NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Level Dewa

Sistem Ayah Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Bapak rumah tangga
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.

Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.

Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.

Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 016 - Air Mata Ibu

Rumah Ibu Ratna hanya beberapa langkah dari mulut gang.

Arya membawa dua kantong oleh-oleh. Kirana berjalan di samping ibunya, namun jarak di antara mereka terasa lebar.

Tetangga mulai keluar.

Ibu Ratna langsung berkata, "Masuk dulu."

Suaranya pelan. Perintahnya jelas.

Arya menunduk saat melewati pintu. Ruang tamu itu kecil. Satu sofa tua, satu meja kayu, lemari kaca berisi gelas, dan rak plastik penuh bahan kue. Di sudut kanan ada kompor kecil. Aroma gula merah, tepung, dan minyak hangat masih tertinggal.

Di dinding, foto seorang pria tersenyum tergantung di atas kalender.

Ayah Kirana.

Di sebelahnya, sertifikat dan piagam berjejer. Juara 1 SD. Juara 1 SMP. Juara 1 SMA. Beasiswa Universitas Surya Laut.

Arya melihat semuanya dalam satu tarikan napas.

Ini rumah yang membangun Kirana.

Ibu Ratna melepas celemek. Tangannya masih bergetar saat menuang teh melati.

"Duduk."

Kirana duduk lebih dulu. Arya duduk di sisi kursi plastik. Lututnya hampir menyentuh meja.

Ibu Ratna menaruh teh di depan mereka.

"Mobil itu milik siapa?"

"Milik saya, Bu," jawab Arya.

"Kamu siapa?"

Kirana membuka mulut. Suaranya tidak keluar.

Arya berdiri.

"Ibu, nama saya Arya Pratama. Saya mahasiswa Universitas Surya Laut. Saya datang karena saya punya kesalahan besar terhadap Kirana dan terhadap Ibu."

Ibu Ratna memegang pinggir meja.

"Kesalahan apa?"

Arya menunduk dalam.

"Kirana hamil, Bu. Anak itu anak saya. Kami sudah nikah siri di Surabaya dengan Om Agus sebagai wali. Saya minta maaf karena datang terlambat."

Waktu seperti berhenti.

Kirana menutup wajah.

Ibu Ratna tidak berteriak.

Ia tidak membanting gelas.

Ia hanya duduk pelan, sangat pelan, seolah tulang di tubuhnya mendadak kehilangan tenaga.

"Berapa bulan?"

Kirana menjawab di antara tangis, "Hampir tiga, Ma."

Jari Ibu Ratna bergerak di atas meja.

"Hampir tiga."

Ia mengulang angka itu seperti mencoba mengerti.

Kirana turun dari kursi dan berlutut di depan ibunya.

"Maaf, Ma. Aku takut. Aku mau bilang, tapi aku takut Mama kecewa."

Ibu Ratna menatap putrinya.

Air matanya jatuh satu per satu.

Hening di rumah kecil itu lebih menyakitkan dari bentakan.

"Waktu ayahmu meninggal," kata Ibu Ratna akhirnya, "orang-orang bilang aku harus pulang ke keluarga. Mereka bilang aku tidak akan kuat membesarkan anak sendiri."

Kirana menangis makin keras.

"Aku bangun jam tiga pagi. Bikin kue. Jual ke pasar. Pulang, bersih-bersih, ambil pesanan lagi. Lututku sakit. Punggungku sakit. Kalau kamu minta buku, aku bilang besok beli. Malamnya aku hitung uang receh sampai cukup."

Ibu Ratna menyeka wajahnya dengan punggung tangan yang kasar.

"Aku cuma ingin kamu punya jalan yang lebih lapang dari gang ini."

Kirana memeluk lutut ibunya.

"Maaf, Ma..."

Arya berdiri diam.

Setiap kalimat terasa seperti pukulan.

Ibu Ratna menatap Arya.

"Kamu tahu anak saya pintar?"

"Tahu, Bu."

"Kamu tahu dia harapan saya?"

"Tahu."

"Kamu tahu dunia lebih cepat menghukum perempuan?"

"Tahu."

"Lalu kenapa kamu biarkan dia menanggung takut sendirian sampai hampir tiga bulan?"

Arya tidak mencari alasan.

"Karena saya lambat, Bu. Saya panik di awal. Setelah itu saya bergerak, tapi tetap terlambat untuk Ibu."

"Kamu punya orang tua?"

"Punya. Mereka sudah tahu. Mereka juga marah."

"Mereka menerima Kirana?"

"Iya, Bu. Ibu saya menjaga Kirana di Surabaya. Bapak saya memeriksa semua rencana saya."

Arya mengeluarkan map.

"Ini hasil pemeriksaan dokter, bukti nikah siri, rencana KUA, rencana kuliah Kirana, dan tempat tinggal kami."

Ibu Ratna tidak langsung menyentuhnya.

Arya membuka halaman foto apartemen.

Kirana menarik napas.

Ibu Ratna melihat ruang tamu Grand Surya Residence, kamar, dapur, dan ruang bayi yang masih terlalu cepat untuk disebut ruang bayi.

Wajahnya tetap sedih.

Namun sesuatu di matanya berubah saat melihat foto Kirana duduk di sofa dengan vitamin di meja.

"Dia tinggal di sana?"

"Iya, Bu. Saya tidak membiarkan dia tinggal sendiri di kos."

"Dia makan?"

"Saya masak. Ibu saya juga sering masak. Dokter memberi vitamin. Kontrol rutin sudah dijadwalkan."

"Kuliah?"

"Tetap lanjut. Saya akan pastikan dia lulus."

Ibu Ratna membuka foto mobil, lalu cepat menutup map.

"Uangmu dari mana?"

Pertanyaan itu datang tajam.

Arya sudah siap.

"Ada investasi dan aset legal yang sedang saya rapikan dengan bantuan Bapak. Saya tahu jawabannya terdengar aneh untuk mahasiswa. Saya tidak meminta Ibu percaya hari ini. Saya hanya minta Ibu melihat cara saya memperlakukan Kirana mulai sekarang."

Ibu Ratna menatapnya lama.

"Orang kaya mudah bicara janji."

"Maka saya akan menunjukkan dengan tindakan."

"Tindakan pertama?"

"Datang ke sini. Minta maaf. Meminta restu setelah saya sudah gagal meminta izin sejak awal."

Ibu Ratna memejamkan mata.

Kirana menangis di pangkuannya.

Perempuan itu akhirnya mengangkat tangan dan menyentuh kepala putrinya.

Sentuhan itu membuat Kirana pecah.

"Ma, jangan benci aku."

Ibu Ratna menarik napas gemetar.

"Anak bodoh. Ibu mana yang bisa benci anaknya sendiri?"

Kirana memeluknya erat.

Ibu Ratna ikut memeluk, lalu menangis tanpa suara.

Arya menunduk.

Panel sistem muncul pelan.

【Terdeteksi: host menghadapi ibu mertua secara langsung dan menjaga martabat keluarga.】

【Hadiah: nilai harmoni keluarga +200.】

【Hadiah tambahan: paket pemeriksaan kesehatan lengkap untuk Ibu Ratna Sari telah dijadwalkan di RS Saiful Anwar Malang. Biaya lunas.】

Arya membaca pesan itu, lalu menutupnya.

Hadiah kali ini terasa berbeda.

Ia melihat tangan Ibu Ratna yang kasar, kuku yang ada sisa tepung, pergelangan yang kecil.

Pemeriksaan kesehatan itu memang perlu.

Setelah tangis mereda, Ibu Ratna membuka kantong oleh-oleh. Ia melihat teh, susu, keripik apel, bahan kue, dan selendang hijau tua.

Tangannya berhenti di selendang.

"Kirana yang pilih?"

Kirana menggeleng sambil menyeka air mata. "Arya."

Ibu Ratna melihat Arya.

"Kamu tahu saya suka hijau?"

"Kirana pernah cerita."

Ibu Ratna tidak menjawab. Ia hanya meletakkan selendang itu di pangkuan.

Siang itu, Ibu Ratna memasak nasi pecel sederhana. Arya membantu mengangkat piring. Kirana duduk di dekat pintu dapur, sesekali masih menangis, lalu tersenyum kecil saat ibunya menyuruhnya makan lebih banyak.

Menjelang sore, mereka pamit.

Di depan gang, Ibu Ratna memegang tangan Arya.

Tangan itu kasar seperti amplas.

"Nak Arya."

"Iya, Bu."

"Saya tidak paham mobil mahal. Saya tidak paham apartemen. Saya hanya paham air mata anak saya."

Arya menggenggam tangan itu dengan dua tangan.

"Iya, Bu."

"Kalau suatu hari kamu membuat dia menangis sendirian, kamu tidak perlu menunggu saya datang. Kamu harus malu pada dirimu sendiri."

"Saya mengerti."

"Satu permintaan saya."

"Apa pun, Bu."

Ibu Ratna menatapnya lurus.

"Jangan pernah biarkan anak saya merasa sendirian."

Arya menjawab tanpa berkedip.

"Saya janji, Bu."

Kirana berdiri di samping mereka, menangis lagi.

Kali ini, Ibu Ratna mengusap pipinya.

"Pulanglah. Jaga badan. Besok telepon Mama."

"Iya, Ma."

Mobil bergerak meninggalkan gang sempit itu.

Di kaca spion, Arya melihat Ibu Ratna masih berdiri dengan celemek di tangan dan selendang hijau di bahu.

Kirana bersandar di kursi, lelah sampai tertidur.

Arya menyetir pelan.

Satu pintu keluarga akhirnya terbuka.

Namun di Surabaya, pintu perang dengan Hartono masih menunggu.

1
Ria Gazali Dapson
kirana bnyak tanya ya, udh untung arya mo tanggung jawab, dg fasilitas wow , ga da rasa syukur nya ,cuma penasaran⁹ doang , liatin ja dulu , bersama dg waktu akn mnjawab semua , karena suatu anugerah, sedang tercurah k arya
Maulana Sejati
buruk
Maulana Sejati
ni yg nggak masuk akal, punya sistem,sdh tau ada ancaman tpi trnyata msh dbuat cerita yg bgini...prettt
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
sitanggang
gak seru, kok system org Lain ad yg tau🤣🤣🤣🤣🤣
σяιмσтσ (^• . •^)
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!