawamu kemari."
"Markus, membawaku kemari?"
"Ya ... ini adalah rumahku."
Yang benar saja, aku mematung sejenak, aku tak menyangka bisa secepat itu, hanya dengan taruhan di atas ring, aku bisa masuk ke dalam rumah Starling tanpa drama yang berliku.
"Rumahmu besar sekali, Zane!" Ucapku kagum.
"Ini mansion keluarga, bangunan rumahku hanya sebesar 80 meter persegi. Bersiaplah! Aku akan mengajakmu berkeliling di mention Starling. "
Aku sangat bersemangat mendengarnya. Tapi aku juga sempat mengelus dada, bagi keturunan Starling Gruop 80 meter persegi hanya bangunan kecil, berbanding terbalik dengan rumah tanteku di Indonesia yang hanya 10 kali 12 meter. Apartments ku bahkan hanya sebesar kamar yang ku tempati ini.
Aku bersiap seadanya. Zane meminjankan aku baju kemeja nya yang pasti itu sangat besar di ukuran tubuhku. Aku lalu dibawa Zane keluar untuk menghirup udara segar. Aku tambah terkejut melihat pemandangan yang sangat luar biasa area pemukiman yang super mewah itu.
Terpampang di depan mataku lahan yang diperkirakan sekitar 600 meter persegi, tempat itu bernama Starling mention. Itu adalah rumah utama dari Alexander Starling, kakek mereka. Terdapat rumah utama yang sangat besar melebihi halaman Golf yang pernah kulihat.
Di tengah-tengah area terdapat taman yang sangat besar. Rumah Zane berada di sayap barat, sementara di timur ada kediaman Markus, di utara Aldric, sedangkan di selatan milik Caspian.
Zane menjelaskan bahwa anak-anak cucu Starling tidak pernah tinggal di luar, mereka memiliki masing-masing banguann di arena mansion. Bahkan mereka selalu berkumpul di rumah utama setiap satu bulan satu kali untuk acara keluarga.
Zane mengajakku berkeliling lebih jauh, kakiku sampai terasa pegal mengitari halaman rumah itu saking panjangnya. Aku duduk di bawah pohon ceri sambil meregangkan otot-ototku yang terasa kram.
Zane berdiri menatapku. "Ayolah ... aku harus menepati janji dan menghabiskan waktu 24 jam bersamamu, kan? Jika tidak terlaksana, aku akan dipermalukan oleh saudaraku yang lain." Kata Zane sambil mengulurkan tangan.
Aku menyambut tangannya yang besar dan hangat. Sejenak aku lupa, kalau dia itu adalah petarung dunia bawah. Saat menatap Zane, matanya bagai memancarkan aura yang berbeda dari penampilannya.
"Sebaiknya kita pulang ... aku sangat lapar, Zane."
"Oke .." Zane menjawab dengan cepat.
"Apa kalian berempat selalu bersama?"
Aku berpura-pura basa-basi menanyakan tentang Zane dan keluarganya.
"Apa kau tidak punya saudara perempuan? Bagaimana dengan orang tuamu. Dirumah sebesar itu kelihatannya kau cuma sendiri."
Zane mengernyitkan keningnya. Mungkin aku terlalu banyak bertanya membuatnya risih. Aku mengatupkan mulut rapat. Lalu perlahan menggapai tangan kekar Zane. Aku menggemgamnya dengan manja.
"Zane ... aku ingin lebih mengenalmu ... 24 jam ini aku ingin tau semua tentang dirimu. Kau tidak bisa menolak. Ini taruhan kita."
Zane mangangguk pelan. Kami berjalan berdengan tangan. Zane lalu mulai membuka diri, dia menceritakan bahwa dia sebenarnya sangat ingin sekali memiliki saudara perempuan. Namun kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan sata dia berusia delapan tahun.
Zane memiliki wali yang menjaganya sedari kecil, yaitu pamannya yang bernama Adam Starling. Pamannya itulah yang mengelola sebagian bisnisnya di pelabuhan, dia tidak begitu tertarik dalam bisnis Starling group. Zane memilih membuka arena pertarungan dan sistem keamanan membantu Aldrik.
"Satu-satunya bisnis keluarga yang ku inginkan adalah pabrik Capital Gun. Tapi kakek malah menberikan itu pada Caspian."
"Apa itu pabrik pembuatan kantong plastik yang terkenal?"
"Ya ... " Nada Zane berubah.
Aku tahu, itu semua hanya kedok. Capital Gun adalah pabrik pemasok senjata di militer. Tapi beberapa tahun yang lalu pabrik itu mulai memproduksi senjata ilegal secara massal dan menginport nya berbagai negara.
"Aku dengar ...keluarga Starling juga memproduksi senjata?" Aku memberikan pertanyaan telak tanpa basa-basi.
Zane berhenti sejenak. Dia menatapku aneh.
"Pertanyaanmu banyak sekali, Irish. Kau seperti mengintrogasi tahanan." Ucapnya tersenyum.
"Maaf ... aku hanya penasaran. Bukan rahasia lagi kan, kalau keluarga Starling memiliki perusahaan yang membuat senjata api." tambahku cengengesan.
"Ya ... Caspian memang punya pabrik pembuatan senjata, tapi itu hanya pesanan resmi dari militer. Kami hanya membuat modul cangkangnya saja. Selebihnya itu orang tua kami yang mengaturnya. Jika tidak ada permintaan resmi, kami tidak memproduksinya."
Aku terdiam mendengar jawaban itu. Hatiku bertanya-tanya sendiri. Benar kata pak Cp, ada seorang dengan kekuasaan absolute yang mengatur bisnis haram keluarga Starling dari pemerintahan. Itu yanh harus aku buktikan.
Dari percakapan itu, aku menyimpulkan beberapa hal, mungkin saja Zane tidak mengetahui tentang lantai bawah di boxing hole miliknya.
Aku jadi semakin curiga dan ingin bertemu dengan pamannya itu. Tiba-tiba hp-ku berbunyi.
Dreeettt... Dreeetttt... Dreeettt. Getaran terasa di dalam saku kemeja ku. Aku menatap layar hp, wajahku sedikit berubah di depan Zane.
Itu adalah panggilan rahasia dari markas besar. Aku tidak bisa mengangkatnya di depan umum. Aku melihat ke arah Zane.
"Jawablah ... " ujarnya lembut.
"Oke ... tunggu sebentar ... "
Dia mengizinkanku untuk mengangkat telepon, aku pun menjauh ke arah pohon ceri.
"Sir ... saat ini aku sedang bersama Zane Starling... ada kabar mendesak apa?"
"Atasan memintamu untuk melapor tadi pagi, tapi kau tidak punya waktu?" Nada pak Jojo tampak kesal.
"No ... sir ... aku di rumah Zane saat ini, semalaman aku bersamanya."
"Bagus ... kau agent pertama yang berhasil memasuki kediaman Starling hanya dengan waktu satu minggu."
"Sir .. apa aku boleh meminta sesuatu?"
"Katakan!"
"Aku meminta sebuah kantor kecil untukku dan tim. Akan sulit jika bertemu di apartemen milikku. Aku ingin mmebuat sebuah tempat pertemuan rahasia."
"Oke ... aku akan menyampaikan itu pada pak Cp. Ada informasi terbaru?"
"Ya ... sir ... sepertinya Zane tidak tau tentang lantai bawah di boxing hole. Kita akan menangkap Adam Starling dan aku pastikan akan mendapat informasi lebih lanjut terkait perdagangan manusia itu."
"Bagus Irish... "
"Sir ... aku ... " aku sedikit ragu untuk menyampaikan isi hatiku yang tertahan.
"Katakanlah!"
"Aku menagih janji, sir .... setiap kali aku mendapatkan informasi penting, kalian akan memberikan hasil tes laborate visum terkait kematian Kakakku. Sudah 14 tahun Aku menunggu hal ini,"
"Datanglah kekantor besok jam 11 siang."
"Sudah selesai bicaranya, Irish...?"