Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan
Bab 10
Pintu rumah akhirnya tertutup setelah Gio pergi. Suasana yang sejak tadi terasa menegangkan perlahan mulai mencair.
Pak Wirawan mengembuskan napas panjang, lalu menepuk bahu Kai dengan ramah.
"Om senang kamu mau datang."
Kai mengangguk sopan.
"Terima kasih sudah mengundang saya."
"Kapan-kapan datang lagi. Anggap saja rumah sendiri."
"Baik, Om."
Di samping mereka, Hesti sedang membereskan cangkir dan piring bekas minum.
"Karin, bantu Mama di dapur."
"Iya, Ma."
Karin melirik Kai sebelum mengikuti ibunya ke dapur. Entah kenapa, ia merasa bersalah telah menyeret pria itu ke dalam kebohongannya.
-
-
-
"Dia anak yang sopan."
Begitu hanya tinggal mereka berdua di dapur, Hesti langsung membuka pembicaraan.
Karin yang sedang mencuci gelas hanya tersenyum kecil.
"Iya."
"Walaupun pendiam."
"Iya."
"Kasihan juga ya."
Karin menghentikan gerakan tangannya.
"Maksud Mama?"
"Ibunya sudah meninggal. Ayahnya juga tidak ada. Masih muda sudah harus bekerja membiayai kuliah." Nada bicara Hesti terdengar penuh simpati. "Mama jadi ingat kamu. Kalau suatu hari nanti Papa dan Mama tidak ada..."
"Ma."
Karin langsung memotong ucapan ibunya. Jantungnya berdegup kencang.
Jangan... Jangan bicara seperti itu.
Hesti tampak heran.
"Kenapa?"
Karin buru-buru memeluk ibunya.
"Mama sama Papa harus panjang umur. Karin masih ingin terus bersama kalian."
Hesti tertawa kecil sambil mengusap punggung putrinya.
"Kamu ini. Tentu saja Mama ingin hidup lama. Makanya kamu jangan bikin Mama cepat tua."
Karin ikut tertawa, meski matanya mulai berkaca-kaca.
Kalau saja Mama tahu...
Di kehidupan sebelumnya, Mama bahkan tidak sempat melihat rambutnya mulai memutih.
-
-
-
Sementara itu, di ruang tamu.
Pak Wirawan sedang berbincang santai dengan Kai.
"Kamu kerja di bengkel setiap hari?"
"Hampir setiap hari, Om."
"Capek juga, ya."
"Sudah biasa."
Pak Wirawan mengangguk pelan.
"Om suka anak muda yang mau berusaha. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan."
Kai tampak sedikit terkejut.
"Terima kasih, Om. Tapi sejauh ini saya masih sanggup."
Pak Wirawan tersenyum puas. Semakin lama berbicara, semakin besar rasa sukanya kepada pemuda di depannya.
Kai memang tidak banyak bicara. Namun setiap ucapannya terdengar jujur. Berbeda dengan banyak anak muda yang gemar membanggakan diri.
Tak lama kemudian, Karin dan Hesti kembali ke ruang tamu.
"Sudah malam." Kai berdiri. "Saya pamit."
"Karin, antar Kai sampai depan."
"Iya, Pa."
Kai lalu menyalami Wirawan dan Hesti bergantian.
-
-
-
Malam terasa cukup dingin. Lampu-lampu jalan menerangi halaman rumah dengan cahaya kekuningan. Begitu mereka berada di luar pagar, Kai menghentikan langkah.
"Sepertinya orang tuamu baik."
Karin tersenyum.
"Mereka memang sangat baik. Makanya aku harus melindungi mereka."
Kai menoleh.
"Lagi-lagi kamu bilang begitu."
Karin menundukkan kepala.
"Aku tahu kamu pasti bingung."
"Bukan bingung."
"Lalu?"
"Aku penasaran."
Kai memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Kamu selalu bicara seolah sesuatu yang buruk akan terjadi. Tapi kamu tidak pernah mau menjelaskan."
Karin menggigit bibir bawah. Ia ingin sekali menceritakan semuanya.Tentang kehidupannya yang dulu. Tentang kematian kedua orang tuanya. Tentang pernikahannya dengan Gio. Tentang jurang tempat ia mengembuskan napas terakhir.
Namun...
Siapa yang akan percaya?
"Aku belum bisa cerita."
Kai menghela napas.
"Baik. Aku tidak akan memaksa. Tapi..., kalau suatu hari nanti kamu ingin bercerita..., aku akan mendengarkan."
Ucapan sederhana itu membuat hati Karin terasa hangat.
"Terima kasih."
Kai mengangguk kecil.
"Aku pulang."
"Hati-hati di jalan."
"Iya."
Kai berjalan meninggalkan rumah Karin. Namun baru beberapa meter, langkahnya terhenti.
Sebuah mobil hitam terparkir di bawah pohon besar tidak jauh dari sana. Kaca mobil perlahan terbuka.
"Gio."
Kai langsung mengenali pria itu.
"Gimana?" Gio tersenyum tipis. "Boleh bicara sebentar?"
Kai tidak menjawab. Namun akhirnya ia melangkah mendekati mobil.
"Ada apa?"
Gio keluar dari mobil sambil merapikan lengan kemejanya.
"Aku cuma penasaran."
"Penasaran apa?"
"Kamu benar pacarnya Karin?"
Kai menatap Gio datar.
"Memangnya kenapa?"
"Jawab saja."
Kai tersenyum tipis.
"Aku tidak punya kewajiban menjawabmu."
Senyum Gio perlahan memudar.
"Kamu tahu? Aku sudah lama mengenal keluarga Karin. Om dan Tante juga sangat menyukaiku."
Kai tetap tenang.
"Terus?"
"Kalau tujuanmu cuma main-main..., lebih baik menjauh."
Tatapan Kai berubah tajam.
"Kalau tujuanmu serius..."
"Itu urusanku." Kai menyela.
Gio mengepalkan tangan.
"Kamu berani juga."
Kai tersenyum tipis.
"Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan..., aku pulang."
Kai berbalik. Namun sebelum melangkah jauh, suara Gio kembali terdengar.
"Kamu tahu tidak..., orang miskin sepertimu tidak akan bisa membahagiakan Karin."
Langkah Kai berhenti.
Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi wajahnya berubah. Ia perlahan menoleh. Tatapannya dingin.
Sangat dingin.
"Uang memang penting. Tapi...,bukan berarti orang yang punya uang berhak merendahkan orang lain."
Gio tersenyum sinis.
"Aku cuma bicara kenyataan."
"Kenyataan?" Kai mendekat selangkah. "Kalau suatu hari nanti Karin benar-benar memilihku..., itu berarti dia tidak memilih uangmu."
Ucapan itu membuat wajah Gio mengeras.
Kai tidak menunggu jawaban. Ia langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara Gio masih berdiri dengan rahang mengeras. Belum pernah ada orang yang berani membalas ucapannya seperti itu.
"Baiklah, Kai. Kalau memang kamu memilih berdiri di depanku..., jangan salahkan aku kalau nanti kamu menyesal!"
-
-
-
Di dalam rumah, Karin masih berdiri di balik jendela kamarnya. Ia melihat bayangan Kai berjalan menjauh. Entah mengapa, hatinya merasa tidak tenang.
Perasaannya mengatakan..., sesuatu baru saja terjadi di luar sana.
Tanpa ia sadari, sejak Kai datang ke rumahnya malam ini, jalan hidup mereka benar-benar mulai terikat.
Dan sejak saat itu pula..., permusuhan antara Kai dan Gio resmi dimulai. Mereka bukan lagi dua pria yang saling mengenal. Melainkan dua orang yang sama-sama memiliki alasan untuk tidak mundur.
Satu ingin melindungi.
Satu lagi ingin memiliki.
Di antara keduanya...
Karin menjadi alasan sekaligus awal dari sebuah pertarungan yang akan mengubah hidup mereka bertiga.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊